*https://www.beritasatu.com/whisnu-bagus-prasetyo/ekonomi/685909/lebih-40-maskapai-penerbangan-berhenti-beroperasi-di-2020
<https://www.beritasatu.com/whisnu-bagus-prasetyo/ekonomi/685909/lebih-40-maskapai-penerbangan-berhenti-beroperasi-di-2020>*

Lebih 40 Maskapai Penerbangan Berhenti Beroperasi di 2020

Sabtu, 10 Oktober 2020 | 06:00 WIB
Oleh : Whisnu Bagus Prasetyo / WBP
<https://www.beritasatu.com/whisnu-bagus-prasetyo>
[image: Ilustrasi penerbangan dunia]
Ilustrasi penerbangan dunia (Foto: Istimewa)

Singapura, Beritasatu.com- Dukungan kuat pemerintah telah menyelematkan
beberapa maskapai penerbanga
<https://www.beritasatu.com/tag/maskapai-penerbangan>n dari kebangkrutan.
Namun lebih banyak maskapai penerbangan yang menghentikan operasinya pada
beberapa bulan mendatang.

Perusahaan data perjalanan, Cirium, mencatat bahwa 43 maskapai penerbangan
komersial telah "jatuh" sejak Januari tahun ini, dibandingkan 46 di
sepanjang 2019 dan 56 di sepanjang 2018. Menurut definisi Cirium, maskapai
itu telah sepenuhnya menghentikan atau menangguhkan operasionalnya.

“Tanpa intervensi dan dukungan pemerintah, maskapai penerbangan akan
mengalami kebangkrutan massal dalam enam bulan pertama krisis ini.
Sebaliknya jika didukung pemerintah, potensi kebangkrutan bisa ditekan dan
dikelola," kata analis independen Sobie Aviation, Brendan Sobie.
BACA JUGA

Pandemi Covid-19, Garuda Grounded 70 Persen Pesawat
<https://www.beritasatu.com/yudo-dahono/ekonomi/637055/pandemi-covid19-garuda-grounded-70-persen-pesawat>

Sobie mengatakan banyak maskapai penerbangan berjuang sebelum pandemi. Saat
ini maskapai tersebut memiliki kesempatan lebih baik untuk bertahan karena
bantuan pemerintah. “Jika ada hal penting dalam semua ini, itu adalah hal
yang sangat buruk sehingga pemerintah tidak punya pilihan selain
mendukung,” kata Kepala Konsultan Global Cirium, Rob Morris.

Morris mengatakan, meski ada bantuan keuangan, prospek di sisa tahun 2020
tidak menggembirakan. "Kegagalan maskapai penerbangan biasanya terjadi
dalam beberapa bulan terakhir tahun ini," katanya kepada *CNBC* melalui
email.

Kuartal pertama dan keempat adalah masa yang paling sulit karena sebagian
besar pendapatan dihasilkan di kuartal kedua dan ketiga. “Saya biasanya
menggambarkan bahwa maskapai penerbangan menghabiskan musim panas seperti
membangun 'peti perang', sehingga mereka dapat bertahan di musim dingin,”
tambahnya.

Tujuan maskapai penerbangan saat ini hanya untuk bertahan hidup dengan
biaya berapa pun. Maskapai melihat apakah musim panas 2021 membawa solusi
dengan permintaan lebih tinggi.

“Dengan tidak adanya permintaan di sebagian besar wilayah, maskapai
penerbangan masih berjuang dengan pendapatan dan arus kas. Kami
memperkirakan ada lebih banyak maskapai yang menghentikan operasionalnya
pada kuartal terakhir tahun 2020 dan setidaknya kuartal pertama 2021,”
katanya.
BACA JUGA

Maskapai Global Serukan Uji Covid-19 untuk Penumpang Internasional
<https://www.beritasatu.com/unggul-wirawan/dunia/679839/maskapai-global-serukan-uji-covid19-untuk-penumpang-internasional>

Brendan Sobie dari Sobie Aviation setuju dengan prediksi tersebut.
Menurutnya beberapa pemerintah mungkin enggan memberikan jaminan kepada
maskapai penerbangan untuk kedua kalinya. “Tapi saya tetap tidak
mengharapkan kebangkrutan massal. Jumlah kebangkrutan dan keruntuhan harus
bisa dikelola,” ujarnya.

Maskapai Besar Terdampak
Menurut Morris, maskapai penerbangan besar juga terkena dampak pandemi
Covid-19.

Dari 43 maskapai penerbangan yang di ambang kebangkrutan pada 2020,
sebanyak 20 di antaranya mengoperasikan 10 pesawat, dibandingkan 12 di
sepanjang 2019 dan 10 sepanjang 2018, data Cirium menunjukkan.

“Meski kami melihat lebih sedikit kegagalan maskapai tahun ini, jumlah
maskapai penerbangan yang tidak beroperasi sebanyak 10 atau lebih pesawat,
sudah lebih besar daripada dalam enam tahun terakhir. Jadi jelas bahwa
pandemi berdampak pada maskapai yang lebih besar dan menyebabkan mereka
gagal,” kata Morris.

Sejauh ini, sekitar 485 pesawat tidak beroperasi dibandingkan 431 pada 2019
dan 406 pada 2018.

Dia menyoroti bahwa kebangkrutan maskapai akibat buruknya model bisnis atau
masalah lainnya. Namun penyebab utama pada 2020 dan di tahun mendatang
merupakan dapak hilangnya permintaan akibat pandemi Covid-19

Asosiasi Transportasi Udara Internasional minggu ini mengatakan bahwa
industri penerbangan akan menghabiskan US$ 77 miliar dalam bentuk tunai
pada paruh kedua tahun 2020, dan terus mengalami pendarahan sekitar US$ 5
miliar atau US$ 6 miliar per bulan pada tahun 2021 karena melambatnya
pemulihan.

Asosiasi pada Juli mengatakan lalu lintas penumpang kemungkinan akan
kembali ke level 2019 pada 2024.


Sumber:CNBC

Kirim email ke