*https://www.gatra.com/detail/news/494624/hukum/polri-tak-gubris-temuannya-komnas-ham-laporan-kami-lengkap
<https://www.gatra.com/detail/news/494624/hukum/polri-tak-gubris-temuannya-komnas-ham-laporan-kami-lengkap>*

Polri Tak Gubris Temuannya, Komnas HAM: Laporan Kami Lengkap

Gatra.com | 05 Nov 2020 02:44
Jakarta, Gatra.com - Ketua Komnas HAM, Ahmad Taufan Damanik, yakin bahwa
temuan pihaknya dalam kasus rentetan penembakan di Intan Jaya, Papua, sudah
sangat lengkap. Hal itu Taufan sampaikan saat menyerahkan laporan
investigasinya ke Menteri Koordinator bidang Politik, Hukum, dan Keamanan,
Mahfud MD pada Rabu (4/11).

"Dalam laporan kami, sudah sangat lengkap, detil peristiwanya, konstruksi
masalahnya, dan terdapat tujuh buah butir rekomendasi," kata Taufan dalam
keterangan resmi yang diterbitkan Kemenko Polhukam, Rabu (4/11).

Taufan melanjutkan, salah satu rekomendasi itu adalah soal penegakan hukum.
Ia sepakat dengan pernyataan Mahfud MD bahwa penegakan hukum harus adil dan
berpihak kepada korban serta keluarganya.

"Seperti yang dikatakan Pak Menko, (penegakan hukum) tanpa pandang bulu,
harus akuntable dan meyakinkan seluruh masyarakat, terutama memenuhi rasa
keadilan bagi korban dan keluarga korban," terang dia.

Temuan Komnas HAM sebelumnya justru tak digubris oleh Mabes Polri. Kepala
Biro Penerangan Masyarakat (Karo Penmas) Brigjen Pol Awi Setiyono
mengatakan, laporan Komnas HAM harusnya dikonfirmasi saja ke lembaga
tersebut.

"Pertama yang jelas, kami tidak akan menanggapi terkait dengan temuan
Komnas HAM. Silakan klarifikasi langsung kepada yang bersangkutan. Apalagi,
mereka sudah menunjuk pelakunya," kata Awi dalam konferensi pers di Gedung
Bareskrim Polri, Jakarta Selatan, Selasa (3/11).

Awi menambahkan, penyidik Polda Papua telah melakukan pemeriksaan terhadap
kasus meninggalnya Pendeta Yeremia Zanambani. Ada 24 saksi yang diperiksa.
Awi juga menyebut pemeriksaan itu sudah disampaikan ke Tim Gabungan Pencari
Fakta (TGPF).

Ia lantas membeberkan upaya-upaya Polri dalam mengusut kasus tersebut.
Penyidik disebut sudah melakukan koordinasi dengan kedokteran forensik
Rumah Sakit Bhayangkara Makassar. Ia menyatakan, rumah sakit tersebut siap
membantu visum mau pun autopsi jenazah pendeta tersebut.

"Setelah ada rekomendasi dari TGPF, keluarga sudah mengizinkan untuk
dilakukan autopsi. Tentunya, nanti ktia tunggu bagaimana tindak lanjutnya,"
jelas dia.

Awi juga menggambarkan sulitnya akses ke Tempat Kejadian Perkara (TKP) di
Hitadipa, Intan Jaya. Di tengah kesulitan itu, tim TGPF juga sempat terkena
tembakan yang diduga berasal dari kelompok bersenjata.

Atas serangkaian usaha pihaknya dan TGPF itulah Polri enggan memberi
komentar terhadap temuan Komnas HAM. Awi menilai masih terlalu dini untuk
menyimpulkan. Ia bahkan menyayangkan Komnas HAM sudah menyebut pelaku
penembakan.

"Untuk autopsi saja belum. Jadi nantikan pasti diselidiki, kalau nanti
terjadi luka, lukanya di mana, akibat apa. Kalau memang itu akibat tembakan
peluru, pelurunya jenis apa, dari senjata apa, semuanya akan diselidiki hal
demikian. Apalagi kalau sudah menjurus menjustice pelakunya ini, di sana
jauh sekali. Kita belum sampai ke sana. Kembali lagi kita masih
mengumpulkan tentunya barang bukti dan alat-alat bukti untuk menuju ke
sana," pungkasnya.

Sebelumnya, Ketua Klasis Gereja Kemah Injil Indonesia (GKII) Hitadipa,
Pendeta Yeremia Zanambani tewas ditembak pada Sabtu sore, 19 September 2020
lalu di Intan Jaya, Papua. Komnas HAM menyebut Yeremia tewas karena diduga
ditembak TNI.

"Diduga bahwa pelaku adalah saudara Alpius, Wakil Danramil Hitadipa,
sebagaimana pengakuan langsung korban sebelum meninggal dunia kepada dua
saksi dan pengakuan saksi-saksi lainnya yang melihat Alpius berada di
sekitar TKP pada waktu kejadian, dan tiga atau empat anggota lainnya," ucap
Komisioner Komnas HAM, Choirul Anam dalam konferensi pers daring, Senin
(2/11).

Temuan Komnas HAM sebenarnya mirip dengan pernyataan Menko Polhukam Mahfud
MD yang mengatakan adanya dugaan aparat sebagai pelaku penembakan pemuka
agama itu. Namun, Mahfud tak membeberkan detil identitas aparat atau pihak
lainnya yang terlibat.

"Mengenai terbunuhnya Pendeta Yeremia Zanambani pada 19 September 2020,
informasi dan fakta-fakta yang didapatkan tim di lapangan menunjukkan
dugaan keterlibatan oknum aparat," kata Mahfud, Rabu (21/10).

------------------------------
Reporter: Erlina Fury Santika
Editor: Rohmat Haryadi

Kirim email ke