https://www.bbc.com/indonesia/indonesia-54474767
*Penembakan pengurus gereja di Papua disebut 'salah kaprah' dan bisa
'timbulkan antipati warga terhadap pemerintah Indonesia'*

3 jam yang lalu

ANTARA/HO-DOK HUMAS KEMENKO POLHUKAM

Keterangan gambar,
Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) Kasus Penembakan Intan Jaya di Intan
Jaya, Papua.

*Tokoh gereja Katolik mengatakan peristiwa penembakan yang berulang pada
pengurus gereja di Papua bisa menimbulkan perasaan antipati pada pemerintah
Indonesia.*

Tokoh agama Katolik, Alberto John Bunay yang merupakan Pastor Pembina Orang
Muda Katolik Keuskupan Jayapura mengatakan hal itu menyusul tewasnya
Rufinus Tigau, seorang pengurus gereja Katolik dalam kontak senjata antara
kelompok bersenjata dan aparat keamanan Senin (26/10) lalu.

Meski disebut gereja Katolik sebagai pengurus, TNI - melalui Kepala
Penerangan Kogabwilhan III (Timika, Papua), Kolonel Czi Gusti Nyoman
Suriastawa mengeklaim Rufinus adalah bagian kelompok bersenjata yang
menyerang militer.

   -

   'Misteri' tewasnya Pendeta Yeremias Zanambani di Papua: Pemerintah RI
   bentuk tim gabungan pencari fakta
   <https://www.bbc.com/indonesia/indonesia-54271207>
   -

   Dosen UGM anggota tim pencari fakta kematian pendeta Papua tertembak dan
   dievakuasi, TPNPB klaim bertanggung jawab
   <https://www.bbc.com/indonesia/indonesia-54481909>
   -

   Konflik di Nduga, Papua: 'Korban terus berjatuhan', pemerintah diminta
   ubah 'pola' kebijakan <https://www.bbc.com/indonesia/majalah-53593107>

Insisden ini adalah peristiwa penembakan ketiga yang terjadi pada
tokoh-tokoh gereja dalam kurun waktu dua bulan terakhir.

Peneliti masalah Papua meminta pemerintah melakukan investigasi peristiwa
ini secara cepat dan terbuka untuk menjaga kepercayaan warga Papua,
mengingat posisi tokoh agama yang sangat penting di masyarakat.

*"Pewarta gereja"*

Keuskupan Timika menyatakan bahwa Rufinus Tigau adalah seorang pengurus
gereja yang disebut sebagai pewarta atau katekis di Paroki Jalae, Intan
Jaya, Papua, sejak tahun 2015.

Pewarta adalah mereka yang bertugas menerjemahkan khotbah dari bahasa
Indonesia ke bahasa lokal kepada para jemaat


ernyataan tertulis yang dikeluarkan Administrator Diosesan Keuskupan Timika
Pastor Marthen Kuayo, Selasa (27/10) itu membantah tudingan TNI bahwa
Rufinus adalah bagian dari kelompok separatis atau kelompok bersenjata.

"Tuduhan bahwa Rafinus terlibat dalam gerakan separatis atau kelompok
bersenjata yang dituduhkan kepadanya adalah tidak benar.

"Saat ini, Keuskupan Timika sedang menyusun laporan dan kronologis insiden
penembakan yang menewaskan Rufinus," kata pernyataan itu.

*"Sudah diincar lama"*

Namun Kolonel Czi Gusti Nyoman Suriastawa mengatakan Rufinus adalah bagian
dari gerakan yang disebutnya Kelompok Kriminal Separatis Bersenjata atau
KKSB.

Ia mengatakan kelompok itu mengganggu warga dengan meminta jatah dana satu
desa, yang seharusnya digunakan untuk kepentingan umum desa.

Rufinus sendiri, kata Suriastawa, sudah diamati sejak peristiwa serangan
pada anggota Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF),
<https://www.bbc.com/indonesia/indonesia-54626689> yang menyelidiki
peristiwa pembunuhan pendeta Yeremia Zanambani, pada tanggal 9 Oktober 2020.

SUMBER GAMBAR,
ANTARA FOTO

Keterangan gambar,
Sebanyak 500-an prajurit yang tergabung dalam Satuan Tugas (Satgas) Yonif
Para Raider 432/Waspada Setia Jaya tiba di Kota Jayapura, 6 September 2020.
Yonif PR 432/WSJ ini menggantikan Satgas Yonif Raider 751/Vira Jaya Sakti
dalam tugas operasi Pengamanan Daerah Rawan (Pamrahwan) di wilayah Papua.

Dosen Universitas Gadjah Mada Bambang Purwoko yang merupakan anggota TGPF
ditembak dan mengalami luka-luka. Dua anggota TNI yang mendampingi Bambang
juga terluka.

"Dia [Rufinus] KKSB, sudah lama diincar... Ini sudah diikuti lama, sejak
tanggal 9 (Oktober).

