Jurnal Inggris <Nature> :


 Pengalaman Tiongkok dalam Pelestarian Keanekaragaman Hayati Patut
 Dipelajari Seluruh Dunia

http://indonesian.cri.cn/20200925/3ad9a238-6306-7005-ff3b-ed7574be8b81.html
2020-09-25 15:26:27

Jurnal Inggris <Nature> baru-baru ini dalam editorialnya menyatakan, Tiongkok memainkan peranan krusial dalam pembenahan keanekaragaman hayati global, ilmuwan Tiongkok memiliki pengalaman berharga yang patut dipelajari seluruh dunia.

Jurnal Inggris <Nature> : Pengalaman Tiongkok dalam Pelestarian Keanekaragaman Hayati Patut Dipelajari Seluruh Dunia_fororder_662764837

Editorial menunjukkan dengan mengutip/Global Biodiversity Outlook/yang diumumkan Sekretariat Konvensi Keanekaragaman Hayati PBB, bahwa dalam 20 target pelestarian spesies dan ekosistem yang dijadwalkan perwujudan pada tahun 2020, hanya 6 target diwujudkan secara parsial, yang lain gagal diwujudkan. Kehilangan keanekaragaman hayati dan degradasi ekosistem memberikan dampak mendalam kepada kesejahteraan dan kehidupan umat manusia.

Editorial mengatakan, seluruh dunia harus segera beraksi untuk membalikkan tren memburuknya polusi lingkungan dan kerusakan ekosistem. Menurut sebuah analisa yang dilakukan berbagai negara pada tahun 2019, sekitar 1 juta spesies fauna dan flora di dunia terancam punah.

Konferensi COP 15 PBB bakal digelar di Kunming Tiongkok pada tahun 2021. Pertemuan akan mengadakan konsultasi mengenai isi Kerangka Keanekaragaman Hayati Pasca 2020, dan menyusun target global baru 2021-2030.

Editorial menunjukkan, menjelang Konferensi Kunming, berbagai pihak hendaknya mengetahui pengalaman dan cerita para ilmuwan dan tenaga periset Tiongkok di bidang keanekaragaman hayati. Tiongkok berpengalaman puluhan tahun di bidang penelitian bagaimana menjaga keseimbangan ekonomi dan mengontrol kerugian spesies dan ekosistem sehingga dapat memberikan manfaat kepada pekerjaan keanekaragaman hayati dunia.

Artikel menunjukkan bahwa pertumbuhan cepat ekonomi Tiongkok membantu satu generasi melepaskan diri dari kemiskinan, juga pernah memicu serangkaian masalah lingkungan. Untuk menanggapi opini rakyat, badan terkait Tiongkok selalu berusaha bersama dengan analis dalam dan luar negeri, merencanakan satu jalur kemajuan perkembangan yang lebih rendah karbon.

Tiongkok juga mengadakan inovasi dalam sistem pelestarian lingkungan dengan membangun “kawasan ekosistem sensitif”, “kawasan ekosistem rentan” dan “cagar alam” , membatasi kegiatan manusia supaya memelihara keanekaragaman hayati. Kebijakan ini adalah salah satu kebijakan yang paling awal diajukan di dunia, patut dipelajari negara-negara lain.

Prakarsa “Belt and Road” atau Sabuk dan Jalan Tiongkok juga mengusulkan pelestarian lingkungan. “Rencana Kerja Sama Pelestarian Ekosistem Sabuk dan Jalan” yang diumumkan bulan Mei 2017 adalah salah satu contoh ide perkembangan rendah karbon yang dilaksanakan Tiongkok.

Akhirnya, yang juga penting adalah Tiongkok mempunyai tim penelitian yang terdiri dari staf penelitian dan tenaga akademis dalam jumlah besar.

Artikel mengatakan bahwa para ilmuwan Tiongkok selalu adalah inti pelestarian lingkungan dan perkembangan ekonomi Tiongkok, pengalaman mereka selama puluhan tahun ini bisa menyediakan cermin bagi negara lain dalam penyelamatan keanekaragaman hayati dan pelestarian ekosistem.

