Enam Penyebab Terjadinya Resesi Ekonomi di Sebuah Negara
Editor novita   Kamis, 5 November 2020 - 16:17


indopos.co.id – Badan Pusat Statistik (BPS) sudah mengumumkan
pertumbuhan ekonomi Indonesia pada Kuartal III/2020 periode
Juli-Agustus-September minus 3,49 persen. Pada kuartal sebelumnya,
yakni Kuartal II/2020 pertumbuhan ekonomi Indonesia juga sudah minus
5,32 persen. Karena sudah dua kali berturut-turut pertumbuhan ekonomi
mengalami minus, maka artinya ekonomi Indonesia sudah resmi sedang
krisis.

Sebelumnya pada Kuartal I/2020 periode Januari-Februari-Maret
pertumbuhan ekonomi di Indonesia juga hanya 2,97 persen. Melihat
situasi ini, ekonom senior Rizal Ramli mengatakan kalau kenyataan ini
bukanlah sesuatu yang mengejutkan. Alasannya, sejak awal tim ekonomi
pemerintahan Presiden Jokowi tidak memiliki terobosan dalam
membangkitkan perekonomian yang tengah terpuruk ini.

”Ini sudah diperkirakan sejak awal tahun 2020 karena kebijakan ekonomi
super-konservatif dan neoliberal yang sudah gagal. Jadi apakan akan
dilakukan dengan mengulangi cara yang sama padahal telah berulang kali
gagal. Atau mengubah strategi dan memecat menteri neoliberal dan KKN,”
lontar Rizal Ramli.

Namun, sebab-sebab resesi ekonomi sendiri sudah didefinisikan National
Bureau of Economic Research (NBER) atau Biro Nasional Penelitian
Ekonomi Amerika Serikat. Menurut NBER, resesi yaitu penurunan
signifikan dalam aktivitas ekonomi yang tersebar di seluruh
perekonomian, berlangsung lebih dari beberapa bulan, yang biasanya
terlihat dalam Produk Domestik Bruto (PDB) yang riil, lapangan kerja,
produksi industri, dan penjualan grosir-eceran. Baca Juga :

Agustus 2020 Jumlah Pengangguran di Indonesia Sudah 9,77 Juta Orang

Berikut sebab-sebab umum terjadinya resesi sesuai riset NBER:

1. Guncangan Ekonomi Secara Tiba-Tiba :
Maksudnya, masalah kejutan yang menimbulkan kerusakan finansial yang
serius. Salah satu contohnya wabah virus COVID-19 yang mematikan
ekonomi di seluruh dunia. Baca Juga :

Indonesia Resmi Resesi!

2. Hutang yang Berlebihan :
Maksudnya ketika individu atau bisnis memiliki terlalu banyak utang,
biaya untuk membayar utang dapat meningkat ke titik dimana mereka tidak
dapat membayar tagihan mereka. Meningkatnya utang dan kebangkrutan
dapat membalikkan perekonomian.

3. Inflasi Terlalu Tinggi :
Inflasi adalah tren harga yang stabil dan naik dari waktu ke waktu.
Inflasi bukanlah hal yang buruk, tetapi inflasi yang berlebihan adalah
fenomena yang berbahaya.

4. Deflasi Berlebihan
Meskipun inflasi yang tak terkendali dapat menyebabkan resesi, deflasi
juga bisa menjadi lebih buruk. Deflasi adalah saat harga turun dari
waktu ke waktu, yang menyebabkan upah menyusut, yang selanjutnya
menekan harga. Ketika lingkaran umpan balik deflasi lepas kendali,
orang dan bisnis berhenti mengeluarkan uang sehingga merusak ekonomi.

5. Perubahan Teknologi
Penemuan baru teknologi dapat meningkatkan produktivitas dan membantu
perekonomian dalam jangka panjang. Namun, kemungkinan ada periode
penyesuaian jangka pendek untuk terobosan teknologi. Saat ini beberapa
ekonom khawatir bahwa Artificial Intelligence (AI) dan robot dapat
menyebabkan resesi lantaran pekerja kehilangan mata pencaharian.

6. Gelembung Aset
Yakni ketika keputusan investasi didorong oleh emosi, hasil ekonomi
yang buruk akan segera terjadi. Investor bisa menjadi terlalu optimis
jika perekonomian kuat. Gelembung asset biasa disebabkan ”kegembiraan
irasional” dalam menggambarkan keuntungan besar di pasar saham.
Kegembiraan irasional menggelembungkan pasar saham atau gelembung real
estat. Ketika gelembung meletus memicu panic selling yang dapat
menghancurkan pasar sehingga menyebabkan resesi. (ind)

Kirim email ke