maksudnya...?

Pada 14 September 2010 13.17, nn <[email protected]> menulis:

>  InjMgBiasa XXIV tahun C 12 Sept 10 (Luk 15:1-32) TIGA PERUMPAMAAN
>
> Injil Minggu Biasa XXIV tahun C (Luk 15:1-32)
>
> TIGA PERUMPAMAAN: DOMBA TERSESAT, DIRHAM TERSELIP, ANAK HILANG.
>
> Kali ini bacaan dari Injil Lukas memuat tiga perumpamaan, yakni domba yang
> tersesat (Luk 15:1-7), disusul dengan perumpamaan mata uang yang terselip
> (ayat 8-10) dan perumpamaan anak yang hilang (ayat 11-32). Ketiga
> perumpamaan di atas ditampilkan sebagai tanggapan terhadap kaum Farisi dan
> ahli Taurat yang kurang senang melihat Yesus membiarkan para pemungut cukai
> serta para pendosa datang ikut "mendengarkan dia" seperti disebutkan dalam
> ayat 1-3. Maksudnya, membiarkan mereka mengikuti uraiannya mengenai ajaran
> Kitab Suci dan mulai menjadi muridnya. Memang, mendengarkan uraian Taurat
> bagi orang Yahudi bukanlah kegiatan yang bisa sembarangan diikuti. Mereka
> yang dianggap bukan termasuk orang baik-baik tidak diizinkan. Pemungut
> cukai
> dianggap tak pantas duduk mendengarkan ajaran Taurat. Pemungut cukai dicap
> sebagai orang yang menjual bangsa sendiri dengan bekerja memungut pajak
> dari
> sesama orang Yahudi bagi penguasa Romawi. Dosa mereka jauh lebih besar dari
> pada pelanggaran lain karena mereka terang-terangan ikut menindas umat
> Tuhan
> sendiri. Mereka dianggap berlaku seperti para penindas di Mesir dulu.
> Mereka
> tak layak mendapat pengampunan, apalagi mendengarkan uraian Taurat. Itulah
> sebabnya dalam ayat 1 "para pemungut cukai" disebut secara khusus sebelum
> "orang-orang berdosa". Tetapi Yesus membiarkan mereka datang mendengarkan
> pengajarannya! Orang-orang yang merasa diri saleh tak habis mengerti,
> bahkan
> tersinggung dan menggerutu - "bersungut-sungut" - melihat kelakuan Yesus.
> Kelonggarannya mengotori kegiatan suci ini, menyalahi adat kebiasaan. Para
> tokoh agama nanti akan bersetuju untuk menyingkirkan Yesus yang menjadi
> duri
> dalam daging bagi mereka. Kita tahu cerita selanjutnya. Namun, bagaimana
> ingatan murid-murid generasi pertama mengenai cara Yesus menanggapi
> penilaian orang Farisi dan para ahli Taurat tadi? Apa yang disampaikan
> dalam
> ketiga perumpamaan itu?
>
> BERSUNGUT-SUNGUT ATAU BERGEMBIRA?
>
> Tanggapan Yesus membuat orang berpikir. Ia mengajak orang yang tersinggung
> perasaannya tadi agar tidak terlalu bersikap kaku dan hanya melihat yang
> buruk-buruk saja. Mari kita pakai akal sehat.... begini lho duduk
> perkaranya! Mari kita lihat sisi lain. Untuk itu ia mengajukan pertanyaan
> retorik pada awal kedua perumpamaan yang pertama, yakni, "Siapa di antara
> kamu yang [kehilangan milik yang berharga] dan tidak [berusaha menemukannya
> kembali] dan [setelah menemukan] bersukaria dan mengajak orang lain
> bergembira?" Tentu saja tak ada yang tidak akan bertindak demikian. Kedua
> perumpamaan itu jelas-jelas ditujukan kepada orang-orang yang menggerutu
> tadi. Mereka dihimbau agar memakai akal sehat dan tidak membiarkan diri
> dikuasai perasaan kesalehan belaka. Perumpamaan yang ketiga lebih dalam
> lagi. Semua orang yang mempunyai anak dan saudara yang malang tapi mau
> berusaha kembali didorong agar bersedia meninjau kembali penilaian yang
> mereka pegang.
