https://www.suaramerdeka.com/news/opini/245825-risiko-kegaduhan-dalam-distribusi-vaksin


Senin, 2 November 2020 | 00:17 WIB
*Risiko Kegaduhan dalam Distribusi Vaksin*





Bila sesuai jadwal, vaksinasi Covid- 19 akan dilakukan mulai pertengahan
November. Waktu yang tidak lama lagi. Pemerintah telah menyusun daftar
prioritas urutan vaksinasi karena tidak mungkin pelaksanaannya serentak.
Jumlah penduduk Indonesia yang keempat terbesar di dunia menunjukkan
distribusi vaksin bakal menjadi persoalan yang tidak mudah. Selain aspek
kuantitas, terlebih karena vaksin tidak hanya disuntikkan satu kali,
kondisi geografis negeri ini juga menimbulkan kerumitan tersendiri.
Menepati jadwal berarti tidak menggunakan hasil produksi domestik.

Ada dua vaksin yang dikembangkan di Indonesia. Salah satunya murni
ditangani lembaga-lembaga negeri ini sehingga dinamai vaksin Merah Putih.
Namun, fase produksinya diperkirakan kalah cepat dari vaksin yang
dikembangkan Biofarma dan perusahaan asal Tiongkok, Sinovac Biotech.

Uji klinis dari vaksin hasil kerja sama Biofarma dan Sinovac itu telah
memasuki tahap ketiga. Selesainya akhir Desember sehingga diperkirakan baru
diproduksi 2021. Di level global, yang sudah dipastikan lolos uji fase
ketiga adalah vaksin asal Tiongkok, yang diproduksi oleh Sinovac,
Sinopharma, dan CanSino.

Bila dipaksakan jadwal vaksinasi tepat waktu, tentu yang paling mungkin
adalah mendatangkan vaksin produksi Tiongkok tersebut. Dengan syarat
produksi massal segera dilakukan dan Indonesia sudah masuk dalam daftar
pemesan untuk pengiriman November. Bila hal itu memang telah dilakukan,
tahap selanjutnya adalah memenuhi persyaratan untuk didistribusikan dan
digunakan di Indonesia. Dari gambaran bagaimana mendapatkan dan
mendistribusikannya, kemungkinan yang terjadi adalah pemunduran jadwal
vaksinasi. Namun, persoalan di luar kepastian jadwal juga perlu
diantisipasi.

Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil telah menerima permohonan agar vaksinasi
Covid-19 tahap pertama diprioritaskan bagi 480 ribu warga Kota Bekasi.
Sebelumnya Ridwan Kamil mengusulkan agar warga Kota Depok yang pertama
mendapatkan vaksin karena kasus harian terbanyak untuk wilayah Jawa Barat
disumbangkan oleh kota tersebut. Selain berebut mana yang didahulukan,
potensi permasalahan bisa muncul dari adanya kemungkinan penolakan oleh
sebagian masyarakat. Mungkin ada yang meragukan efektivitas vaksin
tersebut. Terlebih otoritas kesehatan di Amerika Serikat dikabarkan
menoleransi tingkat efektivitas hanya 50 persen, dari biasanya yang 60
persen.

Harapan agar vaksin bisa didapat untuk mengatasi pandemi Covid- 19 secepat
mungkin memang berpotensi memunculkan persoalan baru. Belum lagi bila ada
motivasi meraih untung besar dari vaksin. Vaksin sebenarnya bukanlah akhir
penyelesaian dari pandemi. Setelah vaksin ditemukan, belajar dari bebasnya
dunia dari cacar, dibutuhkan waktu sekitar 185 tahun. Polio yang juga
dinyatakan sudah bisa diantisipasi dengan vaksin, belum bisa dikatakan
tuntas karena masih ada kasus di dua negara. Vaksinasi Covid-19 tentu
sangat dibutuhkan, namun distribusi dan penyuntikannya kepada publik nanti
jangan memunculkan kegaduhan. Karena itu sosialisasi yang masif dan
komprehensif kepada seluruh lapisan masyarakat sangat dibutuhkan.

Kirim email ke