maksudnya...?
Pada 14 September 2010 13.17, nn <[email protected]> menulis: > InjMgBiasa XXIV tahun C 12 Sept 10 (Luk 15:1-32) TIGA PERUMPAMAAN > > Injil Minggu Biasa XXIV tahun C (Luk 15:1-32) > > TIGA PERUMPAMAAN: DOMBA TERSESAT, DIRHAM TERSELIP, ANAK HILANG. > > Kali ini bacaan dari Injil Lukas memuat tiga perumpamaan, yakni domba yang > tersesat (Luk 15:1-7), disusul dengan perumpamaan mata uang yang terselip > (ayat 8-10) dan perumpamaan anak yang hilang (ayat 11-32). Ketiga > perumpamaan di atas ditampilkan sebagai tanggapan terhadap kaum Farisi dan > ahli Taurat yang kurang senang melihat Yesus membiarkan para pemungut cukai > serta para pendosa datang ikut "mendengarkan dia" seperti disebutkan dalam > ayat 1-3. Maksudnya, membiarkan mereka mengikuti uraiannya mengenai ajaran > Kitab Suci dan mulai menjadi muridnya. Memang, mendengarkan uraian Taurat > bagi orang Yahudi bukanlah kegiatan yang bisa sembarangan diikuti. Mereka > yang dianggap bukan termasuk orang baik-baik tidak diizinkan. Pemungut > cukai > dianggap tak pantas duduk mendengarkan ajaran Taurat. Pemungut cukai dicap > sebagai orang yang menjual bangsa sendiri dengan bekerja memungut pajak > dari > sesama orang Yahudi bagi penguasa Romawi. Dosa mereka jauh lebih besar dari > pada pelanggaran lain karena mereka terang-terangan ikut menindas umat > Tuhan > sendiri. Mereka dianggap berlaku seperti para penindas di Mesir dulu. > Mereka > tak layak mendapat pengampunan, apalagi mendengarkan uraian Taurat. Itulah > sebabnya dalam ayat 1 "para pemungut cukai" disebut secara khusus sebelum > "orang-orang berdosa". Tetapi Yesus membiarkan mereka datang mendengarkan > pengajarannya! Orang-orang yang merasa diri saleh tak habis mengerti, > bahkan > tersinggung dan menggerutu - "bersungut-sungut" - melihat kelakuan Yesus. > Kelonggarannya mengotori kegiatan suci ini, menyalahi adat kebiasaan. Para > tokoh agama nanti akan bersetuju untuk menyingkirkan Yesus yang menjadi > duri > dalam daging bagi mereka. Kita tahu cerita selanjutnya. Namun, bagaimana > ingatan murid-murid generasi pertama mengenai cara Yesus menanggapi > penilaian orang Farisi dan para ahli Taurat tadi? Apa yang disampaikan > dalam > ketiga perumpamaan itu? > > BERSUNGUT-SUNGUT ATAU BERGEMBIRA? > > Tanggapan Yesus membuat orang berpikir. Ia mengajak orang yang tersinggung > perasaannya tadi agar tidak terlalu bersikap kaku dan hanya melihat yang > buruk-buruk saja. Mari kita pakai akal sehat.... begini lho duduk > perkaranya! Mari kita lihat sisi lain. Untuk itu ia mengajukan pertanyaan > retorik pada awal kedua perumpamaan yang pertama, yakni, "Siapa di antara > kamu yang [kehilangan milik yang berharga] dan tidak [berusaha menemukannya > kembali] dan [setelah menemukan] bersukaria dan mengajak orang lain > bergembira?" Tentu saja tak ada yang tidak akan bertindak demikian. Kedua > perumpamaan itu jelas-jelas ditujukan kepada orang-orang yang menggerutu > tadi. Mereka dihimbau agar memakai akal sehat dan tidak membiarkan diri > dikuasai perasaan kesalehan belaka. Perumpamaan yang ketiga lebih dalam > lagi. Semua orang yang mempunyai anak dan saudara yang malang tapi mau > berusaha kembali didorong agar bersedia meninjau kembali penilaian yang > mereka pegang. > > Ketiga perumpamaan tadi menampilkan satu unsur yang sama, yakni kegembiraan > mendapatkan kembali yang hilang, entah itu domba, mata uang, atau anak yang > hilang. Kegembiraan ini kemudian dikabarkan kepada banyak orang. Pemilik > domba memanggil para sahabat dan tetangganya dan mengajak mereka ikut > bersukacita. Begitu juga perempuan yang menemukan kembali mata uangnya yang > hilang. Secara tak langsung hendak dikatakan, mereka yang diajak ikut > bergembira ialah kaum Farisi dan para ahli Taurat yang "bersungut-sungut" > melihat Yesus membiarkan pemungut cukai dan pendosa mendengarkannya. Ayah > anak yang kembali itu mengajak seisi rumah tangganya berpesta. Secara > khusus > ia mengajak anak sulung untuk ikut bergembira. Kita tidak tahu apa anak > sulung dalam perumpamaan ketiga akan mau masuk rumah dan ikut berpesta. > Kita > tidak tahu persis apa orang-orang Farisi dan ahli Taurat mau mendengarkan > Yesus. Tidak diceritakan lebih jauh. Hanya disodorkan sebagai bahan > pertimbangan agar orang berkaca. Boleh jadi mereka malah makin mendongkol > tapi tidak bisa menjawab karena mereka juga paham kekuatan warta ketiga > perumpamaan tadi. Mereka yang dicap buruk, pendosa dan tak pantas itu bisa > berubah dan sudah mulai berada pada jalan yang benar. Di lain pihak, > orang-orang yang menganggap mereka tak patut diajak bergaul itu malah > semakin mengeraskan hati sendiri. Orang-orang itu seperti si anak sulung > yang tidak dapat melihat alasan kegembiraan ayahnya. Ia menutup diri. > Menjauhi kegembiraan. Terus-terusan murung. Menyedihkan! > > DARI ZAMAN GEREJA AWAL > > Ketiga perumpamaan dalam Luk 15:1-32 mencerminkan dinamika dalam gereja > awal. Para pengikut Yesus sering dipandang oleh orang Yahudi sebagai > sebagai > orang yang kurang taat pada ajaran agama turun-temurun. Maklum generasi > pertama dan kedua umat kristen belum amat membedakan diri dengan umat > Yahudi. Banyak orang dari kalangan ini merasa dijauhi orang-orang yang > tadinya tidak memusuhi mereka. Sanak saudara, teman sekerja, lingkungan > kini > agak mengasingkan mereka. Keadaan ini mulai dirasakan di kalangan orang > Yahudi yang kemudian menjadi pengikut para murid Yesus. Mereka tentu saja > merasa terintimidasi dan bertanya-tanya apa sepadan menanggungnya. Mereka > bertanya apa mereka itu sungguh "sesat" seperti anggapan sanak saudara dan > kawan-kawan mereka. Injil Matius menjawab persoalan ini dengan perumpamaan > domba yang hilang dalam Mat 18:12-14. Di situ ditegaskan bahwa Bapa tetap > menyayangi mereka. Taruh kata mereka tersesat, mereka akan dicari sampai > ketemu. Dalam Injil Matius perumpamaan itu ditujukan bagi orang Yahudi yang > menjadi pengikut Yesus. > > Perumpamaan yang sama diolah Lukas bagi kelompok yang berbeda. Komunitas > Lukas terdiri dari orang asal Yahudi dan bukan Yahudi. Golongan kedua ini > makin bertambah besar dan melebihi yang pertama. Namun, kebiasaan-kebiasaan > kerap kali masih digariskan oleh orang dari kalangan Yahudi. Bahkan mereka > acapkali memandang orang lain dengan sikap curiga dan merendahkan. Mereka > menganggap orang baru seperti murid yang tidak utuh komitmennya. > Orang-orang > baru ini dianggap "pemungut cukai" dan pendosa yang sebenarnya tak patut > mendekat ke ajaran yang benar. Ditolerir, tapi tidak sungguh diterima. > Tentu > murid-murid asal luar itu merasa dianggap orang kelas dua, dicap tidak > sepenuhnya mau menjadi murid dan masih tetap "kapir". Ketiga perumpamaan > dalam Luk 15 itu disampaikan untuk menghibur mereka. Tuhan tidak menutup > mata pada kenyataan bahwa mereka terpojok dan dipojokkan oleh > saudara-saudara mereka sendiri. Penilaian seperti itu bahkan sudah > dikenakan > kepada Yesus sendiri. Ia dianggap mengotori diri bergaul dengan pendosa dan > dengan para pemungut cukai sekalipun. Dalam konteks seperti inilah > orang-orang yang memandang rendah saudara-saudara seiman itu digambarkan > sebagai "kaum Farisi dan para ahli Taurat" dalam Luk 15:1-3. Sekalipun > demikian mereka tidak dikecam, melainkan