Mengintip Dunia Malam Bandung
 Herlambang Jaluardi | Marcus Suprihadi | Jumat, 8 April 2011 | 12:02 WIB
   |
 <javascript:void(0)>
<http://twitter.com/home?status=%5BBisnis+Hiburan%5D+Mengintip+Dunia+Malam+Bandung+http://regional.kompas.com/read/2011/04/08/12022535/Mengintip.Dunia.Malam.Bandung>
<http://regional.kompas.com/read/2011/04/08/12022535/Mengintip.Dunia.Malam.Bandung#>
Share:
   KOMPAS/RONY ARIYANTo NUGROHO Gemerlap lampu menerangi kawasan hiburan
malam di Jalan Braga, Bandung, Jawa Barat, pada Kamis (7/4/2011) malam.
Hiburan malam adalah sisi lain yang menarik dari Kota Kembang Varijs van
Java itu.
1<http://regional.kompas.com/read/2011/04/08/12022535/Mengintip.Dunia.Malam.Bandung#>

*TERKAIT:*

   - Di Balik Kepalsuan
Panggung<http://regional.kompas.com/read/2011/01/16/04034249/Di.Balik.Kepalsuan.Panggung>
   - Waduh, "Striptease" di Sebelah Kantor
Polsek<http://regional.kompas.com/read/2010/02/16/21361777/Waduh.Striptease.di.Sebelah.Kantor.Polsek>
   - Nonton "Striptease" untuk
Apa?<http://regional.kompas.com/read/2009/10/28/16063581/Nonton.Striptease.untuk.Apa.>
   - Gelar Striptease, Izin Diskotek
Dicabut!<http://regional.kompas.com/read/2008/09/15/22242531/Gelar.Striptease.Izin.Diskotek.Dicabut.>

 *KOMPAS.com- *Hanya ada satu meja resepsionis, tanpa petugas yang berjaga
dalam ruangan sederhana berlampu remang-remang. Tengah pekan pada akhir
Januari lalu, saat malam masih muda, ruang tamu sebuah lokasi hiburan di
pusat Kota Bandung itu dihangatkan beberapa penerima tamu berbaju seksi yang
siap mengantar tamu ke etalase perempuan penghibur. Itulah secuplik dunia
malam Kota Bandung, yang gelegaknya terus berdenyut hingga dini hari, dan
tiap hari pula.
 Kalau sudah cocok dan enjoy dengan tamu, kami bisa saja janjian ketemu
setelah di ruang karaoke. Apa pun bisa terjadi,"
-- Vire

“Silakan, pak… Mari kita lihat,” tutur salah seorang dari penerima tamu,
sembari mengajak menyusuri lorong remang-remang, yang lebarnya hanya sekitar
satu meter. Perjalanan berakhir di luar sebuah kamar terang benderang,
dengan belasan perempuan berbaju seronok, berikut nomor di dada.

Di sinilah pasar hiburan malam Kota Kembang, yang menyediakan hiburan bagi
hasrat lelaki. Para tamu, tentu saja pria, mengintip para perempuan lewat
jendela nako. Para perempuan yang berdandan secantik dan seseksi mungkin itu
pun siap ”bertugas” jika nomornya terpilih dan dipanggil si penerima tamu.

Sembari menggaet tangan si tamu, perempuan penerima tamu itu gesit
mencarikan kamar, atau lebih tepat dinamai bilik. Luasnya hanya 2 x 2 meter
berikut kamar mandi di dalamnya. Dindingnya tripleks yang dicat kuning,
selaras dengan lampu remang-remang, satu-satunya lampu di situ, yang juga
berwarna kuning. Hanya ada satu kasur sederhana, serta meja di ujung kamar,
plus kaca rias.

Di kamar apa adanya itulah transaksi tiap malam berputar. Ris, sebut saja
demikian, adalah salah satu perempuan di rumah hiburan itu. “Saya sudah enam
bulan di sini. Sudah termasuk senior, karena yang lain kebanyakan baru
beberapa minggu,” kata wanita asal Cirebon berusia 36 tahun itu.

Sekali diservis, lanjut Ris, tamu dipungut Rp 250.000. Itu biaya untuk sewa
bilik beserta pelayanan si penghibur. Ris keberatan menyebut berapa rupiah
yang ia peroleh dari Rp 250.000 itu. Yang pasti, selain mendapat uang dari
biaya resmi, ia kerap menerima tip dari tamu yang puas dengan pelayanannya.
Nilainya, bervariasi antara Rp 100.000 hingga Rp 300.000, tergantung belas
kasih si tamu.

