-- 
j.gedearka <[email protected]>



https://news.detik.com/kolom/d-5203643/desa-bali-hainan-jembatan-persahabatan-china-indonesia?tag_from=wp_cb_kolom_list



Ariana Xie

'Desa Bali' Hainan, Jembatan Persahabatan China-Indonesia

Ariana Xie - detikNews

Rabu, 07 Okt 2020 17:54 WIB
0 komentar
SHARE
URL telah disalin
Desa Bali di Hainan
Foto: China Media Group
Jakarta -

Belum lama yang lalu wartawan China Media Group mendatangi Perkebunan Perantau 
China Xinglong di kota Wanning, Provinsi Hainan, atau tepatnya sebuah objek 
wisata yang dijuluki 'Desa Bali'. Sarat dengan nuansa budaya Indonesia, Desa 
Bali kini sudah semakin terkenal sebagai 'jembatan persahabatan' 
China-Indonesia.

Sejak tahun 1950-an, sebanyak 2000 perantau China berturut-turut pulang ke 
tanah air dengan bertolak dari 21 negara dan daerah, terutama dari Indonesia, 
Malaysia dan Vietnam. Mereka ditampung dan direlokasi di kota Xinglong, 
Provinsi Hainan dan mendirikan Perkebunan Perantau China Xinglong, yang penuh 
dengan nuansa eksotis dan budaya perantau China, terutama kebudayaan yang 
dibawa pulang oleh para perantau China dari Indonesia.

Objek wisata Desa Bali diresmikan pada 2018 dengan penanaman modal patungan 
yang dilakukan oleh Hainan Nanguo Group, Hainan United Airlines Travel Group, 
dan Global Internasional Group (Indonesia). Pembukaan Desa Bali adalah untuk 
mendorong kerja sama pragmatis China dan Indonesia di bidang sosial budaya. 
Objek wisata Desa Bali menempati areal seluas 14 hektare dan terdiri atas enam 
zona fungsional, yakni Koridor Budaya Perantau, Kampung Halaman Perantau, Zona 
Botani, Galeri Karya Ukiran Akar Kayu, Panggung Taiyanghe dan Gedung Jajal 
Nanguo.
Desa Bali di HainanDesa Bali di Hainan Foto: China Media Group


Di pintu masuk taman Desa Bali, terlihat sebuah batu berukuran besar dengan 
tulisan Desa Bali. Begitu masuk akan terpapar gapura yang identik di pulau Bali 
alias Candi Bentar yang sarat dengan kearifan tradisional Indonesia. Setelah 
masuk dari Candi Bentar, rasanya seolah berada di pulau Bali yang indah permai. 
Nuansa eksotis sangat terasa di berbagai sudut Desa Bali, yang terpajang dengan 
aneka bangunan, ukiran dan mural khas agama Hindu yang misterius(Sebagian besar 
warga Bali menganut agama Hindu). Para tamu dan turis disambut hangat oleh 
petugas atau pemandu dengan pakaian tradisional Hindu.

Di Koridor Kebudayaan Perantau China, wartawan menjumpai Pak Du Tianjiang yang 
pulang dari Indonesia. Pak Du yang berusia 81 tahun berujar kepada wartawan 
bahwa dari foto-foto dan literatur yang dipamerkan di koridor ini, dapat 
diketahui kronologi transmigrasi para perantau China kembali ke China dari Asia 
Tenggara dan kisah sejati yang terjadi dalam proses pembangunan Perkebunan 
Perantau Xinglong selama 60 tahun silam.

Du Tianjiang dilahirkan di Indonesia pada 1939. Beliau kembali ke tanah air 
pada 1960 ketika ia baru berusia 21 tahun. Ia telah hidup di Xinglong selama 60 
tahun. Setelah pensiun beliau menjabat sebagai Ketua Asosiasi Perantau China 
Indonesia dan penasihat Desa Bali. Ia sering kali mendampingi kunjungan 
delegasi-delegasi Indonesia.

Ia juga masih bekerja di program kerja sama dengan Akademi Bahasa Asing Hainan 
dan memberikan sumbangan bagi pertukaran kebudayaan antar masyarakat Tiongkok 
dan Indonesia. Akademi Bahasa Asing Hainan telah menjalin hubungan kerja sama 
dengan Desa Bali yang berperan sebagai 'basis praktik pelatihan bahasa 
Indonesia', atau tepatnya berperan sebagai platform bagi anak Praktik Kerja 
Lapangan (PKL).
Desa Bali di HainanDesa Bali di Hainan Foto: China Media Group



Kepala Desa Bali, Chen Shaohai memperkenalkan bahwa semua karya ukiran kayu, 
patung batu dan patung bas-relief di desanya adalah hasil jerih payah para 
perajin Indonesia yang dipekerjakannya. Hal ini dilakukan justru untuk 
menonjolkan budaya Indonesia yang asli kepada para turis. Selain itu, pihaknya 
juga mengundang mahasiswa akademi seni rupa Indonesia untuk memajang dan 
mendekorasi Desa Bali melalui karya lukisan dinding yang unik. Guru tari dan 
dendang beserta guru bahasa Indonesia juga diundang ke Desa Bali untuk 
memberikan kursus tari dan bahasa Indonesia yang diikuti oleh anak-anak para 
perantau China.

Di panggung Taiyanghe di Desa Bali, para perantau dan anak-anaknya berdendang 
sembari menari dengan menggunakan pakaian tradisional yang warna-warni. Para 
turis juga diundang ikut serta untuk menari bersama dengan mereka. Selain itu, 
para turis juga dimanjakan dengan berbagai makanan dan kudapan kuliner 
Indonesia.

Pak Chen mengatakan, sebelum pandemi COVID-19, tiap bulan sekitar 3000 hingga 
6000 wisatawan Indonesia yang berkunjung ke Desa Bali. "Mereka tertarik ke Desa 
Bali karena di sini mereka bisa mengenyam pengalaman seperti di rumahnya. Kami 
juga berharap objek wisata ini dapat meningkatkan persahabatan antara Tiongkok 
dan Indonesia," pungkasnya.

Ariana Xie, Jurnalis China Media Group

(ads/ads)
desa bali
hainan






Kirim email ke