Mengapa hanya orang perempuan dites keperawanan? Apakah masih terus
dilakukan tes keperawanan kepada mereka yang mau menjadi "Polwan"?

https://www.bbc.com/indonesia/majalah-50216471



*Malam pertama: Kisah pernikahan para perempuan yang hancur karena dianggap
tidak perawan*

   -

   Hevar Hasan
   -

   BBC Arabic

29 Oktober 2019

[image: Bride in wedding gown]

SUMBER GAMBAR,
GETTY IMAGES

*Pernikahan semestinya menjadi sesuatu yang paling diidamkan semua orang.
Namun bagi sebagian perempuan di beberapa negara, "perayaan" ini bisa
menjadi pengalaman traumatis, dan tidak bisa melupakan malam pertama karena
berbagai alasan keliru.*

Di Arab dan negara-negara yang berpenduduk Muslim, para perempuan
diharuskan menjaga keperawanan mereka sampai menikah nanti.

BBC Arabic mewawancarai para perempuan dari berbagai latar belakang sosial,
tentang bagaimana dampak malam pertama dan kurangnya pendidikan seks
mempengaruhi kehidupan pernikahan mereka selanjutnya.

Berikut ini adalah potret para perempuan dari berbagai kalangan usia, yang
kehidupannya berbalik setelah mereka menikah.

   -

   Tes keperawanan untuk pengantin baru, aktivis India luncurkan gerakan
   hentikan praktik 'menghina'
   <https://www.bbc.com/indonesia/majalah-42903817>
   -

   Vaginismus: 'Tubuh saya tidak mengizinkan saya berhubungan seksual'
   <https://www.bbc.com/indonesia/majalah-49749951>
   -

   Satu dari 10 perempuan di Inggris kesakitan saat berhubungan seks
   <https://www.bbc.com/indonesia/majalah-38741028>

*Somayya - 23* *tahun*

[image: A woman sitting on a bed and staring down]

SUMBER GAMBAR,
GETTY IMAGES

Somayya sudah lama bersitegang dengan keluarganya, karena orang tuanya
tidak mengizinkan dirinya menikahi Ibrahim, laki-laki yang sangat ia cintai
dan bisa dianggap seorang calon suami ideal untuk para gadis remaja.

Ia tidak tahu bahwa begitu mimpinya terwujud, ia harus siap dengan sebuah
kejutan besar.

Rasa cinta lenyap begitu saja saat mereka menghabiskan malam pertama,
karena sang suami diliputi rasa curiga tentang apakah Somayya masih
"perawan" atau tidak.

Sommaya, 23 tahun sebentar lagi akan menyelesaikan studinya untuk meraih
gelar di bidang Sastra Arab di Universitas Damaskus, Suriah. Namun,
hari-harinya disibukkan dengan Ibrahim, yang berjanji tidak akan
menghalangi ia menyelesaikan studinya dan menunggu hingga lulus.

Selain keluarga yang tidak mengizinkannya menikahi Ibrahim, Somayya juga
keras kepala karena ia belum lulus dan belum mempunyai rumah sendiri.

Ia menikahi Ibrahim berlandaskan keyakinannya akan cinta dan dukungan calon
suami. Ia membawa seluruh keluarganya, melangkah lebih jauh dengan
menyatakan bahwa ia akan bahagia tinggal bersama mertuanya, yang ia hormati
seperti ibunya sendiri.

Namun, Somayya terkejut saat menjalani malam pertamanya. Sang suami "dengan
penuh semangat dan tanpa memberinya waktu untuk mengatur nafasnya,
melakukan hubungan badan dengan langsung menembus selaput dara, ia mencari
pembenaran bahwa rasa cintalah yang mendorong semuanya".

"Saya menuruti keinginannya," kata Somayya, "dan, meski kelelahan, saya
patuh".
*Rasa cinta lenyap begitu saja*

[image: Crying bride]

SUMBER GAMBAR,
GETTY IMAGES

Rasa cinta dan kasih sayang sepertinya lenyap begitu saja. Raut wajahnya
langsung berubah, Somayya mengatakan ia tahu sang suami curiga kalau ia
sudah tidak perawan lagi setelah ia menyebut "tidak ada bercak darah.

Sebagian besar perempuan mengalami pendarahan, dengan tingkat berbeda, saat
selaput dara robek, namun, menurut para dokter dan ahli, perdarahan itu
tidak selalu terjadi pada semua perempuan.

