Jubir Kemenlu Tiongkok Bantah Teori Ancaman Tiongkok Yang Diajukan
 Menhan AS

2020-08-27 14:54:26 http://indonesian.cri.cn/20200827/7ff5f614-8d37-de50-a34b-55089ce9ee16.html

Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Tiongkok Zhao Lijian kemarin (26/8) membantah “teori ancaman Tiongkok” yang dilontarkan Menteri Pertahanan Amerika Serikat Mark Esper.

Zhao lijian menyatakan, apa yang disebut Mark Esper tidak berdasar apapun. Dia mengajukan “Satu Nasihat, Dua Fakta dan Tiga Pertanyaan” sebagai berikut:

Satu Nasihat. Tiongkok mengharapkan Mark Esper dengan teliti membaca pengumuman Tiongkok yang berjudul “Kebohongan Pidato Pompeo dan Fakta Asli”, fakta dan data yang dicatat dalam pengumuman itu cukup membantah kebohongan apa yang disebut “ancaman Tiongkok”.

Dua fakta. Pertama, sejak tahun 1990, tentara Tiongkok secara akumulasi mengikuti 20 lebih aksi pemeliharaan perdamaian PBB, adalah negara yang paling banyak mengirim pasukan pemelihara perdamaian dibanding anggota lainnya DK PBB. Kedua, dalam sejarah 240 tahun sejak berdirinya negara AS, negeri ini tidak terlibat dalam perang hanya dalam waktu 16 tahun lamanya. Anggaran belanja militer AS pada tahun 2019 sudah melampaui 716 miliar dolar AS, sama dengan total dana belanja militer dari 9 negara setelah AS.

Tiga masalah. Pertama, Tiongkok berpegang pada kebijakan pertahanan defensif, baik Piagam Partai Komunis Tiongkok maupun Konstitusi Republik Rakyat Tiongkok menegaskan Tiongkok berpegang pada pembangunan perdamaian, menentang hegemonisme. Apakah AS bisa memberikan pengumuman politik serupa? Kedua, siapa yang memiliki ratusan pangkalan militer di seluruh dunia, siapa yang melancarkan perang dan aksi militer di Irak, Suriah, Libiya? Siapalah yang mengirim pesawat tempur ke perairan yang jauh dari wilayah dirinya? Ketiga, siapa yang bersikeras pada pikiran perang dingin, terus melanggar perjanjian, mengundurkan diri dari berbagai organisasi internasional, menunjukkan kekuatan di arena internasional , serta merusak peraturan dunia? Asal para politikus AS menghormati fakta, pastinya mendapat jawaban yang tepat.



 Media AS: Lebih Banyak Lowongan Kerja Industri Otomotif AS Pindah ke
 Tiongkok

http://indonesian.cri.cn/20200827/77b743d0-3f3e-a1b7-9ecd-ae80d0c7c968.html
2020-08-27 16:28:42

Menurut laporan NBC Amerika Serikat, perang perdagangan yang dilancarkan pemerintah AS tidak mendatangkan keuntungan kepada industri manufaktur otomotif AS, malah mengakibatkan lebih banyak lowongan kerja teralih ke Tiongkok.

Menurut laporan itu, mobil ekspor AS semakin kurang daya saing akibat bea masuk balasan. Kini berbagai pengusaha manufaktur otomotif seperti GM, Ford, BMW, Mercedes-Benz berturut-turut melakukan pembelian di Tiongkok. Sejumlah perusahaan AS memperluas bisnisnya di Tiongkok. Sementara itu, penambahan bea masuk terhadap onderdil mobil buatan Tiongkok telah menambah ongkos produksi pabrik otomotif AS. Industri otomotif AS mengalami keterpurukan bea masuk dari dua arah.

Juru Bicara BMD Kenn Sparks menyatakan, apabila daya saing produksi dan konsumsi BMW di AS berkurang akibat bea masuk, pihaknya mungkin akan mengurangi ekspor, tindakan ini akan memberikan dampak negatif kepada investasi dan penempatan pekerjaan AS. Analis berpendapat, kebijakan perdagangan pemerintah AS tidak mencapai hasil yang diinginkan, gagal melindungi lowongan kerja industri otomotif AS, malah mendorong lebih banyak lowongan kerja berpindah ke Tiongkok.



 Jepang: Pengaruh Sistem Pembayaran Lintas Negara RMB Meningkat

http://indonesian.cri.cn/20200827/85e83d72-c56e-b6d5-32b6-ba5934e0633c.html
2020-08-27 10:41:31

Situs web “Nihon Keizai Shimbun” dalam sebuah artikelnya menulis bahwa pengaruh ekonomi Tiongkok terus meningkat, lembaga finansial yang bergabung dengan sistem pembayaran lintas negara RMB bertambah, pengaruh sistem pembayaran RMB terus meningkat.

Artikel tersebut mengatakan sampai akhir bulan Juli, 984 lembaga finansial dari 97 negara dan kawasan sudah bergabung dengan sistem pembayaran lintas negara RMB, jumlah ini akan menembus 1000 dalam tahun ini.

Artikel juga mengatakan bahwa untuk mendorong globalisasi RMB, Tiongkok memulai sistem pembayaran lintas negara RMB dari tahun 2015. Lembaga-lembaga finansial yang memasuki sistem ini bisa mengadakan perhitungan perdagangan dan pengiriman dana dengan RMB secara sederhana. Jumlah lembaga finansial Asia yang memasuki sistem ini adalah paling banyak, mencapai 70% dari totalnya. Pengaruh sistem pembayaran lintas negara RMB sangat menonjol di negara-negara “Sabuk dan Jalan”.



Kirim email ke