SPIRIT ISLAM
Selamat Tahun Baru 1430 H !!!!
Ketika Rasulullah SAW dan para sahabat hijrah dari Mekkah ke
Madinah, maka dimulailah penanggalan hijriah. Karena itu penanggalan hijriah
bukan hanya sekedar menandakan pergantian hari, bulan dan tahun tetapi yang
terpenting adalah “hijrah”, “perpindahan”, “perubahan” ke arah yang lebih baik.
Tahun hijriah mengandung pesan agar setiap saat kita berhijrah dan berubah ke
arah lebih baik dan lebih maju, berubah dari “preman” ke “ustaz”. Sungguh luar
biasa !!!. Rasulullah SWA bersabda “Barangsiapa kondisinya lebih baik dari yang
kemarin termasuk beruntung, kondisinya hari ini sama dengan kemarin merugi dan
lebih buruk dari kemarin, termasuk orang celaka”. Karena itu Islam adalah
“agama perubahan”.
Rasulullah SAW dan para sahabat menyebarkan Islam dengan penuh duri dan onak,
berdarah-darah, mempertaruhkan nyawa, melalui perang yang berkepanjangan,
banyak nyawa dan harta yang jadi “tumbal”. Sungguh jejak perjuangan Rasulullah
dan para sahabat, membawa pesan yang demikian nyata tentang makna perjuangan.
Karena itu, Islam adalah “agama perjuangan”, “jihad”. Bukankah Allah SWT telah
berfirman “sesungguhnya Allah tidak akan merubah nasib sesuatu kaum sehingga
mereka mau merubahnya sendiri”.
Rasulullah SAW tidak pernah ”merayu” kaum kafir Quraish masuk Islam dengan
mempertontonkan kehebatan mukjizat. Bukankah Rasulullah SAW satu-satunya utusan
Allah yang tidak pernah menggunakan mukijazat, “powernya” sebagai utusan Allah
dalam menyebarkan agama? Tidak ada dalam sejarah, orang kafir Quraish masuk
Islam, gara-gara Rasulullah memperlihatkan mukjizat maupun keajaiban. Ketika
beliau dilempari dengan batu di negeri Thaif sampai berdarah-darah dan Allah
memberi kesempatan kepadanya untuk menunjukkan “kehebatan”, beliau malah
menjawab “sesungguhnya mereka adalah orang yang tidak tahu apa-apa”. Bahkan
ketika beliau dikejar oleh kaum kafir, dan bersembunyi di gua Tsur bersama
Abubakar, beliau “hanya” ditolong Allah dengan hal yang sangat sepele, “sarang
laba-laba”. Karena itu Islam adalah ”agama rasional”, mengajak ummat manusia
agar menggunakan “otak” dalam membaca “ayat- ayat” Allah dan jangan sekali-kali
mengharapkan keajaiban.
Ketika masyarakat tenggelam dalam kebodohan, masa jahiliyah, Islam datang
membebaskannya, membawa ajaran yang sangat mulia tiada duanya. Islam
membebaskan manusia dari hal yang ”paling bodoh” yakni ”meniadakan tuhan-tuhan
lain selain Allah”. Kalimat tauhid, ajaran paling fundamental dalam Islam !!!
Dengan semangat tauhid, semua aktifitas manusia tiada sia-sia, jadi bermakna,
terarah, bermanfaat, berdimensi ubudiyah dan muammalah. Bukankah makna hakiki
dari kalimat tauhid itu adalah ”hidup adalah ibadah”.
Itulah spirit Islam, ”perubahan”, ”jihad”, ”rasional” dan ”hidup adalah
ibadah”, yang mengantar pada zaman keemasan, mendominasi peradaban dunia. Ilmu
dasar (basic science) seperti matematika, fisika, astronomi berkembang dengan
pesat. Terdapat sejumlah ilmuwan yang sangat terkenal seperti Ibnu Sina, Al
Jauzy, Ar Razi, Al Ghazali. Ketika bangsa Amerika (Indian) masih hidup di
goa-goa, umat Islam sudah sangat maju, merambah sampai ke Eropa, yang jejaknya
masih dapat ditemui hingga saat ini seperti masjid Cordova dan istana Al
Hambra. Estafet perkembangan IPTEK, dari zaman Yunani, Mesir Kuno, Islam dan
Barat secara sangat gamblang dan brilian digambarkan secara grafis oleh pa Ary
Pedju, yang kemudian dikutip Prof. Mastuhu dalam bukunya ”Sistem Pendidikan
Nasional Visioner”.
