*https://www.eramuslim.com/berita/analisa/kekacauan-negara-di-era-jokowi.htm#.X2jjGGgza00
<https://www.eramuslim.com/berita/analisa/kekacauan-negara-di-era-jokowi.htm#.X2jjGGgza00>*



Kekacauan Negara di Era Jokowi   Redaksi – Jumat, 18 September 2020 06:30

Eramuslim.com – Negara jadi kacau. Kekacauan itu hampir di semua aspek.
Kita mulai dari aspek hukum. Aparat, bahkan institusi hukum terlibat jauh
dalam politik. Gak bisa dibantah itu. BIN pamer operasi. KPK dimatikan
untuk menyelamatkan orang – orang besar dan kasus besar. Beruntun RUU
diusulkan dan UU diterbitkan untuk melindungi kepentingan korporasi dan
oligarki. UU Minerba, UU Corona, RUU Omnibus Law dan RUU HIP, meski telah
secara masif mendatangkan gelombang penolakan dari rakyat, tetap saja
dipaksakan.

Kekacauan juga terjadi di BUMN. PT. Jiwasraya kebobolan belasan triliun.
Pertamina rugi, komut mencak-mencak. Sebelumnya bilang Pertamina merem aja
untung. Eh rugi. Sekarang bilang data dari dirut gak bener. Kacau!

Banyak BUMN dijaminkan untuk pinjaman pembangunan infrastruktur.
Diantaranya infrastruktur komersial. Artinya, dibangun untuk dijual lagi.
Total hutang luar negeri BUMN saat ini 835 T (USD 57,8 M). Naik 15,1% dari
bulan Juli. Pada akhirnya, megap-megap untuk bayar hutang.
------------------------------
------------------------------

Pertumbuhan ekonomi minus 5,32. Berlanjut ke kuartal berikutnya. Artinya,
terjadi resesi. Dampaknya diantaranya pada PHK. Angka pengangguran
diperkirakan bertambah 4,2 juta (data bappenas). Itupun kalau bappenas
jujur dan menggunakan standar wajar dalam menghitung.

Pemerintah dan DPR sepakat untuk cetak uang 600 T. Pakai bahasa yang agak
sedikit keren: burden sharing. Mungkin supaya orang awam gak paham dan
tidak menimbulkan gejolak. Cetak uang berlebihan dengan menempatkan BI di
bawah eksekutif rawan penyelahgunaan dan berpotensi menciptakan inflasi.

Kalau terjadi inflasi, siapa yang nanggung biayanya? Rakyat! Anda saat ini
beli kopi Rp. 2000. Tahun 2021 atau 2022, harganya “mungkin” bisa naik jadi
Rp. 5.000. Uang anda berkurang nilainya. Makanya, sejumlah orang kaya
menukar uangnya ke emas atau dolar.

Dengan UU Corona, muncul anggaran 905 T. Digunakan secara bebas karena
dilindungi UU No 2/2020. Bebas dari tuntutan pidana, perdata dan TUN.
Bukannya anggaran itu lebih banyak dipakai untuk atasi pandemi (kurang dari
10%), tapi justru digunakan untuk injeksi korporasi dan perbankan.
Pandeminya cenderung diabaikan, dampak ekonominya yang terus sibuk diatasi.
Ya, seperti menuang air di ember bocor. Sia-sia! Dan sekarang baru siuman.


Kenapa BI gak beli saja SBN yang ada di tangan bank-bank itu. Lalu turunkan
suku bunga (BI rate) hingga 0-1% saja seperti di Singapura (0%), Thailand
(0,5%) dan Malaysia (1,75). BI rate saat ini masih 4%. Meski sudah
diturunkan 1% (dari semula 5%) dalam empat tahap, tapi tak mampu menahan
laju resesi. Dunia usaha tersendat karena suplay liquiditas terhambat,
meski demand besar. Para pengusaha juga gak mampu membayar cicilan bank,
karena besarnya bunga (8%, hingga di atas 10%).

Uniknya, uang nasabah bank terus bertambah. Artinya, masyarakat lebih
memilih menyimpan di bank dari pada menggunakannya untuk biaya konsumsi.
Makin parah lagi! Uang yang beredar di masyarakat makin kecil. Ini akan
memicu naiknya angka kemiskinan.

Kekacauan juga terjadi di panggung politik. Isinya para buzzer yang
dianggarkan 90.45 M. Masalah apapun sepertinya mau diselesaikan lewat
buzzer. Apapun penyakitnya, pasukan bodrek jadi obatnya. Ngeri!

Belum lagi ketika musim orang gila beroperasi. Sebaran teror di berbagai
wilayah, diantaranya di Lampung, Palembang dan Bogor, semakin menambah
kekacauan sosial.

Di jajaran kementerian, terjadi overlaping. Menkes banyak diam, lahan
corona diambil TNI dan menko Maritim. Kementerian Agama sibuk mengurus
radikalisme dan sertifikasi muballigh. Menteri pertahanan diberi tugas
untuk mengurusi ketahanan pangan. Makin kacau! Wapres? Presiden saja lupa
menyebut namanya saat pidato.
------------------------------
------------------------------

Soal pandemi, pemerintah gagal mengatasi. Negara lain mulai terbebas, di
negeri ini covid-19 justru makin mengganas. Rata-rata perhari bertambah
3000-an orang terinveksi. Rate mortality nasional 4,1%. Ada 100 orang
setiap hari meninggal. Akibatnya, sudah 68 negara melock down Indonesia.
Dalam sialtuasi ini, pemerintah bukannya fokus menyelesaikan, tapi malah
saling menyalahkan.

Kekacauan bahkan sering muncul seiring dengan kebijakan gubernur DKI. Dalam
banyak kebijakan gubernur, pemerintah pusat seringkali mengambil posisi
sebagai oposisi. Bukan mendukung dan bersinergi untuk atasi pandemi.

Ini hanya sebagian dari potret negara yang bernama Indonesia saat ini.
Sebuah kekacauan yang belum ada tanda-tanda untuk berhenti.(end/kfts)


Penulis: Dr. Tony Rosyid

Kirim email ke