Bantah Hapus Matpel Sejarah, Nadiem Kisahkan Darah Pejuang di Keluarga

Tim detikcom - detikNews
Senin, 21 Sep 2020 05:16 WIB
https://news.detik.com/berita/d-5181164/bantah-hapus-matpel-sejarah-nadiem-kisahkan-darah-pejuang-di-keluarga?single=1
3 komentar <https://news.detik.com/berita/d-5181164/bantah-hapus-matpel-sejarah-nadiem-kisahkan-darah-pejuang-di-keluarga?single=1#comm1> SHAREURL telah disalin <https://news.detik.com/berita/d-5181164/bantah-hapus-matpel-sejarah-nadiem-kisahkan-darah-pejuang-di-keluarga?single=1> Nadiem Makarim usai rapat di DPR (Rahel/detikcom)Foto: Nadiem Makarim usai rapat di DPR (Rahel/detikcom)

*Jakarta*-

Isupenghapusan mata pelajaran sejarah <https://www.detik.com/tag/null>meramaikan dunia pendidikan Indonesia.Nadiem Makarim <https://www.detik.com/tag/nadiem-makarim>selaku Menteri Pendidikan dan Kebudayaan angkat bicara.

Isu bermula ketika beredarnya dokumen digital dengan sampul Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Pusat Kurikulum dan Perbukuan. Judulnya, 'Sosialisasi Penyederhanaan Kurikulum dan Asesmen Nasional', tertanggal 25 Agustus 2020.

Dalam dokumen ini, tercantum pelajaran sejarah dalam kurikulum 2013 hilang dari kurikulum yang disederhanakan di masa pandemi COVID-19 ini. Pelajaran sejarah dihilangkan untuk SMA dan SMK.

Pelajaran sejarah hilang di Kelas 10 SMA sederajat dalam kurikulum yang disederhanakan. Pelajaran sejarah hanya tampil sebagai mata pelajaran pilihan kelompok ilmu sosial di kelas 11 dan 12, bukan mata pelajaran dasar.

*Baca juga:*Nadiem Heran Komitmennya untuk Sejarah Diragukan: Kakek Saya Pejuang <https://news.detik.com/berita/d-5180892/nadiem-heran-komitmennya-untuk-sejarah-diragukan-kakek-saya-pejuang>

Di SMK, kurikulum yang dipakai saat ini adalah kurikulum 2013 hasil penyempurnaan tahun 2018. Ada mata pelajaran sejarah Indonesia di dalamnya. Pada kurikulum yang disederhanakan yang tercantum dalam dokumen yang beredar itu, pelajaran sejarah tidak ada lagi.

Nadiem membantah isu penghapusan mata pelajaran sejarah. Nadiem menyebut, tidak ada kebijakan penghapusan pelajaran sejarah di kurikulum nasional.

"Saya ingin mengklarifikasi beberapa hal, karena saya terkejut, betapa cepat informasi tidak benar menyebar tentang mapel (mata pelajaran) sejarah. Saya ucapkan tidak ada sama sekali kebijakan, regulasi, atau rencana penghapusan mata pelajaran sejarah di kurikulum nasional," ucap Nadiem dalam video di akun Instagram-nya, seperti dilihat*detikcom*, Minggu (20/9/2020).

Nadiem menjelaskan, saat ini sedang ada pengkajian untuk penyederhanaan kurikulum. Namun, tidak ada penghapusan mata pelajaran sejarah.

"Isu ini keluar karena ada presentasi internal yang keluar ke masyarakat dengan salah satu permutasi penyederhanaan kurikulum. Kami punya banyak, puluhan versi yang berbeda yang sedang melalui FGD, dan uji publik. Semua belum tentu permutasi tersebut menjadi final. Inilah namanya pengkajian yang benar di mana berbagai opsi diperdebatkan secara terbuka," Kata Nadiem.

*Baca juga:*Mendikbud Nadiem: Tak Ada Penghapusan Mapel Sejarah di Kurikulum! <https://news.detik.com/detiktv/d-5180876/mendikbud-nadiem-tak-ada-penghapusan-mapel-sejarah-di-kurikulum>

Penyederhanaan kurikulum tidak akan dilakukan dalam waktu dekat. Perlu uji coba kepada beberapa sekolah, namun tidak secara nasional. Nadiem keberatan komitmennya untuk sejarah diragukan. Dia berbicara soal kakeknya sebagai pejuang kemerdekaan.

"Yang membuat mengejutkan adalah, komitmen saya terhadap sejarah kebangsaan kita dipertanyakan, padahal misi saya adalah untuk memajukan pendidikan sejarah, dan kembali relevan dan menarik bagi anak-anak," ujar Nadiem.

