*Benarkah Republik Rakyat Tiongkok Terlibat dalam Peristiwa G30S,
Seperti Klaim Soeharto?*
21 September 2020 10:05 Diperbarui: 21 September 2020 10:54 3652 31 5
https://www.kompasiana.com/fery50973/5f681870d541df11413d0fa2/benarkah-china-terlibat-dalam-peristiwa-g30s-seperti-klaim-soeharto?page=all#section2
<https://www.kompasiana.com/image/fery50973/5f681870d541df11413d0fa2/benarkah-china-terlibat-dalam-peristiwa-g30s-seperti-klaim-soeharto>
Lihat foto
<https://www.kompasiana.com/image/fery50973/5f681870d541df11413d0fa2/benarkah-china-terlibat-dalam-peristiwa-g30s-seperti-klaim-soeharto>
Benarkah Republik Rakyat Tiongkok Terlibat dalam Peristiwa G30S, Seperti
Klaim Soeharto?
<https://www.kompasiana.com/image/fery50973/5f681870d541df11413d0fa2/benarkah-china-terlibat-dalam-peristiwa-g30s-seperti-klaim-soeharto>
Berdikarionline.com
September merangkak mendekati akhir, setiap saat di bulan ini selalu
membawa ingatan masyarakat Indonesia pada kenangan peristiwa kelam yang
terjadi 55 tahun lalu ketika terjadi peristiwa kelam penuh darah Gerakan
30 September 1965 atau kini disebut G30S.
Meskipun kejadiannya telah terjadi lebih dari setengah abad lalu, tetapi
perdebatan terkait peristiwa tersebut masih saja terjadi. Apalagi dalam
7 tahun terakhir nama PKI yang disebut oleh Orde Baru sebagai dalang
utama G30S naik daun karena kerap disebutkan oleh sejumlah pihak untuk
kepentingan politik <https://www.kompasiana.com/tag/politik> praktis.
Silang pendapat yang menyigi penyebab dan siapa yang terlibat serta
dalang peristiwa yang disebut Soekarno sebagai Peristiwa Gerakan Satu
Oktober (Gestok) memunculkan berbagai teori.
Selepas masa Orde Baru tumbang, berbagai teori muncul yang seringkali
bernuansa konspiratif, bahkan kemudian nama Presiden ke-2 disebutkan
sebagai instigator peristiwa G30S.
*Namun sebenarnya ada isu lain yang tak kalah serunya terkait peristwa
G30S ini, yaitu apakah Republik Rakyat China terlibat baik secara
langsung maupun tak langsung dalam peristiwa yang menyebabkan 6 Jendral
Angkatan Darat meninggal dunia ini?***
Banyak pihak menyebutkan keterlibatan langsung China dalam peristiwa
tersebut, salah satunya seperti yang diungkapkan dalam Buku Putih
peristiwa G30S yang dirilis oleh Sekretariat Negara pada masa Orde Baru.
Isu-isu keterlibatan China itu menurut beberapa literatur dan sumber
yang saya baca, salah satunya dari Situs Sejarah Historia.id, sangat
panjang hingga ditarik ke beberapa tahun sebelum 1965, dari mulai
bantuan peralatan militer China dalam pembentukan Angkatan ke-5 seperti
usul PKI, hingga kemungkinan adanya transfer teknologi nuklir dari China
ke Indonesia.
Isu lain, tentang bantuan medis yang diberikan oleh Pemerintah China
dalam menangani kondisi kesehatan Presiden Soekarno yang saat itu
disebutkan dalam keadaan kronis.
Kemudian terkait kemesraan antara Pemerintah RRC dan Partai Komunis
China dengan PKI sejak beberapa tahun sebelum G30S terjadi.
Penelitian paling mutakhir terkait hal ini dilakukan oleh ahli sejarah
China dari Nanyang University, Profesor Zhou Taomo.
Ia meneliti rangkaian peristiwa G30S yang berkaitan dengan peran
Pemerintah China di dalamnya. Penelitian itu ia tuangkan menjadi sebuah
disertasi yang bertajuk "/Diaspora and Diplomacy: China-Indonesia and
The Cold War 1947-1967/," untuk meriah gelar Ph.D dari Cornell
University Amerika Serikat.
Salah satu database dari penelitian itu adalah dokumen arsip Kementerian
Luar Negeri China yang sudah di deklasifikasi secara bertahap pada tahun
2007. Sebanyak 250 bundel dokumen setebal 2.000 di buka khusus bagi para
peneliti dan sejarawan.
Namun sayangnya ketika saya coba mengakses dokumen tersebut melalui
situs Kemenlu China ternyata dokumen itu sudah ditutup kembali bagi
siapapun, oleh Pemerintah China.
Setelah saya cari tahu, ternyata arsip-arsip tersebut sudah di
reklasifikasi oleh Kemenlu China pada tahun 2013 lalu dengan alasan yang
tidak jelas.