diajak agar melihat persoalannya, > diajak bernalar. > > SERATUS EKOR DOMBA, SEPULUH DIRHAM MINUS SATU? > > Apa tak berlebihan dikatakan dalam perumpamaan ini pemilik domba > meninggalkan kesembilan puluh sembilan ekor domba untuk mencari seekor saja > yang tersesat? Untuk memahami gaya bicara ini baik diingat bahwa > perumpamaan > ini mulai dengan menyebutkan pemilik domba yang memiliki "seratus" ekor > domba. Seratus itu kelipatan sepuluh, angka yang melambangkan keutuhan. > Keutuhan dalam arti ukuran yang penuh, tak mungkin bertambah lagi. Memiliki > "seratus" ekor domba berarti mempunyai kekayaan yang serba melimpah dan tak > perlu ditambah lagi. Juga dalam perumpamaan kedua, "sepuluh" dirham berarti > juga jumlah yang utuh, milik yang sebesar-besarnya yang dapat dipunyai. > Tetapi kalau kurang satu saja maka tidak utuh lagi. Juga kehilangan satu > dari seratus domba berati kekayaannya menjadi tak utuh lagi. Ada kekurangan > yang mengusik. Maka jelas mengapa pemilik domba dan perempuan yang > kehilangan satu saja dari miliknya itu berusaha keras untuk menemukan yang > bakal membuat milik mereka utuh. Dan bila terjadi, pemilik domba atau > perempuan itu bisa bergembira dan mengajak orang lain ikut bersukacita. > Mana > unsur yang menonjol? > > Bila dipandang secara menyeluruh, yang paling menonjol bukan perihal > kehilangan, bukan pula kegembiraannya, melainkan usaha mencari yang bakal > membuat milik utuh kembali. Baru bila berhasil, kegembiraan dapat > dinikmati. > Jadi usaha menemukan itulah yang hendak disampaikan dalam perumpamaan > tentang domba yang hilang dan dirham yang terselip itu. Hendak digambarkan > betapa besar perhatian Tuhan. Ia belum puas bila masih ada sebagian kecil > umat manusia yang belum mengenalNya, serasa masih ada satu ekor domba yang > sesat, masih ada dirham yang terselip, dan dalam perumpamaan ketiga, sang > anak bungsu masih menderita hidup serba kekurangan di luar. > > Tidak mengherankan bila dikatakan pemilik domba itu "meninggalkan yang > sembilan puluh sembilan" untuk mencari seekor yang hilang. Tak perlu > ditafsirkan sebagai melalaikan jumlah yang besar tadi atau kurang > beperhatian kepada anak sulung. Justru maksudnya untuk membuat jumlah yang > besar tadi menjadi utuh, membuat anak sulung ikut menikmati keutuhan milik > ayahnya. Baru bila berhasil, kegembiraan bisa diperoleh. > > DIMENSI ROHANI KERASULAN? > > Bila ketiga perumpamaan itu menggambarkan perhatian terhadap kemanusiaan, > bisakah dikatakan bahwa Dia yang Yang Mahakuasa belum merasa lega dan dapat > bersukacita sebelum miliknya utuh? Belum bisa betul-betul masuk dalam hari > ketujuh dan memberkati seluruh ciptaan (bdk. Kej 2:1-2)? Bagaimana ikut > memungkinkan Dia memperoleh ketenanganNya? Tentu saja jawaban bisa > bermacam-macam. Kita yang terlibat dalam pewartaan di bidang pastoral akan > merasa terdorong berusaha makin memperkenalkan kerahiman Tuhan. Bagi yang > bergerak di bidang pendidikan tentu akan melihat dalam perspektif kerasulan > mereka. Yang bergiat dalam kerasulan sosial, perumpamaan-perumpamaan ini > akan memberi dorongan lebih lanjut bagi pemihakan pada kaum miskin. Bagi > siapa saja dalam kerasulan apa saja, ketiga perumpamaan itu akan membantu > menjernihkan motivasi dan tujuan kerasulan sendiri. Bagaimana penalarannya? > Singkat saja. Bila dilacak lewat perumpamaan ini, tujuan kegiatan pastoral, > kerasulan pendidikan, kerasulan sosial bukanlah terutama domba yang hilang, > bukan dirham yang terselip, bukan anak yang hilang, melainkan kebahagiaan > Tuhan sendiri. Dia-lah yang menjadi motivasi utama. Jadi bukan sekian > banyak > pertobatan