*https://suarapapua.com/2020/09/27/militer-indonesia-telah-tembak-mati-tiga-pendeta-antara-2004-2020/
<https://suarapapua.com/2020/09/27/militer-indonesia-telah-tembak-mati-tiga-pendeta-antara-2004-2020/>*


*Militer Indonesia Telah Tembak Mati Tiga Pendeta antara 2004 – 2020*

*Penulis * *Yance Agapa* <https://suarapapua.com/author/yance/>

27 Sep 2020, 8:59 WP

Ilustrasi TNI Polri (Tirto.Id)

*JAYAPURA, SUARAPAPUA.com — Pdt. Dr. Socratez Sofyan Yoman, Presiden Gereja
Baptis Papua mengungkapkan bahwa dalam kurun waktu 2004 – 2020 aparat [TNI]
militer Indonesia telah menembak mati tiga Pendeta di Tanah Papua.*

Yoman membeberkan, ketiga pendeta tersebut adalah  Pdt. Yeremia Zanambani,
Pdt. Geyimin Nirigi dan Pdt. Elisa Tabuni.

Pertama, Pdt.  Elisa Tabuni tewas ditembak TNI di Tingginambut, Puncak Jaya
pada 16 Agustus 2004. Kedua, Pdt. Geyimi Girigi tewas setelah ditembak TNI
pada 19 Desember 2018 di distrik Mapenduma, Nduga, Papua. Ketiga, Pdt.
Yeremia Zanambani ditembak mati TNI pada 19 September 2020 di Hitadipa,
Kabupaten Intan Jaya, Papua.


Yang terbaru, lanjut Yoman, adalah Zanambani di Hitadipa, Kabupaten Intan
Jaya, Papua, yang ditembak mati oleh Tentara Nasional Indonesia (TNI) pada
Sabtu, 19 September 2020.

“Pendeta Yeremia tewas ditembak Pasukan TNI dalam operasi militer pada saat
Pendeta Yeremia ke kandang babi miliknya untuk memberi makanan,” jelasnya
kepada media ini pada akhir pekan kemarin di Kota Jayapura.

Yoman menjelaskan, Pendeta Yeremia adalah Ketua Sekolah Teologia Atas (STA)
di Hitadipa dan gembala jemaat Imanuel Hitadipa dari Gereja Kemah Injil
Indonesia (GKII) Daerah Hitadipa wilayah Papua 3, Penerjemah Alkitab bahasa
Moni dan tokoh gereja serta pemuka masyarakat suku Moni.

*Baca Juga:  **Aksi Tolak Otsus Jilid II di Makassar Diwarnai Represifitas
Ormas*
<https://suarapapua.com/2020/09/27/aksi-tolak-otsus-jilid-ii-di-makassar-diwarnai-represifitas-ormas/>

“Akibat dari operasi militer, ada 7-8 gereja dikosongkan dan anggota jemaat
menyelamatkan diri dengan melarikan diri ke hutan-hutan,” ucapnya.

Menurutnya, kekejaman dan kejahatan TNI ini bagian yang tak terpisahkan
perintah operasi militer dari Presiden Republik Indonesia Ir. Joko Widodo
di Nduga, Papua sejak Desember 2018 yang menyebabkan pelanggaran berat HAM
besar-besaran dilakukan TNI di Papua.

Yoman juga membeberkan, Pendeta Geyimin Nirigi tewas ditembak oleh pasukan
elit TNI tanggal 19 Desember 2018 di Distrik Mapenduma, Nduga. Korban
disuruh menggali tanah di belakang halaman rumah dan kemudian ditembak mati
dan disiram dengan minyak tanah di tubuhnya dan dibakar dengan api.

Saat itu, kata dia, Kapendam XVII Cenderawasih, Mohamad Aidi menyebarkan
hoax bahwa pendeta Geyimin Nigiri masih hidup dan sehat-sehat. Tetapi,
hasil investigasi Yayasan Keadilan dan Perdamaian Keutuhan Manusia Papua
dipimpin langsung Direktur Theo Hesegem pada 25-27 Desember 2018
membuktikan, Pdt. Giyimin Nigiri (80/L) benar tewas di tangan pasukan elit
TNI.

*Baca Juga:  **Bila Otsus dan Pemekaran Dilanjutkan, Ini yang Akan Dialami
OAP*
<https://suarapapua.com/2020/09/18/bila-otsus-dan-pemekaran-dilanjutkan-ini-yang-akan-dialami-oap/>

Kejahatan dan pelanggaran berat HAM lain yang dilakukan TNI menewaskan
Pendeta Elisa Tabuni di Tingginambut, Puncak Jaya pada 16 Agustus 2004.
Sebelumnya Pendeta Elisa Tabuni ditangkap, diborgol tangannya dan tewas
ditembak oleh pasukan Kopassus dibawah pimpinan Dansatgas BAN-II/Koppasus,
Letkol Inf.Yogi Gunawan.

Kekejaman, kekerasan dan kebiadaban TNI yang merendahkan martabat
kemanusiaan sebagai tindakan yang tidak manusiawi dan tidak beradab
terhadap para pendeta dan gembala umat, pantas dikutuk dan dikecam karena
perilaku TNI sangat terkutuk di hadapan TUHAN dan manusia.

Melihat realitas yang kejam dan brutal ini, Prof. Dr. Franz Magnis
menegaskan:

“Ada kesan bahwa orang-orang Papua mendapat perlakuan seakan-akan mereka
belum diakui sebagai manusia…..“Situasi di Papua adalah buruk, tidak
normal, tidak beradab, dan memalukan, karena itu tertutup bagi media asing.
Papua adalah luka membusuk di tubuh bangsa Indonesia.” (hal.255).

*Baca Juga:  **Buchtar Tabuni Melayat ke Rumah Duka Alm. Yuliana Yabansabra
di Depapre*
<https://suarapapua.com/2020/08/22/buchtar-tabuni-melayat-ke-rumah-duka-alm-yuliana-yabansabra-di-depapre/>

“Kita akan ditelanjangi di depan dunia beradab, sebagai bangsa yang biadab,
bangsa pembunuh orang-orang Papua, meski tidak dipakai senjata tajam.”
(hal.257). (Sumber: Franz: Kebangsaan, Demokrasi, Pluralisme Bunga Rampai
Etika Politik Aktual, 2015).

Sementara Pastor Frans Lieshout melihat bahwa “Papua tetaplah luka bernanah
di Indonesia.” (Sumber: Pastor Frans Lieshout OFM: Gembala dan Guru Bagi
Papua, (2020:601).

Pdt. Dr. Yoman meremomendasikan:

   1.

   Presiden Republik Indonesia, Ir. Joko Widodo segera menghentikan operasi
   militer di Papua dan juga segera menarik seluruh pasukan TNI Non Organik
   dari Sorong-Merauke.
   2.

   Mendesak Dewan Gereja Papua (WPCC) segera menyurat kepada Konferensi
   Dewan Pasifik (PCC) untuk mendesak Anggota Negara-Negara Kepulauan Pasifik
   untuk mengangkat tentang tewasnya tiga pendeta di Papua dalam forum PBB.
   3.

   Mendesak Dewan Gereja Papua (WPCC) mengirim surat kepada Dewan Gereja
   Dunia (WCC) untuk mengangkat persoalan tewasnya tiga pendeta Papua kepada
   forum PBB.



*Pewarta: Yance Agapa*

*Editor: Arnold Belau*

Kirim email ke