-- 
j.gedearka <[email protected]>




https://news.detik.com/kolom/d-5144144/menghidupkan-kembali-mata-pelajaran-pertanian-di-sekolah?tag_from=wp_cb_kolom_list


Kolom

Menghidupkan (Kembali) Mata Pelajaran Pertanian di Sekolah

Iman Kurniawan - detikNews

Senin, 24 Agu 2020 12:10 WIB
1 komentar
SHARE URL telah disalin
berkebun
Foto ilustrasi: iStock
Jakarta -

Dahulu, pada tahun 1990 saat masih duduk di Sekolah Menengah Pertama (SMP) 
betapa menyenangkan ketika mata pelajaran muatan lokal pertanian tiba. 
Menyenangkan, karena kami bisa belajar di luar kelas. Apalagi mata pelajaran 
muatan lokal ini tepat setelah mata pelajaran yang sangat memeras otak --untuk 
standar otak saya.

Di belakang kelas, sudah disiapkan lahan untuk kami olah. Setiap kelas memiliki 
kaplingannya masing-masing. Kami dibagi beberapa kelompok yang bertanggung 
jawab untuk tanamannya masing-masing. Setiap kelas menanam jenis tanaman yang 
berbeda-beda. Ada yang menanam cabai rawit, menanam bayam, menanam kangkung, 
hingga tanaman yang mudah tumbuh, yakni ubi kayu (singkong).

Menariknya, guru muatan lokal pertanian ini termasuk guru favorit saat itu, 
karena sifatnya yang tidak pernah marah --meskipun pada saat jam pelajaran 
beliau, kami terkadang bandel, banyak bercandanya, seperti meraih cacing tanah 
yang kemudian dilemparkan ke murid perempuan. Jelas saja, si murid lari 
terbirit-birit. Namun, beliau hanya tersenyum sembari mengingatkan, agar kami 
kembali fokus ke tugas yang harus kami kerjakan.

Pada mata pelajaran muatan lokal ini, kami tidak hanya praktik menanam. Tetapi 
sekaligus juga memahami teori pertanian, khususnya tanaman pangan. Sembari 
praktik, beliau sangat intens menjelaskan teorinya dengan penuh kesabaran dan 
kami diminta untuk mencatat apa saja yang beliau anggap penting. Misalnya, 
pupuk apa yang digunakan, berapa komposisinya. Jenis-jenis hama apa saja yang 
harus diwaspadai dan bagaimana mengatasinya.

Tak hanya itu, kami juga diajarkan bagaimana cara membuat pupuk organik dari 
sampah organik yang ada di lingkungan sekolah. Kemudian, pupuk itulah yang kami 
manfaatkan untuk tanaman belakang sekolah.

Meski mata pelajaran muatan lokal ini hanya satu minggu sekali, tetapi kami 
diminta untuk merawatnya setiap hari. Menyiraminya setiap hari, memperhatikan 
perkembangannya. Jika ada yang layu, maka pada saat bertemu mata pelajaran 
muatan lokal, beliau menjelaskan kemungkinan penyebabnya.

Tentu saja tidak semua tanaman tumbuh dengan baik. Bagi kelompok yang malas, 
sudah pasti tanamannya gagal. Meski begitu, pada saat panen tiba tetap saja 
kami nikmati bersama-sama. Semua murid di kelas mendapat bagian, termasuk juga 
guru-guru kami. Betapa senangnya, bisa membawa pulang hasil panen ke rumah, 
menikmatinya bersama keluarga. Ada kebanggaan tersendiri rasanya.

Rata-rata, sekolahan dulu memiliki pekarangan yang cukup luas. Kalau 
dibandingkan dengan sekolahan sekarang, jarang sekali punya pekarangan luas, 
kecuali halaman upacara. Sekolahan di era sekarang, pekarangan yang kosong 
biasanya dimanfaatkan untuk menambah gedung kelas baru. Alasannya, jumlah kelas 
yang ada tidak mampu menampung jumlah siswa yang setiap tahunnya terus 
bertambah.

Kalau pada tahun sebelumnya Kelas 1 hanya 4 lokal, tahun berikutnya bisa 
menjadi 5 lokal dan seterusnya. Sehingga, ada sekolah yang sampai kekurangan 
murid dan ada pula sekolah yang kelebihan murid. Mengapa sekolah tidak mampu 
menolaknya? Rasanya sayang saja, karena jumlah murid juga mempengaruhi jumlah 
dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS). Bahkan sampai ada sebutan untuk sekolah 
dengan jumlah murid yang banyak ini, yaitu "sekolah basah" dan menjadi rebutan 
para calon kepala sekolah.

Sekarang, sudah jarang sekolah yang menerapkan mata pelajaran muatan lokal 
bidang pertanian. Wajar, kalau sangat sedikit sekali anak yang bercita-cita 
menjadi petani. Petani kerap diidentikkan dengan profesi yang tidak bergengsi. 
Berbeda jika bekerja di kantoran, seragam rapi, duduk di ruangan ber-AC, 
dianggap lebih bergengsi. Sehingga, (maaf) banyak sarjana yang akhirnya 
mendedikasikan dirinya selama bertahun-tahun sebagai tenaga harian lepas 
(honorer), hanya dengan penghasilan yang tidak seberapa. Padahal, bisa saja 
kita menjadi petani yang modern, petani yang selalu berinovasi menyesuaikan 
zaman.

Bagaimana mungkin bisa swasembada kalau minat orang untuk menjadi petani 
semakin berkurang? Petani selalu diidentikkan dengan orang-orang berpendidikan 
rendah. Untuk meningkatkan swasembada pangan, yang dibutuhkan bukan hanya 
teknologi yang mumpuni, tetapi juga SDM yang berkualitas.

Muatan lokal pertanian harus dihidupkan lagi. Anak-anak harus memiliki 
pengetahuan di bidang pertanian. Apalagi saat pandemi seperti sekarang, ketika 
mereka jenuh karena belajar jarak jauh, anak bisa mengolah pekarangan rumahnya 
sendiri, ditanami berbagai tanaman pangan atau bisa menggunakan polybag, juga 
bisa menggunakan kaleng-kaleng bekas. Dengan demikian, kalau pun nanti tidak 
menjadi petani, paling tidak mereka bisa menghargai perjuangan para petani.
(mmu/mmu)
pertanian
belajar jarak jauh
pandemi







Kirim email ke