>
> Ketiga perumpamaan tadi menampilkan satu unsur yang sama, yakni kegembiraan
> mendapatkan kembali yang hilang, entah itu domba, mata uang, atau anak yang
> hilang. Kegembiraan ini kemudian dikabarkan kepada banyak orang. Pemilik
> domba memanggil para sahabat dan tetangganya dan mengajak mereka ikut
> bersukacita. Begitu juga perempuan yang menemukan kembali mata uangnya yang
> hilang. Secara tak langsung hendak dikatakan, mereka yang diajak ikut
> bergembira ialah kaum Farisi dan para ahli Taurat yang "bersungut-sungut"
> melihat Yesus membiarkan pemungut cukai dan pendosa mendengarkannya. Ayah
> anak yang kembali itu mengajak seisi rumah tangganya berpesta. Secara
> khusus
> ia mengajak anak sulung untuk ikut bergembira. Kita tidak tahu apa anak
> sulung dalam perumpamaan ketiga akan mau masuk rumah dan ikut berpesta.
> Kita
> tidak tahu persis apa orang-orang Farisi dan ahli Taurat mau mendengarkan
> Yesus. Tidak diceritakan lebih jauh. Hanya disodorkan sebagai bahan
> pertimbangan agar orang berkaca. Boleh jadi mereka malah makin mendongkol
> tapi tidak bisa menjawab karena mereka juga paham kekuatan warta ketiga
> perumpamaan tadi. Mereka yang dicap buruk, pendosa dan tak pantas itu bisa
> berubah dan sudah mulai berada pada jalan yang benar. Di lain pihak,
> orang-orang yang menganggap mereka tak patut diajak bergaul itu malah
> semakin mengeraskan hati sendiri. Orang-orang itu seperti si anak sulung
> yang tidak dapat melihat alasan kegembiraan ayahnya. Ia menutup diri.
> Menjauhi kegembiraan. Terus-terusan murung. Menyedihkan!
>
> DARI ZAMAN GEREJA AWAL
>
> Ketiga perumpamaan dalam Luk 15:1-32 mencerminkan dinamika dalam gereja
> awal. Para pengikut Yesus sering dipandang oleh orang Yahudi sebagai
> sebagai
> orang yang kurang taat pada ajaran agama turun-temurun. Maklum generasi
> pertama dan kedua umat kristen belum amat membedakan diri dengan umat
> Yahudi. Banyak orang dari kalangan ini merasa dijauhi orang-orang yang
> tadinya tidak memusuhi mereka. Sanak saudara, teman sekerja, lingkungan
> kini
> agak mengasingkan mereka. Keadaan ini mulai dirasakan di kalangan orang
> Yahudi yang kemudian menjadi pengikut para murid Yesus. Mereka tentu saja
> merasa terintimidasi dan bertanya-tanya apa sepadan menanggungnya. Mereka
> bertanya apa mereka itu sungguh "sesat" seperti anggapan sanak saudara dan
> kawan-kawan mereka. Injil Matius menjawab persoalan ini dengan perumpamaan
> domba yang hilang dalam Mat 18:12-14. Di situ ditegaskan bahwa Bapa tetap
> menyayangi mereka. Taruh kata mereka tersesat, mereka akan dicari sampai
> ketemu. Dalam Injil Matius perumpamaan itu ditujukan bagi orang Yahudi yang
> menjadi pengikut Yesus.
>
> Perumpamaan yang sama diolah Lukas bagi kelompok yang berbeda. Komunitas
> Lukas terdiri dari orang asal Yahudi dan bukan Yahudi. Golongan kedua ini
> makin bertambah besar dan melebihi yang pertama. Namun, kebiasaan-kebiasaan
> kerap kali masih digariskan oleh orang dari kalangan Yahudi. Bahkan mereka
> acapkali memandang orang lain dengan sikap curiga dan merendahkan. Mereka
> menganggap orang baru seperti murid yang tidak utuh komitmennya.