Bentuk selaput dara itu beragam: beberapa hanya dapat ditembus dengan
tindakan operasi; namun ada juga yang bentuknya sangat tipis sehingga bisa
robek tanpa pendarahan. Ada juga beberapa anak gadis yang terlahir tanpa
selaput dara sama sekali, atau selaput dara mereka secara tidak sengaja
robek akibat cedera yang dialami selama masa kanak-kanak.

Somayya menggambarkan reaksi suaminya dengan mengatakan "ia menatap saya
seperti menancapkan belati di dada saya, ia secara tidak sengaja telah
membunuh saya".

"Ia bahkan tidak mau berbicara dengan saya. Saya merasa diabaikan dan saya
seolah-olah menjadi tersangka yang menunggu untuk diadili. Sebelum menikah,
kami telah membahas banyak hal," tambahnya, "bahkan malam pernikahan kami,
yang seharusnya menjadi malam terbaik dalam hidup kami ".

"Kami pikir kami sudah mengenal satu sama lain, namun semuanya sirna ketika
'tidak ada tanda-tanda keperawanan muncul'."
*Selembar kain berlumur darah*

[image: A woman sitting on a bed]

SUMBER GAMBAR,
GETTY IMAGES

Meski kejadian tersebut lumrah terjadi di lingkungannya, Somayya tak
menyangka ia akan mengalaminya sendiri. Karena ia menganggap perilaku kaum
remaja pria sudah berubah dan pandangan mereka berbeda terhadap generasi
kakek-neneknya, terutama karena tunangannya dari kalangan intelektual,
mempunyai pikiran terbuka dan lulusan universitas.

Namun saat sang suami menganjurkan pergi ke dokter untuk memastikan Somayya
perawan atau tidak di hari kedua pernikahan mereka, ia pun terperangah. Tes
keperawanan untuk anak perempuan adalah kebiasaan kuno, namun masing-masing
keluarga memiliki uji keperawanan yang berbeda.

Di kalangan keluarga yang lebih konservatif, tak jarang mereka menunjukkan
keperawanan si gadis dengan selembar kain berlumuran darah kepada keluarga
pihak laki-laki, dan terkadang ada upacara khusus diadakan untuk
"memastikan" bahwa si gadis masih perawan.

Ada berbagai cara agar selaput dara terlihat seperti yang diinginkan -
yaitu dengan 'menjahit kembali' selaput dara lewat tindakan operasi, dan
ada selaput dara buatan China - yang bentuknya seperti selaput dara yang
utuh dan mengeluarkan cairan merah yang terlihat seperti darah saat
mengalami tekanan.

Tetapi salah satu perempuan, seperti Rozana, masih menghadapi tekanan
berbeda, bahkan terpaku atas nama 'kehormatan'.
*Berhubungan seks terasa kotor*

[image: A woman with a trolley bag]

SUMBER GAMBAR,
GETTY IMAGES

Setelah mengunjungi seorang ginekolog pada hari berikutnya, Somayya diberi
tahu bahwa ia memiliki selaput dara yang tebal, dan hanya akan robek jika
ia melahirkan secara alami.

Suaminya tersenyum dan bisa bernapas lega, tetapi semua sudah terlambat.
Somayya memutuskan untuk bercerai.

Menjelaskan mengapa ia mengajukan perceraian, Somayya mengatakan: "Suami
saya menjadi asing sekarang. Saya khawatir ia akan mengatakan kepada semua
orang tentang keperawanan saya.

Saya tidak bisa menduga apa yang akan ia lakukan selanjutnya. Saya tidak
mempercayai lagi seseorang yang memutus hubungan yang sudah dibina
bertahun-tahun dalam hitungan detik.

Setelah terdiam sejenak, Somayya menambahkan: "Sebenarnya, saya tidak tahu
bagaimana menggambarkan keadaan saya dan bagaimana perasaan saya kepadanya
setelah malam itu, tetapi saya tidak tahan untuk hidup bersamanya, setelah
ia mengecilkan keberadaan saya hanya karena soal selaput dara. Pada
akhirnya, saya adalah manusia, bukan selaput dara ".

