*https://www.beritasatu.com/whisnu-bagus-prasetyo/nasional/685965/minta-tpnopm-hentikan-kekerasan-di-intan-jaya-legislator-papua-gunakan-ruang-dialog
<https://www.beritasatu.com/whisnu-bagus-prasetyo/nasional/685965/minta-tpnopm-hentikan-kekerasan-di-intan-jaya-legislator-papua-gunakan-ruang-dialog>*

Minta TPN-OPM Hentikan Kekerasan di Intan Jaya, Legislator Papua: Gunakan
Ruang Dialog

Sabtu, 10 Oktober 2020 | 11:21 WIB
Oleh : Carlos KY Paath / WBP
<https://www.beritasatu.com/whisnu-bagus-prasetyo>
[image: Tim Gabungan Pencari Fakta Penembakan Intan Jaya diserang kelompok
kriminal bersenjata.]
Tim Gabungan Pencari Fakta Penembakan Intan Jaya diserang kelompok kriminal
bersenjata. (Foto: Istimewa)

Jakarta, Beritasatu.com – Legislator dari daerah pemilihan Papua, Yan
Permenas Mandenas meminta kelompok Tentara Pertahanan Nasional Organisasi
Papua Merdeka (TPN-OPM) menghentikan kekerasan yang berujung jatuhnya
korban jiwa. Yan berharap TPN-OPM yang mengklaim kekerasan itu atas nama
perjuangan, lebih mengedepankan ruang-ruang dialog.

“Saya tidak ingin menyudutkan siapa pun, tetapi jangan jadikan masyarakat
sebagai korban. Hentikan kekerasan. Ada ruang dialog yang bisa digunakan,
ketimbang aksi tembak menembak antara kelompok masyarakat bersenjata dengan
aparat TNI dan Polri,” kata Yan dalam keterangan persnya, Sabtu
(10/10/2020).

Yan mengaku terus memantau dan berkoordinasi dengan rekan-rekannya di
Komisi I mengenai situasi yang terjadi di Papua, khususnya di Intan Jaya
<https://www.beritasatu.com/tag/intan-jaya>. “Kita juga kaget mendengar dua
orang dari rombongan TGPF terkena tembakan. Ini harusnya tidak terjadi,
apalagi salah seorang tim merupakan dosen UGM. Kita berharap keduanya lekas
sembuh dan permasalahan di Intan Jaya segera terselesaikan,” ucap Yan.
BACA JUGA

Anggota TGPF yang Tertembak di Intan Jaya Dievakuasi ke Jakarta
<https://www.beritasatu.com/whisnu-bagus-prasetyo/nasional/685943/anggota-tgpf-yang-tertembak-di-intan-jaya-dievakuasi-ke-jakarta>

Yan juga menyoroti kinerja aparat penegak hukum di Papua, khususnya di
satuan intelijen. Hal itu lantaran adanya gangguan terhadap tim pencari
fakta, dan tewasnya Pendeta Yeremia Zanambani. Apabila intelijen berkinerja
optimal, menurut Yan, semestinya TGPF tidak ada yang tertembak.

“Artinya kalau di lokasi kejadian masih rawan, aparat bisa mengingatkan
kepada tim untuk berhati-hati atau menunda melakukan tugas mereka, sampai
kondisi disana stabil. Intan Jaya harus kembali kondusif. Tidak boleh ada
aksi balas dendam. Lihat sudah ada masyarakat menjadi korban, bahkan hamba
Tuhan serta prajurit TNI. Ke depan siapa lagi yang dijadikan korban,” kata
Yan.


Sumber:BeritaSatu.com

Kirim email ke