Jilbab Kerudung dan Pemaknaan yang Meleset
Iqbal Aji Daryono - detikNews
Selasa, 25 Agu 2020 16:20 WIB
7 komentar
<https://news.detik.com/kolom/d-5145973/jilbab-kerudung-dan-pemaknaan-yang-meleset?tag_from=wp_cb_kolom_list#comm1>
SHAREURL telah disalin
<https://news.detik.com/kolom/d-5145973/jilbab-kerudung-dan-pemaknaan-yang-meleset?tag_from=wp_cb_kolom_list>
Kolomnis - Iqbal Aji Daryono (Ilustrator: Edi Wahyono/detikcom)Iqbal Aji
Daryono (Ilustrasi: Edi Wahyono)
*Jakarta*-
Hanya gara-gara film menyebalkan berjudul/Tilik/itu, terjadi geger di
kampung kami. Mbak Noni dan Mbak Yuli terlibat perdebatan panjang di
grup Whatsapp RT 36, dan kami yang menyimaknya jadi merasa nggak enak
sendiri.
"Ini jelas film yang mendiskreditkan umat Islam, Mbak Yuli! Kalau memang
tidak berniat begitu, tentunya si sutradara tidak akan menampilkan
ibu-ibu berjilbab sebagai tukang gibah, kan? Tapi di situ para ibu
berjilbab ditonjolkan gemar bergunjing. Padahal menurut ajaran Islam
jelas sekali bahwa bergunjing itu ibarat memakan bangkai saudara
sendiri. Apa-apaan maksudnya? Mau para muslimah ditampilkan sebagai
tukang makan bangkai? Bukankah itu jelas menghina Islam?"
Mbak Noni yang pertama kali melemparkan pendapat seperti itu; pendapat
yang langsung membuat saya bergidik ngeri.
"/Lhooo/, malah sebaliknya, Mbak Noni," Mbak Yuli menyambarnya. "Lihat,
itu Dian yang dicap nakal itu digambarkan sebagai satu-satunya perempuan
yang tidak berjilbab. Sedangkan yang diposisikan sebagai pengendali
norma adalah mereka yang berjilbab. Artinya, justru ini arogansi
kelompok beragama, dengan menampilkan bahwa yang tidak berjilbab itu
tidak bermoral. Jangan kebalik dong!"
Saling sahut pun terus berlanjut, dan beberapa kali diwarnai tangkapan
layar dari adegan di film yang mereka perdebatkan, untuk menjelaskan
argumen masing-masing. Sudah mirip/webinar/saja.
Segala daya upaya sudah kami kerahkan untuk mengalihkan debat kusir itu.
Mulai membagi info korona terbaru, sampai menyundul/meme-meme/lucu.
Untuk nge-/cut/langsung terus-terang kami sungkan, karena kami belum
begitu akrab dengan Mbak Noni dan Mbak Yuli. Mereka pendatang baru di sini.
Saya sempat men-/japri/Mas Sulis, Pak RT kami, agar menengahinya. Tapi
Pak RT pun bingung. "/Lha/mereka itu pinter-pinter/je/, Mas. Saya mau
membantah juga gimana. Kalau mau asal potong nanti saya malah dituduh
arogan, tidak/open minded/, dan membungkam kebebasan berekspresi.
Kan/matek/saya."
Maka, saya pun usul agar Pak Modin saja yang ambil situasi. Itu pilihan
pas, karena Pak Modin sosok yang sangat dihormati. Tapi Mas Sulis
mencegahnya. "Mas, ini kan masalah antara dua perempuan. Nanti kalau
kita serahkan urusan ini ke Pak Modin bisa-bisa malah dituduh
melanggengkan dominasi laki-laki, dan yang/matek/bisa lebih banyak lagi."
Wah, betul juga. Canggih juga pemetaan aktor yang dilakukan Pak RT.
Akhirnya kami pun sepakat untuk mencolek Bu Warismi. Beliau lumayan
senior, pernah kuliah di Fisipol UGM meski nggak lulus, dan yang jelas
cukup dihormati karena sangat sering membantu pendanaan acara-acara kampung.