Sejak itu, kondisi psikologis Somayya memburuk. Ia menghindari orang-orang
dan mengurung diri. Ia merasa seolah-olah tengah memainkan peran gender
tradisional, seorang istri yang lemah tanpa suami.

Selama tiga bulan berikutnya, beberapa kali ia enggan berhubungan seks
dengan suaminya. "Ketika ia melakukan penetrasi, rasa jijik menguasai
saya," katanya. "Saya tidak menginginkannya, dan tidak merasakan apa-apa,
karena hasrat saya telah padam malam itu. Saya hanya akan menunggunya
menyelesaikannya dan meninggalkan saya sendirian. Berhubungan seks
dengannya terasa kotor dan curang, karena itu tak lebih dari sebuah tugas
dan tugas yang harus saya lakukan, bukan tindakan cinta. "
*Nasihat malam pernikahan*

[image: Amal al-Hamid]

Keterangan gambar,
Amal al-Hamid memberikan nasihat kepada calon pengantin tentang persiapan
malam pertama.

Di lingkungannya, kasus Somayya bukanlah suatu hal yang langka, masih
banyak kasus seperti Somayya yang tertutup rapat-rapat, mereka menjaga diri
dan menghindari cemoohan serta penilaian masyarakat.

Tetapi kemudian anak-anak serta keluarga dipengaruhi oleh kurangnya
keterbukaan untuk membahas masalah ini secara bebas dan terus terang.

Amal al-Hamid, seorang psikiater, berbicara kepada BBC tentang keadaan
psikologis seorang perempuan pada malam pernikahannya. Ia menawarkan
bantuan kepada pasangan-pasangan yang akan menikah agar terhindar dari
berbagai masalah yang tak terduga: "Masyarakat kami tidak terbiasa dengan
berbagai bantuan psikiater."

Al-Hamid yakin sesi konseling pranikah dapat membantu memastikan awal yang
bahagia untuk perjalanan sebuah pernikahan, yang intinya terletak pada
dialog dan pemahaman.

"Para pasangan harus melakukan konseling supaya mendapat informasi yang
berguna dan relevan, dan bisa bertanya soal apa pun, tentang keintiman
mereka, berbagai jenis selaput dara, dan bagaimana memastikan penetrasi
tidak menimbulkan bekas luka pada perempuan, sehingga menjadi malam yang
menyenangkan."

"Sayangnya," lanjut al-Hamid, "banyak orang berpikir mereka tahu banyak
tentang keadaan psikologis dan fisiologis perempuan yang baru menikah,
namun ternyata malah sebaliknya, kurang berpengalaman.

"Dalam banyak kasus," tuturnya mengamati, "masalah seperti itu tidak
ditangani, dan dibiarkan membusuk dari waktu ke waktu, hanya menambah
kerumitan dalam jangka panjang."
*Bukti kesucian*

[image: A couple lie in bed facing away from each other]

SUMBER GAMBAR,
GETTY IMAGES

BBC bertanya kepada 20 pria tentang bagaimana reaksi mereka seandainya
mereka mendapati diri mereka dihadapkan pada "tidak ada tanda keperawanan"
saat pertama kali berhubungan intim.

Para laki-laki dengan rentang usia antara 20 dan 45, dengan status menikah
dan lajang terdiri dari para akademisi, dokter, guru dan mereka memiliki
"pikiran terbuka" terhadap permasalahan tersebut.

Responsnya? Sebagian besar memberikan jawaban negatif secara langsung atau
tidak langsung.

Mayoritas responden menyamakan "noda darah dengan kesucian dan bukti
keperawanan pengantin perempuan" yang, menurut mereka, adalah batu fondasi
kehidupan perkawinan yang bahagia berdasarkan kepercayaan dan pemahaman.
*Tidak ada cinta atau gairah yang tersisa*

[image: Two hands holding wedding rings]

SUMBER GAMBAR,
GETTY IMAGES

Beberapa bulan kemudian, Somayya membuka diri kepada suaminya tentang
keinginannya untuk mengakhiri pernikahan mereka. Ia mengatakan tidak ada
cara untuk membalikkan keputusannya karena ia takut akan kehidupan di
sekelilingnya, dan karena tidak ada cinta atau gairah yang tersisa setelah
malam pertama yang menentukan itu.

Ia juga mengungkapkan bagaimana kecurigaan sang suami terhadap dirinya
adalah sesuatu yang "tidak peka" dan telah menurunkan derajatnya.

