Cerita seperti ini biasanya hanya merupakan cerita yang pada awalnya MUNGKIN
hanya sebagai pengantar tidur buat anak-anak dari ortunya. Dan MUNGKIN
karena cerita ini yang dari turun temurun yang pada awalnya hanya sebagai
pengantar tidur  diberikan sedikit bumbu-bumbu  oleh sang pencerita dengan
maksud sebagai nasihat terhadap anak-anak yang mana mungkin bisa menjadi
suatu panutan pada kehidupannya kelak yang pada akhirnya menjadi suatu
dongeng dan terakhir HAMPIR menjadi suatu kepercayaan sehingga di jadikan
suatu ASAL-USUL suatu kejadian atau fenoma. 

 

Yang perlu kita sadari menurut SURVEY yang membuktikan bahwa jika suatu
cerita yang mana disampaikan kepada sepuluh orang yang jika cerita itu di
urutkan satu persatu misalnya dari sang pencerita ke orang yang ke satu,
terus yang ke satu ke orang yang ke dua, dan orang yang kedua ke orang yang
ketiga begitu seterusnya sampai yang kesepuluh pada akhirnya cerita tersebut
oleh yang ke sepuluh biasanya menjadi kurang lengkap atau cerita tersebut
menjadi begitu banyak konotasi yang oleh dari beberapa orang sudah
dimasukkan ke dalam cerita tersebut yang pada akhirnya cerita tersebut oleh
orang yang pertama masih seperti aslinya kemudian di ceritakan kembali oleh
orang yang kesepuluh sudah sngat berbeda bahkan sudah keluar daru jalur atau
alur dari cerita tersebut. Bisa kita bayangkan dengan melihat hasil survey
diatas kira2 awal cerita "Cikal bakal adanya danau toba" awal ceritanya
seperti apa????

 

Hal ini mungkin ada benarnya dan juga ada (ya gitu dechhhhhhhhhhh) heheheh.

 

Salam

Zuezy

 

  _____  

From: [email protected]
[mailto:[EMAIL PROTECTED] On Behalf Of Taufik Polapa
Sent: Monday, June 23, 2008 2:23 PM
To: [email protected]
Subject: [GM2020] Cikal Bakal Adanya Danau Toba (Gimana dengan Danau
Limboto?)

 



Dear All Gm2020.



Percaya Atau tidak tapi ini adalah cerita Rakyat di sekitar Danau Toba,
Mungkin ada yang bs meluruskan cerita di bawah ini?

Selanjutnya gimana dengan Asal Muasal dari Danau Limboto ?



  <http://e-smartschool.com/CRA/001/danauToba1.gif> 

Di sebuah desa di wilayah Sumatera, hidup seorang petani. Ia seorang petani
yang rajin bekerja walaupun lahan pertaniannya tidak luas. Ia bisa mencukupi
kebutuhannya dari hasil kerjanya yang tidak kenal lelah. Sebenarnya usianya
sudah cukup untuk menikah, tetapi ia tetap memilih hidup sendirian. Di suatu
pagi hari yang cerah, petani itu memancing ikan di sungai. "Mudah-mudahan
hari ini aku mendapat ikan yang besar," gumam petani tersebut dalam hati.
Beberapa saat setelah kailnya dilemparkan, kailnya terlihat
bergoyang-goyang. Ia segera menarik kailnya. Petani itu bersorak kegirangan
setelah mendapat seekor ikan cukup besar.

  <http://e-smartschool.com/CRA/001/danauToba2.gif> 

Ia takjub melihat warna sisik ikan yang indah. Sisik ikan itu berwarna
kuning emas kemerah-merahan. Kedua matanya bulat dan menonjol memancarkan
kilatan yang menakjubkan. "Tunggu, aku jangan dimakan! Aku akan bersedia
menemanimu jika kau tidak jadi memakanku." Petani tersebut terkejut
mendengar suara dari ikan itu. Karena keterkejutannya, ikan yang
ditangkapnya terjatuh ke tanah. Kemudian tidak berapa lama, ikan itu berubah
wujud menjadi seorang gadis yang cantik jelita. "Bermimpikah aku?," gumam
petani.

