HARIS AZHAR: 
PENGGIRINGAN OPINI TOLAK UU CIPTAKER Ke MK SETTINGAN ISTANA!

Suara.com - Direktur Eksekutif Lokataru Haris Azhar kembali angkat
bicara soal UU Cipta Kerja. Kali ini ia berharap agar masyarakat tidak
termakan oleh penggiringan opini yang mengatakan bahwa polemik UU Cipta
Kerja bisa diselesaikan di MK.

Pasalnya, menurut Haris Azhar opini tersebut digaungkan oleh pihak
istana dan menjadi agenda settingan mereka.

Tudingan itu disampaikan Haris Azhar lewat tayangan video yang diunggah
di kanal YouTube miliknya, Senin (12/10/2020).

Haris Azhar mengungkapkan bahwa sebetulnya UU Cipta Kerja ini bisa
dibatalkan atau mungkin tidak bisa diberlakukan. Sebab naskah yang
disahkan masih ada koreksi. Menurutnya, UU Cipta Kerja yang disahkan
oleh DPR dan pemerintah pada Senin (5/10/2020) lalu tidak memenuhi
syarat sah.

"Jadi syarat-syarat sahnya saja tidak terpenuhi apalagi isinya. Jadi
harusnya dianggap tidak ada dalam UU," ujarnya seperti dikutip
Suara.com, Selasa (13/10/2020).

"UU ini harusnya dianggap tak ada karena naskahnya membingungkan.
Prosesnya dipercepat padahal materi belum siap. Otomatis dia tidak
memenuhi syarat proses atau formal atau prosedur membahas UU," imbuhnya.

Lebih lanjut lagi, Haris Azhar menanggapi pernyataan yang belakangan
tengah santer digaungkan. Pernyataan tersebut berisi penolakan UU Cipta
Kerja bisa dilakukan lewat MK.

Haris Azhar mengatakan bahwa masyarakat harus hati-hati dengan opini
tersebut. Pasalnya, Jokowi selaku pembuat UU Cipta Kerja sendiri yang
menggaungkan opini ini.

"Banyak orang bilang bawa ke MK dan ini digaungkan Jokowi sendiri.
Jokowi yang bikin Omnibus dan Jokowi yang dorong ke MK. Oleh sebab itu
kita harus hati-hati dengan penggiringan opini ke MK karena ia keluar
dari mulut yang sama," kata Haris.

"Ketika dia bilang ke MK memang itu kelengkapan negara untuk menguji
perundang-undangan. Tetapi kelihatan ini agenda settingan istana,"
tandasnya keras.

Dalam kesempatan tersebut, Haris Azhar pun menyinggung komposisi hakim
di MK yang menurutnya tak akan sanggup membatalkan UU Cipta Kerja.


Pasalnya, enam dari sembilan hakim di MK ditunjuk oleh Presiden dan
DPR. Haris Azhar beranggapan bahwa mereka pasti tidak akan berani
menolak UU ini.

"Kalau dilihat dari kompoisi 9 hakim di MK. 3 ditunjuk MK, 3 DPR, 3
dari Presiden. Kita tahu yang memproduksi adalah Presiden, Pemerintah,
dan DPR," jelasnya.

"Enam dari sembilan sudah hampir mewakili paradigma lembaga ini.
Apalagi pemerintah saat ini tergolong rezimistik, membela mati-matian
Omnibus Law. Otomatis hakim ini tidak berani melawan agenda besar rezim
Jokowi. Sisa tiga ya itu tidak akan signifikan," tukas Haris.

Menurut Haris Azhar, masyarakat perlu menciptakan MK versi rakyat. Jadi
legitimasi nantinya bukan semata-mata stempel Burung Garuda di MK.

"Jadi kita harus menciptakan MK Versi Rakyat. Bahas tema yang
membahayakan. Legitimasi bisa muncul dari air mata, keringat, atau
kuping dan mata besar yang ada di tengah-tengah kalian.

Haris Azhar mengatakan bahwa adanya MK versi rakyat sejatinya merupakan
proses demokrasi dan penyelamatan bangsa ini.

"Bukan menyerahkan diri kita pada sumbu pendek penguasa," ungkapnya.

Orang yg mengerti hukum ingin menjadikan hukum jalanan jadi hukum
bernegara....luar biasa.

Ayo bung buat negara ini siapa yg mayoritas itulah kebenaran.
Ayo bung buat pembunuh,perampok dan pemerkosa di hukum masyarakat.

Jadi ente jangan berkoar2 soal HAM karna bagi ente pendapat mayoritas
adalah sebuah kebenaran tanpa perlu lagi di debatkan di pengadilan.

Kirim email ke