----- Forwarded Message ----
From: bakri arbie <[email protected]>
To: [email protected]; arbie bakri <[email protected]>
Sent: Sun, December 6, 2009 3:47:46 PM
Subject: Fw: Re: [Forum-Pembaca-KOMPAS] 3 x 8 = 23 ??? SBY benar ?




--- On Thu, 12/3/09, ingan apul sitepu <[email protected]> wrote:


>From: ingan apul sitepu <[email protected]>
>Subject: Re: [Forum-Pembaca-KOMPAS] 3 x 8 = 23 ??? SBY benar ?
>To: [email protected]
>Date: Thursday, December 3, 2009, 9:44 AM
>
>
>aneh Yan hui mau bertaruh dengan orang bodoh sedikit miring berarti sama
>gilanya,terlebih si Confusius memerintahkan agar jabatan Yan hui digantikan
>orang bodoh sedikit miring tentu sangat berbahaya dan beresiko bagi
>sekitarnya.
>yang lebih pasti bahwa dalam cerita ini,bahwa kebenaran itu tidak penting
>atau memelihara kebodohan dan kesalahan semakin subur sehingga gampang
>dibodohin terus menerus yang mirip program
> penjajah belanda dulu.
>seharusnya confusius mengajari dulu sipembeli agar jadi pintar berhitung dan
>menyadari kekeliruannya kemudian memaafkan kebodohannya karena memang
>kekeliruannya itu dilakukan tanpa kesengajaan apalagi rekayasa.
>
>Pada 3 Desember 2009 13:28, liman PAP <[email protected]> menulis:
>
>>
>>
>> Pidato Presiden menyambut rekomendasi team 8, mengingatkan pada keputusan
>> Soekarno dan Soeharto pada saat kritis untuk bertahan atau tidak pada akhir
>> masa jabatannya.
>>
>> Yang tidak puas atau tidak mengerti pada pidato dan kebijakan SBY mengenai
>> kasus Century dan KPK vs Polisi, mungkin perlu membaca postingan di bawah
>> ini yang sangat mencerahkan.
>>
>> Very inspiring.....
>>
>> Kisah yang dapet dari tetangga, mohon maaf jika sudah pernah di
> posting.
>>
>> - On Thu, 12/3/09, PUNGKO Wicaksono 
>> <[email protected]<pungkowicaksono%40gmail.com>>
>> wrote:
>>
>> SEBUAH RENUNGAN
>> > >
>> > >
>> Yan Hui adalah murid kesayangan Confusius yang suka belajar, sifatnya baik.
>> Pada suatu hari ketika Yan Hui sedang bertugas, dia melihat satu toko kain
>> sedang dikerumunin banyak orang. Dia mendekat dan mendapati pembeli dan
>> penjual kain sedang berdebat.
>> > >
>> Pembeli berteriak: 𚗐 = 23, kenapa kamu bilang 24?�
>> > >
>> Yan Hui mendekati pembeli kain dan berkata: 揝obat,3�8 = 24, tidak usah
>> diperdebatkan lagi.�
>> > >
>> Pembeli kain tidak senang lalu menunjuk hidung Yan Hui dan berkata: 揝iapa
>> minta pendapatmu? Kalaupun mau minta pendapat
> mesti minta ke Confusius.
>> > >
>> Benar atau salah Confusius yang berhak mengatakan.�
>> > >
>> Yan Hui: 揃aik, jika Confusius bilang kamu salah,bagaimana?�
>> > >
>> Pembeli kain: 揔alau Confusius bilang saya salah, kepalaku aku potong
>> untukmu. Kalau kamu yang salah, bagaimana?�
>> > >
>> Yan Hui: 揔alau saya yang salah, jabatanku untukmu.�
>> > >
>> Keduanya sepakat untuk bertaruh, lalu pergi mencari Confusius. Setelah
>> Confusius tau duduk persoalannya, Confusius berkata kepada Yan Hui sambil
>> tertawa: 3�8 = 23. Yan Hui, kamu kalah. Kasihkan jabatanmu kepada dia.�
>> > >
>> Selamanya Yan Hui tidak akan berdebat dengan gurunya.
>> Ketika mendengar Confusius bilang dia salah, diturunkannya topinya lalu
>> dia berikan kepada pembeli kain. Orang itu mengambil topi Yan Hui dan
>> berlalu dengan puas.
>>
> > >
>> Walaupun Yan Hui menerima penilaian Confusius tapi hatinya tidak
>> sependapat. Dia merasa Confusius sudah tua dan pikun sehingga dia
>> tidak mau lagi belajar darinya. Yan Hui minta cuti dengan alasan urusan
>> keluarga.
>>
>> Confusius tahu isi hati Yan Hui dan memberi cuti padanya. Sebelum
>> berangkat, Yan Hui pamitan dan Confusius memintanya cepat kembali setelah
>> urusannya selesai, dan memberi Yan Hui dua nasehat : "Bila hujan lebat,
>> janganlah berteduh di bawah pohon. Dan jangan membunuh."
>>
>> Yan Hui bilang, "Baiklah,� lalu berangkat pulang.
>> > >
>> Di dalam perjalanan tiba-tiba angin kencang disertai petir, kelihatannya