> Orang-orang
> baru ini dianggap "pemungut cukai" dan pendosa yang sebenarnya tak patut
> mendekat ke ajaran yang benar. Ditolerir, tapi tidak sungguh diterima.
> Tentu
> murid-murid asal luar itu merasa dianggap orang kelas dua, dicap tidak
> sepenuhnya mau menjadi murid dan masih tetap "kapir". Ketiga perumpamaan
> dalam Luk 15 itu disampaikan untuk menghibur mereka. Tuhan tidak menutup
> mata pada kenyataan bahwa mereka terpojok dan dipojokkan oleh
> saudara-saudara mereka sendiri. Penilaian seperti itu bahkan sudah
> dikenakan
> kepada Yesus sendiri. Ia dianggap mengotori diri bergaul dengan pendosa dan
> dengan para pemungut cukai sekalipun. Dalam konteks seperti inilah
> orang-orang yang memandang rendah saudara-saudara seiman itu digambarkan
> sebagai "kaum Farisi dan para ahli Taurat" dalam Luk 15:1-3. Sekalipun
> demikian mereka tidak dikecam, melainkan diajak agar melihat persoalannya,
> diajak bernalar.
>
> SERATUS EKOR DOMBA, SEPULUH DIRHAM MINUS SATU?
>
> Apa tak berlebihan dikatakan dalam perumpamaan ini pemilik domba
> meninggalkan kesembilan puluh sembilan ekor domba untuk mencari seekor saja
> yang tersesat? Untuk memahami gaya bicara ini baik diingat bahwa
> perumpamaan
> ini mulai dengan menyebutkan pemilik domba yang memiliki "seratus" ekor
> domba. Seratus itu kelipatan sepuluh, angka yang melambangkan keutuhan.
> Keutuhan dalam arti ukuran yang penuh, tak mungkin bertambah lagi. Memiliki
> "seratus" ekor domba berarti mempunyai kekayaan yang serba melimpah dan tak
> perlu ditambah lagi. Juga dalam perumpamaan kedua, "sepuluh" dirham berarti
> juga jumlah yang utuh, milik yang sebesar-besarnya yang dapat dipunyai.
> Tetapi kalau kurang satu saja maka tidak utuh lagi. Juga kehilangan satu
> dari seratus domba berati kekayaannya menjadi tak utuh lagi. Ada kekurangan
> yang mengusik. Maka jelas mengapa pemilik domba dan perempuan yang
> kehilangan satu saja dari miliknya itu berusaha keras untuk menemukan yang
> bakal membuat milik mereka utuh. Dan bila terjadi, pemilik domba atau
> perempuan itu bisa bergembira dan mengajak orang lain ikut bersukacita.
> Mana
> unsur yang menonjol?
>
> Bila dipandang secara menyeluruh, yang paling menonjol bukan perihal
> kehilangan, bukan pula kegembiraannya, melainkan usaha mencari yang bakal
> membuat milik utuh kembali. Baru bila berhasil, kegembiraan dapat
> dinikmati.
> Jadi usaha menemukan itulah yang hendak disampaikan dalam perumpamaan
> tentang domba yang hilang dan dirham yang terselip itu. Hendak digambarkan
> betapa besar perhatian Tuhan. Ia belum puas bila masih ada sebagian kecil
> umat manusia yang belum mengenalNya, serasa masih ada satu ekor domba yang
> sesat, masih ada dirham yang terselip, dan dalam perumpamaan ketiga, sang
> anak bungsu masih menderita hidup serba kekurangan di luar.
