-- 
j.gedearka <[email protected]>


https://mediaindonesia.com/podiums/detail_podiums/1913-arab-india-tionghoa-merdeka



Rabu 19 Agustus 2020, 05:00 WIB 

Arab, India, Tionghoa: Merdeka! 

Usman Kansong Dewan Redaksi Media Group | Editorial 

  Arab, India, Tionghoa: Merdeka! Dok.MI/Ebet . 'KAMU datang kemari untuk 
melucuti serdadu Jepang, bukan untuk menentang bangsa Indonesia yang cinta 
damai. Kamu datang dari berbagai pelosok India dari berbagai elemen agama, 
tetapi kamu tetap saudara dari Pandit Jawaharlal Nehru, dan putra dari Ibu 
Pertiwi India, di mana kita melihat Ram, Vishma, Sivaji, Ranapratap. Kamu tidak 
boleh melupakan masa silammu, kamu ialah turunan dari nabi-nabi yang besar. 
Saudara kami orang Sikh harus ingat Guru Govinda yang agung yang berjuang untuk 
kemerdekaan, perang suci, dan bangsa Indonesia membandingkan Indian National 
Congres, Hindu Mahasava, Moslim League, dan Akali Sikdal.' Begitu bunyi 
penggalan selebaran yang beredar di Medan, Sumut, di masa pergolakan. Selebaran 
itu mengajak tentara sekutu asal India untuk bergabung membela Indonesia. 
Ketika pada 1946, Kota Medan diduduki tentara India-Inggris Divisi ke-26, 
banyak anggota pasukan yang beragama Islam menyatakan diri bergabung dengan 
pasukan bersenjata bangsa Indonesia. Kebanyakan mereka yang masih tinggal di 
Medan menjadi warga negara Indonesia berpencar mencari nafkah ke berbagai 
tempat di Sumatra dan Jawa. Banyak orang Tionghoa berpihak kepada Republik. 
Salah satunya Chu Teng Ko. Di masa revolusi fisik, Chu dikenal sebagai tokoh 
Tionghoa yang membantu perjuangan kaum Republik di Medan. Dari Belawan, Chu 
membawa lateks (lembaran karet) ke Singapura untuk ditukar dengan senjata, 
amunisi, obat-obatan, pakaian, bahan makanan, suku cadang mobil dan motor, 
serta rokok yang dipesan kaum Republiken. Selain Chu, beberapa orang Tionghoa 
yang membantu Republik yang kemudian tertangkap di Belawan dan pelabuhan 
sekitarnya ialah Goh Sian Hui, Goh Teng Tjin, Sit Liong Seng, Sit Kim Seng, Lau 
Tai San, Shu Goan Tjeong, Teoh Bock Tjoan, dan perwira angkatan laut Republik 
yang legendaris Jhon Lie. Tercatat empat orang Tionghoa menghadiri Sumpah 
Pemuda 28 Oktober 1928. Syair lagu Indonesia Raya yang digubah WR Supratman 
pertama kali muncul pada 1928 di koran Sin Po milik orang Tionghoa tempat WR 
Supratman bekerja sebagai wartawan. Liem Koen Hian (pendiri Partai Tionghoa 
Indonesia, PTI), Oey Tiang Tjoei, dan Tan Eng Hoa menjadi anggota Badan 
Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI), pada masa pendudukan 
Jepang, serta seorang pada Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI), 
yakni Yap Tiam Bing. Lagu Hari Merdeka yang setiap peringatan Hari Kemerdekaan 
kita kumandangkan diciptakan Sayyid Muhammad Husein bin Salim bin Ahmad bin 
Salim bin Ahmad al-Muthahar. Kita lebih mengenalnya sebagai Habib Husein 
Muthahar atau H Muthahar. Dari namanya terang benderang H Muthahar berdarah 
Arab. H Muthahar juga menciptakan lagu Syukur. Ia juga dikenal sebagai Bapak 
Pramuka dan Paskibraka Indonesia. Selain H Muthahar, kita mengenal Abdurrahman 
Baswedan yang berkat diplomasinya, eksistensi Indonesia secara de jure dan de 
facto diakui Mesir dan negara-negara Arab lainnya. Serupa Baswedan, kita 
mengenal Hamid Algadri sebagai diplomat ulung dalam berbagai perundingan 
RI-Belanda. Kita juga mengenal Faradj bin Said yang kediamannya di Pegangsaan 
Timur No 56 Jakarta menjadi tempat Soekarno-Hatta mendeklarasikan Proklamasi. 
Tentu masih banyak tokoh berdarah Arab yang berkontribusi bagi Kemerdekaan 
Indonesia. Negara-negara Asia dan Afrika mendukung Kemerdekaan RI antara lain 
karena 'perasaan' senasib-sepenanggungan sebagai negara jajahan. Itulah yang 
kemudian melahirkan Konferensi Tingkat Tinggi Asia-Afrika di Bandung pada 1955. 
Dalam konferensi itu mereka mencanangkan kerja sama ekonomi sembari menentang 
kolonialisme dan neokolonialisme. Sejumlah organisasi asing mendukung 
Kemerdekaan Indonesia. Salah satunya Ikhwanul Muslimin di Mesir. Syahrir dan H 
Agus Salim menjumpai pimpinan Ikhwanul Muslimin Hassan Al-Banna untuk 
mengucapkan terima kasih atas dukungan organisasi tersebut. Organisasi lain 
yang membantu Kemerdekaan RI ialah National Maritime of USA, organisasi buruh 
pelayaran Amerika Serikat. Mereka memboikot 11 kapal Belanda yang akan mengirim 
perlengkapan perang dan logistik bagi serdadu Belanda di Indonesia. Tentu masih 
banyak kelompok dan individu asing yang menyokong Kemerdekaan Indonesia. Arab, 
India, dan Tionghoa, seringkali dianggap sebagai 'suku-suku pendatang'. Mereka 
memeluk agama berbeda-beda. Arab sudah barang tentu beragama Islam. Tionghoa 
kebanyakan beragama Konghucu atau Buddha. Orang India yang bergabung membela 
Indonesia di masa pergolakan kebanyakan beragama Islam, tetapi, seperti kita 
baca di selebaran, mereka membantu Indonesia mempertahankan kemerdekaan 
Indonesia disemangati bukan saja oleh nilai-nilai Islam, melainkan juga Hindu 
dan Sikh. Sejarah memperlihatkan orang-orang Arab, India, dan Tionghoa, bahkan 
ketika mereka mungkin belum menjadi orang Indonesia, berkontribusi pada 
Kemerdekaan Indonesia secara proporsional, sesuai kemampuan dan situasi pada 
saat itu. Jangan ada yang merasa paling berkontribusi bagi Kemerdekaan RI. 
Orang-orang Arab, India, Tionghoa dengan agama yang mereka peluk masing-masing 
sama-sama berteriak, "Merdeka!"  

Sumber: 
https://mediaindonesia.com/podiums/detail_podiums/1913-arab-india-tionghoa-merdeka






Kirim email ke