Bu Warismi ternyata setuju. Lalu muncullah/chat/-nya di grup. "Mbak
Noni, Mbak Yuli, tunggu dulu. Sepertinya ada yang kurang pas dari cara
pandang/njenengan/berdua soal jilbab di film itu/nggih/."
"Nggak pasnya di mana, Bu? Jangan-jangan Bu Warismi yang kurang peka
saja," Mbak Yuli lebih dulu muncul. Saya curiga dia pegang hape 20 jam
per hari.
"Gini/lho,/Mbak," Bu Warismi melanjutkan. "Kalau boleh menyarankan,/mbok
yao/sesekali kita ini belajar berpikir sederhana. Di film itu yang
tampil adalah ibu-ibu pedesaan, ya kayak kami-kami ini. Mbak Noni dan
Mbak Yuli mungkin belum begitu masuk dalam atmosfer pikiran kami
karena/panjenengan/berdua baru beberapa bulan di sini. Tapi, jilbab bagi
kami-kami ini kan sebenarnya tidak persis sama pemaknaannya dengan
penafsiran Anda-Anda berdua."
"/Lho/nggak sama gimana, Bu?" kali ini Mbak Noni yang nongol. Rupanya
dia/stand by/juga. "Bukankah jelas jilbab itu ajaran Islam?"
"Iya, iya, betul banget, Mbak. Tapi di desa-desa, baik di Imogiri dan
sekitarnya tempat ibu-ibu di film itu, di desa kita sendiri, maupun di
banyak desa lain orang memaknai jilbab itu seringkali sebagai kerudung
saja. Bukan persis sebagaimana Mbak Noni memaknai jilbab, eh hijab Mbak
Noni sendiri, atau Mbak Yuli melihatnya sebagai bentuk standar moral
yang diseragamkan."
Wah, ini! Bu Warismi sudah kelihatan jebolan Fisipolnya, batin saya.
"Kok gitu?" Pendek saja Mbak Yuli merespons.
"/Lha/ya memang gitu. Coba/to mbok/diperhatikan. Saya sendiri, juga
banyak ibu yang lain di kampung kita, kalau keluar rumah untuk urusan
sepele apa ya pada berkerudung/to/, Mbak? Saya kalau cuma keluar
sebentar buat beli kerupuk di warung Mbak Yayuk mana pernah pakai
kerudung? Mbak Siti juga, kalau pas nyuapin siapa itu anaknya yang
kecil, juga nggak pernah tuh kerudungan. Padahal dia sering sampai
keliling kampung, sambil anaknya nggenjot sepeda kecilnya. Eh, anak Mbak
Siti tuh siapa ya namanya?"
"Kevin, Bu." Saya yang kali ini menimpali, sambil heran saja kok
tega-teganya ada nama Kevin di kampung saya.
"O iya, Kevin. Nah, selama keluar rumah itu, memangnya pernah ada yang
berkomentar miring sama Mbak Siti karena dia tidak menutup aurat?
Gimana, Mbak Siti?"
Tak ada sahutan. Mungkin Mbak Siti kehabisan paket data.
"Dan," lanjut Bu Warismi, "Yang seperti itu bukan cuma saya dan Mbak
Siti/to/? Hampir semua ibu-ibu di sini juga begitu./Nhaaa/, begitu
datang ke acara-acara khusus, misalnya nengok bayi, nyumbang manten,
atau arisan dasawisma, ya kami pakai kerudung. Saya sendiri tidak
menolak bahwa kerudung itu penutup aurat, dan itu ajaran Islam. Tapi
ibu-ibu yang lain apa ya persis seperti itu cara melihatnya? Belum
tentu/to/ya."
"Kok saya masih belum paham sampai di sini ya, Bu War. Maksudnya ibu-ibu
yang lain itu tidak mengakui kalau jilbab ajaran Islam?" Mbak Noni yang
dari tadi tampak/typing/akhirnya muncul lagi.