>
> Tidak mengherankan bila dikatakan pemilik domba itu "meninggalkan yang
> sembilan puluh sembilan" untuk mencari seekor yang hilang. Tak perlu
> ditafsirkan sebagai melalaikan jumlah yang besar tadi atau kurang
> beperhatian kepada anak sulung. Justru maksudnya untuk membuat jumlah yang
> besar tadi menjadi utuh, membuat anak sulung ikut menikmati keutuhan milik
> ayahnya. Baru bila berhasil, kegembiraan bisa diperoleh.
>
> DIMENSI ROHANI KERASULAN?
>
> Bila ketiga perumpamaan itu menggambarkan perhatian terhadap kemanusiaan,
> bisakah dikatakan bahwa Dia yang Yang Mahakuasa belum merasa lega dan dapat
> bersukacita sebelum miliknya utuh? Belum bisa betul-betul masuk dalam hari
> ketujuh dan memberkati seluruh ciptaan (bdk. Kej 2:1-2)? Bagaimana ikut
> memungkinkan Dia memperoleh ketenanganNya? Tentu saja jawaban bisa
> bermacam-macam. Kita yang terlibat dalam pewartaan di bidang pastoral akan
> merasa terdorong berusaha makin memperkenalkan kerahiman Tuhan. Bagi yang
> bergerak di bidang pendidikan tentu akan melihat dalam perspektif kerasulan
> mereka. Yang bergiat dalam kerasulan sosial, perumpamaan-perumpamaan ini
> akan memberi dorongan lebih lanjut bagi pemihakan pada kaum miskin. Bagi
> siapa saja dalam kerasulan apa saja, ketiga perumpamaan itu akan membantu
> menjernihkan motivasi dan tujuan kerasulan sendiri. Bagaimana penalarannya?
> Singkat saja. Bila dilacak lewat perumpamaan ini, tujuan kegiatan pastoral,
> kerasulan pendidikan, kerasulan sosial bukanlah terutama domba yang hilang,
> bukan dirham yang terselip, bukan anak yang hilang, melainkan kebahagiaan
> Tuhan sendiri. Dia-lah yang menjadi motivasi utama. Jadi bukan sekian
> banyak
> pertobatan yang bisa dipersembahkan kepadanya, bukan sekian dana yang bisa
> ditambahkan, bukan pula jumlah orang yang bisa dientas dari kemiskinan dan
> dibela hak-haknya, melainkan apakah Dia makin dimuliakan. Apa Dia itu kini
> betul-betul bisa dikatakan sebagai Tuhan yang bisa melihat ciptaanNya
> dengan
> lega karena merasa telah menyelesaikan - mengutuhkan karya ciptaanNya? Atau
> Ia masih gundah kendati kita bawa ke hadapannya barang-barang persembahan
> yang besar-besar tapi tidak membuatNya betul-betul merasa milikNya makin
> utuh?
>
> TENTANG "SI ANAK HILANG
>
> Ada seorang ayah yang mempunyai dua orang anak lelaki. Yang bungsu meminta
> bagian miliknya untuk mulai hidup di perantauan. Ia hanya berfoya-foya dan
> ketika ada kelaparan ia jatuh melarat dan terpaksa hidup tak pantas sebagai
> budak. Akhirnya ia memutuskan kembali. Ketika melihat anaknya dari
> kejauhan,
> sang ayah lari menjemputnya. Ia menyuruh orang-orang untuk memberinya jubah
> yang terbaik, cincin, dan sepatu - tanda ia diakui kembali sebagai anak,
> bukan diterima sebagai budak yang tak mengenakan hal-hal itu. Kedatangannya
> kembali juga dipestakan. Sementara itu anaknya yang sulung pulang dari
> ladang dan mendengar hal ihwal pesta itu. Ia tidak puas dan tak mau masuk
> ke
> rumah ikut pesta. Tetapi ayahnya keluar membujuknya. Anak sulung itu
> mengutarakan alasannya mengapa ia marah. Bertahun-tahun ia bekerja tanpa
> melanggar perintah tapi tak satu kali pun mendapat kesempatan bersuka ria
> dengan teman-temannya. Dan kini bagi anak pemboros dan tak berbakti itu ada
> pesta besar! Ayahnya membujuknya, anak sulung itu toh selalu ada bersamanya
> dan semua miliknya juga kepunyaannya.
