Irwan Karim wrote:
>
> 2008/12/1 Razif Halik <[EMAIL PROTECTED] 
> <mailto:razifhalik%40gmail.com>>:
> > MAAF BOSS,
> > Kalu baca textbook Earthquake Engineering, gempa itu mainnya cuma detik
> > per detik, jarang sekali menit2an apalagi puluhan menit. Yang ada itu
> > gempa susulan yang umumnya jauh lebih kecil dari gempa pertama yang
> > pelepasan energinya naujubillah...Ada cerita lucu ketika gempa besar di
> > Gtlo akhir th '30an. Ketika terjadi gempa, masih keadaan gelap mati
> > listrik, seorang ibu hendak menyelamatkan anaknya lekas2 menggendongnya
> > keluar rumah. Sesampai diluar, dgn adanya sedikit penerangan padamala,
> > dilihatnya yang digendongnya itu bukan anaknya tetapi suaminya yang
> > memang berbadan kecil....nthe seh,harapu'u...maka dilemparkannya
> > suaminya itu ketanah/piloma'i liyo de huta. Cepat2 beliau masuk lagi
> > rumah menolong anaknya. Ibu2 itu namanya tilei Duka, ibu susu sy...he he
> > he SALAM&SORI,OH
> > humasung wrote:
>
> Tadinya saya pikir yg dia bilang "Ndhe Seh" itu ti OPA gagagaggaggaga
>
> -- 
> Irwan Karim, S.Si.
> Yang Tertulis Mengabadi, Yang Terucap Berlalu Bersama Angin
>
>  
DIILA UTIY,
Yang benar digendong wau pilo ma'i liyo de huta it namanya temei Duka, 
paman jauh saya yang memang badannya koyo2to mohata...khekhekhe. Yang 
menjadi pertanyaan, kok ti ba Duka itu cuma diam2 saja waktu digendong, 
tentu dia pikir : alangkah sayangnya isteriku sehingga yg terpikir 
pertama utk diselamatkan adalah saya. Kenyataan pahit belakangan, 
ternyata ibu lebih sayang anak daripada sayang bapak....dila odito juh?

salam&sori,OH

Kirim email ke