Bulan September (Bagian 1)
Dokumen menunjukkan Angkatan Darat terlibat langsung dalam pembantaian rakyat 
pada 1965/66. Itu terjadi karena “dosa” PKI hanya satu: mengabdi dan membela 
kepentingan bangsa dan rakyat. Sejak PKI dihancurkan, adakah partai politik 
yang memperjuangkan dan membela kepentingan kaum buruh, kaum tani, kaum miskin 
kota, kaum wanita dan pemuda serta sektor penduduk dan kaum pekerja lainnya?
1 Oktober 2020 | 11:05
Sejarah kelam Indonesia pada September/Istimewa
Koran Sulindo – Tiap tahun, di berbagai negeri, apa yang tercatat dalam ingatan 
kolektif pada bulan September tentu berlainan sesuai dengan sejarah yang 
dilalui bangsa dan rakyat di tiap-tiap negeri.
Di Belanda, sepanjang pengetahuan saya, tidak ada hal atau peristiwa sejarah 
istimewa yang diperingati seluruh rakyatnya tiap bulan September. Hanya dari 
segi cuaca dan temperatur, September merupakan bulan yang bagi sebagian orang 
menyenangkan dan menyedihkan bagi sebagian orang yang lain. Di jalan-jalan, 
mereka yang bersepeda sudah mengenakan jaket, sweater atau mantel untuk 
melindunginya dari angin yang membuat orang merasa lebih dingin.
Pada 23 September, Belanda mulai masuk musim gugur. Ada orang yang senang 
dengan kedatangan bulan September, karena tak lama lagi kita akan menyaksikan 
keindahan alam dengan pohon-pohon rindang serta warna-warni daun-daunnya yang 
sering dilukiskan oleh para pelukis terkenal di dunia. Tak sedikit orang yang 
tidak menyambut musim gugur, disebabkan semakin jarangnya kehadiran matahari, 
angin dan hujan sering melanda dan turunnya temperatur yang memaksa sebagian 
orang mulai pasang alat pemanas di rumahnya.
Bagi rakyat Polandia, 1 September 1939, merupakan tanggal yang menandakan 
dimulainya penderitaan dan kematian. Satu setengah juta tentara Jerman fasis 
masuk dan menyerang negeri itu tanpa mengeluarkan pernyataan perang. Awan hitam 
fasisme mulai menyelimuti negeri-negeri Eropa.
Pada 9 September 1945, sejarah mencatat kemenangan besar rakyat dan Tentara 
Pembebasan Tiongkok di bawah pimpinan Partai Komunis Tiongkok dan Mao Zedong. 
Satu juta tentara Jepang bertekuk lutut di hadapan keberanian dan keteguhan 
rakyat Tiongkok dalam melancarkan perang rakyatnya.
Tapi, 31 tahun kemudian, pada tanggal dan bulan yang sama, tepatnya 9 September 
1976, rakyat Tiongkok dan rakyat tertindas sedunia dilanda kesedihan luar biasa 
dengan kepergian Mao Zedong untuk selama-lamanya.
Dongping Han, penulis The Unknown Cultural Revolution-Life and change in a 
Chinese Village  menggambarkan bagaimana ayahnya menerima berita meninggalnya 
Mao sebagai berikut: “Ayah saya menangis sepanjang jalan, dari pabrik sampai 
rumah. Ketika kakek meninggal, dia tidak menangis. Kemudian, dia kumpulkan 
semua keluarga dan berkata, hari ini langit di atas rakyat miskin telah runtuh 
dan kita tidak tahu kehidupan seperti apa yang akan kita hadapi di hari-hari 
yang akan datang”. Dongping Han, ketika itu, tidak mengerti kata-kata ayahnya. 
Dia berpikir, kita sudah mendirikan negara sosialis. Bagaimana langit di atas 
rakyat miskin bisa runtuh, hanya karena Ketua Mao meninggal?
Bahaya restorasi kapitalisme, yang sudah sejak lama dicanangkan Mao Zedong, 
akhirnya menjadi kenyataan melalui kudeta yang dilakukan klik revisionis di 
dalam Partai Komunis Tiongkok. Istri Mao serta tiga pemimpin penting partai 
lainnya ditangkap. Setelah itu, terjadi persekusi dan penangkapan besar-besaran 
terhadap ratuan ribu pendukung Revolusi Besar Kebudayaan Proletar.
Pada tanggal dan bulan yang sama, 1948, Rakyat Korea mendirikan Republik 
Demokratis Rakyat Korea di bawah pimpinan Partai Buruh Korea dan Kim Il Sung.
Bagaimana ingatan kolektif dan sikap orang Indonesia menjelang kedatangan bulan 
September? Jawabannya tergantung pada posisi politik, ekonomi dan sosial serta 
keberpihakan masing-masing orang. Sebagian kaum oligarki penguasa negara, baik 
sipil maupun militer menggunakannya untuk kembali membangkitkan momok PKI guna 
menjamin kemenangan kliknya dalam konflik perebutan kekuasaan. Mereka kerahkan 
dan gunakan segala macam cara, termasuk penayangan kembali film yang sudah lama 
kehilangan daya penipuannya, disebabkan karena bukti-bukti yang bermunculan 
seiring dengan berjalannya waktu, telah membelejetinya.
Lembaga Pendidikan PKI
Sementara itu, di kalangan mahasiswa dan intelektual yang peduli pada sejarah 
bangsa dan rakyatnya, ada yang menggunakan September untuk menyelenggarakan 
webinar dengan berbagai macam tema atau bedah buku yang berkaitan dengan 
peristiwa atau kejadian penting pada bulan itu.
Ada webinar tentang Universitas Rakyat (UNRA): Ide dan Praktik Pendidikan 
“Merah” 1958-1965 yang antara lain membahas ide-ide dan praktik pendidikan 
komunis. Kawan pemantik diskusi menjelaskan bagaimana PKI menitikberatkan 
bentuk pengorganisasian massa yang ditekankan pada unsur didaktik yang kuat. 
PKI mendirikan lembaga-lembaga pendidikan sebagai tempat proses 
belajar-mengajar rakyat dari berbagai lapisan sosial dan usia. PKI 
berkomunikasi dengan cara melakukan pemberantasan buta huruf, mengajari membaca 
dan berhitung, mengenalkan rakyat pada ilmu pengetahuan dan Marxisme, 
menanamkan lima moral komunis, yaitu jujur, bersatu, disiplin, setia kawan dan 
semangat berkorban. Melalui pendidikan juga dipupuk panca cinta. Pertama, cinta 
tanah air; kedua, cinta rakyat dan cinta kerja; ketiga, cinta ilmu; keempat, 
cinta persahabatan antar-bangsa; dan kelima, cinta ibu bapak. Inilah yang 
membuat PKI memiliki basis massa yang besar dan militan.
Menarik sekali pengalaman pemantik ketika mewawancarai bekas anggota dan 
simpatisan Partai Komunis Indonesia. Ia merasa kagum terhadap ingatan dan 
pengetahuan mereka. Meski pendidikan formal tidak sampai perguruan tinggi, 
tetapi penjelasan mengenai politik sebagai teori dan praktik melampaui mereka 
yang bertitel sarjana. Pemantik berkata PKI mengerti betul bagaimana cara 
berkomunikasi dengan simpatisan dan kadernya. Peningkatan kesadaran politik dan 
organisasi rakyat dilakukan melalui pekerjaan di front ideologi, front 
kebudayaan dan front ilmu. Pekerjaan yang baik di ketiga front itu akan 
meningkatkan kecerdasan dan ketangkasan rakyat. Prinsip-prinsip pembimbingnya 
antara lain  “politik panglima”, “ilmu dan pendidikan harus berpihak kepada 
rakyat”, “belajar untuk mengubah keadaan”.
Terdapat beberapa tingkat pendidikan. Dimulai dari pemberantasan buta huruf, 
kemudian Panti Pengetahuan Rakyat setingkat Sekolah Dasar, diteruskan dengan 
Balai Pengetahuan Rakyat setingkat Sekolah Menengah Pertama dan Universitas 
Rakyat setingkat Sekolah Menengah Atas.
Menurut pemantik webinar, keberhasilan PKI membangun organisasi massa dengan 
jumlah masif dan militan dari tahun 1958 hingga 1965 dilahirkan oleh pendidikan 
Universitas Rakyat yang memperlakukan massa rakyat sebagai manusia dan dibangun 
mimpinya bersama organisasi untuk menyelesaikan tujuan revolusi Indonesia, 
yaitu menciptakan keadilan sosial.
Mengapa PKI menganggap begitu penting pendidikan terhadap massa luas rakyat 
biasa? Siswoyo yang memimpin Departemen Pendidikan Ilmu dan Kebudayaan 
menjelaskan alasannya: “… kebangkitan rakyat tidak cukup hanya dituntun oleh 
garis politik, dengan semangat dan keberanian saja. Tapi kebangkitan rakyat 
juga harus diimbangi dengan rasio. Sebab jika tidak, nanti yang terjadi atau 
yang muncul adalah revolusioner-revolusioner anarkis. Yang begini, tentu bukan 
revolusi namanya. Maka di sini penting artinya mengembangkan pendidikan umum 
untuk meningkatkan rasio di kalangan massa rakyat, agar massa rakyat dapat 
berpikir lebih matang, jernih, dan objektif”.