>
> Perumpamaan ini diceritakan bukan untuk membuat orang bertobat seperti si
> anak hilang, atau agar kita tidak bersikap iri seperti si anak sulung.
> Perumpamaan biasanya diceritakan untuk mengajak berpikir mengenai hal-hal
> yang lebih dalam, bukan mengenai hal-hal yang bisa dikenakan begitu saja ke
> dunia sekitar, bukan pula untuk dituduhkan diam-diam dalam hati sekalipun
>
> Kisah saudara tua yang dengki akan kemujuran adiknya bukan hal yang baru
> bagi pendengar Kitab Suci pada zaman itu. Ada kisah Kain dan Abel, kisah
> Esau anak sulung Israel dan Yakub adiknya, ada kisah Yusuf dan
> saudara-saudara tuanya. Saudara tua umumnya ditampilkan sebagai tokoh
> konyol
> sedangkan yang muda tokoh yang beruntung. Perumpamaan anak hilang ini
> memang
> memakai motif kisah yang sudah dikenal itu. Tetapi arah kisahnya berbeda
> dengan yang biasa dikenal. Walaupun akhirnya anak yang bungsu mujur, anak
> yang sulung tidak kehilangan haknya seperti halnya Kain, Esau atau
> saudara-saudara tua Yusuf. Kehadiran kembali yang bungsu tidak menggeser
> yang sulung. Mengapa begitu? Karena sang ayah tidak membeda-bedakan kedua
> anaknya itu kendati perasaan anaknya yang sulung lain. Juga si bungsu yang
> kembali itu sebenarnya merasa sudah tak pantas menjadi anak lagi dan malah
> minta diperlakukan sebagai budak saja. Tapi persepsi masing-masing mereka
> ini akan diluruskan. Marilah kita dekati
>
> TEOLOGI "HUKUMAN" DAN "PAHALA"
>
> Bila orang melakukan kesalahan, maka layak ia terkena hukuman. Atas dasar
> prinsip itu, kebaikan mestinya mendatangkan pahala. Tanpa kita sadari
> gagasan ini sering mendasari cara memandang kejadian-kejadian dan melandasi
> penilaian terhadap orang lain. Perumpamaan ini disampaikan untuk
> menyorotinya.
>
> Apa kesalahan atau dosa si anak bungsu di mata abangnya dan di mata si
> bungsu itu sendiri? Ia dianggap bersalah karena tidak berlaku sebagai anak
> yang baik yang tinggal di dusun untuk meneruskan pekerjaan ayahnya membantu
> mengerjakan ladang. Ia pergi menuruti keinginannya sendiri. Ia jadi anak
> yang tak berbakti, lain daripada anak yang sulung. Lalu apa yang terjadi
> terhadap anak yang tak berbakti? Terhukum? Anak bungsu tadi memang
> mengalami
> nasib malang. Ini akibat kesalahannya? Pendengar atau pembaca akan tergoda
> melihat kelakuannya berfoya-foya di luar negeri sebagai penyebab
> kemelaratannya. Juga kelakuan tak berbakti kepada ayahnya membuatnya
> terhukum. Tetapi sebenarnya kemalangan si anak bungsu ditampilkan bukan
> sebagai hukuman dari atas, bukan pula konsekuensi keteledoran sendiri,
> melainkan akibat keadaan yang tak bisa dikontrol, yakni bencana kelaparan
> (ayat 14). Pencerita ulung seperti Lukas sengaja menampilkan hal penting
> seolah-olah sebagai unsur tambahan. Pembaca dibiarkan terkecoh
> pikiran-pikirannya sendiri, tapi nanti akan dituntunnya kembali. Bagaimana
> dengan abangnya? Ia tipe anak yang baik, yang bekerja terus, setia tinggal
> di tempat. Orang seperti ini dalam gagasan orang banyak tentu mendapat
> pahala. Sekali lagi orang tergoda menganggap keberuntungannya sebagai
> pahala
> dan si anak sulung itu sendiri memang berpikir dalam ukuran-ukuran itu. Ia
> mengeluh bahwa tak pernah mendapat kesempatan bersenang-senang walaupun
> bertahun-tahun melayani dan tak pernah melanggar perintah (ayat 29). Dan
> ketika si bungsu yang kembali itu dipestakan dan diberi sepatu, cincin, dan
> jubah kebesaran segala, wah, ini pahala atas dasar perbuatan apa? Kan anak
> itu pemboros dan bejat moralnya. Mestinya ia kena hukuman! Perumpamaan ini
> mengusik benak orang yang berpikir dalam perspektif teologi "hukuman dan
> pahala" seperti itu.
