Funco Tanipu
(Warga Salemba Tengah 29)
Power tends to corrupt, and absolute power corrupt absolutely
(kekuasaan itu cenderung korup,
dan kekuasaan yang absolut cenderung korup secara absolut).
- Lord Acton
Kata-kata Lord Acton akhirnya menjadi lonceng yang bermakna di tengah
kegusaran kita menatap masa depan bangsa ini. Korupsi rupanya tak kita
sadari telah menjadi bagian kebudayaanh dan bahkan telah menjadi urat
nadi kehidupan kita. Korupsi tidak saja membunuh kehidupan kita di
masa kini, tetapi berpotensi memangsa anak cucu kita. Saya, yang
menyaksikan deretan kelakuan korup yang bedebah di berbagai daerah
bahkan di tanah kita Gorontalo seperti kehabisan tenaga. Bahwa korupsi
telah mewabah sedemikian rupa, bahkan pula berubah laksana oksigen
bagi umat manusia. Korupsi telah biasa dan bahkan kewajaran di tengah
kehidupan kita.
Saya, kadang di tengah malam gulita sembari menidurkan anak saya yang
belum cukup berumur sebulan hanya bisa memandang wajah lugunya. Saya
tak bisa memperkirakan bahkan membayangkan kebudayaaan dan kehidupan
seperti apa yang akan kita wariskan pada generasi anak-anak kita di
tengah kewajaran akan perampokan dan penjarahan yang sadis menjadi
habitus bagi kita. Membayangkan ini bagaikan berada di alam rimba di
abad pertengahan. Manusia hanya bisa hidup dengan memangsa manusia
lainnya.
Saya malah sangsi dengan masa depan anak-anak bangsa Gorontalo di masa
akan datang. Kesangsian ini bisa dibuktikan dengan lengkapnya catatan
sejarah korupsi bangsa Gorontalo dari ujung Molosifat hingga Pinogu.
Sejarah, memori, ingatan sosial apalagi yang akan kita wariskan jika
misalnya dokumen sejarah yang mereka pelajari di masa depan adalah
catatan perampokan dan penjarahan yang sangat biadab.
Belum lagi jika kita membayangkan fasilitas sekolah, pakaian sekolah
hingga buku-buku pelajaran yang di masa akan datang sudah berada
setinggi langit yang itu mesti diraih dengan usaha merampok dan
menjarah. Karena di masa akan datang, barang dan pendidikan sudah
sedemikian tingginya, yang itu disebabkan oleh mekanisme penyedotan
yang sungguh luar biasa. Untuk hari ini saja, dengan mata telanjang
kita saksikan perampokan dan penjarahan anggaran pendidikan mulai dari
playgroup hingga pendidikan tinggi. Sungguh anak-anak masa depan tak
terbayangkan nasibnya.
Kita pun hanya bisa terpaku dengan agama sebagai institusi sosial.
Sebagai institusi sosial, semestinya agama menjadi tulang punggung
atau benteng terakhir perlawanan kita terhadap korupsi. Tetapi apalah
daya, Departemen Agama bahkan beberapa IAIN sebagai ruang belajar
agama menjadi sarang empuk para bedebah itu.
Berharap pada lembaga adat? Rupa-rupanya tokoh-tokoh adat yang sering
menyerukan adat sebagai prinsip hidup malah lebih menyenangi
memberikan pulanga sebagai pengakuan kebudayaan pada perampok-perampok
itu. Pada lembaga anti korupsi dan LSM-LSM? Lebih biadab lagi. Korupsi
hanya menjadi akal bulus mereka untuk menakut-nakuti para perampok
agar bisa barter kasus korupsi.
Saya hampir kehabisan akal memikirkan bagaimana masa depan anak-anak
kita nanti. Mungkin saja, dalam kurikulum pendidikan mereka telah
diajarkan tentang strategi akal bulus. Ilmu manajemen resiko yang
dipelajari di Universitas adalah memanajemen resiko agar tidak
tertangkap dan bisa main cantik.
Doa bahkan tidak mampu lagi menjadi tulang punggung pengharapan.
Karena doa yang didoakan para alumni Mekah (haji) rupanya tak bisa
langit menjangkau awan langit apalagi tembus ke langit ketujuh.
Saya hanya bisa berharap ada semacam bencana luar biasa yang itu bisa
meluluhlantakkan para perampok dan penjarah itu.
Kita butuh puluhan tsunami bahkan kiamat-kiamat kecil untuk
menyadarkan bahwa hidup ini hanya sementara.
Ketika berada di antara ribuan manusia di silang Monas untuk
memekikkan semangat anti korupsi. Tersungging bibir ini, karena dalam
hati yang paling kecil saya hanya bisa memendam bayangan kemustahilan
akan masa depan bangsa ini.
Walau kemudian saya sadar bahwa masa depan bangsa ini di tangan
generasi kita. Anak kita yang kini masih dalam pembaringan dengan
lugunya tak bisa kita serahkan masa depannya diatur oleh perampok dan
penjarah itu. Di tengah benderang sinar mentari yang menyengat di Tugu
Monas, kita memekikkan secara serempak untuk melawan korupsi di tanah
ini.
Untuk itu, kita mesti berani melawan dan bertarung hingga berkalang
tanah untuk masa depan anak-anak kita. Cukup sudah para bebedah itu
memporak-porandakkan peradaban bangsa ini. Bangsa kita terlalu sopan
untuk mengatai mereka sebagai koruptor. Nurani bedebah mereka tak
bergerak lagi jika kita namai mereka dengan koruptor. Kita namai saja
mereka para perampok dan bedebah. Karena mereka telah mencabik dan
akan merampok masa depan anak-anak kita.
