Ingin Jantung Sehat? Menikahlah yang Harmonis!
Senin, 24 Maret 2008
Pernikahan yang harmonis ternyata akan meningkatkan kesehatan.
Khususnya jantung. Demikian hail penelitian ilmuwan Brigham Young
University Amerika Serikat (AS)
Pernikahan yang harmonis berperan besar dalam menjaga tekanan darah
seseorang. Sementara itu, pernikahan yang tidak harmonis membuahkan
tekanan darah yang lebih tinggi kepada pasangan suami-istri daripada
orang dewasa lajang.
Riset terkini menunjukkan, orang dewasa yang menikah bahagia mempunyai
tekanan darah lebih rendah daripada bujangan, meskipun kaum lajang
tersebut memiliki hubungan pertemanan yang mendukung. Secara langsung
ini menunjukkan bahwa pernikahan adalah masalah kesehatan jantung.
Demikian ungkap Holt-Lunstad, psikolog yang meneliti masalah kesehatan
dan hubungan manusia di Brigham Young University (BYU), AS.
Sebagaimana dilaporkan www.sciencedaily. com 21 Maret 2008, Julianne
Holt-Lunstad, profesor di Brigham Young University (BYU), AS,
menemukan bahwa kaum adam dan hawa yang menikah bahagia memiliki
tekanan darah harian 4 angka lebih rendah dibandingkan dewasa lajang.
Memiliki sahabat yang mendukung tidak membuat tekanan darah lebih baik
bagi kaum lajang ataupun mereka yang menikah tapi tidak bahagia. Apa
yang diungkap ini merupakan kejutan bagi profesor Holt-Lunstad dan timnya.
"Terlihat ada manfaat kesehatan dari pernikahan," kata profesor
Holt-Lunstad. "Tidak hanya menikah yang berguna bagi kesehatan yang
sebenarnya paling melindungi kesehatan adalah pernikahan yang bahagia."
Tidak heran pula, penelitian tersebut menemukan hal sebaliknya:
kalangan dewasa yang menikah tapi tidak bahagia bertekanan darah lebih
tinggi dibandingkan mereka yang menikah bahagia dan dewasa bujang bahagia.
Peneliti itu melibatkan 204 dewasa menikah dan 99 dewasa bujang. Pada
tubuh mereka dipasang alat perekam tekanan darah selama 24 jam tanpa
dilepas. Alat tersebut merekam tekanan darah secara acak sepanjang
hari bahkan saat mereka tidur. Sekitar 72 kali alat ini mengambil
sampel tekanan darah mereka yang menjadi obyek penelitian itu.
"Kami ingin merekam tekanan darah peserta ketika mereka tengah
melakukan kegiatan apa pun dalam kehidupan keseharian," papar
Holt-Lunstad.
"Mendapatkan satu atau dua pengukuran di tempat pemeriksaan sebenarnya
tidak mewakili fluktuasi tekanan darah yang terjadi sepanjang hari."
Seluruh peserta yang diteliti menjawab pertanyaan seputar daftar
nama-nama rekan dalam jaringan persahabatannya, serta pertanyaan
mengenai keadaan hubungan persahabatan itu. Peserta yang sudah menikah
melengkapi pula pertanyaan tentang kondisi hubungan mereka dengan
suami atau istrinya.
Dengan alat pencatat tekanan darah yang berfungsi siang dan malam,
peneliti itu dapat mengetahui bahwa tekanan darah dewasa yang sudah
menikah khususnya yang menikah bahagia menurun ke tingkat lebih
rendah daripada kaum lajang.
"Penelitian telah memperlihatkan bahwa orang yang tekanan darahnya
tetap tinggi sepanjang malam jauh lebih beresika terkena masalah
jantung dan pembuluh darah dibandingkan orang yang tekanan darahnya
menurun," ujar Holt-Lunstad.
Holt-Lunstad berujar, pasangan menikah dapat mendorong kebiasaan
sehat, misalnya saling menasehati untuk ke dokter dan mengkonsumsi
makanan sehat. Hubungan pernikahan juga merupakan sumber dukungan
emosional di waktu sedih dan gembira. Berbagi berita baik antara suami
dan istri, misalnya, menimbulkan emosi positif, yang akhirnya
mendorong fungsi tubuh. [cs/BYUnews/ www.hidayatullah .com]
---------------------------------
Bergabunglah dengan orang-orang yang berwawasan, di bidang Anda di Yahoo!
Answers