Kemenlu:


 Niat Jahat Menodai Kebijakan Tiongkok Terhadap Negara Kepulauan Pasti
 Akan Gagal

http://indonesian.cri.cn/20200821/26f523fc-48ad-954b-a6b7-45069bbcf4b2.html
2020-08-21 14:21:57

Belakangan ini, sebuah foto yang menampilkan seorang duta besar Tiongkok menginjak dan melewati punggung tamu-tamu dalam upacara penyambutan menjadi bahan terbaru bagi politisi AS dan Australia untuk memfitnah Tiongkok. Bagi hal ini, jubir Kemenlu Tiongkok Zhao Lijian kemarin (20/8) menekankan, niat jahat apapun yang menodai kebijakan Tiongkok terhadap negara-negara kepulauan dan berkeinginan merusak hubungan Tiongkok dengan negara-negara kepulauan pasti akan gagal.

Dalam jumpa pers kemarin, Zhao Lijian menyatakan, untuk memenuhi udangan pemerintah Kota Pulau Marakei, Kiribati, Duta Besar Tiongkok untuk Kiribati, Tang Songyin berkunjung ke pulau ini.  Ini merupakan kunjungan pertama kali dubes Tiongkok ke pulau Marakei sejak Tiongkok dan Kiribati memulihkan hubungan diplomatik pada September 2019, dan mendapat sambutan hangat pemerintah dan rakyat setempat. Memenuhi undangan pemerintah dan masyarakat setempat, dubes Tang akhirnya sepakat dan menerima upacara sambutan yang berciri khas setempat, rakyat Pulau Marakei pun menyatakan dukungan yang kukuh terhadap pemulihan hubungan diplomatik antara Tiongkok dan Kiribati. Ini sekali lagi dengan sepenuhnya menunjukkan pemulihan hubungan diplomatik adalah keinginan rakyat kedua negara.

Zhao Lijian menunjukkan, setiap negara mempunyai adat-istiadat sendiri. Menurut politisi Kiribati termasuk anggota parlemen Marakei dan Menteri Pertanian Kiribati, penampilan sambutan yang terfoto adalah upacara sambutan tradisional yang tipikal dan ikonik di pulau ini, dengan cara yang rendah hati menyambut tamu agung adalah cara penerimaan tamu yang diwarisi penduduk Pulau Marakei secara turun temurun. Cara sambutan ini adalah keputusan diambil bersama Persatuan Orang Lanjut Usia, pemerintah kota dan persatuan agama pulau ini. Pada tahun 1998, utusan senior Australia yang mengunjungi Kiribati juga menerima upacara serupa. Atas fitnahan Australia terhadap Tiongkok, pihak Kiribati menyatakan kemarahan besar bagi ini.

Zhao Lijian menunjukkan, Tiongkok selalu berpegang teguh pada prinsip sederajat antara negara besar dan negara kecil, dan menghormati tradisi tuan rumah.

Menghadapi kenyataan, niat jahat apapun yang menodai kebijakan Tiongkok terhadap negara-negara kepulauan dan mencoba merusak hubungan antara Tiongkok dengan negara kepulauan pasti akan gagal.



 Steve Bannon dan Segudang Skandalnya

http://indonesian.cri.cn/20200821/da0e1b31-5ab4-6624-ee4f-8471cee3345e.html
2020-08-21 17:39:17

Pada 20 Agustus 2020 waktu setempat, Steve Bannon, mantan penasihat senior Gedung Putih ditangkap atas tuduhan penggelapan dana donasi untuk pembangunan tembok pemisah di daerah perbatasan bagian selatan AS. Sosok yang ekstrem kanan ini kerap kali dijuluki sebagai “fosil hidup” perang dingin. Dia berkoar-koar mendukung pemimpin tertinggi AS membangun tembok pemisah di perbatasan, namun secara diam-diam melakukan korupsi yang merugikan Gedung Putih. Tindakannya benar-benar tidak terpuji dan menjijikkan.

Hal ini secara ironis mengungkapkan tampan asli segelintir politikus AS yang kotor. Mereka ibarat tikus yang terus menggerogoti kepentingan negara dan masyarakat untuk memenuhi nafsu dan ambisinya yang tersembunyi.

Sebagai mantan penasihat senior Gedung Putih, Steve Bannon pernah berlagak sombong dan dijuluki sebagai “presiden dengan jubah hitam”. Akan tetapi, sosok pria ini didepak dari Gedung Putih pada Agustus 2017 karena ambisinya yang membengkak dan bermusuhan terlalu banyak. Namun dia tidak putus asa, malah terus berkampanye dan berangan-angan bisa bangkit kembali.

Pada akhir 2018, Bannon melancarkan kegiatan penggalangan dana untuk pembangunan tembok di perbatasan. Ia melakukan hal itu untuk menyatakan dukungan kepada mantan bosnya, dengan harapan bisa dipanggil kembali ke Gedung Putih

Melalui penggalangan dana tersebut, Bannon mengumpulkan dana donasi sebanyak 25 juta dolar AS dengan cara penipuan. Untuk menutup-nutupi penipuannya, ia pura-pura membangun  sebuah tembok, namun menurut hasil investigasi sebuah lembaga, tembok itu terancam ambruk karena terjadi kikisan air, pada hal tembok itu baru saja dibangun beberapa bulan sebelumnya.

Para pemimpin AS juga marah karena hal itu, bahkan mengkritik Bannon “mempersulit” mereka dengan tindakannya yang tidak terpuji itu. Akan tetapi, siapa tahu, tindakan Bannon itu tidak hanya “mempersulit” pemimpin AS, tapi juga telah melanggar hukum.

Dilaporkan, dana donasi yang dikumpulkan Bannon tidak digunakan untuk pembangunan tembok pemisah di perbatasan, melainkan digelapkan untuk memenuhi kebutuhan belanja perseorangan, seperti belanja wisata, belanja di hotel dan lain sebagainya. Bahkan sebagian dana digunakannya untuk membayar hutang kredit perorangan.

Dari pemberitaan itu masyarakat mau tak mau akan bertanya, masih seberapa banyak skandalnya yang masih belum diungkapkan? Dan masih seberapa banyaknya kepentingan publik yang digerogoti mereka?

Yang patut disadari masyarakat AS dan seluruh dunia ialah Steve Bannon yang terus mengkhotbahkan pikiran perang dingin sama sekali tidak mengindahkan kepentingan AS. Justru sebaliknya, mereka menghasut sentimen anti Tiongkok dan sentimen kebencian hanya untuk meraup keuntungan bagi dirinya sendiri. Jika kebijakan pemerintah AS terhadap Tiongkok disesatkan oleh Steve Bannon dan para pengikutnya, maka yang akan membayar mahal adalah seluruh masyarakat AS.

Kirim email ke