Berikut bacaan Minggu ini. Salam, Lusi.-
1.: Zubaedah Hanum: Anemia Tingkatkan Risiko Kematian pada Penderita Covid-19 | Humaniora, Minggu 20 September 2020, 14:05 WIB https://mediaindonesia.com/read/detail/346324-anemia-tingkatkan-risiko-kematian-pada-penderita-covid-19 ANEMIA yang dialami pasien covid-19 dapat menyebabkan efek serius. Hasil studi di Tiongkok dan Amerika Serikat menemukan bahwa kombinasi paparan anemia dan covid-19 menambah risiko kematian yang tinggi. Dosen Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) UNAIR Dr dr M Atoillah Isfandiari, MKes membenarkan hal itu. "Orang yang terinfeksi covid-19 dan mengalami anemia memiliki risiko yang lebih berat jika dibandingkan dengan yang tidak anemia," ujarnya, seperti dikutip dari laman Unair, Minggu (20/9). Anemia atau biasa disebut kurang darah terjadi ketika tubuh kekurangan sel darah merah atau tidak berfungsinya sel darah merah. Kondisi ini menyebabkan suplai oksigen ke organ tubuh berkurang. Gejala yang timbul dapat berupa kelelahan, kulit pucat, sesak napas, pusing, limbung, atau detak jantung cepat. Kondisi anemia dapat memengaruhi daya tahan tubuh terhadap infeksi covid-19 karena kemampuan menyalurkan oksigen ke jaringan tubuh juga berkurang. Rendahnya kadar zat besi dapat memicu turunnya sistem kekebalan tubuh sehingga mudah terinfeksi penyakit. “Jadi kuncinya memang pada transportasi oksigen,” jelasnya. Umumnya, orang yang terinfeksi covid-19 akan mengalami hipoksia atau kekurangan oksigen hingga menyebabkan sesak. Jika terlambat ditangani, pasien akan mengalami gagal napas, kegagalan organ tubuh dan akhirnya meninggal dunia. Dokter Atoillah menyampaikan, covid-19 yang diakibatkan virus SARS-CoV-2 mengandung protein yang berpotensi menyerang sel darah merah dan zat besi yang mengikat. Sehingga sel darah merah akan rusak. Selanjutnya, hal itu juga dapat memicu peradangan pada sejumlah jaringan organ tubuh. Dari hasil studi juga diketahui bahwa covid-19 adalah virus yang sangat cerdas. Sebab, virus itu tidak hanya menyebabkan pneumonia di paru-paru, tetapi permasalahan yang tidak kalah serius seperti anemia. “Itu sebabnya, penderita covid-19 yang gagal napas meskipun diberi ventilator, 50% tidak berhasil,” tambahnya. (H-2) 2.: dr. Tifa: Lockdown Total 2 Bulan Selesai, Cuma Butuh Rp 200 T Buat Kasih Uang Saku ke Rakyat, kan Punya Duit Rp 11.000 T admin DEMOKRASI News Senin, 14 September 2020 https://www.demokrasi.co.id/2020/09/dr-tifa-lockdown-total-2-bulan-selesai.html Penduduk Indonesia per 13 September 2020 sudah berjumlah: 274.100.582 orang. (https://www.worldometers.info/coronavirus/) Tolong kasih tahu Para segala pejabat, yang suka asal sebut jumlah penduduk Indonesia yang 260 juta lah, 265 jutalah, bahkan 250 juta. Untuk data jumlah penduduk saja, pejabat masih suka jumpalitan. Padahal nyawa satu orang penduduk bagi keluarganya, nilainya sungguh tak bisa dihargai setara apapun. Para Pejabat, belajarlah menghargai nyawa rakyatnya, dengan mulai belajar dari menghitung jumlah penduduknya dengan benar. Kalau menggampangkan maka segampang itulah Anda menghargai nyawa 8,650 penduduk dan 117 nyawa Dokter yang meninggal karena Corona. Mengapa jumlah penduduk ini penting sekali dihitung dengan detail sekarang? Karena prediksi saya, kalau terus menerus begini, begini terus-menerus, …dalam waktu tak lama lagi, Indonesia mau tidak mau, akan dan harus Lockdown Total. Maka Pemerintah, tolong siapkan saja dana Rp 2,000,000 x 54,820,116 = Rp 109 Triliun untuk sebulan. Kasih uang saku ke setiap Kepala Keluarga Rp 2 juta per orang. Sambil paksa mereka diam semua di goa masing-masing. Kalau ada yang berani keluar, pukul saja