"Suami saya terkejut, karena sebagai laki-laki, ia merasa berhak untuk
mempertanyakan apakah istrinya pernah melakukan hubungan seksual sebelumnya
atau tidak. Ia mengatakan tidak akan menceraikan saya selama saya masih
hidup, dan menyarankan agar saya berhati-hati dengan "perilaku memberontak
"karena akan mengakibatkan" penyesalan dan penyesalan ".

"Masyarakat kita memiliki standar ganda," kata Somayya, "dengan eksploitasi
seksual laki-laki diakui dan bahkan dipuja, tetapi ketika menyangkut
perempuan, perilaku semacam itu menyebabkan penolakan masyarakat, dan
kadang-kadang bisa dihukum mati."

"Mantan suami saya seperti itu, ia bisa tertawa saat sesumbar tentang
sejarah seksualnya, namun ia malah marah kalau saya bercanda," tambahnya.

Keluarga Somayya tidak setuju kalau ia mengajukan perceraian, karena mereka
beranggapan masalah ini "kecil dan sepele", Somayya pun meninggalkan Suriah
Juni lalu dan terbang ke Eropa.

*Jumanah - 45 tahun*

[image: Couple looking sitting on a bed]

SUMBER GAMBAR,
GETTY IMAGES

Jumanah menghabiskan sebagian besar hidupnya di Suriah di lingkungan al-Bab
Aleppo sebelum pindah ke Brussels, Belgia pada 2016.

Ia menuturkan kepada BBC dirinya menunggu 20 tahun untuk menyelesaikan
perceraiannya.

"Saya masih berusia 19 tahun saat melawan ayah yang menginginkan saya untuk
menikahi sepupu saya."

"Saya tidak mau. Saya suka belajar, tetapi mereka membuatku percaya bahwa
ia adalah orang yang tepat untuk saya, dan nanti saya akan terbiasa
dengannya. Cinta akan datang kemudian, kata mereka."

Di kalangan keluarga konservatif dan mereka yang berada di daerah pedesaan,
mereka sudah biasa menunggu pengantin baru di rumah, saat "keperawanan"
pengantin perempuan diperiksa dan dipastikan.

Jumanah mengenang dengan jelas bagaimana ia melangsungkan malam pertama
dengan rasa sakit, seolah-olah itu baru saja terjadi.

"Ia menutup pintu dan mengatakan kita harus cepat-cepat berhubungan intim,
karena pihak keluarga tengah menunggu dan memastikan apakah kamu masih
perawan."

Itu benar-benar mengerikan, "katanya." Suami saya tidak berbicara sedikit
pun kepada saya, ia hanya menjalankan tugas, sementara saya gemetar
ketakutan dan merasa jijik. "

Jumanah menambahkan bahwa "meskipun saya sakit secara fisik dan tekanan
emosional, satu-satunya kekhawatiran suami saya adalah bercak darah itu."
*Malu*

[image: Couple looking away from each other]

SUMBER GAMBAR,
GETTY IMAGES

"Saat penetrasi, saya tidak mengeluarkan darah, jadi suami saya memecah
keheningan malam saat ia menjerit," Tidak ada darah! " katanya.

Selama satu jam ia dicekam oleh rasa terkejut dan ketakutan, Jumanah
tertegun dan tidak bisa mengucapkan sepatah kata pun. Mereka tidak menunggu
sampai pagi, mereka langsung pergi malam itu juga ke seorang ginekolog
untuk memastikan keperawanannya.

"Saya ingat dokter yang saya temui menghibur saya seakan-akan ia adalah
ayah saya," kenangnya, "dan memberitahu suami saya atas apa yang ia
lakukan".

Jumanah terpaksa tinggal bersama suami yang secara terang-terangan
menghinanya, karena keluarga dan semua orang di sekitarnya tidak mendukung
keinginannya untuk berpisah.

Hingga akhirnya mereka hidup bersama selama 20 tahun dan memiliki empat
anak dan Jumanah tidak bisa melupakan penghinaan yang dilontarkan kepada
dirinya.

Setelah ia sampai di Brussel dengan anak-anaknya, ia mencabut status
pernikahannya.

Ia mengatakan betah tinggal di Brussels bersama anak-anaknya, dan ia tidak
berniat menikah lagi. Sebaliknya, ia ingin memenuhi impian akademisnya yang
sebelumnya ditolak, dan ingin membesarkan anak-anaknya dengan cara ia
dibesarkan.

