https://jurnalpatrolinews.co.id/berita/kudeta-g30-s-pki-sejarah-invalid/
Kudeta G’30 S/PKI “Sejarah Invalid” !
Gambar Gravatar <https://jurnalpatrolinews.co.id/author/raditya/>
Raditya Pradipta <https://jurnalpatrolinews.co.id/author/raditya/>
27 September 20202.993 views
*
<https://www.facebook.com/sharer/sharer.php?u=https://jurnalpatrolinews.co.id/berita/kudeta-g30-s-pki-sejarah-invalid/>
*
<https://twitter.com/share?url=https://jurnalpatrolinews.co.id/berita/kudeta-g30-s-pki-sejarah-invalid/&text=Kudeta%20G%E2%80%9930%20S/PKI%20%E2%80%9CSejarah%20Invalid%E2%80%9D%20!>
* Whatsapp
<https://api.whatsapp.com/send?text=Kudeta%20G%E2%80%9930%20S/PKI%20%E2%80%9CSejarah%20Invalid%E2%80%9D%20!%20https%3A%2F%2Fjurnalpatrolinews.co.id%2Fberita%2Fkudeta-g30-s-pki-sejarah-invalid%2F>
Mayjen TNI (Purn) Saurip Kadi
*Oleh: Mayjen TNI (Purn) Saurip Kadi.*
*JurnalPatrolinews –*Berbeda dengan dongeng, legenda, kisah atau bahan
indoktrinasi, sebuah sejarah mutlak disusun berdasarkan kejadian nyata
dimasa lalu dan berangkat dari teori yang disusun oleh perumus tulisan
sejarah. Dan karenanya, maka sejarah harus mampu merekontruksi sejumlah
komponen menjadi sebuah bangunan yang tidak sekedar menceritakan apa dan
bagaimana sebuah peristiwa terjadi. Tapi juga harus mampu menjawab
pertanyaan MENGAPA peristiwa tersebut terjadi yaitu latar belakang atau
sebab musabab yang mengantar terjadinya peristiwa tersebut. Sudah barang
tentu, kebenaran dari jawaban pertanyaan MENGAPA tersebut sama sekali
bukan sebuah karena dogma, tapi kebenaran yang berada pada wilayah
filsafat, karenanya harus bisa diterima oleh akal sehat secara universal.
BACAAN LAINNYA
* Sindir UAS Ustaz Kadrun, Dewi Tanjung: Mintalah Perlindungan kepada
Allah SWT, Bukan kepada Manusia
<https://jurnalpatrolinews.co.id/nasional/sindir-uas-ustaz-kadrun-dewi-tanjung-mintalah-perlindungan-kepada-allah-swt-bukan-kepada-manusia/>
* Indonesia Poros Tatanan Dunia Baru Penuh Perdamaian
<https://jurnalpatrolinews.co.id/nasional/indonesia-poros-tatatnan-dunia-baru-penuh-perdamaian/>
* Setelah Ratusan Tahun Rumah Ibu Presiden Sukarno di Buleleng Akan
Direstorasi
<https://jurnalpatrolinews.co.id/nasional/setelah-ratusan-tahun-rumah-ibu-presiden-sukarno-di-buleleng-akan-direstorasi/>
Sementara dongeng, legenda, kisah dan apalagi bahan indoktrinasi disusun
bisa dengan memanfaatkan sebagian kecil saja dari sebuah peristiwa yang
nyata terjadi yang kemudian dibuatkan persepsi karangan si penyusun, tak
peduli dengan memutar balikkan fakta dan atau bertentangan dengan akal
sehat sekalipun.
Yang pasti dengan sejarah, kedepan sebuah bangsa mempunyai pelajaran
dalam membangun peradabannya, sehingga generasi penerusnya tidak akan
mengulangi kesalahan yang sama yang pernah dibuat pendahulunya.
*Validitas Sejarah Kudeta G’30 S/PKI.*
Berangkat dari rumusan bahwa sejarah disusun berdasarkan sebuah teori,
maka dengan mudah kita bisa melakukan uji validitas sebuah rumusan
sejarah, tak terkecuai sejarah seputar pergantian kekuasaan dari Bung
Karno kepada Suharto termasuk penggalan peristiwa yang difilmkan dengan
berjudul Pengkhianatan G 30’S/PKI.