>
> SI BUNGSU DAN KEGEMBIRAAN SANG AYAH
>
> Ketika memutuskan untuk pulang, anak bungsu yang terlunta-lunta itu
> sebenarnya sudah siap bila nanti diperlakukan sebagai budak. Ia memang
> sudah
> kehilangan hak sebagai anak (ayat 19). Namun apa yang terjadi? Ketika
> melihat dari jauh anaknya ini datang kembali, sang ayah lari tergopoh-gopoh
> menyongsongnya. Bahkan sebelum anak itu sempat mengucap minta ampun, sang
> ayah sudah memeluk dan menciumnya (ayat 20). Dua hal ini tidak biasa.
> Masakan seorang tua yang terhormat seperti ayah itu berlari-lari? Mestinya
> paling banter ia hanya akan mengirim orang suruhan untuk menjemput. Masakan
> ia juga tidak membiarkan dulu anak itu mengutarakan rasa sesalnya terlebih
> dahulu (ayat 21)? Pembaca atau pendengar perumpamaan ini akan terhenyak dan
> berpikir. Dan di sinilah terletak warta perumpamaan itu. Kita diajak
> menyadari bahwa Tuhan yang diperkenalkan Yesus itu bertindak seperti sang
> ayah yang pengampun dan pemurah itu. Teologi "pendosa mesti dihukum" dan
> "orang baik mesti diberi pahala" tidak mencukupi sama sekali untuk
> memperkenalkan Tuhan yang seperti itu. Walau besar daya tariknya, teologi
> seperti itu tidak klop. Hanya akan membuat orang merasa terus-terusan
> menyesal seperti si bungsu, atau kesal melulu seperti si sulung.
>
> Perasaan tersinggung orang-orang Farisi dan Ahli Kitab (ayat 1-3)
> didasarkan
> pada etos teologi yang disorot tajam tadi. Yesus sang utusan Tuhan bergaul
> dengan orang-orang yang tersisih dan dicap pendosa karena ia mau
> menghadirkan Tuhan sebagai ayah yang baik, bukan Tuhan yang baru mau
> mengampuni setelah menghukum sampai orang kapok. Tapi gambaran ini membuat
> orang baik-baik tidak tenteram lagi. Mereka tersengat melihat Yesus guru
> terhormat itu bergaul dengan para pemungut pajak. Kaum baik-baik itu memang
> menjadi bahan pembicaraan orang. Lho nyatanya ada seorang guru terkenal
> yang
> tak menjauhi pendosa yang akrab dengan kami-kami ini, tidak seperti
> orang-orang yang mencibirkan kami itu.
>
> SANG AYAH DAN ANAK SULUNGNYA
>
> Anak sulung itu marah dan tidak bersedia masuk ke dalam rumah ikut
> berpesta.
> Lalu apa yang terjadi? Ayahnya keluar menemuinya dan membujuknya (ayat 28).
> Ia bersikap sama seperti terhadap anak yang kembali tadi. Ayah itu pergi
> menemui yang membutuhkannya dan tidak diam menunggu di dalam rumah. Namun
> demikian si anak sulung tetap kurang senang dan mengutarakan kekesalannya.