yang bisa dipersembahkan kepadanya, bukan sekian dana yang bisa > ditambahkan, bukan pula jumlah orang yang bisa dientas dari kemiskinan dan > dibela hak-haknya, melainkan apakah Dia makin dimuliakan. Apa Dia itu kini > betul-betul bisa dikatakan sebagai Tuhan yang bisa melihat ciptaanNya > dengan > lega karena merasa telah menyelesaikan - mengutuhkan karya ciptaanNya? Atau > Ia masih gundah kendati kita bawa ke hadapannya barang-barang persembahan > yang besar-besar tapi tidak membuatNya betul-betul merasa milikNya makin > utuh? > > TENTANG "SI ANAK HILANG > > Ada seorang ayah yang mempunyai dua orang anak lelaki. Yang bungsu meminta > bagian miliknya untuk mulai hidup di perantauan. Ia hanya berfoya-foya dan > ketika ada kelaparan ia jatuh melarat dan terpaksa hidup tak pantas sebagai > budak. Akhirnya ia memutuskan kembali. Ketika melihat anaknya dari > kejauhan, > sang ayah lari menjemputnya. Ia menyuruh orang-orang untuk memberinya jubah > yang terbaik, cincin, dan sepatu - tanda ia diakui kembali sebagai anak, > bukan diterima sebagai budak yang tak mengenakan hal-hal itu. Kedatangannya > kembali juga dipestakan. Sementara itu anaknya yang sulung pulang dari > ladang dan mendengar hal ihwal pesta itu. Ia tidak puas dan tak mau masuk > ke > rumah ikut pesta. Tetapi ayahnya keluar membujuknya. Anak sulung itu > mengutarakan alasannya mengapa ia marah. Bertahun-tahun ia bekerja tanpa > melanggar perintah tapi tak satu kali pun mendapat kesempatan bersuka ria > dengan teman-temannya. Dan kini bagi anak pemboros dan tak berbakti itu ada > pesta besar! Ayahnya membujuknya, anak sulung itu toh selalu ada bersamanya > dan semua miliknya juga kepunyaannya. > > Perumpamaan ini diceritakan bukan untuk membuat orang bertobat seperti si > anak hilang, atau agar kita tidak bersikap iri seperti si anak sulung. > Perumpamaan biasanya diceritakan untuk mengajak berpikir mengenai hal-hal > yang lebih dalam, bukan mengenai hal-hal yang bisa dikenakan begitu saja ke > dunia sekitar, bukan pula untuk dituduhkan diam-diam dalam hati sekalipun > > Kisah saudara tua yang dengki akan kemujuran adiknya bukan hal yang baru > bagi pendengar Kitab Suci pada zaman itu. Ada kisah Kain dan Abel, kisah > Esau anak sulung Israel dan Yakub adiknya, ada kisah Yusuf dan > saudara-saudara tuanya. Saudara tua umumnya ditampilkan sebagai tokoh > konyol > sedangkan yang muda tokoh yang beruntung. Perumpamaan anak hilang ini > memang > memakai motif kisah yang sudah dikenal itu. Tetapi arah kisahnya berbeda > dengan yang biasa dikenal. Walaupun akhirnya anak yang bungsu mujur, anak > yang sulung tidak kehilangan haknya seperti halnya Kain, Esau atau > saudara-saudara tua Yusuf. Kehadiran kembali yang bungsu tidak menggeser > yang sulung. Mengapa begitu? Karena sang ayah tidak membeda-bedakan kedua > anaknya itu kendati perasaan anaknya yang sulung lain. Juga si bungsu yang > kembali itu sebenarnya merasa sudah tak pantas menjadi anak lagi dan malah > minta diperlakukan sebagai budak saja. Tapi persepsi masing-masing mereka > ini akan diluruskan. Marilah kita dekati > > TEOLOGI "HUKUMAN" DAN "PAHALA" > > Bila orang melakukan kesalahan, maka layak ia terkena hukuman. Atas dasar > prinsip itu, kebaikan mestinya mendatangkan pahala. Tanpa kita sadari > gagasan ini sering mendasari cara memandang kejadian-kejadian dan melandasi > penilaian terhadap orang lain. Perumpamaan ini disampaikan untuk > menyorotinya. > > Apa kesalahan atau dosa si anak bungsu di mata abangnya dan di mata si > bungsu itu sendiri? Ia dianggap bersalah karena tidak berlaku sebagai anak > yang baik yang tinggal di dusun untuk