pengalaman di Eropa konsep Agriculture without waste itu tidak lain adalah integrated farming system, jelasnya pengelolaan dan pemanfaatan pertanian dari hulu sampai hilir dengan mengintegrasikan sub-sub komponen dalam pertanian (umum) dalam suatu sistem yang terpadu, misalnya integrasi on farm: tanaman pangan, hortikultura, ternak, ikan, dipadukan dengan kegiatan off farm :( pengolahan limbah ternak (kompos) untuk pupuk dan energi, pengolahan limbah tanaman untuk pupuk dan pakan ternak/ ikan, dll,) dan kegiatan non farm : pemasaran produk, open market, organisasi farm trading, dll, yang kesemuanya berjalan dalam satu sistem yang terpadu. Namun without waste ini bukan berarti tanpa efek samping, misalnya penggunaan energy kompos terkadang memberikan efek samping gas H2S bebas, walaupun hal ini memang jarang terjadi. Atau misalnya pupuk organic yg tidak diolah dgn teliti dapat merupakan racun bagi tanah dan tanaman. Sehingga manajerial yg professional dan teliti mutlak diperlukan sehingga diperoleh apa yg menjadi tujuan dari Agriculture without waste.
--- On Wed, 7/9/08, iqbal makmur <[EMAIL PROTECTED]> wrote: From: iqbal makmur <[EMAIL PROTECTED]> Subject: Re: [GM2020] Agriculture without waste (Hebat Senior) To: [email protected] Date: Wednesday, July 9, 2008, 6:56 PM Walaikumsalam. . Mantap bro! Singkat tapi tepat sasaran. Wacana yang saya sampaikan memang agak meluas dari pembahasan utamanya karena: 1. Sengaja memberi ruang bagi teman-teman yang ingin menyumbangakan pendapatnya. 2. Keterbatasan ilmu yang saya miliki, karena terus terang tema ini baru saya adaptasi dari beberapa bulan belajar di negeri orang. Intinya adalah, pertanian tanpa limbah dan integrated farming hanya akan berjalan kalau ada keseriusan pemerintah dengan menelorkan kebijakan yang berpihak pada masyarakat tanpa mereduksi main program yang sudah jalan sebelumnya (Agropolitan dll) dan rekonstruksi grand design penetapan program yang di gagas secara lintas sektor. Salam, Iqbal Cat. : Kalau pak Amir jadi kepala Bappeda, Pak Nurdin Kadis Pertanian dan Pa Wawan ketua DPRD, tinggal cari Gubernurnya, hehehehe... --- On Wed, 7/9/08, Nurdin Baderan, SP <udinsoilung@ yahoo.com> wrote: From: Nurdin Baderan, SP <udinsoilung@ yahoo.com> Subject: Re: [GM2020] Agriculture without waste (Hebat Senior) To: gorontalomaju2020@ yahoogroups. com Date: Wednesday, July 9, 2008, 10:59 AM assalamu alaikum maaf saya belum sempat membuat analisis yang mungkin diharpkan sebagai salah satu orang yang belajar ilmu pertanian..sebelum lebih jauh diulas oleh kedua senior saya (sen-is-or), mohon saya dan mungkin teman-teman milis lainnya diberi definisi yang jelas dan sama dulu, supaya enak dan nyambung..jangan sampai ada yang ke utara tapi yang lain ke timur..kan sederhana saja? pertanian tanpa sampah,,maksudnya? ?apakah inti dari AWW yang dimaksud bukan sistem pertanian organik yang memanfaatkan sumberdaya yang ada secara In situ, tanpa keluar sistem??karena bahasannya sudah langsung ke kebijakan dan mekanisme pasar, maka ulasannya lompat..padahal menarik membahas fenomena dan karakteristik sumberdaya pertanian sebelumnya.. bolo maafu, cuma tawaran saja..supaya tidak sepenggal-sepenggal ...ok sukses selalu buat 2 senior ini???? wassalam NM-bogor --- On Wed, 7/9/08, iqbal makmur <[EMAIL PROTECTED] com> wrote: From: iqbal makmur <[EMAIL PROTECTED] com> Subject: Re: [GM2020] Agriculture without waste To: gorontalomaju2020@ yahoogroups. com Date: Wednesday, July 9, 2008, 11:28 PM Sughoy na.. Tanggapannya mantapp.. Saya komentari sedikit ya.. Pak Amir benar sekali, AWW mencakup ketiga poin yang disampaikan tadi. Optimalisasi pemanfaatan limbah, pertanian ramah lingkungan dan Integrated Farming. Di Jepang program ini sudah lama berjalan dengan baik sekali dan berhasil meningkatkan produksi berkali lipat karena bisa memotong budget untuk faktor produksi dan meningkatkan efisiensi. Di negara kita khususnya Gorontalo sebenarnya lebih potensial untuk diimplementasikan mengingat sumber daya alam dan tenaga kerja melimpah. Satu hal yang masih jadi faktor pembatas adalah kebijhakan makro yang belum berpihak ke petani, terutama dalam hal kerjasama lintas sektor. Kebijakan pembangunan pertanian sepertinya terkena imbas anggaran berbasis kinerja yang salah diinterpretasikan oleh pengambil kebijakan. Masing-masing departemen/dinas masih terpaku pada bagaimana caranya menghabiskan anggaran yang ditetapkan untuk mendongkrak prestasi instan sehingga menghasilkan banyak program dengan judul keren tapi tidak jelas visinya. Dalam bahasa lingkungan dikenal dengan sustainable development yang bermuara pada kesejahteraan masyarakat. Mengenai strategi pembangunan pertanian yang masih berorientasi pembentukan image pasar, anda benar, karena ini juga harus diikuti dengan optimalisasi faktor2 produksi yang ada dengan mengesampingkan ego sektoral yang nampak sekali di permukaan. Sampai saat ini kebijakan yang mengikuti pembentukan market image baru sampai pada tataran on farm yang pada dasarnya hanya menguntungkan pihak2 yang bergerak di bidang sarana produksi dan distribusi. Bahasa awamnya adalah, petani harus beli bibit dan pupuk sebelum menanam dan harus mencari pasar setelah panen. Yang paling disayangkan adalah pemerintah justru ikut terlibat dalam praktek ini dengan adanya MoU2 dengan para pengusaha sarana produksi dan membiarkan mekanisme pasar yang tidak jelas dan penetapan harga dasar yang tidak berpihak pada petani. Saya kira itu dulu yang bisa saya sharing sambil menunggu masukan dari teman-teman lain. Thx atas masukannya pak Amir, salam buat teman-teman di Bogor. Salam, Iqbal --- On Tue, 7/8/08, Amirhalid Amir <amir_halid72@ yahoo.com> wrote: From: Amirhalid Amir <amir_halid72@ yahoo.com> Subject: Re: [GM2020] Agriculture without waste To: gorontalomaju2020@ yahoogroups. com Date: Tuesday, July 8, 2008, 11:26 PM Wa'alaikum salam Bung Ikbal Moga limpahan kesehatan dan kekuatan tetap bersama anda. Saya bermaksud sharing tentang Agriculture without waste dengan anda karena ide ini cukup cemerlang dalam menyikapi fenomena pengembangan pertanian di negara kita terutama di Gorontalo. Satu hal yang menjadi pertanyaan mendasar yaitu: 1)apakah Agriculture without west identik dengan optimalisasi pemanfaatan sampah/limbah pertanian?. 2) apakah Agriculture without west identik dengan pengelolaan pertanian yang ramah lingkungan?. atau 3) apakah Agriculture without west merupakan gabungan dari seluruh proses kegiatan pertanian (integrated farming)?. Jika yang dimaksud adalah pada poin pertama, artinya Agriculture without west diarahkan tuk mengelolah dan memanfaatkan produk-produk pertanian.tapi jika yang dimaksud yaitu poin kedua artinya agrivulture without west ber fokus (hulu) pada pengelohan lahan pertanian. namun kalau pilihan ada pada poin ketiga maka agriculture without west merupakan gabungan semua sistem. mengapa saya petakan? ada beberapa alasan yang menurut hemat saya cukup mendasar sebelum kita berangkat dengan konsep Agriculture without west yaitu: 1) Strategi pengembangan pertanian di Gorontalo masih lebih bergerak pada pembentukan image pasar (market image) untuk dalam rangka menarik perhatian para pihak dalam mekanisme pasar (market mechanism) yang rentan dengan kegagalan pasar (market failur) karena mekanisme pasar tidak mampu menjangkau persoalan sosial. 2) Tindak lanjut dari poin satu diatas diformulasi dengan model kebijakan Campur tangan pemerintah yang terbatas (Government limited intervention) untuk mengimbangi kegagalan pasar yang diarahkan dalam bentuk tatakelolah pemerintah dibidang pertanian, tapi sayang model atau pola ini tidak begitu banyak progres baik dalam penguatan konsep maupun implementasi sehingga rentan dengan kegagalan pengelolaan (Government failur). 3) Sampai saat ini belum ada "Kajian Proses dan Implementasi Kebijakan Pemerintah pada Program Pertanian (Agropolitan) di Provinsi Gorontalo.Mengapa? kita tidak punya data bagaimana proses kebijakan ini? bagaimana Implentasi kebijakan ini? sehingga ini menjadi pedoman dasar kita untuk membicarakan formula-formula baru yang seperti anda gagas "Agriculture without west". Selanjutnya, jika kita lebih mangarahkan "Agriculture without west" pada pengolahan hasil-hasil pertanian di Gorontalo, berarti kta berbicara pada skala ekonomi "Economy of Scale".kalau hal ini dikaitkan dengan skala ekonomi artinya hal ini berkaitan dengan investasi. mengapa? sampai saat ini belum ada data yang menjamin keberlangsungan produk-produk pertanian di Gorontalo. sehingga para investor mau berinvestasi dibidang pengolahan produk-produk pertanian.sedianya jaminan produk-produk pertanian di Gorontalo sudah ada namun masih relatif kecil sehingga pemerintah dan para pihak belum berani melakukan investasi sehingga kita belum beranjak ke pertanian berbasis industri. Any way, Agriculture without west, Program Agropolitan, Integrated farming, adalah fenomena yang cukup apresiatif. oleh karena itu seluruhnya sangat tergantung kesepakatan para pihak, kemana pertanian ini akan digiring? Amir Halid --- On Wed, 7/2/08, iqbal makmur <[EMAIL PROTECTED] com> wrote: From: iqbal makmur <[EMAIL PROTECTED] com> Subject: [GM2020] Agriculture without waste To: "gorontalo maju" <gorontalomaju2020@ yahoogroups. com> Date: Wednesday, July 2, 2008, 3:52 AM Bismillahirahmanirr ahim.. Program Pertanian di negara kita khususnya Gorontalo harusnya sudah bisa selangkah lebih maju. Salah satu konsep yang bisa kita kedepankan adalah Agriculture without waste atau pertanian tanpa limbah. Konsep ini sebenarnya merupakan sequel dari program diversifikasi hasil dimana kita tidak hanya menitik beratkan pada sektor hulu dan terlalu bergantung pada main product. Beberapa tahun terakhir kita sering mendengar tentang istilah integrated farming, namun sampai saat ini belum ada yang benar-benar jalan. Padahal ini merupakan ide cerdas dalam mengoptimalkan sumber daya yang kita miliki dan akan bermuara pada pendapatan daerah dan kesejahteraan masyarakat. Bagi teman-teman yang tertarik dengan bidang ini diharapkan sharing pendapatnya untuk bisa memberikan kontribusi pemikiran bagi pemerintah kita dalam mengatur negara/daerah yang salah urus ini. Salam, Iqbal Kabila Graduate School of Agriculture Kyoto University