Beruntungnya, perempuan yang kini menjadi Profesor di Nanyang University
Singapura ini bisa meneliti arsip-arsip itu untuk kebutuhan disertasi
doktoralnya sebelum kembali ditutup aksesnya oleh Pemerintah China.
Hal yang paling penting dalam dokumen seperti yang diungkapkan Taomo
adanya catatan pertemuan antara penguasa China saat itu Mao Zhe Dong
dengan Ketua Umum PKI DN.Aidit satu bulan sebelum peristiwa G30S terjadi.
Transkrip percakapannya tercatat dengan sangat lengkap tertanggal 5
Agustus 1965. Jika merujuk pada transkrip itu, menurut Taomo bisa
menjawab teka-teki yang selama ini terus menjadi bahan perdebatan banyak
pihak tentang keterlibatan RRC dalam Peristiwa G30S.
*Menurut Taomo, keterlibatan Rezim Mao Zhe Dong dalam prahara paling
kelam yang pernah terjadi di Indonesia itu tidak signifikan alias
minimal sekali**.*
Ketika Mao bertemu Aidit di Beijing saat itu, Aidit lah yang menerangkan
rencana gerakan melakukan kudeta tersebut. Mao sendiri terkejut saat
rencana Aidit dan PKI-nya untuk merebut kekuasaan di Indonesia itu
benar-benar dilakukan oleh PKI.
Berdasarkan hal tersebut, Taomo meyakini bahwa temuannya dalam
penelitian ini mengugurkan berbagai "teori konspirasi" yang tersebar
luas bahwa Mao Zhe Dong dan Pemerintah RRC saat itu adalah "arsitek"
dari G30S.
Kendati demikian, akibat teori yang menyebutkan RRC sebagai arsitek
G30S, dampaknya cukup besar terhadap masyarakat etnis China di Indonesia.
Apalagi kemudian ditambah dengan propaganda Rezim Orde Baru pimpinan
Soeharto yang mengidentifikasi etnis China dengan komunisme, membuat
komunitas minoritas ini rawan terhadap kekerasan dan pengusiran selama
masa terjadinya pembunuhan massal pada 1965 hingga 1966.
Akibatnya saat itu kurang lebih 160 ribu warga etnis China pergi ke luar
Indonesia, dan sebagian besar diantaranya kembali ke China Daratan.
Dan selama 3 dasawarsa Rezim Soeharto berkuasa etnis China diperlakukan
diskriminatif melalui sejumlah aturan yang dikeluarkan oleh Pemerintahan
saat itu.
Selain itu hubungan diplomatik Indonesia dengan RRC selama masa Orba
terputus total. Jika pun terjadi hubungan selalu bersifat informal.
Menurut Sejarawan Universitas Indonesia, Asvi Warman Adam, bukti ini
menunjukan bahwa tuduhan Orde baru terhadap China bahwa mereka terlibat
dalam G30S itu menjadi sangat lemah.
"Tuduhan Orde Baru bahwa Tiongkok itu terlibat di dalam G30S tentunya
menjadi sangat lemah," ujarnya.
Selain itu juga Asvi menuturkan bahwa isu senjata yang akan dikirim RRC
untuk angkatan ke lima tapi tak kunjung tiba di Indonesia, bisa saja
hanya merupakan upaya dari rezim Soeharto untuk memperkuat teorinya.
Sementara, pendapat agak berbeda diungkapkan oleh Pakar Politik
Internasional, Dewi Fortuna Anwar. Mao mungkin memang tidak
mengorkestrasi peristiwa G30S, tapi bukan berarti ia tak mendukung upaya
PKI dalam merebut kekuasaan.
Dan terkait fakta senjata bisa saja itu belum dikirim tapi bukan
berarti tidak dipesan oleh PKI.
Sejarah terkait peristiwa G30S ini memang rumit silang pendapat
sepertinya tak berkesudahan hingga saat ini, namun jika mengacu pada
Disertasi Zhou Taomo memang benar RRC tak terlibat langsung baik secara
teknis maupun operasional dalam peristiwa G30S.
Argumentasi Taomo sangat kuat dan tentu saja disertai dengan
sumber-sumber data yang sangat valid. Tapi ya itu faktanya banyak juga
yang masih percaya akan keterlibatan China dalam peristiwa berdarah
tersebut.
Buktinya hingga saat ini sejumlah pihak kerap menyandingkan PKI dan
China sebagai bahan olok-olok politik untuk menekan pihak yang
berseberangan dengan mereka.
Dan itu sah-sah saja, seperti sah nya pendapat yang menganggap Soeharto
sebagai dalang peristiwa G30S.
Pemerintah seharusnya benar-benar melakukan penelitian secara
komprehemsif atas peristiwa sejarah kelam ini, agar silang pendapat tak
terus terjadi.