Siapkan Software Anti Situs Porno

Minggu, 23 Maret 2008 | 22:07 WIB

JAKARTA, MINGGU--*Rencana pemerintah RI untuk memberangus situs-situs porno
telah bulat. Bahkan Wakil Presiden Jusuf Kalla juga menyatakan April 2008
mendatang situs tersebut akan diblokir. Bagaimana dengan kesiapan
pemerintah? Minggu (23/3) malam, wartawan PersdaNetwork, Hendra
Gunawan dan Achmad
Subechi mewawancarai Menteri Komunikasi dan Informasi Muhammad Nuh. Berikut
petikannya:
*
*Bagaimana dengan rencana memblokir situs-situs porno?*
Kami sudah sepakat dengan seluruh yang terkait bahkan kepada Bapak Presiden
Susilo Bambang Yudhoyono dan Wakil Presiden Bapak Jusuf Kalla bahwa per 1
April mendatang situs-situs porno akan diblokir.

*Persiapan yang Anda lakukan?*
Jadi kita sekarang sedang mulai mensosialisasikannya sampai akhir Maret 2008
ini. Esensinya adalah meminimalkan penyalahgunaan internet. Dan disisi lain
kita mendorong penggunaan internet untuk kebutuhan yang membangun.

*Secara tekhnis proses pemblokirannya bagaimana?*
Kita sudah menyiapkan tiga layer untuk memblokir. Pertama adalah pada
perorangan. Kita tumbuhkan kesadaran kepada masyarakat karena internet itu
memang kita perlukan lantaran banyak positifnya. Tapi juga ada negatifnya.
Agar jangan disalahgunakan untuk akses situs-situs yang tidak baik, maka
kita akan blokir. Nah, untuk level pertama ini disebut *bottom level*
atau *grass
root layer*.

*Langkah konkrit untuk layer pertama ini apa?*
Untuk level ini masyarakat akan kita kasih paket *software* secara* free*,
bisa diakses di Depkominfo maupun dibagikan secara langsung ke masyarakat.
Disini kita mengandalkan kebaikan individu.

*Layer kedua yang Anda maksud?*
Namanya medium layer. Kita ingin memanfaatkan sistem jaringan yang ada,
jaringan struktukrtur *network *baik di kampus, di sekolah-sekolah, di
kantor-kantor dan departemen. Di intenet  itu kan ada yang dinamakan...
adminnya, sebelum keluar *gateway*. Istilah tepatnya, administratornya. Nah
di sentral *gateway *di kantor, kita bentengi diadminnya.

*Bagaimana caranya?*
Kita pasang *software* agar tidak bisa mengakses situs porno.

*Lalu layer ketiga?*
Sedangkan layer ketiga ini... namanya top layer. Kita kerja sama dengan ISP
(*Internet Service Provider*) agar di sana juga dipasang filter. Nama
filternya adalah IIX (*Indonesia Information Exchange*). Itu yang akan
dipasang filter. Dari tiga layer itu kita bisa meminimailisir seseorang yang
akan melakukan akses terutama untuk sesuatu yang tidak benar.

*Walau sudah diprotek, tapi ada juga warnet yang nakal. Trik Anda? *
Ya kita juga kerja sama dengan asosiasi-asosiasi penyelenggaran jasa
internet. Kita tetap harus menyediakan jasa ke masyarakat, agar jangan
disalahgunakan. Esensinya kan itu. Dia kan tak bisa akses langsung, lewat
ISP, jadi kalau ISP ini yang dipasang filter.

*Pelanggaran dari ISP, apa sanksinya? *
Insya Allah Selasa besok ada UU ITE (informasi dan transaksi elektronik) dan
akan diselesaikan di rapat paripurna. Jadi kalau mau memanfaatkan UU ITE itu
sudah jelas akan ada sanksi hukumnya terhadap para pelaku, termasuk
menyebarkan informasi yang tidak menyenangkan itu hukumannya sangat jelas
dalam UU itu. Jadi apa yang kita lakukan ini adalah upaya untuk
meminimisasi. Jadi orang-orang yang bergerak di bisnis IT itu kan sangat
kreatif, sudah diprotek mereka juga bisa membobolnya. Karena itu paling
tidak kita akan membentenginya dengan undang-undang.

*Bagaimana peta situs esesk-esek di Indonesia?*
Wah saya itu terus terang belum lihat peta situs-situs porno di Indonesia.
Tapi kalau dilihat dari keluhan-keluhan yang masuk ke kami, ya sangat
banyak. Namanya pun (situs porno) juga agak susah, karena tidak selalu pakai
nama XXX. Ada yang pakai nama... taruhlah mainmata.com atau nama santai.com.
Jadi, susah dideteksi memang, tapi dengan tim *watch content* nanti kita
bisa melihatnya. Sehingga kalau ada produk baru, kita bisa memblok lagi,
diblok lagi. Dari apa saja yang sudah diduga punya kandungan tidak jelas.

*Akan ada kerja sama dengan Polri?*
Itu ujungnya. Saat ini kita belum memiliki pendekatan ke arah kriminal.
Mengapa? Karena kita ingin tumbuh kesadaran lebih dulu. Jadi ada tiga layer
*approach*, agar menumbuhkan *self filtering* supaya  tak perlu repot
memobbol.  Tapi kalau mereka tidak mempunyai *self filtering*, malah lebih
punya minat agitasi, maka kita harus berusaha meng-*hack*. Jadi kita ingin
menaikkan *teledencity* atau *subscriber* internet. Akan tetapi malah ada
kekhawatrian hal ini akan disalahgunakan, dan tak ada efek positifnya.
Padahal semuanya butuh internet. Kalau disalahgunakan malah akan terjadi
resistensi tersendiri. Kita harus mencegah kemudharatannya.

*Yakin dengan rencana internet masuk desa?*
Kita sudah siapkan CAP (*community access point*), ada yang stationer ada
yang lain. Dengan CAP itu masyarakat bebas mengakses internet. Ada yang
pakai *hotspot*, ada yang pakai jaringan. Harganya juga cenderung turun
sehingga mudah dimanfaatkan. Selain itu kita bisa manfaatkan dana dari CSR (
*Corporate Social Responsibility*) dari perusahaan-perusahaan di Indonesia.
Sehingga rencana ini akan cepat dilaksanakan. (*)
sumber :
http://www.kompas.com/read.php?cnt=.xml.2008.03.23.22071011&channel=1&mn=1&idx=1

--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
GudangMedia
|| MEDIA || Bertukar Informasi ||
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke