-- 
j.gedearka <[email protected]>



https://mediaindonesia.com/podiums/detail_podiums/1952-meringkas-sejarah



Sabtu 03 Oktober 2020, 05:00 WIB 

Meringkas Sejarah 

Abdul Kohar Dewan Redaksi Media Group | Editorial 

  Meringkas Sejarah MI/Ebet Abdul Kohar Dewan Redaksi Media Group. SEJARAH 
terus dipergunjingkan hari-hari ini. Ada yang bicara versi-versi dalam sejarah, 
seperti mempertanyakan siapa saja yang terlibat dalam apa yang disebut sebagai 
Gerakan 30 September. Ada yang mengaitkan dengan isu kebangkitan Partai Komunis 
Indonesia (PKI) hingga ada yang meributkan soal sejarah yang diwacanakan bukan 
lagi menjadi mata pelajaran wajib di SMA. Kendati locus delicti-nya 
berbeda-beda, secara umum bisa disimpulkan dalam frasa ‘meringkas sejarah’. Ada 
pula yang berolok-olok dengan menyebut beragam aksi tersebut dengan kalimat 
‘meringkus sejarah’. Dalam soal versi sejarah, mantan Panglima TNI Jenderal 
(Purn) Gatot Nurmantyo sangat getol memanfaatkan momentum September sebagai 
bulan ‘kewaspadaan terhadap kebangkitan PKI’. Isu itu bahkan ia kait-kaitkan 
dengan pencopotan dirinya dari jabatan Panglima TNI. Sang jenderal berupaya 
meyakinkan publik bahwa ajakannya untuk nonton bareng film G-30-S/PKI membuat 
simpatisan PKI gerah lalu berujung pada pencopotan dirinya. Tapi, apakah logika 
konspiratif yang dibangun Gatot bahwa ia diganti karena getol mengajak publik 
nobar ialah fakta? Hingga detik ini tidak ada penjelasan yang memadai, apalagi 
meyakinkan. Fakta yang terang-benderang ialah saat Presiden Joko Widodo 
melantik Marsekal Hadi Tjahjanto sebagai Panglima TNI menggantikan dirinya pada 
8 Desember 2017, Gatot legawa. Saat itu ia mengatakan, “Kita jangan melihat 
akhirnya, tapi seharusnya tanya, dong, berapa lama saya menjabat. Saya menjabat 
dua tahun lebih. Jadi, ya, sudah sewajarnya. Ini positif.” Begitu pula dengan 
isu kebangkitan PKI yang kerap Gatot dan sejumlah kalangan gaungkan. Sejarah 
yang masih menyediakan banyak versi itu hendak ‘diringkas’ menjadi satu versi: 
bahaya laten PKI. Apakah peringkasan itu berhasil membuat publik percaya? 
Survei yang dilakukan Saiful Mujani Research & Consulting (SMRC) justru 
menggambarkan sebaliknya, yakni publik sudah tidak tertarik dengan isu 
kebangkitan PKI. Hasil survei menunjukkan sejak 2016, persentase yang percaya 
dengan isu kebangkitan PKI hanya di kisaran 10%-16%. Survei terbaru, yang 
dilakukan SMRC terhadap 1.203 responden pada 23 hingga 26 September 2020, 
menunjukkan dari 36% responden yang mengetahui isu kebangkitan PKI, hanya 14% 
yang setuju dengan kebenaran isu tersebut. Hampir 61% menyatakan tidak percaya. 
Mengapa minat masyarakat terhadap isu kebangkitan PKI minim? Dari survei itu 
tergambar bahwa publik sudah makin tahu dan belajar beragam informasi yang 
mereka dapatkan dari sumber-sumber yang mereka percayai. Walhasil, mereka sudah 
lebih ‘melek sejarah’. Dengan belajar sejarah, mereka tidak lagi menarik 
kesimpulan secara melompat. Melek sejarah membuat persepsi bahwa sejarah penuh 
dengan perdebatan tentang masa lalu, banyak versi, ada intervensi, tidak 
futuristik, sukar maju, bisa dihindari. Kesimpulannya, anggapan bahwa mata 
pelajaran sejarah tidak perlu mandatori, tidak usah fardhu ‘ain atau wajib, 
cukup mubah, alias boleh ya boleh tidak, mesti diluruskan. Banyak yang 
khawatir, cara berpikir seperti katak melompat itu pula yang terjadi saat 
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) mewacanakan mata pelajaran 
sejarah tak lagi wajib untuk siswa SMA dan sederajat. Di kelas 10, sejarah 
digabung dengan mata pelajaran ilmu pengetahuan sosial. Di kelas 11 dan 12, 
mata pelajaran sejarah hanya masuk kelompok peminatan yang tak bersifat wajib. 
Hal itu tertuang dalam file sosialisasi Kemendikbud tentang penyederhanaan 
kurikulum dan assessment nasional, pertengahan bulan lalu. Menteri Pendidikan 
dan Kebudayaan Nadiem Makarim memang sudah ‘mengklarifi kasi’ dengan 
menggaransi bahwa mata pelajaran sejarah tidak akan dihapus dari bangku SMA. 
Bahkan, Mas Menteri mencoba meyakinkan publik bahwa ia lahir dari keturunan 
pejuang sehingga mustahil baginya hendak ‘meringkus’ mata pelajaran sejarah. 
Tapi, hingga detik ini tidak ada klarifikasi yang clear ihwal rencana 
memubahkan mata pelajaran sejarah itu. Walhasil, klarifi asi itu tetap tidak 
menjelaskan duduk perkara sesungguhnya. Menyederhanakan kurikulum baik adanya 
untuk mengurangi ‘beban’ murid. Tapi, melakukannya dengan cara meringkas 
sejarah menjadi mata pelajaran pilihan sama saja menganggap sejarah bukan mata 
pelajaran penting. Padahal, kontribusi sejarah bagi peradaban dan beragam 
keunggulan tidak bisa diremehkan. Itulah mengapa Presiden Pertama RI Soekarno 
sampai mewanti-wanti agar kita ‘jangan sekali-kali meninggalkan sejarah’. Ahli 
sejarah dunia Herodotus mengatakan historia vitae magistra (sejarah adalah guru 
kehidupan). Bahkan, dalam pernyataan lebih keras sejarawan Sartono Kartodirdjo 
mengatakan ‘manusia yang kehilangan kesadaran sejarah pada dasarnya tidaklah 
berbeda dengan pasien di rumah sakit jiwa’. Yang perlu dilakukan ialah justru 
mendudukkan posisi sejarah sebagai mata pelajaran wajib. Karena wajib, ya, 
jangan menyusun muatan mata pelajaran itu secara sembarangan, penuh 
indoktrinasi, banyak hafalan menjenuhkan, bias tafsir tunggal, bias Jawa, dan 
bias-bias lainnya. Sebaliknya, mata pelajaran sejarah mesti disusun agar tidak 
sekadar mampu memberikan penjelasan tetang peran manusia, tetapi juga peran 
keluarga, kerabat, suku bangsa, hingga bangsa. Intinya, mata pelajaran sejarah 
harus mampu menjadi guru kehidupan, memperkaya perspektif, memandu arah ke 
depan, dan tak kalah penting menjaga kewarasan.  

Sumber: https://mediaindonesia.com/podiums/detail_podiums/1952-meringkas-sejarah







Kirim email ke