Inti rumusan sejarah termaksud adalah Bung Karno sebagai Presiden
dicopot oleh MPRS karena ia terlibat G 30’S/PKI yang hendak kudeta.
Sudah barang tentu kudeta yang dimaksud adalah terhadap Pemerintahan
yang sah. Sementara pemerintahan yang sah dipimpin oleh Bung Karno itu
sendiri, artinya Bung Karno hendak mengkudeta dirinya sendiri.
Maka untuk menguji kebenaran rumusan sejarah yang menyebutkan Peristiwa
G 30’S/PKI akan melakukan kudeta, bisa dilihat dari jawaban atas
pertanyaan MENGAPA PKI harus melakukan KUDETA, bukankah posisi PKI saat
itu sangat diuntungkan. Disamping sebagai partai Parlemen yang dalam
Pemilu 1955 sebagai pemenang ke 4, PKI adalah “ANAK EMAS” Bung Karno.
Kalau saja jawabannya belum juga meyakinkan, maka bisa diajukan
pertanyaan lain yaitu MENGAPA yang harus dihabisi adalah Pimpinan TNI AD
? Bukankah untuk sebuah kudeta lebih praktis kalau yang di DOR langsung
BK saja.
Begitu pula terhadap alasan karena Pimpinan TNI AD tidak setuju dengan
konsep pembentukan Angkatan Kelima gagasan Bung Karno, maka alasan bahwa
PKI akan KUDETA menjadi GUGUR dengan sendirinya. Dan kalau betul
peristiwa biadab tersebut bukan berlatar belakang G 30’S/PKI hendak
melakukan kudeta, lantas untuk apa mereka menghabisi Pimpinan TNI AD.
Maka muncul pertanyaan yang terakhir yaitu MENGAPA yang menghabisi
Pimpinan TNI AD justru Pasukan Pengawal Presiden (Cakra Birawa)?.
Dapat dipastikan jawaban dari 3 pertanyaan termaksud mustahil bisa
diterima akal sehat, apalagi faktanya Bung Karno kemudian secara
perlahan diganti oleh Suharto,dan sampai dengan akhir hayatnya berstatus
sebagai tahanan rumah.
Maka wajar saja kalau sejumlah ahli menyebut G 30’S/PKI adalah KUDETA
MERANGKAK. Dan untuk membuktikan kebenaran bangunan skenario sebagai
KUDETA MERANGKAK termaksud kini Arsip USA tetang keterlibatan CIA dalam
kasus tersebut dengan mudah bisa diakses. Dan sudah barang tentu
keterlibatan USA dalam pergantian kekuasaan dari Bung Karno ke Suharto
dengan pintu masuk G 30’S/PKI tersebut dipastikan terkait dengan
perubahan strategi USA membendung komunisme , akibat besarnya korban
yang jatuh pada perang di Vietnam, maka untuk di Indonesia ditempuh
dengan “perang” intelejen.
*Hilangnya Akal Sehat dan Nurani Sebagian Elit Bangsa.*
Adalah fakta kalau anak PKI dalam jumlah puluhan juta selama Orde Baru
peluang pekerjaan yang terbuka untuk yang wanita adalah menjadi PSK
(Pekerja Sex Komersial) atau PRT (Pembantu Rumah Tangga). Sementara
yang pria peluangnya hanyalah menjadi tukang tambal ban, kuli bangunan
dan atau tenaga kasar lainnya. Jangankan menjadi Anggota TNI dan atau
PNS, sekedar untuk menjadi karyawan pabrik swasta saja tidak mungkin
bisa, karena terhalang status bersih lingkungan sebagai anak PKI.
Karena kegigihannya paska lengsernya Suharto sebagian dari anak PKI
kemudian ada yang bisa menduduki jabatan politik khususnya dilingkungan
legislatif, melalui partai-partai yang ada. Yang pasti mereka memenuhi
persyaratan hukum dan demokrasi untuk tampil sebagai anggota legislatif
mengalahkan banyak komperitor lainnya tak terkecuali dari lingkungan
purnawirwan TNI/Polri. Mereka inilah yang kemudian dituduhkan oleh
sejumlah kalangan sebagai gerakan PKI bangkit.