"Saya melihatnya sekarang itu, entah pendeta, entah apa, begitu dia masuk
kelompok KKSB yang meresahkan masyarakat, melawan TNI, melawan aparat
pemerintah, dia akan berhadapan dengan TNI," kata Suriastawa.

Ia mengatakan kontak senjata terjadi karena kelompok itu melakukan
penyerangan.

Rufinus, disebutnya, ditembak karena mencoba melakukan perlawanan pada
pihak TNI.
*Kasus ketiga dalam dua bulan*

Rufinus adalah pengurus gereja ketiga yang tertembak dalam kurun waktu dua
bulan terakhir atau setelah peristiwa penembakan Pendeta Yeremia Zanambani
pada bulan September lalu.

Sebelumnya, Agustinus Duwitau, pewarta yang bertugas di gereja Katolik di
Emondi, Distrik Sugapa, tertembak di bagian bahu kirinya pada minggu
pertama bulan Oktober.

Kolonel Czi Gusti Nyoman Suriastawa menyebut penembakan itu terjadi karena
Agustinus ditemukan membawa senapan dan terlihat mengendap-ngendap di dekat
bandara Bilorai yang rawan.

SUMBER GAMBAR,
ANTARA FOTO

Keterangan gambar,
Foto ilustrasi: Seorang tokoh agama Katolik Papua meminta presiden menarik
prajurit TNI non-organik dari tanah Papua.

Ketika diberi peringatan, Agustinus, katanya, malah lari, sehingga ditembak
aparat yang mencurigainya sebagai anggota bersenjata.

Kini, Agustinus masih dalam perawatan.

Tokoh agama Katolik, Alberto John Bunay menyatakan sangsi dengan pernyataan
TNI soal dua perwarta yang dicurigai sebagai anggota kelompok bersenjata
itu.

"Itu cara pengalihan yang lazim dibuat oleh pemberi berita hoaks untu
membenarkan tindakan penembakan yang mereka lakukan," ujar John yang juga
pengajar di Sekolah Tinggi Filsafat Teologi, Jayapura, Papua itu.

Ia lanjut menjelaskan pentingnya posisi pewarta bagi umat Katolik.

"Para pewarta itu, ketika ada sesuatu mereka jadi tempat bertanya, tempat
memberi jalan keluar. Jadi, sebenarnya militer... *aduh *salah kaprah
menurut kami.

"Menurut kami, itu hal yang membuat gereja tidak nyaman dengan negara ini
karena kami sudah serukan bahwa semua bisa dibicarakan, tidak usah pakai
kekerasan," kata John.

John, yang juga koordinator organisasi Jaringan Damai Papua, khawatir hal
itu akan membuat warga antipati pada pemerintah.

"Dengan cara kekerasan begini, lama-lama menimbulkan antipati. Orang Papua
merasa orang Papua bukan Indonesia itu makin kuat. Itu yang kami takutkan.

"Jadi bagus kalau Pak Jokowi bisa menarik kembali semua prajurit
non-organik dari tanah Papua. Tidak apa-apa, tidak usah takut, Papua tidak
akan pisah dari Indonesia tanpa militer ada di sini. Jangan takut," ujarnya.

Ia mengatakan pimpinan gereja berencana melaksanakan unjuk rasa damai untuk
mendesak dihentikkannya semua bentuk kekerasan di tanah Papua karena hingga
kini gereja "merasa seperti tidak didengarkan".
*Investigasi cepat dan terbuka*

Peneliti masalah Papua di Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Aisah
Putri Budiatri mengatakan pemerintah perlu menginvestigasi rangkaian
kejadian itu secara cepat dan terbuka.

Apalagi, katanya, di Papua, posisi pemuka agama sangat penting.

"Kalau tidak ada proses penegakan hukum terbuka, objektif, dan dilakukan
tuntas, maka berpotensi menimbulkan kebingungan masyarakat.

"Itu bisa meningkatkan ketidakpercayaan, terutama orang Papua terhadap
pemerintah. Ini tentunya akan berdampak semakin buruk pada kondisi konflik
di papua," katanya.

Sementara itu, Kepala Penerangan Kogabwilhan III Kolonel Czi Gusti Nyoman
Suriastawa mengimbau tokoh agama untuk "meredam suasana".

"Jangan sampai dipengaruhi, didoktrin, dimanfaatkan dengan hal negatif,"
ujarnya.

SUMBER GAMBAR,
ANTARA/HO-DOK HUMAS KEMENKO POLHUKAM

Keterangan gambar,
Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Menko Polhukam)
Mahfud MD saat memimpin rapat perdana TGPF penembakan di Intan Jaya, Papua.

Pemerintah membentuk Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) untuk mencari pihak
yang bertanggung jawab dalam penembakan Pendeta Yeremia Zanambani.

Menkopolhukam Mahfud MD pada 21 Oktober lalu mengumumkan kesimpulan
sementara TGPF, yakni aparat keamanaan diduga bertanggung jawab atas
insiden itu.

Meski beitu, Mahfud mengatakan peristiwa itu bisa juga dilakukan oleh pihak
keiga, tanpa menjelaskan lebih lanjut.

Kirim email ke