-- 
j.gedearka <[email protected]>


https://news.detik.com/berita/d-5199754/tolak-ruu-ciptaker-buruh-bakal-demo-dpr-8-oktober?tag_from=wp_nhl_3




Tolak RUU Ciptaker, Buruh Bakal Demo DPR 8 Oktober

Wilda Nufus - detikNews

Minggu, 04 Okt 2020 23:44 WIB
5 komentar
SHARE
URL telah disalin
Ribuan buruh menggelar demonstrasi menolak Omnibus Law Cipta Kerja di depan 
gedung DPR, Jakarta. Namun mereka tidak menerapkan jaga jarak fisik.
Ilustrasi aksi buruh (Foto: Rengga Sancaya)
Jakarta -

Ketua Kongres Aliansi Serikat Buruh Indonesia (KASBI) menyebut gabungan aliansi 
buruh yang mengatasnamakan dirinya Gerakan Buruh Bersama Rakyat (GEBRAK) tetap 
akan menggelar aksi mogok nasional pekan depan. Aksi mogok nasional ini digelar 
sebagai bentuk penolakan terhadap RUU Cipta Kerja (Ciptaker).

"Gabungan berbagai organisasi gerakan rakyat yang tergabung dalam GEBRAK dan 
aliansi-aliansi daerah menyerukan aksi nasional pemogokan umum rakyat 
Indonesia, yang akan dilakukan pada tanggal 6, 7, 8 Oktober 2020," kata Ketua 
KASBI Nining Elitos dalam keterangan pers tertulisnya, Minggu (4/10/2020).
Baca juga:
Mahfud MD: RUU Cipta Kerja Biarkan Diselesaikan DPR

Nining menuturkan aksi ini merupakan bentuk kekecewaan terhadap DPR RI dan 
pemerintah karena tetap meneruskan pembahasan RUU Ciptaker di tengah pandemi 
virus Corona (COVID-19). Apalagi, sebut dia, pembahasannya digelar di tengah 
ancaman PHK bagi para buruh.

"Seruan aksi nasional ini dipicu oleh sikap DPR dan pemerintah yang tidak mau 
mendengarkan aspirasi rakyat. DPR secara diam-diam justru gencar melakukan 
pembahasan omnibus law RUU Cipta Kerja di tengah situasi pandemi COVID-19 yang 
semakin buruk penanganannya, yang berakibat pada pemberhentian kerja (PHK) 
massal. Keterbatasan informasi publik atas agenda pembahasan ini tercermin 
dalam ketiba-tibaan dilangsungkannya sidang pengambilan keputusan tingkat 1 
tadi malam, 3 Oktober 2020," paparnya.
Baca juga:
RUU Cipta Kerja Omnibus Law Disahkan DPR 8 Oktober, Ini Fakta-faktanya

Nining menilai RUU Ciptaker dibuat untuk memberikan 'karpet merah' pada 
investor. Menurutnya, RUU tersebut berpotensi menimbulkan konflik agraria.

"Omnibus law dibuat untuk memberikan karpet merah pada investor dan memperluas 
kekuasaan oligarki untuk semakin menghisap mayoritas rakyat. Tidak hanya itu, 
dalih memudahkan perizinan dan pengadaan tanah dalam omnibus law bakal 
berdampak pada meningkatnya perampasan tanah dan konflik agraria," tandasnya.

Selanjutnya
Halaman



                      =============


https://news.detik.com/berita/d-5199754/tolak-ruu-ciptaker-buruh-bakal-demo-dpr-8-oktober/2



Tolak RUU Ciptaker, Buruh Bakal Demo DPR 8 Oktober

Wilda Nufus - detikNews

Minggu, 04 Okt 2020 23:44 WIB
5 komentar
SHARE
URL telah disalin
Ribuan buruh menggelar demonstrasi menolak Omnibus Law Cipta Kerja di depan 
gedung DPR, Jakarta. Namun mereka tidak menerapkan jaga jarak fisik.
Ilustrasi aksi buruh (Foto: Rengga Sancaya)

Nining menganggap DPR dan pemerintah tidak memerhatikan kesejahteraan, di 
antaranya kaum buruh, petani dan nelayan. Dia mengibaratkan pemerintah dan DPR 
sebagai penghamba kaum modal.

Sementara itu, kata Nining, aksi magok nasional akan tersebar di beberapa 
daerah. Dia menegaskan bahwa buruh ingin pembahasan RUU Ciptaker dilakukan 
secara transparan dengan mengakomodir aspirasi buruh.

"Di daerah, selain melakukan perlawanan sekuat-kuatnya untuk menggagalkan 
omnibus law, GEBRAK bersama dengan aliansi-aliasi rakyat di berbagai daerah 
akan melakukan aksi massal pemogokan umum selama 3 hari, mulai tanggal 6, 7, 
dan 8 Oktober di seluruh kota-kota Indonesia. Aksi nasional GEBRAK dan aliansi 
gerakan rakyat di daerah akan berlangsung di Jakarta, Tangerang, Banten, Bogor, 
Bekasi, Karawang, Purwakarta, Subang, Cimahi, Sumedang, Bandung Raya, Garut, 
Tasikmalaya, Indramayu, Cirebon, Semarang, Yogyakarta, Solo, Blora, Gresik, 
Surabaya, Sidoarjo, Kaltim, Makasar, Lampung," tandasnya.
Baca juga:
RUU Cipta Kerja Lanjut ke Paripurna, 2 Juta Buruh Bakal Mogok 3 Hari

Nining menyebut aksi mogok nasional ini akan melibatkan 60 organisasi. Mereka 
di antaranya, yakni Gerakan Buruh JAKARTA (GBJ), Buruh Riau Bersatu (BRB), 
Aliansi Rakyat Bergerak (ARB/Gejayan Memanggil) Yogyakarta, Aliansi Buruh 
Banten Bersatu (AB3), Aliansi SB/SP Kalimantan Timur, Aliansi Buruh Subang 
(ABS), Buruh Garut Melawan Omnibus Law, dan Gerakan Suara Tuntutan Rakyat 
(GESTUR) Jambi.

Selain itu, Nining juga menjelaskan rincian acara mogok nasional tersebut. Dia 
menyebut, pada 6-7 Oktober serikat buruh yang tergabung dalam GEBRAK akan 
berunjuk rasa di daerah masing-masing, termasuk Jabodetabek.

"Kan pertama untuk 6 dan 7 (Oktober) itu aksi di berbagai macam kawasan 
industri dan di pabrik-pabrik kan, kaya gtu, di daerah-daerah baru tanggal 
8-nya (Oktober) itu justru unjuk rasa. Kalau untuk tanggal 8 (Oktober) itu, 
untuk wilayah Jabodetabek itu (unjuk rasa) di DPR RI. Tapi untuk di daerah itu 
tetap melakukan di daerah," sebut Nining.
Baca juga:
RUU Ciptaker Akan Dibawa ke Paripurna, Baleg DPR: Bukan Kejar Tayang

Diketahui, Badan Legislasi (Baleg) DPR dan pemerintah bersepakat membawa RUU 
Ciptaker ke rapat paripurna untuk dimintai persetujuan pengesahannya sebagai 
UU. Tapi sebetulnya, ada dua fraksi yang menolak RUU tersebut ke paripurna.

Rapat bersama ini dipimpin langsung oleh Ketua Baleg DPR, Supratman Andi Agtas, 
di gedung DPR, Sabtu (3/10). Rapat yang dimulai sekitar pukul 21.00 WIB tadi 
dihadiri langsung oleh seluruh fraksi DPR RI, Menteri Koordinator Perekonomian 
Airlangga Hartarto, Menteri Hukum dan HAM Yasonna Laoly, serta perwakilan DPD 
RI.

RUU Cipta Kerja tersebut disetujui dibawa ke paripurna oleh 7 fraksi, yakin 
PDIP, Gerindra, Golkar, PKB, PPP, NasDem dan PAN. Kemudian pihak yang menolak, 
yakni PKS dan Demokrat.
Halaman
1 2







Kirim email ke