"Jangan takut pak, aku juga manusia seperti engkau. Aku sangat berhutang
budi padamu karena telah menyelamatkanku dari kutukan Dewata," kata gadis
itu. "Namaku Puteri, aku tidak keberatan untuk menjadi istrimu," kata gadis
itu seolah mendesak. Petani itupun mengangguk. Maka jadilah mereka sebagai
suami istri. Namun, ada satu janji yang telah disepakati, yaitu mereka tidak
boleh menceritakan bahwa asal-usul Puteri dari seekor ikan. Jika janji itu
dilanggar maka akan terjadi petaka dahsyat.

  <http://e-smartschool.com/CRA/001/danauToba3.gif> 

Setelah sampai di desanya, gemparlah penduduk desa melihat gadis cantik
jelita bersama petani tersebut. "Dia mungkin bidadari yang turun dari
langit," gumam mereka. Petani merasa sangat bahagia dan tenteram. Sebagai
suami yang baik, ia terus bekerja untuk mencari nafkah dengan mengolah sawah
dan ladangnya dengan tekun dan ulet. Karena ketekunan dan keuletannya,
petani itu hidup tanpa kekurangan dalam hidupnya. Banyak orang iri, dan
mereka menyebarkan sangkaan buruk yang dapat menjatuhkan keberhasilan usaha
petani. "Aku tahu Petani itu pasti memelihara makhluk halus! " kata
seseorang kepada temannya. Hal itu sampai ke telinga Petani dan Puteri.
Namun mereka tidak merasa tersinggung, bahkan semakin rajin bekerja.

Setahun kemudian, kebahagiaan Petan dan istri bertambah, karena istri Petani
melahirkan seorang bayi laki-laki. Ia diberi nama Putera. Kebahagiaan mereka
tidak membuat mereka lupa diri. Putera tumbuh menjadi seorang anak yang
sehat dan kuat. Ia menjadi anak manis tetapi agak nakal. Ia mempunyai satu
kebiasaan yang membuat heran kedua orang tuanya, yaitu selalu merasa lapar.
Makanan yang seharusnya dimakan bertiga dapat dimakannya sendiri.

Lama kelamaan, Putera selalu membuat jengkel ayahnya. Jika disuruh membantu
pekerjaan orang tua, ia selalu menolak. Istri Petani selalu mengingatkan
Petani agar bersabar atas ulah anak mereka. "Ya, aku akan bersabar, walau
bagaimanapun dia itu anak kita!" kata Petani kepada istrinya. "Syukurlah,
kanda berpikiran seperti itu. Kanda memang seorang suami dan ayah yang
baik," puji Puteri kepada suaminya.

  <http://e-smartschool.com/CRA/001/danauToba4.gif> 

Memang kata orang, kesabaran itu ada batasnya. Hal ini dialami oleh Petani
itu. Pada suatu hari, Putera mendapat tugas mengantarkan makanan dan minuman
ke sawah di mana ayahnya sedang bekerja. Tetapi Putera tidak memenuhi
tugasnya. Petani menunggu kedatangan anaknya, sambil menahan haus dan lapar.
Ia langsung pulang ke rumah. Di lihatnya Putera sedang bermain bola. Petani
menjadi marah sambil menjewer kuping anaknya. "Anak tidak tau diuntung ! Tak
tahu diri ! Dasar anak ikan !," umpat si Petani tanpa sadar telah
mengucapkan kata pantangan itu.

  <http://e-smartschool.com/CRA/001/danauToba5.gif> 

Setelah petani mengucapkan kata-katanya, seketika itu juga anak dan istrinya
hilang lenyap. Tanpa bekas dan jejak. Dari bekas injakan kakinya, tiba-tiba
menyemburlah air yang sangat deras dan semakin deras. Desa Petani dan desa
sekitarnya terendam semua. Air meluap sangat tinggi dan luas sehingga
membentuk sebuah telaga. Dan akhirnya membentuk sebuah danau. Danau itu
akhirnya dikenal dengan nama Danau Toba. Sedangkan pulau kecil di tengahnya
dikenal dengan nama Pulau Samosir.

Moral : Jadilah seorang yang sabar dan bisa mengendalikan emosi. Dan juga,
jangan melanggar janji yang telah kita buat atau ucapkan.

Sumber : http://legendakita.wordpress.com/2007/11/02/asal-usul-danau-toba/

Semoga bermanfaat.

Wassalam

TP

 

 

Kirim email ke