"Kakek saya adalah salah satu tokoh perjuangan dalam kemerdekaan Indonesia di tahun 1945. Ayah (Nono Anwar Makarim), dan ibu (Atika Algadrie) saya aktivis nasional membela hak asasi rakyat Indonesia dan berjuang melawan korupsi. Anak saya tidak akan tahu bagaimana melangkah ke masa depan tanpa mengetahui dari mana mereka datang," sambungnya

*(gbr/isa)*



 Nadiem Heran Komitmennya untuk Sejarah Diragukan: Kakek Saya Pejuang

Tim detikcom - detikNews
Minggu, 20 Sep 2020 18:03 WIB
18 komentar <https://news.detik.com/berita/d-5180892/nadiem-heran-komitmennya-untuk-sejarah-diragukan-kakek-saya-pejuang#comm1> SHAREURL telah disalin <https://news.detik.com/berita/d-5180892/nadiem-heran-komitmennya-untuk-sejarah-diragukan-kakek-saya-pejuang>
Mendikbud Nadiem MakarimFoto: Screenshot video

*Jakarta*-

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Makrim <https://www.detik.com/tag/nadiem-makarim>merasa isu penghapusan mata pelajaran sejarah menyudutkan dirinya sebagai anti kebangsaan. Padahal, menurutNadiem <https://www.detik.com/tag/nadiem-makarim>, dia memiliki silsilah seorang pejuang kemerdekaan.

"Yang membuat mengejutkan adalah, komitmen saya terhadap sejarah kebangsaan kita dipertanyakan, padahal misi saya adalah untuk memajukan pendidikan sejarah, dan kembali relevan dan menarik bagi anak-anak," ujar Nadiem.

Nadiem kemudian bercerita bahwa kakeknya, adalah seorang pejuang kemerdekaan. Ayah dan ibunya pun memiliki konsentrasi terhadap masalah di Indonesia.

"Kakek saya adalah salah satu tokoh perjuangan dalam kemerdekaan Indonesia di tahun 1945. Ayah (Nono Anwar Makarim), dan ibu (Atika Algadrie) saya aktivis nasional membela hak asasi rakyat Indonesia dan berjuang melawan korupsi. Anak saya tidak akan tahu bagaimana melangkah ke masa depan tanpa mengetahui dari mana mereka datang," sambungnya.

*Baca juga:*Mendikbud Nadiem: Tak Ada Penghapusan Mapel Sejarah di Kurikulum! <https://news.detik.com/detiktv/d-5180876/mendikbud-nadiem-tak-ada-penghapusan-mapel-sejarah-di-kurikulum>

Nadiem memang tidak menyebut nama kakek yang dia maksud. Tapi, Atika Algadri, ibu dari Nadiem, adalah anak dari Hamid Algadri.

Diketahui, Hamid Algaderi adalah pejuang kemerdekaan, dan setelah kemerdekaan 17 Agustus 1945. Sebelum kemerdekaan, dia aktif PAI (Persatuan Arab Indonesia). Kemudian, setelah kemerdekaan, Hamid Algaderi ikut dalam perjanjian Linggarjati, Renville dan Konferensi Meja Bundar.

Soal isu penghapusan mata pelajaran sejarah, Nadiem menjelaskan, saat ini sedang ada pengkajian untuk penyederhanaan kurikulum. Namun, tidak ada kebijakan penghapusan mata pelajaran sejarah.

"Isu ini keluar karena ada presentasi internal yang keluar ke masyarakat dengan salah satu permutasi penyederhanaan kurikulum. Kami punya banyak, puluhan versi yang berbeda yang sedang melalui FGD, dan uji publik. Semua belum tentu permutasi tersebut menjadi final. Inilah namanya pengkajian yang benar di mana berbagai opsi diperdebatkan secara terbuka," Kata Nadiem.

*Baca juga:*KPAI Minta Sejarah Tetap Jadi Pelajaran Wajib <https://news.detik.com/berita/d-5180783/kpai-minta-sejarah-tetap-jadi-pelajaran-wajib>

Nadiem menyampaikan, yang dia ingin agar pelajaran sejarah diminati oleh murid-murid. Sehingga, perlu ada pembaruan dalam kurikulum pendidikan.

"Misi saya sebagai menteri adalah kebalikan dari yang (isu yang) timbul, saya ingin menjadikan sejarah suatu hal yang relevan bagi generasi muda, dengan penggunaan media yang menarik dan relevan untuk generasi kita, agar bisa menginspirasi mereka," kata Nadiem.

"Identitas generasi baru yang nasionalis hanya bisa terbentuk dari suatu kolektif memori yang membangunkan dan menginspirasi. Sekali lagi, saya imbau kepada masyarakat, jangan biarkan informasi yang tidak benar ini menjadi liar," kata Nadiem.

Diketahui sebelumnya, muncul petisi daring (online) yang mengusung isu soal mata pelajaran sejarah untuk SMA dan sederajat. Petisi di change.org atas nama Asosiasi Guru Sejarah Indonesia (AGSI) berjudul 'Kembalikan posisi mata pelajaran sejarah sebagai mapel wajib bagi seluruh anak bangsa' telah mendapat 10.473 tanda tangan hingga Jumat (18/9) malam.

*(aik/gbr)*

Kirim email ke