*https://www.sinarharapan.co/umum/read/23915/lipi__gempa_dan_tsunami_akan_berulan
<https://www.sinarharapan.co/umum/read/23915/lipi__gempa_dan_tsunami_akan_berulan>*
g

LIPI: Gempa dan Tsunami Besar Akan BerulangJumat , 25 September 2020 | 20:52


JAKARTA--Kepala Pusat Penelitian Geoteknologi Lembaga Ilmu Pengetahuan
Indonesia (LIPI) Eko Yulianto mengatakan gempa dan tsunami raksasa akan
berulang di jalur-jalur tunjaman lempeng.

"Gempa dan tsunami raksasa dari jalur-jalur tunjaman lempeng dipastikan
terjadi berulang. Jalur-jalur ini akan tetap menghasilkan gempa dan tsunami
raksasa di masa datang. Tiap-tiap jalur memiliki waktu perulangan ratusan
hingga ribuan tahun," kata Eko saat dihubungi *Antara* di Jakarta, Jumat.

Tim Pusat Penelitian Geoteknologi LIPI meneliti tsunami purba sejak 2006 di
pantai Lebak, Pangandaran, Cilacap, Kutoarjo, Kulonprogo dan Pacitan.
Endapan tsunami berumur 300 tahun ditemukan di sepanjang pantai itu. Di
Lebak, tsunami tersebut mengendapkan batang-batang kayu di suatu rawa 1,5
kilometer (km) dari garis pantai.

Di Pangandaran, tsunami itu menghancurkan mangrove. Penelitian di lokasi
bandara baru Kulonprogo menemukan pasir yang kaya akan jasad renik penghuni
laut dalam, foraminifera dan radiolaria. Lokasi-lokasi endapan tsunami
purba tersebut berada hingga 2,5 km dari garis pantai. Artinya, tsunami
merangsek daratan setidaknya sampai 2,5 km.

Eko menuturkan jika lempeng di selatan Jawa sepanjang 800 km bergeser,
gempa magnitudo 9 dapat terjadi. Sebagai gambaran, tsunami Aceh 2004 dipicu
gempa magnitudo 9,1 akibat pergeseran lempeng sepanjang 1.300 km. Tsunami
Jepang 2011 dipicu gempa magnitudo 9 akibat pergeseran lempeng sepanjang
500 km.

Eko menuturkan dari hitungan hipotetik MacCaffrey, yang merupakan seorang
ahli geofisika Amerika, jalur subduksi selatan Jawa berpotensi memicu gempa
magnitudo 9,6 yang berulang 675 tahun sekali. Kalkulasi serupa untuk pantai
barat Sumatera adalah 525 tahun. Penelitian tsunami berhasil mengkonfirmasi
hitungan hipotetik itu, bahwa tsunami serupa 2004 pernah terjadi 550 tahun
lalu.

Sebagai perbandingan, tsunami Jepang 2011 pernah terjadi 1.142 tahun lalu,
tercatat di suatu kitab kuno dan dikenal sebagai tsunami Jogan. Gempa
magnitudo 9,5 di Chili tahun 1960 yang memicu tsunami raksasa juga pernah
terjadi sebelumnya pada 1575.

*Warga Harus Siap*

Eko menuturkan perlu menjadi perhatian bahwa hasil penelitian mutakhir
endapan tsunami di dalam Gua Laut di Aceh selama kurun 7.400 tahun terakhir
menunjukkan, perulangan tsunami dan gempa tidak benar-benar periodik. Dalam
satu periode waktu tertentu, tsunami lebih sering terjadi daripada periode
lainnya.

"Ini sebuah pesan kuat bahwa masyarakat harus senantiasa siap siaga
sepanjang waktu guna menghadapi ancaman gempa dan tsunami," tutur Eko.

Eko mengatakan perlu mitigasi bencana dalam menyikapi potensi bencana yang
ada di Indonesia.

Menurut dia, pengembangan wilayah pesisir selatan Jawa sebagai pusat-pusat
perekonomian dipastikan akan meningkatkan risiko bencananya khususnya
tsunami.

Oleh karenanya, dia mengatakan sudah selayaknya pemerintah menghitung ulang
analisis risikonya sehingga upaya pengurangan risiko dapat dilakukan
menyatu dengan segala kegiatan pembangunan.

Dengan demikian pembangunan tetap dapat dilakukan bukan saja berdasarkan
atas asas manfaat namun juga di atas prinsip keberlanjutan. "Bencana selalu
berulang, menimbulkan kerugian harta dan jiwa sangat besar," tutur Eko.

*Analisis Resiko*

Eko menuturkan setiap kegiatan pembangunan harus menempatkan pengurangan
risiko sebagai modalitas utamanya. "Hasil analisis risikolah yang dapat
digunakan sebagai alasan apakah sebuah proyek pembangunan harus dihentikan,
boleh dilanjutkan, atau boleh dilanjutkan dengan syarat," ujar Eko.

Penelitian yang diketuai Guru Besar bidang Seismologi di Institut Teknologi
Bandung (ITB) Sri Widiyantoro menunjukkan ada potensi tsunami dengan
ketinggian gelombang mencapai 20 meter di selatan Jawa.

Menanggapi hasil riset ITB itu, Eko menuturkan hal serupa sudah sering
dikemukakan beberapa tahun yang lalu oleh beberapa orang peneliti. Bahkan
sejak 2008 oleh MaccAfrey tentang potensi gempa dan tsunami di jalur
subduksi selatan Jawa.

*9 Kabupaten di Jatim*

Sementara itu BPBD Jawa Timur menyebut ada 9 kabupaten/kota yang berpotensi
tsunami <https://www.detik.com/tag/potensi-tsunami>. "Jadi gini, di Jatim
ini untuk bencana tsunami dipetakan dari 38 kabupaten/kota, untuk bencana
tsunami yang tinggi ada di 9 kabupaten/kota," kata Tenaga Ahli BPBD Jatim
<https://www.detik.com/tag/bpbd-jatim> Suban Wahyudiono saat dikonfirmasi
*detikcom*, Jumat.

Suban menjelaskan, ke-9 daerah tersebut ialah Pacitan, Trenggalek,
Tulungagung, Kab dan Kota Blitar, Kabupaten Malang, Lumajang, Jember dan
Banyuwangi. Dari 9 kabupaten/kota itu, ada 156 desa yang memiliki potensi
tinggi terhadap tsunami. <https://www.detik.com/tag/tsunami>
 "Ada 156 desa potensinya tinggi tsunami. Paling banyak di Banyuwangi 48
desa, Pacitan 24 desa dan Trenggalek 13 desa. Desa itu sudah dipetakan,"
terang Suban.

Sejak tahun 2019 lalu, lanjut Suban, pihaknya sudah turun bersama BNPB,
BPDB Kab/Kota dan relawan untuk mensosialisasikan kepada warga bahwa
desanya rawan tsunami.

Kirim email ke