> Ia merujuk adiknya bukan dengan kata "adikku itu", melainkan dengan "anakmu
> itu" (ayat 30 "ho huios sou" - nadanya sinis, dan mungkin ketus, lebih
> daripada terjemahan idiomatik Indonesia "anak bapak"). Menarik, dalam
> perumpaman ini si anak sulung ini hanya tampil di luar rumah. Tidak pernah
> ia disebut ada di dalam rumah. Anak bungsu yang kembali tadilah yang
> bergerak dari luar ke dalam. Dan ayah mereka keluar masuk rumah untuk
> membawa masuk mereka! Lalu siapa yang sebenarnya menjadi anak yang sungguh?
> Bukankah ia yang ada di dalam rumah? Tetapi ayahnya tidak menegur anak
> sulungnya. Ia membujuknya dengan sabar "Nak!" (ayat 31) dan kemudian
> meyakinkannya bahwa anak sulung itu selalu bersama dengannya dan seluruh
> hartanya itu juga miliknya. Dengan demikian keberatan anak sulung itu tak
> lagi beralasan. Tapi ada satu hal lagi yang ingin ditambahkan. Ayah itu
> barusan ketambahan harta baru yang khusus, yakni "adikmu" (ayat 32 "ho
> adelphos sou") yang tadi mati - putus haknya sebagai anak - kini hidup
> kembali dan mau menjadi anak lagi, yang hilang dahulu kini kembali. Dengan
> memakai kata "adikmu" itu sang ayah sebenarnya ingin mengajak anak sulung
> itu berbagi harta baru, yakni kegembiraan menemukan kekayaan baru ini! Sang
> ayah ini tokoh yang secara lahir batin merdeka sepenuhnya. Ia tidak marah,
> ia tidak tersinggung, ia tidak menuntut. Tetapi ia memberi, mengajak dan
> bisa berbagi kegembiraan.
>
> Kisah anak sulung ini sebenarnya bukan untuk menunjukkan betapa sempitnya
> pandangan hidupnya. Maka tak perlu dipakai menuduh-nuduh diri kita sendiri
> atau orang di sekitar kita. Yesus juga tidak memakainya untuk membuat
> karikatur orang Farisi dan Ahli Kitab. Ia mau mengajak mereka bernalar.
> Gambaran itu dipakai untuk menonjolkan perhatian sang ayah. Mengenal tokoh
> ini membuat orang bisa makin memikirkan kebesaran hati Tuhan.
>
> Riwayat anak bungsu dan anak sulung tadi juga membantu mengerti kebesaran
> Tuhan. Ia mencintai si bungsu yang "pendosa" dan mengasihi si sulung yang
> "orang yang kaku hati" itu. Dia tidak duduk mengadili atau menghukum. Ia
> itu
> Tuhan yang tergopoh-gopoh mendatangi orang yang remuk hatinya. Tidak tahan
> Ia mendengar orang seperti itu menuturkan penyesalannya. Dipahaminya juga
> kenapa orang marah melihat Ia memperlakukan pendosa seperti anak. Ia tidak
> balik mencela. Ia berusaha bernalar dengan orang yang kurang puas itu.
> Lihat, kita mestinya gembira, kan mendapat harta tambahan, dan tambahan ini
> pemberianku bagimu - pahala yang kauinginkan sejak lama itu.
>
>  --
> GudangMedia || MEDIA - Bertukar Informasi ||
> -
> Site:
> http://groups.google.com/group/gudangmedia
> Blog:
> http://gudangmedia.blogspot.com
> Facebook - Lingga Yoni:
> http://www.facebook.com/gudangmedia
> -
>



-- 
======================
Saya Cuma Rakyat Jelata
Makanya Saya Pakai *HONDA*
======================

-- 
GudangMedia || MEDIA - Bertukar Informasi ||
-
Site: 
   http://groups.google.com/group/gudangmedia
Blog: 
   http://gudangmedia.blogspot.com
Facebook - Lingga Yoni:
   http://www.facebook.com/gudangmedia
-

Kirim email ke