Bukti Terbaru G30S/PKI: Soeharto Dalang Pemb*nuhan Ahmad Yani
*https://www.youtube.com/watch?v=4cSkkPj3ID8*
*
*
*Menteri **Achadi**: G30S Jebakan terhadap Bung Karno*
*https://www.youtube.com/watch?v=og0gwAWcuug
*
*
*
“Untuk menafsirkan G30S kita harus berpegang kepada dalil yang disebut
history is continuity (sejarah adalah keberlanjutan),” katanya dengan
wajah serius saat menerima kunjungan Republika di Sabtu (26/9) petang
lalu, seperti dituturkan kepada wartawan Republika.co.id, M. Akbar Wijaya.
Lelaki itu bernama Mohammad Achadi. Dia salah satu saksi kunci dari
narasi panjang Gerakan 30 September (G30S) 1965 yang berujung trgedi.
Pada medio 1964, atau setahun sebelum peristiwa G30S terjadi, Presiden
Sukarno mengangkat pria kelahiran Kutoarjo 83 tahun silam itu menjadi
Menteri Transmigrasi dan Koperasi Kabinet Dwikora I dan II.
Sejak itu Achadi masuk dalam lingkaran orang kepercayaan Bung Karno.
“Saya Sukarnois (loyalis Bung Karno),” katanya.
Bagi Achadi pertistiwa G30S bukan hanya tentang penclikan dan pembnuhan
tujuh orang jenderal dan tiga perwira menengah Angkatan Darat. Peristiwa
G30S merupakan narasi panjang tentang arus balik pembentukan sejarah
Indonesia.
Dari peristiwa G30S Indonesia berubah dari bangsa Trisakti yang
berdaulat dalam politik, mandiri dalam ekonomi, dan berkepribadian dalam
kebudayaan menjadi bangsa yang gampang didikte asing. Persatuan nasional
yang saat itu menjadi teladan negara-negara dunia ketiga di Asia-Afrika,
dipecah belah dalam perang saudara. “Kata Bung Karno G30S membuat
revolusi Indonesia mundur 20 tahun ke belakang. Seperti tahun 1945,”
ujar Achadi.
Lama merenung tentang apa yang terjadi dalam peristiwa 50 tahun silam,
Achadi berkesimpulan aksi G30S yang dipimpin Letnan Kolonel Untung
Samsuri hanyalah permulaan dari skenario panjang menghancurkan revolusi
Indonesia.
Sasaran utamanya adalah Bung Karno selaku pemimpinan tertinggi revolusi.
“Saya berkesimpulan bahwa G30S adalah pengkhanatan berbentuk
jebakan-jebakan terhadap Bung Karno dan seluruh kekuatan yang loyal
terhadap Bung Karno,” katanya.
Analisa berangkat dari kenyataan yang terjadi setelah peristiwa G30S.
Saat itu perlahan namun pasti wibawa dan kekuasaan politik Bung Karno
digerogoti. Sejumlah orang kepercayaan Bung Karno ditangkapi.
Bung Karno juga dilarang mengikuti beragam aktivitas politik yang sudah
menjadi “vitamin” batinnya sejak muda. Bahkan, manusia yang sejak muda
gigih melawan penjajahan ini mesti mati dalam status sebagai tahanan
rumah di negeri yang kemerdekaannya dia proklamasikan sendiri. Dan yang
paling penting, revolusi Indonesia menentang neokolonialisme dan
neoimperialisme berhenti total.