Kondisi tersebut lebih nyata ketika seorang JKW yang terlahir dan
dibesarkan dibantaran sungai dan issukan orang tuanya adalah kader PKI
terpilih menjadi Gubernur DKI dan kemudian menjadi Presiden. Yang pasti
JKW adalah Presiden yang tidak mempunyai ikatan dan kaitan masa lalu
(Orba), kiranya wajar sejumlah pihak ketakutan terhadap bayang-bayang
diri sendiri karena masa lampaunya. Disanalah maka sewaktu Pemilu 2019
pihak-pihak yang dimasa lalu bermasalah dengan sekuat tenaga upaya
menghalangi pak JKW untuk tampil kembali menjadi presiden. Hal yang
sejenis juga terjadi belakangan ini, dimana sejumlah tokoh termasuk
mantan Panglima TNI yaitu Jenderal TNI (Purn) Gatot Nurmantyo kembali
menggelindingkan issue PKI bangkit secara terbuka.
Sungguh Penulis sendiri yang kebetulan kenal bahkan secara “ideologis”
dengan Jenderal TNI (Purn) Gatot Nurmantyo menjadi heran karena baliau
bukan lagi Jenderal Gatot yang saya kenal dulu. Seolah beliau tidak tahu
bahwa ideology besar dunia apalagi komunisme telah lama bangkrut, lantas
bagaimana akan menghidupkan komunisme yang kopral–jenderal,
bodoh-pinter dan sejenisnya, dengan jatah sama.
Sementara sebagai paham juga sudah bercampur dengan paham lainnya. Di
RRC umpamanya, kini dikenal konglomerasi swasta, sebuah konsep ekonomi
yang bertentangan dengan prinsip dasar ekonomi komunisme yaitu
konglomerasi negara. Begitu juga tentang alasan bahwa komunisme yang
anti agama, bukankah dibekas negara-negara komunis, ternyata rumah-rumah
ibadah tetap utuh berdiri.
Adalah logika yang terbalik-balik, kalau ada bangsa yang sudah memasuki
era demokratisasi akan menghidupkan komunisme. Sementara di negeri kita
yang teriak keras anti komunis, ternyata tidak ada satu pun yang
menentang praktek konsep ekonomi komunis seperti GOJEK dan UBER. Bisa
jadi sesungguhnya mereka tidak mengerti yang ucapkan atau hanya karena
kehabisan issue, sehingga issue PKI digelindingkan kembali, mengingat
issue tersebut terlanjur tertancap dibawah sadar sebagian anak bangsa.
Lantas dimana hati nurani, rasa kemanusian dan apalagi kenegarawanan
sejumlah elit kita, dan apalagi mereka yang dahulu menjadi bagian dari
Orde Baru. Sungguh mereka tega, secara sadar membikin negara gaduh
berkepanjangan. Padahal tanpa kemauan menghentikan cara-cara lama
tersebut, cepat atau lambat anak dan atau cucu PKI kelak bertanya
kepada mereka, siapa sesungguhnya yang bikin negara kini amburadul, PKI
kah atau Pihak lain ?. Siapakah yang bagi-bagi Sumber Daya Alam untuk
segelintir kroni penguasa, sehingga kini kesenjangan begitu menganga,
PKI kah atau Pihak lain?. Siapakah yang menikmati fasilitas per Bank an
selama berpuluh tahun, PKI kah atau Pihak lain ?. Siapakah yang berpesta
pora dengan kebijakan BLBI, PKI kah atau pihak lain. Dan siapakah pelaku
Mega Korupsi serta praktek Mafia dihampir semua bidang kehidupan, PKI
kah atau pihak lain.
Bukankah sebagai bangsa terlebih mereka yang dulu menjadi bagian dari
Orde Baru untuk menutup masa lampau dan janganlah terus menggaruk-garuk
bekas luka lama yang dulu memang penuh nanah.
*
*
*
*
*
*
G’30 S/PKI <https://jurnalpatrolinews.co.id/tag/g30-s-pki/>