-- 
j.gedearka <[email protected]>


https://mediaindonesia.com/podiums/detail_podiums/1930-kecepatan




Selasa 08 September 2020, 05:00 WIB 

Kecepatan 

Suryopratomo Dewan Redaksi Media Group | Editorial 

  Kecepatan MI/Ebet Suryopratomo Dewan Redaksi Media Group. BERULANG KALI 
dalam pidatonya, Presiden Joko Widodo menyampaikan, dalam era persaingan bebas 
seperti sekarang ini, negara yang akan menjadi pemenang bukanlah negara yang 
besar atau kecil, tetapi negara yang paling cepat mengambil keputusan. Untuk 
itulah Presiden meminta aparat birokrasi untuk bekerja lebih cepat, tanpa harus 
meninggalkan kehati-hatian. Sengaja kita cuplik kembali pesan Presiden itu 
karena sekarang kita dihadapkan pada keharusan untuk cepat mengambil keputusan. 
Di tengah semakin meningkatnya kembali angka penularan covid-19 di antara 
masyarakat, kita harus cepat bertindak. Kita pantas prihatin kalau melihat 
kondisi yang tengah terjadi di tengah masyarakat. Hari-hari ini kita semakin 
sering melihat ambulans lalu lalang. Di dalam ambulans kita melihat tenaga 
kesehatan menggunakan alat pelindung diri secara lengkap. Artinya, mereka yang 
sedang dilarikan di dalam ambulans ialah pasien covid-19. Suasana yang terjadi 
hari-hari ini persis seperti yang kita alami enam bulan lalu. Ketika itu, 
tenaga kesehatan dipaksa bekerja keras untuk menangani warga yang terinfeksi 
covid-19. Ambulans nyaris tidak pernah berhenti untuk membawa pasien dari rumah 
penduduk ke rumah sakit. Dalam situasi mencekam seperti itu, yang kita butuhkan 
ialah tindakan cepat. Bahkan kita tidak boleh lagi mengenal hari libur sebab 
penularan covid-19 tidak pernah mengenal libur. Dengan jumlah penularan di atas 
3.000 orang setiap hari, bahkan lebih dari 1.000 di antaranya terjadi di 
Jakarta, kita berada dalam kondisi krisis. Sekarang kita tidak merasakan 
kegentingan itu. Kegiatan masyarakat tetap berjalan normal. Karena penerapan 
ganjil-genap yang tidak kunjung dievaluasi, penularan di kendaraan umum terus 
terjadi. Bahkan pendaftaran pemilihan kepala daerah yang tidak mengindahkan 
protokol kesehatan sama sekali, tinggal menunggu waktu saja menimbulkan klaster 
pilkada. Dalam kondisi seperti ini, yang dibutuhkan ialah komandan lapangan 
yang jelas. Berulang kali kita ingatkan, penanganan covid-19 membutuhkan 
komandan yang memiliki komitmen yang jelas dan harus siap 7/24, tujuh hari 
seminggu bekerja dan 24 jam untuk selalu alert. Kalau Sabtu dan Minggu dianggap 
sebagai hari libur, situasi seperti sekaranglah yang kita hadapi. Para kepala 
daerah merasa tidak lagi ada yang mengawasi dirinya setiap hari. Tidak usah 
heran apabila pengendalian di lapangan pun menjadi kendur. Peraturan Presiden 
Nomor 82 Tahun 2020 yang membubarkan gugus tugas dan menggantinya dengan Komite 
Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional membuat ada kekosongan 
pengendalian wabah virus korona. Sudah lebih 40 hari dibentuk, satuan tugas 
yang ada belum bisa beroperasi secara penuh. Padahal kita tahu pandemi covid-19 
tidak ada di dalam buku teks. Literatur yang tersedia, pandemi itu hanya bisa 
mengacu pada kasus flu spanyol yang terjadi 102 tahun lalu. Kita harus 
memecahkan dengan pendekatan baru karena kondisi yang terjadi pada masa itu 
berbeda dengan kondisi sekarang. Kita sedang hidup di era yang disebut Thomas 
Friedman sebagai the world is flat karena mobilitas manusia yang tinggi. 
Penularan semakin menjadi-jadi karena manusialah yang menjadi sumber penularan 
itu. Orang diminta untuk tidak banyak bepergian dulu agar kita bisa menekan 
penularan. Kalau keluar rumah, kita wajib memakai masker dan menjaga jarak. 
Bahkan ketika kembali ke rumah, kita harus mengganti pakaian, mencuci tangan, 
dan bahkan kalau perlu mandi agar kita tidak menulari saudara kita di rumah. 
Presiden benar untuk mengingatkan agar kita sekarang ini segera menginjak rem. 
Angka penularan yang sedang terjadi sudah dalam taraf membahayakan. Tenaga 
kesehatan mulai kewalahan lagi menerima pasien. Kita tidak boleh membuat tenaga 
kesehatan kelelahan karena bisa fatal. Kita ingin mengingatkan Presiden untuk 
mendobrak komite yang belum sepenuhnya berfungsi. Pekerjaan utama komite bukan 
hanya memikirkan pengadaan vaksin. Bukan pula berfokus kepada pemulihan ekonomi 
hanya karena takut resesi. Sekarang ini kita harus takut kondisi kesehatan 
tidak tertangani. Oleh karena itu, penanganan covid-19 harus kembali 
diutamakan. Bukan hanya pada penanganan medisnya, tetapi yang lebih utama lagi 
ialah kampanye gencar untuk perubahan perilaku. Kita harus ingat bahwa waktu 
itu tidak pernah bisa menunggu. Jarum jam terus berputar dan tidak peduli kita 
bisa segera membereskan atau tidak bisa membereskan urusan organisasi maupun 
anggaran komite. Dari waktu lima bulan sejak pembentukan komite untuk 
menyelesaikan tugas di 2020 ini, sekarang waktunya tinggal tersisa 3,5 bulan. 
Lalu kapan kita akan benar-benar mengendalikan penyebaran covid agar ekonomi 
bisa bergerak kembali?  

Sumber: https://mediaindonesia.com/podiums/detail_podiums/1930-kecepatan






Kirim email ke