Selain ruang berkaca “etalase” itu, tersedia pula sebuah kafe sederhana yang
bisa berfungsi sebagai arena transaksi. Di kafe yang juga remang-remang itu,
pria yang datang, segera disambut perempuan yang siap menemani minum.
Percakapan apa yang terjadi selama minum? Bisa ke mana-mana. Termasuk, bisa
berakhir dengan kesesuaian harga, dan semuanya selesai di bilik mini itu.

Pusat hiburan ini tanpa embel-embel, apakah dia panti pijat, spa, atau
karaoke. “Kalau menyebut panti pijat, kan memang di sini tidak menawarkan
pijat,” tutur Ris. Semua aktivitas di pusat hiburan itu berakhir pukul 02.00
dini hari, dan dimulai pukul 12.00. Saat dimulai tengah hari itu, tutur Ris,
hanya satu-dua penghibur yang berjaga. “Maklum, di sini makin malam makin
ramai,” tambahnya lagi.

*Pemandu lagu*

Hiburan malam versi lain di Bandung, persis juga dengan di Jakarta, berupa
arena karaoke plus. Kata “plus” di sini mengacu pada istilah perempuan
pemandu lagu, biasa disingkat PL. Lagi-lagi, di tempat karaoke plus seperti
ini, tamu yang datang melulu pria. Itu tak lain karena semua pemandu lagu
adalah wanita. Kebanyakan tamu datang berombongan, tiga hingga lima orang.

Heri J, seorang karyawan swasta di Bandung, misalnya, kala itu datang di
karaoke plus “B” di kawasan Jalan Soekarno-Hatta, Bandung, bersama dua teman
kerjanya. “Sebelumnya sudah pernah sekali datang ke sini, jadi ini yang
kedua. Ya, sekadar melepas stres setelah berminggu-minggu bekerja. Wajar
kan,” ujar pria berkaca mata itu.

Mirip dengan arena hiburan di pusat kota yang telah disinggung di muka,
arena karaoke ini juga menyediakan “akuarium” PL yang segera ditawarkan
untuk dilihat para tamu. “Sekarang ini yang datang memang cuma sedikit.
Tetapi semuanya kualitas top,” kata seorang pria kenes mempromosikan delapan
perempuan di dalam kamar berkaca lebar itu. Setelah masing-masing memilih
pemandu lagu, mereka lalu masuk ke ruang karaoke, disusul pemandu yang sudah
dipilih.

Bertukar nomor telepon genggam antara pemandu lagu dengan para tamu, sudah
biasa. Setidaknya itulah yang dituturkan Vire, salah seorang pemandu lagu di
arena karaoke "B." "Kalau sudah cocok dan *enjoy *dengan tamu, kami bisa
saja janjian ketemu setelah di ruang karaoke. Apa pun bisa terjadi," tutur
Vire, yang baru berusia 26 tahun, dan sudah berstatus janda beranak satu.

Kisah sehari-hari seorang pemandu lagu juga diungkapkan Ativ. “Dua malam
berturut-turut saya mabuk, karena tamu banyak, dan mereka buka botol juga.
Eh, sekarang mabuk lagi,” kata Ativ, sambil menuangkan minuman berkadar
alkohol hampir 40 persen ke gelas tamu-tamunya. “Kalau mau minum, emang
pasnya sama saya. Dijamin asyik deh,” janji perempuan yang juga berusia
20-an tahun itu.

Ativ dan teman-temannya tidak hanya berkesempatan meminum minuman yang sama
dengan tamunya. Dia bebas memesan apa pun tanpa persetujuan tamu. Biasanya,
mereka memesan sebungkus rokok dan air mineral. Nanti-nanti, tambah lagi
lainnya. Sang tamu pun cuma bisa menandatangani bon pesanan Ativ tanpa tahu
perkiraan harganya. Selain itu, mereka juga bisa menyanyi lagu pilihan
sendiri.

Dengan honor PL ditetapkan Rp 240.000,00 per orang, rombongan tamu bisa
merogoh koceknya hingga Rp 2 juta lebih untuk menyanyi bersama PL selama 3
jam. Hitung saja harga minuman yang biasa ditawarkan dan disajikan di pusat
karaoke “B.” Misalnya, paket 2 Chivas seharga Rp 900.000, yang setelah
ditambah pajak dan biaya servis Rp 180.000, menjadi Rp 1.080.000,00. Satu
pitcher Coca Cola? Siapkan Rp 226.000.