Cukup sudah kita membiarkan mereka dikawal patroli dengan sirene yang
memekakkan telingan, disertasi dada busung di jalanan sembari wajah
manis tanpa dosa. Cukup sudah tangisan bayi-bayi yang tak bisa
disuguhi ibunya dengan susu karena tingginya harga susu hari ini.
Cukup sudah angka kematian bayi dan ibu hamil yang kini semakin tinggi
karena kekurangan gizi. Cukup sudah dengan kaum miskin yang hanya bisa
menikmati pelayanan kesehatan dengan obat Paramex dan CTM untuk segala
jenis penyakit. Cukup sudah mereka para bedebah untuk mengecek sakit
punggung mesti check up ke Ibukota dengan dibiayai rakyat yang
dibodohi. Cukup sudah mereka para bedebah yang terlalu sering naik
haji dan membiarkan tetangganya kekurangan makan.
Di gulita malam saya menuliskan catatan ini, para bedebah itu sedang
merebahkan badan di kasur empuk, dan disisi lain sebagian besar warga
bangsa ini tidur melawan nyamuk dan kasarnya tikar sebagai alas tidur.
Pagi harinya, mulai terbit matahari hingga terbenam, mulai marak
ibu-ibu meminta-minta dengan menggendong anaknya dengan membarter
kacang dengan beberapa rupiah. Siangnya ibu-ibu banyak yang menjadi
peminta-peminta atas nama masjid dan panti asuhan karena alasan
kehidupan. Bangsa kita sudah sedemikian menyedihkan nasibnya. Kita tak
bisa lagi membayangkan seorang pemimpin lahir dari anak-anak kaum
miskin jika misalnya ibu mereka hanya bisa menghidupi mereka dengan
meminta-minta apalagi menyekolahkan. Tak mungkin lagi prototype
seorang Hatta yang miskin namun bisa menjadi pemimpin bangsa.
Sekolah bukan lagi prioritas bagi mereka. Karena hari ini yang paling
priotitas adalah melawan lapar. Bagi mereka, anak-anak kaum miskin
itu, buat apa sekolah jika tak bisa makan. Program semua bisa sekolah
rupanya hanya bisa menjadi dongeng malam bagi mereka karena sebenarnya
mereka memang tak bisa menikmati. Mereka tak memiliki akses untuk
memasuki wilayah gombal itu.
Kita juga jika memasuki area pedesaan, akan sangat jarang menemukan
anak yang berpipi tembem. Perubahan iklim yang semakin tak karuan
menjadikan petani tak bisa mendapatan penghasilan yang pasti. Untuk
bisa memenuhi sehari saja mereka kewalahan. Akhirnya, tengkulak
menjadi benteng terakhir meminjam uang untuk menyambung hidup. Hidup
seakan tergadaikan. Mereka kaum kecil tak bisa sakit, jika tidak
mereka tak akan bisa makan.
Di komunitas lain, tukang bentor misalnya. Dengan penghasilan 20 ribu
per hari tak ada lagi masa depan untuk anak-anaknya. Bagaimana bisa
menyekolahkan anak jika uang seperti itu hanya bisa untuk makan saja.
Tukang bentor sangat takut sakit. Karena hanya kesehatan yang menjadi
modal utama mereka untuk tetap hidup. Mereka tak bisa sakit, karena
taruhannya adalah mereka tak akan makan. Di tanah Gorontalo, ada
sekitar 15 ribu bentor. Berarti ada sekitar 45 ribu manusia yang
tergantung dengan alat produksi ini.
Sekali lagi, jika kita tak hendak bangun dari alam sadar kita yang
terlalu nyenyak dengan keadaan ini. Bisa-bisa kita menemukan tubuh
manusia yang tergeletak tak bernyawa karena bunuh diri. Kita akan
semakin banyak mendapati pohon-pohon yang menjadi tempat gantung diri
para ibu yang tak bisa memberi makan anaknya. Kita akan semakin banyak
melihat para ayah yang memancung lehernya karena malu pada keluarganya
sebab tak mampu lagi menahan derita.
Dentang jarum peradaban kita semakin berbunyi kencang. Dengarkan
raungan kaum miskin yang memekikkan suara kelaparan. Dengarkan pula
tangis bayi ringkih yang kekurangan susu.
Bangun dari tidur panjang yang terlalu lama ini. Sudah dari sekarang
kita harus bergerak melawan para bedebah penikmat bangsa ini. Kita tak
bisa lagi menonton apalagi diam melihat kebengisan mereka merampok.
Cukup sudah para bedebah itu mengambil masa depan anak-anak kita.
*Catatan :
Baru kali ini saya menulis tanpa “aturan” akademik yang baku. Tulisan
ini adalah curahan hati dan perlawanan yang mesti kita lakukan.
Tulisan ini mengalir tanpa ada pola yang jelas, yang penting adalah
hikmah dari sini kita sadar dan mulai melawan para bedebah itu.
Ditulis pada tanggal 10 Desember 2009 pukul 02.30 di Pondok Kopi
------------------------------------
Majulah Gorontalo kita!Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/gorontalomaju2020/
<*> Your email settings:
Individual Email | Traditional
<*> To change settings online go to:
http://groups.yahoo.com/group/gorontalomaju2020/join
(Yahoo! ID required)
<*> To change settings via email:
[email protected]
[email protected]
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[email protected]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/