Wang Yi: *Negara Besar Tak Boleh Rampas Hak Pembangunan Negara-negara
 Lain*

http://indonesian.cri.cn/20200929/dd8b62d8-8735-1fe1-e708-41346ea9b76a.html
2020-09-29 10:41:56

Anggota Dewan Negara yang juga Menteri Luar Negeri Tiongkok Wang Yi hari Senin kemarin (28/9) menyampaikan pidato di depan upacara pembukaan Forum Tata Tertib Internasional dan Pemerintahan Global pada Zaman Pasca Wabah.

Wang Yi menyatakan, tantangan yang dihadapi perdamaian perlu dilenyapkan melalui pandangan keamanan baru yang tunggal, komprehensif, kooperatif dan berkelanjutan, dan defisit yang dihadapi pembangunan perlu diselesaikan melalui ide pembangunan baru yang inovatif, koordinatif, bewarna hijau, terbuka dan inklusif.  Pada pemeliharaan perdamaian dan pembangunan, negara besar mengemban tanggung-jawab yang khusus dan tidak boleh mengupayakan keamanan negaranya sendiri dengan mengorbankan keamanan negara-negara lain dan juga tidak boleh merampas hak pembangunan negara-negara lain melalui perbuatan bullying. Tiongkok akan terus dengan teguh tak tergoyahkan menempuh jalan pembangunan secara damai, sementara bersama dengan berbagai negara menentang apa yang disebut “Negara sendiri diprioritaskan” dan menentang bersama pertarungan zero sum.

Wang Yi menegaskan, sebagai negara pertma yang membubuhkan tandatngan pada Piagam PBB, Tiongkok mendapat manfaat dari perdamaian dan pembangunan dunia dan selalu melakukan upaya yang tak kenal lelah dalam memelihara perdamaian dan pembangunan dunia. Tiongkok merupakan partisipan penting dalam agenda pembangunan berkelanjutan 2030 PBB dan juga negara donator dan negara pengirim tentara kedua terbesar dalam aksi pemeliharaan perdamaian PBB. Tiongkok juga secara konstruktif aktif ikut serta dalam penyelesaian politik dan penengahan berbagai masalah titik panas internasional, dan memainkan peranan penyuluhan dalam menanggapi tantangan global antara lain perubahan iklim.


 Wang Yi: Tiongkok adalah Andalan Kuat Keadilan Manusia

http://indonesian.cri.cn/20200929/d57d84bd-c7b6-725c-daed-7135fcf05718.html
2020-09-29 11:16:31

Anggota Dewan Negara selaku Menteri Luar Negeri Tiongkok Wang Yi menyampaikan pidato di depan upacara pembukaan Forum Lanting yang mengusung tema “Tata Tertib International dan Pemerintahan Global pada Era Pasca Pandemi” di Beijing kemarin (28/9).

Dalam pidatonya, Wang Yi menyatakan, selama zaman modern, Tiongkok sudah lama tertimpa hinaan dan ketidak-adilan. Sejak berdirinya Republik Rakyat Tiongkok, rakyat Tiongkok berdiri dengan tegak dan menjadi pembela keadilan internasional. Tiongkok berpegang teguh pada lima prinsip hidup berdampingan secara damai, selalu tidak mencampuri urusan dalam negeri negara lain, dan sama sekali tidak memperkenankan negara lain mencampuri urusan dalam negeri Tiongkok; Tiongkok mempertahankan multilateralisme, berupaya memelihara sistem internasional yang berintikan PBB dan tata tertib internasional yang berdasarkan hukum internasional. Tiongkok mempertahankan tata hukum, dan telah bergabung dalam hampir semua organisasi dan konvensi internasional antar pemerintah yang universal, dan telah menandatangani lebih dari 25 ribu perjanjian bilateral dengan negara lain. Tiongkok menentang negara kuat menindas negara lemah dan berpendirian bahwa konfrontasi digantikan dengan dialog, ancaman digantikan dengan koordinasi dan zero sum digantikan dengan kemenangan bersama. Tiongkok adalah andalan kuat keadilan manusia.


