-- 
j.gedearka <[email protected]>


https://mediaindonesia.com/read/detail/338225-pemikiran-pendidikan-ala-pendiri-bangsa


Jumat 21 Agustus 2020, 03:05 WIB 

Pemikiran Pendidikan ala Pendiri Bangsa 

Anggi Afriansyah Peneliti sosiologi pendidikan di Pusat Penelitian Kependudukan 
LIPI | Opini 

  Pemikiran Pendidikan ala Pendiri Bangsa Dok. LIPI BICARA pendidikan di 
Indonesia bukan perkara mudah. Terdapat begitu banyak kompleksitas persoalan 
yang sulit sekali diurai. Tak mudah untuk membangun pendidikan di masyarakat 
yang begitu beragam. Kondisi geografis, demografis, dan sosial kultural yang 
begitu beragam membuat pembuat kebijakan harus berpikir keras dalam membangun 
pendidikan yang ramah dan berpihak bagi setiap anak bangsa. Meski Indonesia 
sudah berusia 75, masih banyak PR yang perlu diselesaikan. Imajinasi 
mendapatkan generasi emas di 1945 menjadi sangat sulit direalisasikan jika 
tidak ada pembenahan menyeluruh. Salah satu persoalan yang dilupakan, betapa 
negeri ini banyak melupakan atau bahkan meminggirkan gagasan baik Ki Hadjar 
Dewantara maupun para penggagas pendidikan seperti Willem Iskandar (pendiri 
Sekolah Guru Tano Bato) atau Moh Sjafei (Sekolah Kerajinan Indonesianya di Kayu 
Tanam). Ketiganya merupakan sosok yang begitu heroik dalam mengupayakan 
pendidikan bagi rakyat di era kolonial. Bahkan, berkat ketiganya, menurut Daoed 
Joesoef (2009), Indonesia menjadi satu-satunya bangsa yang masih dijajah tetapi 
sudah berani mendirikan sistem pendidikan nasionalnya sendiri, berhadapan 
dengan sekolah kolonial Belanda. Ketiganya merupakan pemikir dan pejuang yang 
sangat progresif. Relevan Jika dikondisikan dengan konteks kekinian, ide-ide Ki 
Hadjar Dewantara, salah satu tokoh penting pendidikan di negeri ini, misalnya 
masih relevan dan perlu kita kontekstualisasikan dengan kondisi saat ini. 
Pertama, fokus pada kritik pendidikan kolonial. Menurutnya, pengajaran bagi 
rakyat sangat mengecewakan dan eksklusif untuk kalangan priayi. Selain itu, 
mereka yang mendapat pendi dik an pun kehilangan tabiat kerak yatan. Jika 
dikontekskan pada momen saat ini, artinya ruang pendidikan harus inklusif dan 
berpihak kepada mereka yang miskin dan terping girkan, bukan pada mereka yang 
memiliki kapital. Ki Hadjar Dewantara mengkritik pola pendidikan yang 
eksklusif. Kedua, fokusnya pada perbaikan pendidikan. Ia menginginkan 
pendidikan berbasis pada kebudayaan dan kemasyarakatan dapat diakses setiap 
rakyat. Soal pendidikan vokasional (vakschool atau sekolah kepandaian), 
misalnya, harus ber basis budaya lokal di setiap wilayah, baik itu berbasis 
pertanian, pertukangan, pelayaran dan perikanan, kesenian, teknik, atau 
kesusastraan. Ketiga, pentingnya peran para intelektual dalam memajukan 
pendidikan. Ki Hadjar Dewantara menyebut kewajiban intelektual, terutama, para 
pemuda untuk membantu rakyat sekuat tenaga. Kaum terpelajar harus membela 
kepentingan rakyat dan tidak boleh terjebak kepentingan pribadi dan golongan 
mereka. Keempat, Taman Siswa telah berjejaring dengan pendidikan global. Pada 
masa itu Taman Siswa memiliki relasi yang baik dengan Maria Montessori dan 
Rabindranath Tagore (dengan bertukar pelajar dengan Santiniketan). Sekolah 
Taman Siswa juga pernah dikunjungi Pandit Nehru. Ki Hadjar juga memiliki 
pikiran pentingnya pertukaran guru dan pelajar ke negara lain serta misi budaya 
untuk meningkatkan wawasan. Terbukti lulusan Taman Siswa melanjutkan ke India, 
Jepang, dan Filipina. Catatan sejarah itu menunjukkan betapa relasi dengan 
dunia global telah menjadi perhatian Ki Hadjar Dewantara pada masa itu. Dalam 
konteks kekinian, tentu, jejaring pendidikan global semakin relevan. Kelima, 
pentingnya posisi sekolah partikelir (swasta) dalam membangun pendidikan. Ia 
berpendapat sekolah-sekolah partikelir sa ngat penting mendukung pemerintah, 
apalagi kondisi saat itu sekolah negeri masih sangatlah terbatas. Budi pekerti 
Keenam, terkait dengan pendidikan agama. Ia berpandangan bahwa soal posisi 
pendidikan aga - ma akan terus menjadi perdebatan dan terbukti hingga saat ini. 
Yang paling penting ialah tiap siswa dan guru harus saling menghormati dan 
menjadikan pendidikan agama sebagai etik (budi pekerti). Ketujuh, pentingnya 
pendidikan bagi golongan minoritas. Ia berpendapat perlunya keterbukaan sekolah 
negeri untuk memberikan akses bagi siapa pun tanpa membedakan asal mereka. 
Konsekuensinya harus ada sekolah negeri untuk semua golongan baik untuk 
Tionghoa, Arab, Belanda, Kristen, Katolik, maupun lainnya. Pemikiran itu jelas 
sangat penting untuk Indonesia yang beragam. Inklusivitas pendidikan menjadi 
sangat penting. Jika ini terjadi, sekolah akan menjadi ruang perjumpaan yang 
mempertemukan beragam kelompok untuk saling belajar. Kedelapan, terkait dengan 
krusial nya penyiapan guru. Pendidikan guru sangat penting untuk menyiapkan 
kader-kader dan para pemimpin yang ikut membantu perjuangan mencerdaskan 
bangsa. Menurutnya, produksi guru harus diupayakan terus-menerus. Penyiapan 
guru ialah hal sentral. Guru ialah ujung tombak pendidikan di negeri ini. 
Operasionalisasi kebijakan pendidikan memerlukan guru tangguh, yang memiliki 
cara pandang maju, juga memiliki keberpihakan. Sebab itu, lembaga pendidikan 
dan tenaga pendidikan menjadi sangat penting dalam membangun sistem pendidikan 
bagi guru yang berkualitas. Situasi sulit saat ini membuat kita memiliki ruang 
kontemplatif untuk kembali merenungkan arah bangsa ini. Para pembuat kebijakan 
perlu kembali memikirkan visi pendidikan Indonesia masa depan. Hal mendasar 
yang perlu diperhatikan, pemikiran para pendiri bangsa tentang pendidikan. 
Jangan sampai kita melupakan ide-ide brilian mereka.

Sumber: 
https://mediaindonesia.com/read/detail/338225-pemikiran-pendidikan-ala-pendiri-bangsa






Kirim email ke