meneruskan pekerjaan ayahnya membantu > mengerjakan ladang. Ia pergi menuruti keinginannya sendiri. Ia jadi anak > yang tak berbakti, lain daripada anak yang sulung. Lalu apa yang terjadi > terhadap anak yang tak berbakti? Terhukum? Anak bungsu tadi memang > mengalami > nasib malang. Ini akibat kesalahannya? Pendengar atau pembaca akan tergoda > melihat kelakuannya berfoya-foya di luar negeri sebagai penyebab > kemelaratannya. Juga kelakuan tak berbakti kepada ayahnya membuatnya > terhukum. Tetapi sebenarnya kemalangan si anak bungsu ditampilkan bukan > sebagai hukuman dari atas, bukan pula konsekuensi keteledoran sendiri, > melainkan akibat keadaan yang tak bisa dikontrol, yakni bencana kelaparan > (ayat 14). Pencerita ulung seperti Lukas sengaja menampilkan hal penting > seolah-olah sebagai unsur tambahan. Pembaca dibiarkan terkecoh > pikiran-pikirannya sendiri, tapi nanti akan dituntunnya kembali. Bagaimana > dengan abangnya? Ia tipe anak yang baik, yang bekerja terus, setia tinggal > di tempat. Orang seperti ini dalam gagasan orang banyak tentu mendapat > pahala. Sekali lagi orang tergoda menganggap keberuntungannya sebagai > pahala > dan si anak sulung itu sendiri memang berpikir dalam ukuran-ukuran itu. Ia > mengeluh bahwa tak pernah mendapat kesempatan bersenang-senang walaupun > bertahun-tahun melayani dan tak pernah melanggar perintah (ayat 29). Dan > ketika si bungsu yang kembali itu dipestakan dan diberi sepatu, cincin, dan > jubah kebesaran segala, wah, ini pahala atas dasar perbuatan apa? Kan anak > itu pemboros dan bejat moralnya. Mestinya ia kena hukuman! Perumpamaan ini > mengusik benak orang yang berpikir dalam perspektif teologi "hukuman dan > pahala" seperti itu. > > SI BUNGSU DAN KEGEMBIRAAN SANG AYAH > > Ketika memutuskan untuk pulang, anak bungsu yang terlunta-lunta itu > sebenarnya sudah siap bila nanti diperlakukan sebagai budak. Ia memang > sudah > kehilangan hak sebagai anak (ayat 19). Namun apa yang terjadi? Ketika > melihat dari jauh anaknya ini datang kembali, sang ayah lari tergopoh-gopoh > menyongsongnya. Bahkan sebelum anak itu sempat mengucap minta ampun, sang > ayah sudah memeluk dan menciumnya (ayat 20). Dua hal ini tidak biasa. > Masakan seorang tua yang terhormat seperti ayah itu berlari-lari? Mestinya > paling banter ia hanya akan mengirim orang suruhan untuk menjemput. Masakan > ia juga tidak membiarkan dulu anak itu mengutarakan rasa sesalnya terlebih > dahulu (ayat 21)? Pembaca atau pendengar perumpamaan ini akan terhenyak dan > berpikir. Dan di sinilah terletak warta perumpamaan itu. Kita diajak > menyadari bahwa Tuhan yang diperkenalkan Yesus itu bertindak seperti sang > ayah yang pengampun dan pemurah itu. Teologi "pendosa mesti dihukum" dan > "orang baik mesti diberi pahala" tidak mencukupi sama sekali untuk > memperkenalkan Tuhan yang seperti itu. Walau besar daya tariknya, teologi > seperti itu tidak klop. Hanya akan membuat orang merasa terus-terusan > menyesal seperti si bungsu, atau kesal melulu seperti si sulung. > > Perasaan tersinggung orang-orang Farisi dan Ahli Kitab (ayat 1-3) > didasarkan > pada etos teologi yang disorot tajam tadi. Yesus sang utusan Tuhan bergaul > dengan orang-orang yang tersisih dan dicap pendosa karena ia mau > menghadirkan Tuhan sebagai ayah yang baik, bukan Tuhan yang baru mau > mengampuni setelah menghukum sampai orang kapok. Tapi gambaran ini membuat > orang baik-baik tidak tenteram lagi. Mereka tersengat melihat Yesus guru > terhormat itu bergaul dengan para pemungut pajak. Kaum baik-baik itu memang > menjadi bahan pembicaraan orang. Lho nyatanya ada seorang guru terkenal > yang > tak menjauhi pendosa yang akrab dengan kami-kami ini, tidak seperti > orang-orang yang mencibirkan kami itu. > > SANG AYAH DAN ANAK SULUNGNYA > > Anak sulung itu marah dan tidak bersedia masuk ke dalam rumah ikut > berpesta. > Lalu apa yang terjadi? Ayahnya keluar menemuinya dan membujuknya (ayat 28). > Ia bersikap sama seperti terhadap anak yang kembali tadi. Ayah itu pergi > menemui yang membutuhkannya dan tidak diam menunggu di dalam rumah. Namun > demikian si anak sulung tetap kurang senang dan mengutarakan kekesalannya. > Ia merujuk adiknya bukan dengan kata "adikku itu", melainkan dengan "anakmu > itu" (ayat 30 "ho huios sou" - nadanya sinis, dan mungkin ketus, lebih > daripada terjemahan idiomatik Indonesia "anak bapak"). Menarik, dalam > perumpaman ini si anak sulung ini hanya tampil di luar rumah. Tidak pernah > ia disebut ada di dalam rumah. Anak bungsu yang kembali tadilah yang > bergerak dari luar ke dalam. Dan ayah mereka keluar masuk rumah untuk > membawa masuk mereka! Lalu siapa yang sebenarnya menjadi anak yang sungguh? > Bukankah ia yang ada di dalam rumah? Tetapi ayahnya tidak menegur anak > sulungnya. Ia membujuknya dengan sabar "Nak!" (ayat 31) dan kemudian > meyakinkannya bahwa anak sulung itu selalu bersama dengannya dan seluruh > hartanya itu juga miliknya. Dengan demikian keberatan anak sulung itu tak > lagi beralasan. Tapi ada satu hal lagi yang ingin ditambahkan. Ayah itu > barusan ketambahan harta baru yang khusus, yakni "adikmu" (ayat 32 "ho > adelphos sou") yang tadi mati - putus haknya sebagai anak - kini hidup > kembali dan mau menjadi anak lagi, yang hilang dahulu kini kembali. Dengan > memakai kata "adikmu" itu sang ayah sebenarnya ingin mengajak anak sulung > itu berbagi harta baru, yakni kegembiraan menemukan kekayaan baru ini! Sang > ayah ini tokoh yang secara lahir batin merdeka sepenuhnya. Ia tidak marah, > ia tidak tersinggung, ia tidak menuntut. Tetapi ia memberi, mengajak dan > bisa berbagi kegembiraan. > > Kisah anak sulung ini sebenarnya bukan untuk menunjukkan betapa sempitnya > pandangan hidupnya. Maka tak perlu dipakai menuduh-nuduh diri kita sendiri > atau orang di sekitar kita. Yesus juga tidak memakainya untuk membuat > karikatur orang Farisi dan Ahli Kitab. Ia mau mengajak mereka bernalar. > Gambaran itu dipakai untuk menonjolkan perhatian sang ayah. Mengenal tokoh > ini membuat orang bisa makin memikirkan kebesaran hati Tuhan. > > Riwayat anak bungsu dan anak sulung tadi juga membantu mengerti kebesaran > Tuhan. Ia mencintai si bungsu yang "pendosa" dan mengasihi si sulung yang > "orang yang kaku hati" itu. Dia tidak duduk mengadili atau menghukum. Ia > itu > Tuhan yang tergopoh-gopoh mendatangi orang yang remuk hatinya. Tidak tahan > Ia mendengar orang seperti itu menuturkan penyesalannya. Dipahaminya juga > kenapa orang marah melihat Ia memperlakukan pendosa seperti anak. Ia tidak > balik mencela. Ia berusaha bernalar dengan orang yang kurang puas itu. > Lihat, kita mestinya gembira, kan mendapat harta tambahan, dan tambahan ini > pemberianku bagimu - pahala yang kauinginkan sejak lama itu. > > -- > GudangMedia || MEDIA - Bertukar Informasi || > - > Site: > http://groups.google.com/group/gudangmedia > Blog: > http://gudangmedia.blogspot.com > Facebook - Lingga Yoni: > http://www.facebook.com/gudangmedia > - > -- ====================== Saya Cuma Rakyat Jelata Makanya Saya Pakai *HONDA* ====================== -- GudangMedia || MEDIA - Bertukar Informasi || - Site: http://groups.google.com/group/gudangmedia Blog: http://gudangmedia.blogspot.com Facebook - Lingga Yoni: http://www.facebook.com/gudangmedia -