Tanggal 30 bulan ini, PBB akan mengadakan Konferensi Tingkat Tinggi Keanekaragaman Hayati online. Majalah “Nature” mewawancarai wakil-wakil berbagai negara yang mengikuti pertemuan tersebut, semua orang mengharapkan pertemuan COP 15  yang akan diselenggarakan di kota Kunming, Provinsi Yunnan, Tiongkok pada tahun depan bisa secara sukses mempersatukan semua negara, menyingkirkan perselisihan politik, mencapai perjanjian untuk mewujudkan keanekaragaman hayati global.


 Sekjen PBB: Perpecahan Tidak Baik bagi Siapa Pun

http://indonesian.cri.cn/20200925/d0f26927-339e-2607-c4b0-af48c09a1c98.html
2020-09-25 14:41:55

Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres hari Selasa mengadakan pembahasan dengan pemimpin berbagai negara secara virtual. Cara ini merupakan pertama kali. Guterres menyatakan, berbagai negara seharusnya dengan sekuat tenaga menghindari pecah belah dan konflik.

Pada 22 September, debat umum Sidang Majelis Umum PBB Ke-75 dimulai di markas besar PBB. Debat umum adalah panggung penting bagi anggota negara mengadakan kegiatan diplomatik, PBB akan mengadakan serangkaian pertemuan senior di sela-sela debat umum. Terpengaruh pandemi Covid-19, tahun ini sidang diadakan secara online, pemimpin-pemimpin berbagai negara berpartisipasi dalam sidang ini dengan laporan video yang direkam sebelumnya. Sekjen Guterres menyatakan, sidang tahun ini sangat berbeda dengan sidang sebelumnya.

Sekjen PBB: Perpecahan Tidak Baik bagi Siapa Pun_fororder_1906549978

SMU: AS Timpakan Kesalahan, Tiongkok Himbau Tingkatkan Kerja Sama

Menurut data yang diumumkan Universitas John Hopkins 22 September, jumlah kematian karena virus corona di AS telah melampaui 200 ribu orang. Selama debat umum SMU, pemimpin AS terus menyebarkan kebohongan tanpa mengindahkan kenyataan demi tujuan politik dirinya sendiri.

Sekjen PBB: Perpecahan Tidak Baik bagi Siapa Pun_fororder_765554734

Wakil Tetap Tiongkok untuk PBB Zhang Jun menyatakan, kecaman AS terhadap Tiongkok tidak beralasan, Tiongkok dengan teguh menentang dan menolak. “Dewasa ini, dunia lebih membutuhkan solidaritas, bukan konfrontasi. Kita perlu meningkatkan saling kepercayaan, bukan menyebar virus politik. Fakta sudah membuktikan, unilateralisme dan hegemonisme pasti akan gagal.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Tiongkok Wang Wenbin menunjukkan, AS berkali-kali memfitnah Tiongkok dengan masalah wabah, tujuannya ialah menimpakan kesalahannya yang gagal melawan wabah kepada negara lain. Intriknya pasti akan sia-sia belaka. AS menyerang dan menarik diri dari WHO, mengancam kerja sama penanggulangan wabah, tidak hanya memberi kerugian bagi seluruh dunia, tapi juga menjadikan rakyat AS sendiri menelan buah pahit. Yang harus dilakukan AS sekarang ialah, menghentikan manipulasi politik dan politisasi wabah, bersama masyarakat internasional melawan pandemi,. “Kami mengusulkan AS menghentikan intrik politik, mengelakkan unilateralisme, dan memikul tanggung jawab terhadap dunia.”

Menurut Reuters, ketika AS keluar dari Perjanjian Paris, Rencana nuklir Iran, Dewan Pengurus HAM PBB serta WHO, Tiongkoklah yang menjadi pendukung teguh multilateralisme.