 Tiongkok Tidak Pernah dan Tidak Perlu Lakukan Intervensi atau
 Infiltrasi terhadap Negara Lain

http://indonesian.cri.cn/20200929/a6e044f1-5fdd-1946-57ff-12524efbadf8.html
2020-09-29 11:06:32

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Tiongkok Wang Wenbin dalam jumpa pers Senin (28/09) mengatakan, Tiongkok mempertahankan politik diplomatik damai yang bebas merdeka,  tidak pernah dan tidak perlu melakukan intervensi dan infiltrasi terhadap negara lain.

Menurut laporan, belakangan ini majalah terkait Australia dalam sebuah artikel mengungkapkan penipuan yang dibuat oleh badan intelijen keamanan Australia dan pakar Australia Clive Hamilton dan anggota parlemen Australia Andrew Hastie yang anti-Tiongkok  dengan mengatakan bahwa Tiongkok melakukan infiltrasi dan kegiatan spionase terhadap Australia. Mereka merancang perang propaganda anti-Tiongkok dan berupaya merugikan hubungan Tiongkok - Australia.

Wang Wenbin dalam jawaban atas pertanyaan terkait menunjukkan, orang-orang tersebut selalu asyik membuat kebohongan tentang argumentasi infiltrasi Tiongkok yang sensasionil, mereka menstigmatisasi dan memonsterisasi pertukaran dan kerja sama pragmatis Tiongkok -Australia yang normal serta kegiatan normal masyarakat Tionghoa di Australia dengan tujuan menimbulkan pertentangan ideologi dan meracuni suasana hubungan bilateral Tiongkok-Australia, membajak   kekebijakan pemerintah Australia dan keinginan rakyat Australia, akhirnya mencapai kepentingan dirinya sendiri dan tujuan politik yang tersembunyi.



 Penindasan AS terhadap Perusahaan Tiongkok Tidak Mendapat Dukungan
 Masyarakat

http://indonesian.cri.cn/20200929/369c5702-6407-428d-4449-ca31bf98c94b.html
2020-09-29 11:08:05

Pada Minggu malam waktu Amerika Timur (27/9), Hakim Pengadilan Federal Washington D.C. Carl J Nichols menandatangani surat putusan pada 4 jam sebelum waktu pengunduhan aplikasi TikTok yang ditetapkan Departemen Perdagangan AS. Surat putusan itu menghentikan blokir terhadap TikTok tapi tetap menyimpan ketentuan yang melarang perusahaan AS menyediakan layanan internet kepada TikTok sejak tanggal 12 November. Itu berarti TikTok dapat bernafas sejenak tapi tetap akan menghadapi pertarungan alot dengna AS.

Yang patut dicatat ialah, keputusan ini merupakan sekali lagi sebuah pengadilan federal AS mengatakan “tidak” terhadap penindasan politik AS terhadap perusahaan iptek Tiongkok sesudah Pengadilan Federal Negara Bagian California Utara menghentikan larangan terhadap WeChat. Hal itu sekali lagi memperlihatkan bahwa pembendungan pemerintah AS terhadap perusahaan iptek Tiongkok tidak memiliki dasar hukum, tindakan bullying dan perampokannya tidak didukung masyarakat bahkan mengundang kemarahan umum.

Persetujuan TikTok dengan perusahaan AS itu sama sekali bukan transaksi bisnis yang sederhana saja, melainkan paksaan politik terang-terangan, adalah kebohongan yang dibikin sejumlah politikus AS demi kepentingan politiknya sendiri. Meskipun keputusan pengadilan federal memungkinkan TikTok bisa bernafas sejenak, akan tetapi, mempertimbangkan serangkaian manipulasi AS tanpa garis batas sebelumnya, pertarungan selanjutnya pasti akan lebih sulit dan rumit. Pihak AS hendaknya tahu, sebagai negara besar yang selalu maju terus dengan tak takut kesulitan, Tiongkok sama sekali tidak akan tunduk kepada ancaman apa pun, pasti akan mengambil semua tindakan yang diperlunya untuk melindungi hak dan kepentingan sah perusahaan Tiongkok. Di depan arus perkembangan sejarah, proteksionisme dan tindakan bullying pasti akan gagal.

Kirim email ke