Seiring dengan makin larutnya malam, perbincangan menghangat. Bermacam
pengakuan pun meluncur, baik dari tamu maupun PL. Ativ, misalnya, sempat
menuturkan betapa ia sedih mengingat hancurnya cita-cita masa kecil. “Sejak
kecil cita-cita saya sebenarnya ingin jadi dokter. Sampai sekarang pun masih
memendam cita-cita itu. Makanya, setelah adik saya diterima di Fakultas
Kedokteran, saya semangat membiayai. Ibu dan adik saya nggak tahu saya kerja
di sini,” katanya sembari mengusap air mata yang tiba-tiba menetes di pipi.

*Saat siang*

Bagaimana jika siang hari? Ada saja hiburan. Salah satunya berupa servis di
panti pijat eksklusif. Tarifnya? Tidak mahal-mahal amat. Untuk kamar
standar, atau yang termurah misalnya, cukup Rp 150.000. Bila sedang
beruntung, Anda bisa mendapat potongan harga Rp 50.000. Ada dua kelas kamar
lagi yang lebih mahal, yakni deluxe dan VIP. Kedua kamar ini “terisolir”,
tidak berjajar seperti kamar stándar, yang memungkinkan bisa mendengar suara
percakapan kamar sébelah.

Kamar stándar itu hanya 4 x 1 meter dengan suasana cukup privat, seperti
lampu remang-remang dan korden tertutup rapat. Setelah menunggu beberapa
saat di kasur pijat, gadis pemijat akan datang. Mengenakan rok mini dan blus
ketat, si gadis akan memperkenalkan diri dengan suara lembut plus manja,
sebelum memijat seluruh tubuh.

Seperti dituturkan Tin, bukan nama sebenarnya, pemijat asal Sukabumi yang
usianya belum menginjak 25 tahun. Ia bekerja di panti pijat eksklusif itu
sudah tiga bulan, bersamaan dengan pembukaan panti tersebut. “Waktu itu ada
saudara yang menginformasikan adanya lowongan di sini,” tutur Tin.

Setelah dilatih, Tin pun bekerja melayani tamu-tamu panti. “Enak nggak enak
sih,” ujar Tin yang berambut sebahu. Enaknya, jika si tamu mau diajak
ngobrol sehingga sembari ia memijat, tidak merasa bosan. Yang membuatnya
malas, bila tamunya hanya nyenyak tertidur. Jika itu yang terjadi, Tin akan
jenuh, karena selama dia memijat, total butuh 90 menit, ia hanya akan
mendengar dengkur si tamu.

Bandung, yang berhawa sejuk dan dikenal punya banyak aset wisata, mulai dari
wisata alam, ilmu pengetahuan, belanja, dan kuliner, juga mengandalkan
kawasan-kawasan hiburan untuk menggenjot pendapatan daerahnya. Dinas
Pendapatan Daerah (Dispenda) Kota Bandung mengklasifikan kawasan hiburan
dengan 15 kategori, antara lain meliputi bioskop, diskotek, karaoke, klab
malam, panti pijat, kolam renang, dan insidental kesenian (termasuk di
dalamnya konser musik).

Menurut Sekretaris Dispenda Kota Bandung, Hendar, realisasi penerimaan
daerah dari bisnis hiburan pada 2010, melebihi target. “Semula, penerimaan
dari hiburan pada 2010 kami targetkan Rp 25 miliar. Tetapi realisasinya
mencapai Rp 25,32 miliar. Makanya 2011 ini target dinaikkan menjadi Rp 30
miliar,” tutur Hendar.

Yang menarik, di antara beberapa pusat hiburan yang penghasilannya melebihi
target, dua di antaranya adalah karaoke dan panti pijat. Karaoke yang
ditargetkan menggaet Rp 7,9 miliar, ternyata meraih Rp 8,4 miliar. Sedangkan
panti pijat, dari target awal Rp 2,2 miliar, menerima Rp 2,3 miliar. Ini
Bandung, bung. Kota dengan turis yang terus berdatangan, dan mereka
nyata-nyata ingin terus dihibur. *(Herlambang Jaluardi/Adi Prinantyo)*
**

-- 
Aldo Desatura ® & ©
Twitter      = @desatura
YM           = desatura
Facebook  = [email protected]

================
Kesadaran adalah matahari, Kesabaran adalah bumi
Keberanian menjadi cakrawala dan Perjuangan Adalah pelaksanaan kata kata

-- 
GudangMedia || MEDIA - Bertukar Informasi ||
-
Site: 
   http://groups.google.com/group/gudangmedia
Blog: 
   http://gudangmedia.blogspot.com
Facebook - Lingga Yoni:
   http://www.facebook.com/gudangmedia
-

Kirim email ke