shutterstock<http://kesehatan.kompas.com/read/xml/2009/03/31/19061389/Mas..Pake.Kondom.ya...Saya.Pakein.Mau...#>
 
/<http://kesehatan.kompas.com/read/xml/2009/03/31/19061389/Mas..Pake.Kondom.ya...Saya.Pakein.Mau...>
 *Artikel Terkait:*

   - Prostitusi Harus Diakui
   
<http://kesehatan.kompas.com/read/xml/2009/03/31/17393699/prostitusi.harus.diakui.>
   - Kelompok Rentan HIV Sedikit yang Gunakan
Kondom<http://kesehatan.kompas.com/read/xml/2009/03/31/17303172/kelompok.rentan.hiv.sedikit.yang.gunakan.kondom>
   - Lancet Kritik Paus soal
Kondom<http://kesehatan.kompas.com/read/xml/2009/03/27/15162656/lancet.kritik.paus.soal.kondom>
   - Kondom Uak Sam Kalah
Bersaing<http://kesehatan.kompas.com/read/xml/2009/03/26/06221260/kondom.uak.sam.kalah.bersaing>
   - Soal Kondom, Paus Nggak
Ngetop<http://kesehatan.kompas.com/read/xml/2009/03/21/22093416/soal.kondom.paus.nggak.ngetop>

  Selasa, 31 Maret 2009 | 19:06 WIB

*KOMPAS.com* — Tak mudah memang mewajibkan para pekerja seks komersial
menggunakan kondom. Pelanggan atau lelaki hidung belang merasa tidak nikmat
bila menggunakannya.

Rediscoveri Nitta, Manajer Program Penanggulangan AIDS pada kelompok
Berisiko Tinggi Yayasan Kusuma Buana sudah membekali para PSK ilmu rayuan,
"Mas, *make *kondom itu enak, tidak terasa kok. Pokoknya saya *pakein*. Saya
*pakekin pake* mulut ya...!"

Sayang, upaya ini masih bisa dibilang gagal. Para pelanggan lelaki kerap
enggan memakai kondom bila diminta. Para hidung belang berkilah bahwa,
memakai kondom, kenikmatannya kurang. "Enak saja, orang sudah bayar kok
tidak bersentuhan langsung," tutur Nitta meniru kata-kata para hidung
belang.

Akibatnya, sudah bisa ditebak, para PSK-lah yang menjadi korban. Saat ini,
di Jakarta Barat ada sekitar 350.000 pelanggan dengan 13.600 PSK. "Kira-kira
10 persen dari PSK tersebut terkena infeksi menular seksual (IMS)," kata
Nitta.

Karena itu, menurut Nitta, pengawasan terhadap penggunaan kondom mesti
dilakukan secara ketat dan serius. Dari sisi regulasi, kata Nitta, sudah ada
yang mengatur seperti dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata yang mengatakan
bahwa di tempat hiburan wajib disediakan alat pencegahan, walau tidak
eksplisit menyebut kondom.

Namun sayang, kontrol di lapangan sangat lemah. Ada tempat hiburan yang
membiarkan pelanggannya tidak memakai kondom, tetapi tidak diambil tindakan.
Demikian diungkapkan Nitta. Kontrol yang lemah dari pusat mengimbas pada
tingkat bawah, yaitu tempat-tempat hiburan.

Sebenarnya, di antara para pengelola hiburan sudah ada kesepakatan untuk
mewajibkan para pelanggan memakai kondom. Jika tidak, maka mereka tidak
diterima di tempat tersebut. "Tapi, dalam perjalanan ini juga tidak jalan,"
sesal Nitta.

Alasannya adalah soal ekonomi. Dimulai dengan beberapa tempat hiburan yang
menerima tamu tanpa kondom karena tuntutan ekonomi, lalu diikuti tempat
hiburan lain karena takut ditinggalkan pelanggannya. "Memang sulit, tetapi
ini mesti terus kita perjuangkan," tekad Nitta.

"Sekarang ini kuncinya ada pada laki-laki dan tempat hiburan," tegas Nitta.
Ia mengakui, laki-laki sangat sulit untuk dijangkau. Kalau untuk PSK-nya
sudah mereka beri masukan serta edukasi dan mereka bisa mengerti. Sekalipun
demikian, usaha-usaha edukasi untuk para laki-laki terus dilakuan.

"Kami adakan Pojok Informasi di tempat-tempat berisiko tinggi, seperti
terminal, stasiun, pangkalan-pangkalan truk, daerah perdagangan seperti
Glodok. Kalau di perusahaan, kami memilih tempat yang karyawannya didominasi
laki-laki dengan mobilitas tinggi serta banyak uang, seperti perusahaan gas
dan minyak, manufaktur, dan pelabuhan," kata Nitta. Harapannya, penyebaran
HIV/AIDS dapat ditekan dengan kesadaran menggunakan kondom.


-- 
Aldo Desatura ® & ©
================
Kesadaran adalah matahari, Kesabaran adalah bumi
Keberanian menjadi cakrawala dan Perjuangan Adalah pelaksanaan kata kata

--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
GudangMedia || MEDIA - Bertukar Informasi ||
-
Segenap komunitas GudangMedia, MENOLAK RUU APP (Aksi Pornografi dan Pornoaksi). 
Negara telah melakukan intervensi terhadap hak-hak private seseorang serta 
pembunuhan terhadap karakter kebudayaan.


STOP Pembodohan Terhadap Masyarakat...!!! 
Rakyat Bersatu Tak Bisa Dikalahkan...!!!

-
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke