---------- Forwarded message ---------
Date: vr 16 okt. 2020 om 10:30
Subject:  Memoar istri seorang exil
Penulisnya Suryana Agustín, adalah istri Roesdy Maruhun

KEPADAMU CINTA YANG TAK TERGANTIKAN
MEMOAR ISTRI SEORANG EXIL

Bagian Satu

"Saya itu korban dari Orba.
Saya tidak bisa pulang ke Indonesia karena paspor saya dan juga ribuan
mahasiswa dicabut Orba.
49 tahun saya tidak bisa makan rendang ibu saya.
Saya marah dan saya menuntut rehabilitasi”
*********************************
Suatu waktu di keramaian sebuah sudut Jakarta, ibukota yang tidak pernah
sepi dari gejolak politik. Kami sedang berada di pinggir jalan menanti taxi
yang akan membawa kami ke sebuah tujuan.
Akhirnya ada satu taxi yang menghampiri kami berdua, aku dan suamiku
tercinta Roesdy Maruhun.

"Ke Rempoa ya. Lewat Lebak Bulus kearah Ciputat", ujar suamiku yang sering
kupanggil Uda sesaat setelah masuk ke ruang belakang taxi berwarna biru itu..

" Baik pak" sahut supir taxi ramah.
"Tidak perlu disasar-sasarkan untuk mendapatkan argo yang banyak. Kerja
saja yang jujur, profesional dan rajin. Nanti juga dapat rezeki yang berkah
dan cukup", suamiku mulai kuliahnya.

"Saya cuma sopir pak, masa ada profesional segala".

"Semua pekerjaan itu berharga dan semuanya mesti profesional, baru itu
manusia yang berharga".

"Bapak itu Bahasa Indonesianya bagus tapi kalau lihat badannya....seperti
orang Belanda..ya?"

"Kenapa kamu bilang begitu!", suamiku menyela.

"Tapi pokoknya bukan Indonesia dari badannya. Orang seusia bapak jarang
pakai bahasa yang bener".

"Kenapa? Kamu mau bilang saya tua ya!!??"

"Waduh jangan marah gitu pak.. Bapak itu..."

"Apa??? Tua lagi! Jangan menghina dong. Usia saya baru 77 tahun, kalau
kamu?".

"Saya sudah 55 tahun pak" sahut sopir taxi.

"Tahu kamu bedanya kamu dengan saya?"
Sopir taxi diam menanti suamiku melanjutkan bicaranya.

"Saya 'baru' 77 tahun artinya masih akan ada harapan sedang kan kamu
'sudah' 55 tahun jadi berakhir harapan"..

"Jadi saya mesti bilang 'baru' 55 pak!". "Optimis ya pak!"

"Begitu dong. Jadi hidup ini dihadapi dengan semangat, optomis, jujur
bekerja".

"Nggak biasa saya dapat penumpang seperti bapak".

"Tidak pernah atau tidak biasa" timpa suamiku.

"Tidak pernah pak! Bapak seperti...nya orang pintar ya pak".

"Saya orang Minang asli, lahir di Minang besar di Minang, ibu saya orang
Minang. Tetapi saya disekolahkan oleh pemerintah Soekarno di luar negeri.
Oleh ORBA saya dan ribuan mahasiswa tidak boleh pulang ketanah air, ke
rumah ibu saya".

"Ooh begitukah pak? Ada yang seperti itu ya???", pertanyaannya mengambang
dan bingung.
"Kalau gitu bapak pelajar pintar, pilihan dong ya".

"Bagaimana menurutmu kalau pemerintah mencabut paspor kami sehingga kami
tidak bisa pulang. Terpaksa gelandangan di negeri orang?"

"Kayaknya, itu jahat ya pak!"

"Bukan kayaknya tapi itu kejahatan negara atas warga negaranya".

"Waduh...sedih dong pak".

" Waktu itu saya baru tingkat 4, terjadi G30S di Indonesia,” ujar suamiku
dan mulai bercerita tentang betapa kelamnya kisah terbuang di negeri orang.

“Kami mahasiswa yang diluar negeri diberi pilihan mengutuk Soekarno sebagai
dalang G30S atau paspor dicabut. Walau kami masih muda, kami tahu bahwa
tidak mungkin seorang presiden akan mendalangi pemberontakan, apalagi
Soekarno itu dicintai rakyat di dalam dan di luar negeri".

"Oo gitu?"

"Karena itu kami memilih tidak mengakui Soekarno dalang G30S. Akibatnya
pasport kami dicabut.
Kami ribuan mahasiswa jadi terlunta-lunta dinegeri orang".

"Wah sedih ya pak" supir taxi tercenung.

"Kami tetap melanjutkan kuliah dengan dibiayai pemerintah setempat.
Ada yang nekad kembali ke Indonesia, sampai di bandara langsung
dikembalikan  dengan pesawat yang sama kembali".

Dengan berat sopir taxi menarik nafas panjang tanda ikut prihatin,
"Lalu pak?".

"Banyak yang sakit jiwa ringan dan juga bunuh diri".

"Masha Allah. Iyalah pak. Masih pada muda. Kangen ibu, keluarga mungkin
juga pacar".

"Saya beruntung ibu saya masih ada ketika saya sudah bisa ke Indonesia..
Tapi saya jadi tamu di negeri saya sendiri".

"Kok gitu pak".

"Saya terpaksa ambil kewarganegaraan Belanda demi bisa jumpa ibu saya.
Tanpa pasport saya tidak bisa menginjakkan kaki di sini. Saya mau jumpa ibu
saya".
"Jadi bapak pasport Belanda".

"Kamu asalnya dari mana?" Tanya suamiku.

"Sunda pak. Bandung, Dayeuh Kolot", jawab sang supir dengan mantap.

"Berapa lama tidak jumpa ibumu?".

"Tiap tahun jumpa pak. Bandung- Jakarta kan dekat"

"Jadi kamu tidak akan tahu rasanya rindu masakan ibu. Kamu tidak tahu itu!"..

"Masakan ibu saya sederhana saja. Maklum orang miskin pak! Paling juga
sambel hijau, sambel terasi.....jarang-jarang pepes ikan".

"Bedakah sambel ibumu dengan sambel istrimu atau sambel di warung
Sunda?"tanya suamiku.

"Beda pak!” dengan mantap sang supir menjawab pertanyaan suamiku.
Pokoknya kalau dirumah Mamak itu makannya enak dan tenaaang. Sambelnya
pedas tapi beda dengan yang lain" lanjut sang sopir taxi sambil tersenyum.

"Kamu bisa bayangkan 49 tahun saya tidak makan rendang Amai saya, tidak
makan gulai ikan Amai saya, kalamai, godok ubi, godok tinta.

‘Apapun saya dapat di negeri orang tapi tidak ada masakan Amai saya",kata
suami saya dengan penuh kemarahan.

"Iya pak. Saya mengerti".

Suami saya dan sopir taxi sama-sama berdiam dan merenung.

"Jadi selamanya pasport Belanda pak?".

"Saya tidak akan melepas paspor Belanda sampai pemerintah Indonesia
merehabilitasi kami semua.
Serta mangembalikan paspor kami dan memberikan konpensasi walau hanya satu
rupiah saja!", kata suamiku dalam satu arikan nafas.

"Apa pak..konpensasi? Oh..ganti rugi ya pak", sergah sopir taxi.
"Betul pak..mesti ada ganti rugi. Dari yang berkuasa!", katanya lagi.

"Itu dimuka 100 m lagi kita sampai,” tiba tiba suamiku menyahut.
“Kamu siapa namanya", tanya suamiku

"Eh asik dengerin bapak! Nama saya Asep pak!"

"Orang Sunda itu mesti Asep ya?"

"Ya gitu deh pak"
"Pak terima kasih obrolannya pak!"

"Saya yang berterima kasih karena kamu sudah mendengarkan penderitaan saya.
Kalau ada kata yang salah minta dimaafkan".
"Ah..bapak bisa aja. Sama-sama lah pak.
Terima kasih pak!"

Akhirnya kami sampai dirumah.

Ini adalah cuplikan percakapan mendiang suamiku pada jalan-jalan terakhir
kami di Jakarta.
Dua hari kemudian mendiang pergi menghadap Ilahi membawa serta harapannya.

Bersambung
Catatan :
Memoar : kenang-kenangan sejarah atau catatan peristiwa masa lampau
menyerupai autobiografi yang ditulis dengan menekankan pendapat, kesan, dan
tanggapan pencerita atas peristiwa yang dialami dan tentang tokoh yang
berhubungan dengannya

Eksil : orang yang berada di luar negaranya karena terpaksa atau pilihan
sendiri

Verzonden via Yahoo Mail op Android
<https://go.onelink.me/107872968?pid=InProduct&c=Global_Internal_YGrowth_AndroidEmailSig__AndroidUsers&af_wl=ym&af_sub1=Internal&af_sub2=Global_YGrowth&af_sub3=EmailSignature>


Kirim email ke