"Bukan begitu, Mbak, sabar dulu. Maksud saya, cara memperlakukan jilbab,
atau saya lebih suka menyebutnya kerudung, di desa-desa itu tidak persis
sama dengan pengalaman Mbak Noni dan kesaksian Mbak Yuli. Bagi kami,
kerudung itu ya kostum yang mengekspresikan tata kepantasan pada
lazimnya saja. Rasanya kurang sopan kalau datang ke acara agak resmi kok
nggak kerudungan. Sudah sejak lama begitu/je/. Tapi kalau di luar acara
resmi, kami tidak pakai, dan tidak pernah menjadi masalah."
"Tidak jadi masalah gimana/to/, Bu? Saya aja pernah ditegur tetangga,
dibilang memamerkan aurat tuh," kali ini Mbak Yuli nongol.
"Ah, masak sih? Di kampung sini, Mbak?" tanya Bu Warismi.
"Oh, bukan, di kontrakan saya sebelumnya, Bu. Yang dekat kampus itu."
"/Lhaaa/, kan. Ya jangan di-/gebyah uyah to/, Mbak. Masyarakat di sana
bagaimana, harus dilihat dulu. Jelas di sana itu daerah urban,
perkotaan, sudah banyak sekali pendatang campur aduk, dan dekat banget
dengan masjid yang kemarin buat kumpul pas pada mau demo sebelum korona
itu. Tentu masyarakat sana jauh lebih heterogen, persentuhannya dengan
kelompok-kelompok Islam modernis sudah sangat intens, dan wajar saja
kalau jilbab dimaknai secara ketat sebagai penutup aurat oleh
tetangga/njenengan/."
"/Lha/ya itu makanya saya pindah, Bu."
"/Sik/, bentar, Mbak, curhatnya nanti saja hehe," Bu Warismi
mengembalikan perbincangan pada relnya. "Gini ya, Mbak. Hanya karena
suatu simbol bermakna X di satu lingkup sosial, tidak lantas kita bisa
memaknainya sebagai sama-sama X di lingkup-lingkup sosial yang lain.
Bisa jadi Y, bisa jadi pula Z. Yang namanya norma kan konstruksi sosial,
Mbak. Dan setiap konstruksi punya batasan ruang dan waktunya
masing-masing. Lalu, hanya karena ada satu gejala A yang teramplifikasi
sebagai sebuah fenomena massal di banyak tempat, tidak berarti secara
otomatis gejala yang sama sudah pasti berjalan di tempat-tempat lainnya."
"/Nyuwun ngapunten/, Bu,/mbok/jangan pakai istilah yang berat-berat/to/.
Nggak/mudheng/saya ini," Pak Modin menimpali, dan saya agak kaget karena
ternyata beliau menyimak juga.
"Hihi iya maaf, Pak. Saya lanjutkan ya. Semoga nggak kelepasan lagi
pakai istilah-istilah. Saya ambil contoh saja, meski mungkin nggak
seratus persen mirip. Misalnya peci alias kopiah, Mbak Yuli. Pada
awalnya dia dibawa pedagang Timur Tengah sebagai simbol Islam, diadopsi
orang-orang Melayu, tapi kemudian sekarang dia menjadi kostum umum.
Bapak-bapak di kampung kalau datang ke acara formal pada pakai peci
semua. Muncul kesan kalau nggak pecian ya nggak sopan. Bahkan ini
diikuti pula oleh bapak-bapak yang bukan muslim. Ya karena sudah jadi
kostum nasional sejak zaman Bung Karno/to/?"
"/Lho/tapi kan peci bukan ajaran Islam, Bu," Mbak Yuli membantah.
"/Lho/kata siapa? Awalnya ya iya, karena pakai penutup kepala itu sunah
Nabi. Tuh, kan sampai-sampai Mbak Yuli nggak tahu karena sudah saking
lazimnya. Awalnya sunah saja, tapi lama-lama definisi itu mencair, dan
cara masyarakat melihatnya juga bergeser. Nah, kira-kira posisi kerudung
di desa-desa tuh sudah macam peci itu, Mbak. Bahwa menutup kepala itu
sunah, ya jelas masih. Tapi bapak-bapak memakai peci sudah tidak selalu
untuk tujuan sunah. Lebih kepada norma sosial pada umumnya. Demikian
juga kerudung," lanjut Bu Warismi.