Penerapan program pendidikan ini sudah tentu menghadapi banyak kesulitan dan 
juga mengalami kegagalan. Misalnya, bahan pelajaran, bacaan dan peralatan yang 
jauh dari memuaskan dan kesibukan pekerjaan organisasi membuat aktivis dan 
kader kadang-kadang harus “bolos” sehingga memperlambat kemajuannya. Semua ini 
membuat peserta menjadi tak bersemangat. Guna mengatasinya, lebih banyak 
perhatian dan sumber daya partai dipusatkan  kepada usaha pendidikan itu dan 
juga dilancarkan kampanye mengumpulkan dana untuk penulisan dan penyebaran 
bahan-bahan pendidikan.
G30S dan Genocida 65/66
Buku John Rosa Dalih Pembunuhan Massal: Gerakan 30 September dan Kudeta Suharto 
dibedah dalam webinar yang juga diselenggarakan dalam bulan September. Ada dua 
atau tiga peserta yang mengajukan sanggahan terhadap uraian ketiga pemantik 
diskusi yang berhubungan dengan peran Soeharto dalam kudeta dan pemutarbalikan 
informasi dan fakta sejarah.

Dalam menjawab sanggahan peserta, sejarawan Aswi Warman menyinggung  
dokumen-dokumen yang ditemukan Jess Melvin dan dimuat dalam bukunya The Army 
and the Indonesian Genocide-Mechanic of Mass Murder.
Jess Melvin dalam Introduction: The Indonesian genocide files, menyatakan bahwa 
dokumen-dokumen yang ia temukan dalam arsip Dinas Rahasia Indonesia di Banda 
Aceh telah menghancurkan secara definif propaganda resmi pemerintah Indonesia 
tentang pembantaian massal 1965-66 dan membuktikan militer ada di belakang 
kejadian itu. Dokumen-dokumen top secret setebal tiga ribu halaman itu 
menggambarkan “operasi penumpasan” dengan tujuan “menumpas sampai ke 
akar-akarnya” saingan politik terbesarnya, yaitu Partai Komunis Indonesia.
Versi resmi pemerintah selalu menggambarkan pembantaian sebagai akibat dari 
konflik horizontal sebagai reaksi penduduk terhadap kekejaman PKI. Dan apa yang 
disebut “kekejaman PKI” seharusnya dibuktikan bukan dengan kebohongan dan 
fitnahan. Tentara dianggap sebagai penyelamat bangsa dari komunisme. Melvin 
melihat ini sebagai pemutarbalikan fakta. Selanjutnya ia menegaskan, sekarang 
dapat dibuktikan, bahwa pembantaian merupakan kebijakan negara yang memang 
direncanakan.
Dengan ditemukannya dokumen-dokumen tersebut, bukti pelanggaran HAM berat dan 
genosida yang dilakukan rezim Orde Baru Soeharto menjadi tidak terbatas pada 
kesaksian oral baik dari para korban maupun para pelaku penganiayaan dan 
pembunuhan saja.
Peneliti dan akademisi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik dari Universitas 
Pembangunan Nasional Veteran Jakarta, Sri Lestari Wahyuningsih, berkata bahwa 
berkas dokumen yang ditemukan Melvin menunjukkan rantai komando keterlibatan 
langsung Angkatan Darat dalam desain dan eksekusi kejahatan HAM berat terhadap 
warga sipil. Ia menambahkan bahwa dokumen-dokumen itu berisikan informasi yang 
banyak kesamaannya dengan kesaksian baik korban maupun pelaku dari masyarakat 
sipil. Tapi ia pun melihat adanya bahaya besar penghilangan bukti-bukti dalam 
bentuk dokumen itu.
Dapatkah kita mengharapkan pemerintah dan TNI untuk  tidak menghilangkan 
bukti-bukti yang tidak mungkin mereka bantah? Atau, kalau memang mereka merasa 
tak bersalah, sudah seharusnya mereka membuka semua arsip lama yang berhubungan 
dengan kudeta dan pembantaian manusia yang sama sekali tak berdosa. Dosa mereka 
hanya satu, mengabdi dan membela kepentingan bangsa dan rakyat melalui 
keanggotaan dalam berbagai organisasi massa dan satu-satunya partai politik 
klas buruh, PKI. Sejak dihancurkannya PKI, adakah partai politik yang 
memperjuangkan dan membela kepentingan kaum buruh, kaum tani, kaum miskin kota, 
kaum wanita dan pemuda serta sektor penduduk dan kaum pekerja lainnya? [Tatiana 
Lukman]


Sent from Mail for Windows 10

Kirim email ke