pantatnya seperti Inspektur Sanjay di India. Kalau ada yang nekat keluyuran di kota lepasin saja singa-singa kebun binatang yang pada kelaparan seperti meme di Rusia yang beredar di internet 5 bulan lalu. Lalu tengok grafik, kalau lumayan turun, tambah lagi sebulan lagi, siapkan lagi Rp 109 T lagi. Pesenin ke rakyat, uang Rp 2 juta pegang baik-baik. Makannya jangan boros, makan pisang, kelapa, pepaya, sama telur, tahu, dan tempe, sayur-sayuran yang banyak. Makan orang dewasa sekali sehari saja. Remaja 2 kali sehari, baru anak-anak kecil makan tiga kali sehari. Yang udah tua dan gigi tinggal dikit makan setengah piring sehari saja, yang penting kencengin makan buah pisang dan pepayanya. Dah malah bonus pada langsing-langsing nanti Rakyat Indonesia. Misal harus lockdown dua bulan, Modal 2 kali Rp 109 T berapa sih? Rp 218 T, ngga banyaklah. Kan katanya punya Rp 11.000 Triliun di kantong? Dah ini saran saya. Buruan dilakukan! Keburu nanti grafiknya menggila tak terkendali seperti yang terjadi di India dan Brasil sekarang lho. Indonesia, Perhatikan baik-baik, Angka kasus Positif per tanggal 13 September 2020 sebesar 218.382 adalah hasil pemeriksaan dari 2.620.004 dari 274.100.582 penduduk. Atau hanya 0,9% dari seluruh jumlah penduduk. Bayangkan kalau jumlah yang diperiksa sebanyak 27% seperti yang dilakukan Amerika Serikat. Bisa tekanan darah tinggi semuanya melihat angka yang muncul. Inilah juga kenapa 59 negara merasa ngeri dan sepakat melockdown Indonesia. Karena mereka sudah berhitung, kalau penduduk diperiksa sebesar 10% saja, berapa angka positif yang muncul? Indonesia, Ayo Lockdown total, daripada dilockdown internasional loh. Sama saja itu diembargo, perih tau, harga diri dicoreng moreng. Situasi ke depan, makin kritis, makin mencekam, makin sulit dikendalikan. Jangan tunggu rakyat lapar, sakit, hilang harapan, dan marah. “Memang harus lockdown, Dok Tifa?” Ya. lockdown. Itu satu-satunya cara menghentikan laju persebaran infeksi dalam kondisi seperti sekarang. “Nggak ada cara lain, Dok Tifa?” Ngga ada. “Beneran ngga ada?” Ada sih. Lepasin aja singa-singa. pilih yang lapeeer banget. (dr. Tifa) 3.: Pak Presiden Kok Tiba-tiba Jadi Luhut? 19 September 2020 fnn by Hersubeno Arief https://fnn.co.id/2020/09/19/pak-presiden-kok-tiba-tiba-jadi-luhut/ Jakarta FNN – Sabtu (19/09). Akhirnya Presiden Jokowi menurunkan Menko Marinvest Luhut B Panjaitan dalam palagan “perang” melawan Corona. Instruksinya jelas. Luhut, bersama Kepala BNPB Doni Monardo, diperintahkan menurunkan tingkat penularan Covid-19 di sembilan provinsi, termasuk DKI Jakarta. Waktu yang diberikan sangat pendek. Hanya dalam dua pekan. Jelas ini bukan tugas main-main. Mission imposible. Karena itu figur yang dipilih juga bukan figur orang atau pejabat biasa. Luhut selama ini dikenal sebagai tangan kanan dan pembantu utama Jokowi. Banyak yang menjulukinya sebagai super minister. Orang ketiga setelah Jokowi dan Wapres Ma’ruf. Bila dilihat dari peran dan kewenangannya, dia sesungguhnya jauh lebih penting dan lebih powerful dibandingkan dengan Ma’ruf. Perannya selama ini kira-kira seperti Perdana Menteri. RI-3! Tugas-tugas berat yang tidak bisa diselesaikan oleh menteri atau Menko lainnya, biasanya diserahkan ke Luhut. Sudah biasa bagi Luhut masuk ke sektor lain, di luar tugas pokok dan fungsinya sebagai Menko Marinvest. Luhut selalu menjadi andalan dan senjata pamungkas. Jadi penugasan yang disampaikan oleh Jokowi Selasa (15/9) sesungguhnya bisa dibilang sangat terlambat. Kok Luhut baru diturunkan setelah 10 bulan, atau setidaknya 6 bulan setelah Covid-19 membuat babak belur pemerintahan Jokowi. Dengan background Luhut, kita tidak perlu