>> sudah mau turun hujan lebat. Yan Hui ingin berlindung di bawah pohon tapi
>> tiba-tiba ingat nasehat Confusius dan dalam hati berpikir untuk menuruti
>> kata gurunya sekali lagi. Dia meninggalkan pohon
> itu.
>>
>> Belum lama dia pergi, petir menyambar dan pohon itu hancur. Yan Hui
>> terkejut, nasehat gurunya yang pertama sudah terbukti. Apakah saya akan
>> membunuh orang? Yan Hui tiba di rumahnya sudah larut malam dan tidak ingin
>> mengganggu tidur istrinya. Dia menggunakan pedangnya untuk membuka
>> kamarnya.
>>
>> Sesampai didepan ranjang, dia meraba dan mendapati ada seorang di sisi kiri
>> ranjang dan seorang lagi di sisi kanan. Dia sangat marah, dan mau menghunus
>> pedangnya. Pada saat mau menghujamkan pedangnya, dia ingat lagi nasehat
>> Confusius, jangan membunuh.
>> > >
>> Dia lalu menyalakan lilin dan ternyata yang tidur di samping istrinya
>> adalah adik istrinya.
>> > >
>> Pada keesokan harinya, Yan Hui kembali ke Confusius, berlutut dan berkata:
>> " Guru, bagaimana guru tahu apa yang akan terjadi?"
>> >
>> Confusius
> berkata:
>> " Kemarin hari sangatlah panas, diperkirakan akan turun hujan petir,
>> makanya guru mengingatkanmu untuk tidak berlindung dibawah pohon.
>> Kamu kemarin pergi dengan amarah dan membawa pedang, maka guru
>> mengingatkanmu agar jangan membunuh"
>>
>> Yan Hui berkata: 揋uru, perkiraanmu hebat sekali, murid sangatlah
>> kagum.� Confusius bilang: 揂ku tahu kamu minta cuti bukanlah karena urusan
>> keluarga. Kamu tidak ingin belajar lagi dariku".
>>
>> "Cobalah kamu pikir. Kemarin guru bilang 3�8=23 adalah benar, kamu kalah
>> dan kehilangan jabatanmu. Tapi jikalau guru bilang 3�8=24 adalah benar, si
>> pembeli kainlah yang kalah dan itu berarti akan hilang 1 nyawa. Menurutmu,
>> jabatanmu lebih penting atau kehilangan 1 nyawa yang lebih penting?�
>> > >
>> Yan Hui sadar akan kesalahannya dan berkata : 揋uru mementingkan yang lebih
>> utama, murid
> malah berpikir guru sudah tua dan pikun. Murid benar2 malu.�
>>
>> Sejak itu, kemanapun Confusius pergi Yan Hui selalu mengikutinya.
>> > >
>> Cerita ini mengingatkan kita: Jikapun aku bertaruh dan
>> memenangkan seluruh
>> dunia, tapi aku kehilangan kamu, apalah artinya.
>>
>> Dengan kata lain, kamu bertaruh memenangkan apa yang kamu anggap adalah
>> kebenaran, tapi malah kehilangan sesuatu yang lebih penting. Banyak hal ada
>> kadar kepentingannya.
>>
>> Janganlah gara-gara bertaruh mati-matian untuk prinsip kebenaran itu, tapi
>> akhirnya malah menyesal, sudahlah terlambat.
>> > >
>> Banyak hal sebenarnya tidak perlu dipertaruhkan.
>> Mundur selangkah, malah yang didapat adalah kebaikan bagi semua orang.
>> > >
>> Bersikeras melawan pelanggan. Kita menang, tapi
>> sebenarnya kalah juga. (Saat kita kasih sample barang lagi, kita
> akan
>> mengerti).
>> > >
>> Bersikeras melawan boss. Kita menang, tapi sebenarnya kalah juga. (Saat
>> penilaian bonus akhir tahun, kita akan mengerti)
>> > >
>> Bersikeras melawan istri. Kita menang, tapi sebenarnya kalah juga. (Istri
>> tidak mau menghirau kamu, semua harus "do it yourself")
>> > >
>> Bersikeras melawan teman. Kita menang, tapi sebenarnya kalah juga
>> (Bisa-bisa kita kehilangan seorang teman)
>>
>>  
>>
>
>
>[Non-text portions of this message have been removed]
>
>
>
>------------------------------------
>
>=====================================================
>Pojok Milis Komunitas Forum Pembaca KOMPAS [FPK] :
>
>1.Milis Komunitas FPK dibuat dan diurus oleh pembaca setia KOMPAS
>
>2.Topik bahasan disarankan bersumber dari http://cetak.kompas.com/ , 
>http://kompas.com/ dan http://kompasiana.com/
>
>3.Moderator berhak memuat,menolak dan mengedit E-mail sebelum diteruskan ke 
>anggota
>
>4.Moderator E-mail: [email protected] [email protected]
>
>5.Untuk bergabung: [email protected]
>
>KOMPAS LINTAS GENERASI
>=====================================================
>Yahoo! Groups Links
>
>
>
>
> 



      

Kirim email ke