"Saya bahagia sekarang," katanya, "karena saya bisa membawa kedua putri
saya ke sini. Saya bukan hanya menceraikan suami saya, tapi saya juga
terpisah dari masyarakat yang sama sekali tidak memperlakukan saya dengan
adil."

*Rozana dan* *Amina melakukan operasi selaput dara*

[image: A woman's face with a tear running down her cheek]

SUMBER GAMBAR,
GETTY IMAGES

Rozana, salah seorang perempuan lainnya menjelaskan mengapa ia berpisah
dengan tunangan yang sudah bersamanya selama lima tahun.

"Saya mempercayai dan mencintainya. Dalam salah satu pertemuan kami, dia
menggangguku karena berhubungan seks, mengingat aku, secara teknis, adalah
istrinya. Suatu hari aku akhirnya tunduk pada desakannya dan melakukannya.

Namun, enam bulan kemudian, keluarganya serta keluarga tunangannya terpuruk
dan dan didera musibah saat mereka berpisah.

"Di lingkungan masyarakat kita, tidak ada perdebatan tentang hukuman apa
yang dijatuhkan jika kehilangan keperawanan," sembari menambahkan hukuman
paling final yaitu, "hukuman mati".

"Untungnya, ada teman saya yang membantu. Ia menyarankan saya untuk
mengunjungi seorang ginekolog untuk melakukan operasi selaput dara dan
menggantinya dengan produk selaput dara produk China".

"Kalau saya tidak dioperasi, mungkin saya sudah lama mati."

Amina, yang berasal dari keluarga konservatif dan miskin, terjatuh di pintu
kamar mandi dan menyebabkan selaput daranya robek.

Ia memberitahu ibunya dan tidak menyadari apa yang terjadi. Ia langsung
dibawa ke dokter kandungan, untuk memastikan apakah selaput daranya telah
robek.

"Hari itu adalah cobaan berat bagi ibu saya. Ia tidak tahu apa yang harus
dilakukan. Setelah berkonsultasi dengan tiga bibi saya, akhirnya saya
memutuskan untuk operasi selaput dara," katanya.

"Prosedur seperti itu dilakukan penuh kerahasiaan, karena operasi tersebut
dilarang di negara kami, dan karena kebanyakan orang tidak akan percaya
bahwa saya mengalami kecelakaan, dan akan meragukan keperawanan saya".
*Tes keperawanan*

[image: A couple in bed looking away from each other]

SUMBER GAMBAR,
GETTY IMAGES

Di beberapa negara Arab dan negara berpenduduk Muslim, banyak perempuan
menjalani tes keperawanan sebelum menikah, setelah itu calon pengantin
perempuan menerima sertifikat yang menyatakan bahwa ia masih gadis.

Lembaga Human Rights Watch mengecam Indonesia dan negara-negara Arab dan
Muslim lainnya yang masih melakukan "tes keperawanan" dengan cara
menyakitkan.

Biasanya dilakukan oleh ibu-ibu yang lebih tua usianya, dengan cara
memasukan dua jari ke dalam vagina untuk memastikan apakah ada selaput dara
atau tidak.

Praktik tersebut, tersebar luas di Timur Tengah dan Afrika Utara, HRW
menggambarkan dalam sebuah laporan yang diterbitkan pada tahun 2014,
sebagai "suatu bentuk kekerasan berbasis gender, dan diskriminasi tidak
manusiawi terhadap perempuan, dan pelanggaran hak asasi manusia yang
mencolok".

Sebuah studi yang dilakukan oleh BBC mengungkapkan bahwa India,
Afghanistan, Bangladesh, Iran, Mesir, Yordania, Libia, Maroko dan
negara-negara Arab lainnya, dan Afrika Selatan - berada di puncak liga
internasional untuk tes keperawanan.

Menurut laporan HRW, Mesir, Maroko, Yordania dan Libia adalah negara-negara
yang paling banyak melakukan tes keperawanan.

Namun pihak berwenang di Maroko dan Mesir dengan tegas menyangkal klaim
tersebut, dan menegaskan kembali bahwa tes keperawanan itu adalah praktik
ilegal yang dilakukan secara diam-diam.

Kirim email ke