bahkan tidak boleh bertanya-tanya. Mengapa Luhut yang diturunkan. Kalau mau dicari-cari hubungannya, sebagai Menko Maritim dan Investasi, jelas posisi Luhut erat kaitannya dengan Covid-19. Virus ini berasal dari Cina. Dari seberang lautan (maritim). Dampaknya membuat investasi Indonesia babak belur. Covid-19 adalah masalah lautan dan investasi. Langsung Menggebrak Setelah mendapat mandat, Luhut langsung menggebrak. Bukan Covid-19 yang digebrak. Tapi lawan-lawan politik. Kritikus pemerintah. Dia minta agar tidak nyinyir. “Kami kerja kok. Kami juga punya otak, punya kekuatan dan tim yang bagus. Jadi, tidak usah merasa bahwa ini tidak bisa, Anda belum pernah dipekerjakan jadi tidak usah berkomentar kalau belum paham,” tegasnya. Gertakan model begini sangat khas Luhut. Sebagai perwira tinggi militer, etnis Batak pula, dia terbiasa bersuara keras. Bagi yang belum kenal gayanya, dijamin langsung mengkeret. Tapi apakah resep yang sama juga manjur dan bisa diterapkan ke Corona? Apakah virus made in China itu juga bakal mengkeret dan kabur setelah digertak Luhut? Dipilihnya Luhut, menunjukkan cara pikir dan pendekatan Jokowi terhadap virus tidak berubah. Dia tidak melihat masalah utama terus meningkatnya penyebaran Covid karena masalah kesehatan. Luhut berada dalam madzhab yang sama dengan Jokowi. Dia lebih khawatir ekonomi Indonesia ambyar karena Covid. Kali ini yang menjadi sasaran adalah disiplin masyarakat. Pemerintah menilai terus menyebarnya Covid-19 karena masyarakat tidak disiplin. Karena itu perlu diterapkan operasi penegakan hukum (yustisi) yang tegas. Polisi dan militer dilibatkan. Luhut sebagaimana kata seorang anggota DPR dari PDIP, lebih bisa berkoordinasi dengan para Pangdam dan Kapolda karena latar belakang militernya. Penugasan Luhut juga menunjukkan bahwa manajemen pemerintahan Jokowi benar-benar acakadut. Selalu berubah-ubah, tanpa pernah menyentuh persoalan utama. Sejak awal, jika benar Jokowi memahami bahwa masalah utama adalah kesehatan, maka seharusnya yang menjadi penanggung jawab Menkes Terawan. Kalau Menkes tidak mampu, dia tinggal diganti. Cari figur yang jauh lebih mampu, lebih memahami persoalan dibanding Terawan. Terawan hanya difungsikan sebentar, pada awal-awal pandemi bulan Maret. Karena kebijakan dan pernyataannya sering blunder, dia langsung diberangus. Tak boleh bicara. Peran itu kemudian diserahkan kepada Kepala BNPB Doni Monardo. Namun Doni lama-lama tampak frustrasi karena tidak mendapat kewenangan dan dukungan sepenuhnya. Tanggal 20 Juli peran Doni diamputasi. Posisinya diturunkan di bawah kendali Meneg BUMN Erick Thohir. Erick membawahi Satgas Pemulihan Ekonomi dan Satgas Kesehatan. Sementara Menko Perekonomian Airlangga Hartarto ditunjuk sebagai koordinatornya. Tiba-tiba saja sekarang Jokowi menunjuk Luhut dan Doni untuk menangani dan menurunkan tingkat penularan dan kematian akibat Covid-19 di sembilan provinsi. Keputusan itu mengingatkan kita pada pepatah lama “tiba masa, tiba akal.” Sebuah keputusan yang diambil secara tiba-tiba, tanpa pemikiran dan pertimbangan yang matang. Tiba-tiba saja mewanti-wanti para menterinya agar mendahulukan kesehatan. Ekonomi tidak akan berjalan bila kesehatan rakyat terganggu. Padahal sebelumnya Jokowi dengan bangga memuji sendiri kebijakannya tidak melakukan lockdown. Membuat ekonomi Indonesia lebih baik dibanding negara lain. Semua kebijakan, termasuk anggaran pemerintah, menunjukkan Jokowi lebih mengutamakan ekonomi ketimbang kesehatan. Tiba-tiba saja kita jadi kian tersadar, punya Presiden yang cara berpikir dan bertindaknya tiba-tiba. Ah seandainya saja tiba-tiba…………. End Penulis adalah Wartawan Senior FNN.co.id.