"Kalau saya sih lebih karena ribet banget kalau pakai konde kayak nenek
saya dulu, Bu. Lebih praktis pakai kerudung hahaha!" ada
satu/chat/menyambar, dari Bu Tuti. Bu Tuti ini guru senam, pendatang juga.
"Nah, kan. Itu Bu Tuti ngaku hehehe," Bu Warismi terkesan lega karena
dapat pendukung.
"Tapi gini, Bu," Mbak Yuli lagi yang muncul. "Okelah misalnya kerudung
memang sudah diposisikan sebagai norma sosial pada umumnya. Tapi
perasaan ibu-ibu yang tidak suka pakai kerudung gimana? Bukankah itu
artinya ada tekanan, bahkan pemaksaan diam-diam? Di situlah kemerdekaan
pilihan-pilihan kita kaum perempuan sedang ditindas oleh wacana dominan,
dalam hal ini tentu saja agama. Betul, kan?"
Beberapa detik berlalu. Tapi tak ada yang berani menyela. Sampai Bu
Warismi/typing/lagi. "Tunggu dulu, Mbak. Tolong lagi-lagi kacamatanya
dipaskan dikit. Sekali lagi, kerudung tidak sepenuhnya diposisikan
sebagai ajaran agama di sini. Itu norma kepantasan dalam berpakaian
saja. Nah, soal tekanan dan kemenangan wacana dominan, saya juga paham.
Dikit-dikit saya juga pernah baca Foucault kok, Mbak, hehehe.
Tapi,/njenengan/tidak lantas perlu melihat soal kerudung di desa-desa
sebagaimana pemaksaan ajaran agama yang boleh jadi berjalan di
tempat-tempat lain/to/. Pemaksaan dalam tanda petik, maksudnya. Sebab
kalau semua kemenangan wacana dominan dianggap pemaksaan dan penindasan,
bisa habis hidup kita untuk melawan apa pun, Mbak."
"Kok bisa, Bu? Bu Warismi mendukung penindasan?"
"/Wueee/jangan gitu, Mbak. Maksud saya, orang mengikuti norma lazim di
sebuah masyarakat itu kan sangat mungkin ada keterpaksaan juga. Contoh,
saat bapak-bapak datang ke acara resmi pakai celana panjang dan kemeja,
misalnya, bisa jadi ada juga yang menjalaninya tanpa merasa suka."
Saya langsung teringat ketika suatu hari ditolak masuk Kantor Imigrasi
Yogyakarta karena pakai celana pendek, dan terpaksa beli celana Pramuka
di toko baju dekat pertigaan Maguwo. Jelas saya juga sangat terpaksa
waktu itu.
"Atau," sambung Bu Warismi, "Anak-anak ke sekolah pakai sepatu, bukan
sandal jepit. Bahwa di situ ada kemenangan wacana dominan, itu pasti.
Tradisi bersepatu, berkemeja, dan bercelana panjang itu memangnya dibawa
siapa? Ya orang-orang Barat, kan? Orang pribumi waktu itu nggak pakai
kemeja dan celana pantalon. Bahkan sampai akhir abad ke-19 perempuan
pribumi masih banyak yang telanjang dada, sampai kemudian oleh kolonial
Belanda disuruh menutup payudara. Bukankah itu kemenangan wacana dominan
juga? Tapi masak ketika hal-hal demikian sekarang sudah jadi kelaziman
yang baik-baik saja, semua mesti kita lawan atas nama kemerdekaan diri?
Bisa-bisa bukan kemerdekaan yang kita dapatkan, tapi malahan kita jadi
tidak kompatibel secara sosial, Mbak."
Beberapa belas detik berlalu, tak ada yang/chat/lagi. Sampai tiba-tiba
ada tanda orang/left group/. Waduh! Itu Pak Hardi. Disusul satu lagi,
Mas Barman, satgas Covid kampung! Dua orang/left group/!
Saya seketika sadar, ngobrol yang berat-berat di grup Whatsapp kampung
pun bisa membuat kita tidak kompatibel secara sosial....
*Iqbal Aji Daryono*/esais, tinggal di Bantul, tetangga sekabupaten
dengan Bu Tejo
/
*(mmu/mmu)*