Pemimpin Mancanegara Dukung Kerja Sama Internasional

Presiden Indonesia Joko Widodo Selasa lalu (22/9) menyatakan, berbagai negara harus berupaya bersama untuk menghadapi wabah virus corona, jika konflik geopolitik meningkat, hal itu akan merusak perdamaian dan stabilitas di seluruh dunia. Satu-satu caranya untuk menangani covid-19 adalah kerja sama bersama antar negara. Perpisahan tidak akan menguntungkan siapa pun.

Presiden Rusia Vlatimir Putin menyatakan, menghadapi wabah virus corona, berbagai negara harus mementingkan peranan WHO dan meningkatkan koordinasi dan kerja sama.

Perpisahan tidak berguna bagi siapa pun, Antonio Gutterres mendesak berbagai negara meningkatkan kerja sama internasional.

Gutterres menyatakan, dunia kita tidak akan tahan perpisahan antara Tiongkok dan AS, konflik teknologi dan ekonomi antar negara mungkin akan berubah menjadi konflik geostrategi dan militer, harus dengan segala tindakan menghindarkan terjadinya keadaan serupa.

Gutterres menekankan harus memelihara solidaritas komunitas internasional. Ia mendesak para anggota negara PBB berhati-hati di hadapan virus corona. Ia berpendapat, wabah menonjolkan kelemahan dan ketidaksetaraan dunia, dan mengakibatkan krisis kesehatan publik yang belum pernah terjadi dalam sejarah dan kerugian ekonomi terserius sejak depresi besar. Ia menyerukan penanganan wabah berdasarkan sains dan bertolak dari kenyataan. Di dunia yang saling koneksi, kita harus mengetahui satu teori yang sederhana yakni solidaritas sama dengan membantu diri sendiri. Jika tidak mengetahui hal ini, semua orang akan terluka.


 Seminar “Anti Terorisme dan Anti Ekstremisme serta Penjaminan HAM ”
 Digelar

http://indonesian.cri.cn/20200925/6b23c59d-7acf-7e97-4604-63f1f5da19e9.html
2020-09-25 16:53:02

Seminar internasional “Anti Terorisme dan Anti Ekstremisme dan Penjaminan HAM” baru-baru ini dibuka secara virtual. Seminar bertujuan membentuk platform untuk masyarakat internasional bertukar pengalaman di bidang praktek anti terorisme dan anti ekstremisme, para ahli menghimbau masyarakat internasional meningkatkan koordinasi, bersama-sama menentang terorisme dan ekstrimisme.

Wakil Tetap Tiongkok untuk Kantor PBB di Jeneva dan organisasi internasional di Swiss, Chen Xu dalam pidatonya mengatakan, pandemi Covid-19 yang muncul tahun ini mendatangkan risiko dan tantangan baru demi perlawanan anti teroris dan anti ekstremisme global, masyarakat internasional hendaknya memperkuat kesadaran komunitas senasib sepenanggungan umat manusia, aktif melaksanakan Strategi Anti Terorisme Global PBB, mendorong multilateralisme dan kerjasama internasional, meningkatkan kemampuan berbagai negara khususnya negara-negara berkembang untuk mengantisipasi terorisme, ekstremisme dan melindungi HAM.

Duta Misi Cameron untuk Jenewa Salomon mengatakan, ekstremisme dan terorisme merupakan musuh bersama berbagai negara dan daerah di dunia, oleh karena itu, menjamin HAM adalah tugas paling penting dan tanggungjawab yang tak dapat dihindari oleh setiap pemerintah negara. Ekstremisme dan terorisme mungkin tersebar di seluruh penjuru dunia, berbagai anggota PBB hendaknya meningkatkan kerjasama, sama-sama menghadapi ancaman ekstremisme dan terorisme.

Di depan seminar itu, para ahli Tiongkok dan luar negeri mengusulkan, mendorong pelaksanaan strategi anti terorisme global, berbagai anggota PBB hendaknya meningkatkan kerjasama dan koordinasi, membagikan tindakan dan pengalaman baik di bidang anti terorisme.

Kirim email ke