-- 
j.gedearka <[email protected]>




https://news.detik.com/kolom/d-5232712/revitalisasi-semangat-sumpah-pemuda?tag_from=wp_cb_kolom_list



Kolom

Revitalisasi Semangat Sumpah Pemuda

Asrorun Ni'am Sholeh - detikNews

Rabu, 28 Okt 2020 20:10 WIB
0 komentar
SHARE
URL telah disalin
asrorun
Asrorun Ni'am Sholeh (Foto: istimewa)
Jakarta -

Semangat persatuan menjadi ruh dalam Sumpah Pemuda yang diikrarkan para pemuda 
Indonesia 92 tahun yang lalu. Bersatu di tengah perbedaan, baik suku, bahasa, 
adat istiadat, maupun agama.

Salah satu hal penting yang disampaikan Presiden Joko Widodo dalam arahan saat 
puncak Peringatan Hari Sumpah Pemuda yang diselenggarakan oleh Kementerian 
Pemuda dan Olahraga, Rabu (28/10) adalah soal persatuan dan gotong royong untuk 
mewujudkan tujuan bersama.

Presiden menekankan semangat bergotong-royong, tidak ada istilah penyekatan 
berdasarkan suku. Semangat Sumpah Pemuda adalah menyatukan persaingan dan 
perbedaan. Sebab, tidak jarang antar-individu saling menjatuhkan dalam 
berkompetisi di era globalisasi.

Sumpah Pemuda membawa energi positif yang menyatukan. Persaingan dan perbedaan 
tidak harus membuat kita melupakan kepentingan dan tujuan bersama.

Perjuangan menyatukan seluruh komponen bangsa bukan pekerjaan mudah. Melainkan, 
suatu usaha berkesinambungan yang dikerjakan dengan penuh pengorbanan. Bulan 
Oktober adalah momentum penting menyatukan seluruh potensi bangsa yang 
sejatinya ada di pundak para pemuda. Tanggal 22 Oktober yang telah ditetapkan 
sebagai Hari Santri Nasional dan 28 Oktober sebagai Hari Sumpah Pemuda adalah 
momentum yang memiliki keterkaitan erat. Keduanya sama-sama dipelopori para 
pemuda Indonesia.

Bagaimana pertempuran heroik di Surabaya pada 1945 diawali dengan Resolusi 
Jihad yang kemudian direspons para pemuda untuk komitmen kecintaan terhadap 
Tanah Air. Dan 17 tahun sebelumnya, para pemuda meneguhkan komitmen persatuan 
dengan ikrar kesetiaan terhadap tanah air Indonesia, bangsa Indonesia, dan 
bahasa Indonesia pada 28 Oktober 1928. Sungguhpun berbeda agama, suku, ras, dan 
bahasa, namun diikat oleh satu identitas, yaitu Indonesia.

Identitas Indonesia yang akan diperjuangkan kemerdekaannya sudah terbentuk 
dengan ikrar Sumpah Pemuda. Tanpa ikrar persatuan itu, bisa saja Indonesia akan 
terpecah belah menjadi serpihan kecil yang tak bermakna. Hari Santri Nasional 
dan Sumpah Pemuda adalah momentum yang mengajarkan kita tentang arti bersatu 
dan bangkit melawan kezaliman, ketidakadilan, dan keterpurukan.

Spirit religiusitas dan nasionalisme bersatu di saat yang bersamaan. Tentunya, 
ini menjadi berkah untuk rakyat Indonesia, sekaligus harapan akan semangat 
persatuan dan kebangkitan. Saat ini, di tengah polarisasi masyarakat atas 
sentimen politik, kita membutuhkan semangat keduanya. Sejarah mengajarkan 
banyak hal kepada kita, terutama dari para pendiri bangsa yang rela berkorban 
untuk kepentingan bangsa dan negara.

