Analisis Mengejutkan Corona Lebih Dulu di Los Angeles Sebelum di Wuhan
Tim detikcom - detikNews
Sabtu, 12 Sep 2020 05:31 WIB
https://news.detik.com/internasional/d-5169931/analisis-mengejutkan-corona-lebih-dulu-di-los-angeles-sebelum-di-wuhan?single=1
10 komentar
<https://news.detik.com/internasional/d-5169931/analisis-mengejutkan-corona-lebih-dulu-di-los-angeles-sebelum-di-wuhan?single=1#comm1>
SHAREURL telah disalin
<https://news.detik.com/internasional/d-5169931/analisis-mengejutkan-corona-lebih-dulu-di-los-angeles-sebelum-di-wuhan?single=1>
Seorang pejabat Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada Selasa (26/05)
mengatakan bahwa Benua Amerika kini dianggap sebagai pusat baru pandemi
virus Corona.Ilustrasi (Situasi saat pandemi Corona di AS (Foto: Getty
Images)
*Los Angeles*-
Sebuah analisis penelitian mengungkap bahwavirus Corona
<https://www.detik.com/tag/corona>telah lebih dulu muncul diLos Angeles
<https://www.detik.com/tag/los-angeles>, AS sebelum di Wuhan, China.
Analisis ini dilakukan oleh para peneliti dariUniversitas California Los
Angeles (UCLA)<https://www.detik.com/tag/ucla>dan Universitas Washington.
Seperti dilansir/Los Angeles Times,/Jumat (11/9/2020), Penelitian ini
dilakukan oleh dengan mencatat kenaikan jumlah pasien yang mencari
pengobatan untuk batuk-batuk sejak 22 Desember 2019 dan terus naik
hingga akhir Februari.
Para peneliti memperoleh data itu setelah menganalisis catatan medis
dari rumah sakit dan klinik-klinik setempat di Los Angeles. Mereka
membandingkan data catatan medis periode 1 Desember 2019 hingga 29
Februari 2020 dengan data dari periode yang sama selama lima tahun
sebelumnya.
*Baca juga:*Peneliti: Corona Sudah Ada di Los Angeles Sebelum Wabah
Diumumkan di Wuhan
<https://news.detik.com/internasional/d-5168982/peneliti-corona-sudah-ada-di-los-angeles-sebelum-wabah-diumumkan-di-wuhan>
Beberapa dari pasien itu menjalani perawatan di pusat rawat jalan.
Sementara yang lain mendatangi unit gawat darurat dan beberapa orang
akhirnya dirawat di Pusat Medis Ronald Reagan UCLA dan rumah sakit
lainnya yang dikelola UCLA.
Para pejabat pada Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) AS
pertama kali mengakui bahwa Corona mencapai daratan AS pada pertengahan
Januari 2020, saat seorang pria di negara bagian Washington yang baru
saja berkunjung ke Wuhan dinyatakan positif terinfeksi.
Pada saat itu, menurut para peneliti UCLA dan Universitas Washington
dalam kajiannya, para dokter di rumah sakit dan klinik UCLA mungkin
telah merawat lusinan pasien Corona tanpa menyadarinya. Hasil kajian ini
dipublikasikan pada Journal of Medical Internet Research pada Kamis
(10/9) waktu setempat.
Para peneliti tidak melakukan tes diagnostik, sehingga mereka tidak bisa
menyatakan dengan pasti kapan dokter pertama kali berhadapan dengan
seseorang yang terinfeksi Corona atau disebut juga SARS-CoV-2. Namun
jika Corona telah menyebar tanpa terdeteksi sejak Natal 2019, pola
kunjungan pasien ke fasilitas-fasilitas medis UCLA terlihat sangat mirip
dengan apa yang sebenarnya terjadi.
"Jumlah pasien dengan keluhan dan penyakit pernapasan yang jauh lebih
tinggi secara signifikan mulai akhir Desember 2019 dan berlanjut terus
hingga Februari 2020, menunjukkan adanya penyebaran SARS-CoV-2 di tengah
masyarakat sebelum adanya kesadaran klinis dan kemampuan tes yang
mapan," sebut ketua tim peneliti, Dr Joann Elmore, yang seorang dokter
ahli penyakit dalam dan profesor kebijakan dan pengelolaan kesehatan
pada UCLA.
Guna mencari pertanda awal pasien Corona, Elmore dan koleganya memeriksa
data kunjungan lebih dari 9,5 juta pasien rawat jalan, nyaris 575 ribu
kunjungan unit gawat darurat dan nyaris 250 ribu data pasien masuk rumah
sakit selama lebih dari 5 tahun terakhir. Catatan medis yang menyebut
pasien mengeluhkan batuk-batuk juga disertakan dalam analisis.
*Baca juga:*Guru AS Ramai-ramai Protes Rencana Pembukaan Sekolah Saat
Pandemi
<https://news.detik.com/internasional/d-5119434/guru-as-ramai-ramai-protes-rencana-pembukaan-sekolah-saat-pandemi>
Hasilnya menunjukkan total 2.938 pasien mendatangi klinik untuk
mengobati batuk-batuk yang dialaminya, dalam kurun waktu 13 minggu
antara 1 Desember 2019 hingga 29 Februari 2020. Angka itu sekitar 1.047
pasien lebih banyak jika dibandingkan rata-rata jumlah pasien
batuk-batuk pada periode 3 bulan yang sama selama 5 tahun terakhir.
Untuk unit gawat darurat, peneliti mendapati 1.708 pasien batuk-batuk
antara Desember 2019 hingga Februari 2020. Angka itu lebih banyak
sekitar 514 pasien dibandingkan rata-rata 5 tahun sebelumnya.
Kemudian untuk pencarian data medis, ditemukan ada 1.138 pasien yang
dirawat untuk kegagalan pernapasan akut, antara Desember 2019 hingga
Februari 2020. Angka ini lebih banyak sekitar 387 pasien dibandingkan
rata-rata pasien kegagalan pernapasan akut dalam lima tahun sebelumnya.
"Ada kemungkinan bahwa beberapa kelebihan (kasus atau pasien) ini
mewakili penyakit COVID-19 pada awal-awal sebelum pengakuan dan
pengujian klinis," sebut Elmore dan koleganya dalam laporan penelitian
mereka.
*Baca juga:*Mengaku Lahir di Kotoran Sapi, Menteri India Klaim Kebal
Corona
<https://news.detik.com/internasional/d-5169085/mengaku-lahir-di-kotoran-sapi-menteri-india-klaim-kebal-corona>
Dijelaskan juga dalam kajian itu bahwa para pasien batuk mungkin terkena
flu musiman biasa, terutama kasus kasus flu memuncak lebih dari biasanya
pada musim dingin. Namun, ada kemungkinan bahwa wabah penyakit
pernapasan terkait vaping (rokok elektrik) tahun 2019 berkontribusi pada
kelebihan-kelebihan tersebut.
Dengan demikian, gagasan bahwa Corona telah beredar di California jauh
sebelum 31 Desember, saat Komisi Kesehatan Wuhan pertama kali
mengumumkan klaster kasus pneumonia yang tidak bisa dijelaskan, bukannya
tidak masuk akal.
*(rdp/lir)*