Pada suatu ketika, Jamaludin Al Afghani, seorang mujadid besar,
penyeru liberalisme Islam yang salah satu muridnya adalah Muhammad Abduh, di
hadapan para ulama berkata ”jika kita akan menyebarkan ajaran Islam, maka
kalimat pertama yang harus diucapkan ketika menginjakkan kaki di tanah Eropa
adalah saya bukan orang Islam”. Spontan para ulama marah, tetapi dengan tenang
beliau berkata ”bagaimana mungkin orang lain tertarik masuk Islam jika kondisi
kita lebih buruk, lebih miskin, terkebelakang dari mereka”. Sesungguhnya
kalimat itu hanyalah pancingan, agar ulama dan ummat Islam introspeksi. Mengapa
ummat Islam saat ini jadi berantakan, jadi boneka mainan, dipingpong
sana-sini. Mengapa ????
Ketika ummat Islam mulai berpikir tidak rasional, mulai mengutak
atik ”siapa Tuhan”, ”zatNYA seperti apa”, ”wajahNYA seperti apa”, ”berasyik
masyuk dengan diri sendiri”, ”tenggelam dalam bermuraqabah dengan Tuhan”,
”mempertajam masalah khilafiyah”, maka saat itulah kemunduran Islam mulai
nampak. Timbul berbagai macam tarekat seperti Qadariyah, Naqsabandiyah yang
masing-masing mengaku paling benar dan golongan yang akan diselamatkan Allah.
Ummat Islam membaca ayat-ayat Allah bukan lagi dengan ”otak” tapi dengan
”hati”, semua ditafsirkan secara irasional. Bahkan semua diserahkan kepada
Tuhan, kita cukup ”ongkang-ongkang kaki” dan Tuhan yang ”kerepotan” mengerjakan
semuanya. Saking ”berTuhannya” kita, maka kita pun tenggelam dalam mencari
Tuhan, menyandarkan segala sesuatunya pada Tuhan. Dengan tidak sadar, Tuhan
telah kita ”sudutkan” dan jadi ”kambing hitam”. Ketika datang musibah, maka
dengan spontan kita
berujar ”semua karena Allah, itu sudah ketentuanNYA”. Bukankah ”yang baik dari
Allah, yang tidak baik dari kalian sendiri”. Artinya, jika ada kebaikan, jangan
sombong dan jika ada musibah atau kemalangan, introspeksi!!!
Kondisi inipun diperparah dengan kekacauan politik internal.
Fitnah menyebar dimana-mana, bahkan sejak khalifah pertama Abubakar. Terjadi
perebutan kekuasaan, pembunuhan politik. Walhasil spirit ”hidup adalah ibadah”
tidak nampak lagi, yang ada ”hidup adalah kekuasaan”, perjuangan bukan untuk
kemuliaan Islam tetapi untuk kemuliaan dan kemewahan pribadi dan keluarga.
Kekacauan internal itu telah digunakan dengan sangat cerdas oleh
Hulagu, anak Jengis Khan, untuk menyerbu Iraq yang menjadi salah satu pusat
peradaban Islam. Bagdad diluluh lantakkan, dibumi hanguskan, ratusan ribu
rakyat dipenggal kepalanya sehingga menjadi ”gunung kepala manusia”,
perpustakaan terbesar dihancurkan, jutaan buku dihanyutkan ke sungai Euphrat.
Digambarkan dalam sejarah, saking banyaknya buku-buku tersebut, air sungai
Euphrat menjadi hitam karenanya. Tidak ada perlawanan yang berarti, mungkin
yang tersisa hanya ”semangat jihad” dan pekikan ”Allahu Akbar”. Tapi apalah
artinya itu, jika tidak dibarengi dengan persenjataan yang lengkap dan rencana
perang yang matang. Kadang-kadang kita tidak bisa membedakan mana ”semangat
jihad” dan ”semangat bunuh diri”.
Sejarah adalah pelajaran yang sangat berharga. Ketika Islam
dengan spirit ”perubahan”, ”jihad”, ”rasional” dan ”hidup adalah ibadah”, maka
Islam menjadi berjaya. Ketika spirit itu pudar, maka ummat Islam jadi
terkebelakang, porak poranda. Sekarang, spirit itu telah terjangkit ke
negara-negara barat yang berkuasa dan maju saat ini. Saking ”rasionalnya” maka
IPTEK menjadi tuhan baru mereka. Sementara itu, raksasa baru, China, sedang
berbenah dan bangkit dari tidur panjang. Bangsa ini adalah ancaman baru bagi
dunia Islam. Semangat ”Tidak bertuhan” adalah ”modal” besar mereka untuk
mengeksploitasi otak tanpa batas dalam membaca ayat-ayat Tuhan.
Wallahu alam bishawab
SYAMSU QAMAR BADU
Pengarah SSG
---------------------------------
Jatuh cinta itu seperti apa ya rasanya?
Temukan jawabannya di Yahoo! Answers!