Semangat yang Sama

Pasca proklamasi kemerdekaan yang juga diinisiasi percepatannya oleh kaum muda, 
ancaman penjajahan belum juga surut. Sejarah mencatat, para santri dan pemuda 
mewakafkan hidup mereka untuk merebut kembali kemerdekaan yang baru seumur 
jagung. Ancaman kembalinya kaum penjajah menghentakkan sanubari mereka untuk 
melawan dan memberikan seluruhnya, harta, dan nyawa demi mempertahankan Ibu 
Pertiwi.

Para santri dan kaum muda dengan caranya masing-masing bergabung dengan seluruh 
elemen bangsa melawan penjajah, menyusun kekuatan dari kelompok-kelompok kecil 
menjadi sebuah gelombang besar yang sulit ditaklukkan. Mereka mengajarkan 
kepada generasi selanjutnya tentang pentingnya mengatur strategi agar tidak 
terpecah dan membangkitkan kesadaran pentingnya menjaga keutuhan dan 
kemerdekaan.

Dengan adanya Hari Santri dan Sumpah Pemuda di bulan yang sama,akan menghapus 
sekat santri dan non-santri. Sebaliknya, akan memupuk semangat kebangsaan, 
mempertebal rasa cinta Tanah Air, memperkokoh integrasi bangsa, dan memperkuat 
tali persaudaraan.

Seperti di awal tulisan, keduanya adalah momen untuk mengingat bagaimana para 
pendahulu kita memiliki semangat yang sama yakni semangat kebangsaan, cinta 
Tanah Air, dan rela berkorban untuk bangsa dan negara.

Dalam sejarahnya kaum muda selalu menjadi agen perubahan sosial. Salah satunya 
momentum Sumpah Pemuda, 28 Oktober 1928, sebagai titik balik komitmen 
kebersamaan di tengah perbedaan. Komitmen yang menyatukan bangsa dengan mencari 
titik temu di tengah perbedaan organisasi, baik yang berbasis kedaerahan, 
kesukuan, maupun keagamaan.

Mereka tidak saling mempertentangkan antara satu dengan yang lain. Yang dicari 
adalah titik temu. Ada Jong Java, Jong Ambon, Jong Celebes, Jong Sumatranen 
Bond, Jong Islamieten Bond, Sekar Rukun, Perhimpunan Pelajar-Pelajar Indonesia 
(PPPI), dan Pemuda Kaum Betawi. Ide persatuan bangsa Indonesia datang dari 
berbagai elemen pemuda pada saat itu. Mereka memiliki semangat kebangsaan yang 
sama, yakni Indonesia sebagai tumpah darah, bangsa, dan sekaligus identitas 
bahasa.

Bahasa Indonesia yang disepakati dan diikrarkan sebagai bahasa persatuan 
sejatinya adalah bahasa Melayu. Padahal saat itu mayoritas penutur adalah orang 
Jawa. Mengapa bukan bahasa Jawa yang dijadikan bahasa nasional? Ini tentu 
menarik bagaimana pengorbanan menyingkirkan primordialisme dilakukan demi 
persatuan dan kesatuan nasional. Pendekatan yang dipakai adalah pendekatan 
rasional, terkait dengan kesederhanaan bahasa Indonesia dan penerimaan bahasa 
Melayu dari serapan bahasa lain, baik bahasa asing seperti Arab dan juga bahasa 
daerah.

Salah satu kunci dalam komitmen bersatu adalah kesediaan untuk saling memberi 
dan menerima. Bukan kecenderungan untuk mendominasi satu dengan yang lain, 
sekalipun atas nama mayoritas. Pasca Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928, 17 tahun 
berikutnya, Kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945 diproklamasikan dengan 
bahasa Indonesia. Itu menunjukkan bahasa Indonesia memiliki peranan sangat 
penting di awal era kemerdekaan.

Teks dan proklamasi yang dibacakan Sukarno menggunakan bahasa Indonesia. Secara 
faktual, proklamasi kemerdekaan berbahasa Indonesia telah berperan besar 
menyatukan bangsa Indonesia.

Titik Temu

Sejatinya tidak perlu ada dikotomi antara semangat keagamaan dan kebangsaan. 
Titik temu sudah dilakukan para pendahulu kita, bagaimana kaum agamawan 
memainkan peran penting dalam mempertahankan kemerdekaan. Spirit kecintaan 
terhadap Tanah Air bukan hanya sekadar karena sebagai warga negara, tetapi itu 
panggilan semangat keagamaan.

Di tengah berbagai ancaman bangsa dan negara saat ini, para pemuda Indonesia 
harus bangkit dan tercerahkan dengan momentum Hari Sumpah Pemuda. Tidak mudah 
memang, namun upaya-upaya berkesinambungan harus terus dilakukan. Tentunya, ini 
menjadi wujud impian rakyat Indonesia agar menyatu dalam nasionalisme dan rasa 
cinta Tanah Air. Pancasila adalah titik temu dan kesepakatan para pendiri 
bangsa.

Oleh sebab itu, mempertahankan dan menjalankan Pancasila dan kehidupan 
berbangsa dan bernegara tentunya adalah kewajiban tiap individu warga negara.
Terbentuknya Indonesia sebagai negara kesatuan merupakan kesadaran seluruh 
komponen bangsa tanpa mempersoalkan latar belakang agama, suku, dan bahasa.

Kesadaran itu lahir dari kehendak bersama untuk membebaskan diri dari belenggu 
penjajahan dan kolonialisme yang tidak sesuai dengan semangat dan nilai-nilai 
kemanusiaan universal. Semangat ini tentunya menjadi modal dasar dan landasan 
kuat menyatukan dan meleburkan diri dengan penuh kerelaan dalam bentuk Negara 
Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Sebagai titik temu, Pancasila mengandung semua komponen bangsa yakni ketuhanan 
(religiusitas), kemanusiaan (humanisme), kebangsaan (nasionalisme), kerakyatan 
dan keadilan. Lima Sila dalam Pancasila adalah satu kesatuan yang saling 
menjiwai, tak terpisahkan. Memisahkan semangat ketuhanan dengan kebangsaan sama 
bermasalahnya dengan memisahkan semangat kebangsaan dengan ketuhanan. Prinsip 
yang lima itu hasil pengejawantahan pemikiran para pendiri bangsa yang memang 
berjuang untuk menerima semua kelompok dan golongan di bawah naungan NKRI.

Bangkit Kembali

Bagaimana hari ini, di tengah kondisi krisis akibat wabah Covid-19 kita bisa 
bangkit kembali? Etos kebersamaan dan persatuan menjadi salah satu prasyarat 
untuk kebangkitan kita. Anak-anak muda Indonesia sudah memiliki sejarah sukses 
menjadi pionir, menjadi pelopor perekat kebersamaan itu. Saya kira ini juga 
momentum untuk membangkitkan kreativitas dan inovasi anak-anak muda, baik itu 
di bidang kepemimpinan, di bidang kewirausahaan, maupun di bidang kepeloporan 
dan kesukarelawanan.

Anak-anak muda kita juga telah membuktikan perannya sebagai integrator di 
tengah kondisi masyarakat yang memang masih terpolarisasi berdasarkan afiliasi 
politik, berdasarkan kelas sosial yang ada. Situasi polarisasi sosial seperti 
itu tidak boleh dilanggengkan, harus ada ice breaker-nya. Nah, di situlah peran 
anak muda di dalam konteks kepeloporan.

Asrorun Ni'am Sholeh Deputi Menpora Bidang Pengembangan Pemuda, Ketua Panitia 
Nasional Hari Sumpah Pemuda 2020

(mmu/mmu)
sumpah pemuda
hari sumpah pemuda
sumpah pemuda 2020








Kirim email ke