ndak tau bro. tapi saya percaya kalo ini kisahnya nyata....
kalaupun ternyata setenah fiktif, saya yakin maksudnya baik. minimal
utk menggugah sifat manusiawi kita agar semakin menjadi baik. JUJUR
adalah sikap yg terpuji menurut agama manapun. tinggal kitanya saja yg
mesti mempertahankan.   :-)

salam...


On 4 Nov, 19:11, [email protected] wrote:
> Ini kisah nyata bro?
> Sent from BlackBerry® on 3
>
> '
> -----Original Message-----
> From: Ki Djoko Lemot <[email protected]>
>
> Sender: [email protected]
> Date: Fri, 4 Nov 2011 16:15:39
> To: <[email protected]>
> Reply-To: [email protected]
> Subject: [GM:7453] OOT - Kisah Kejujuran
>
>  ** **
>
> *Subject:* Kisah Kejujuran****
>
> ** **
>
> Kejujuran sebuah kata yang sangat sederhana tapi sekarang menjadi barang
> langka dan sangat mahal harganya. Memang ketika kita merasa senang dan
> segalanya berjalan lancar, mengamalkan kejujuran secara konsisten tidaklah
> sulit, tetapi pada saat sebuah nilai kejujuran yang kita pegang berbenturan
> dengan perasaan, kita mulai tergoncang apakah tetap memegangnya, atau kita
> biarkan tergilas oleh keadaan. Sebuah kisah kejujuran yang sangat menyentuh
> hati, dua orang anak kecil menjajakan tisu di pinggir jalan. Membuat kita
> mesti belajar banyak tentang arti sebuah kejujuran.****
>
> <https://lh3.googleusercontent.com/-j-PA35Vv9N4/TXcz_w84fUI/AAAAAAAAAl...>
> ****
>
> Siang ini, tanpa sengaja, saya bertemu dua manusia super. Mereka
> makhluk-makhluk kecil, kurus, kumal berbasuh keringat. Tepatnya di atas
> jembatan penyeberangan Setia Budi, dua sosok kecil berumur kira-kira
> delapan tahun menjajakan tissue dengan wadah kantong plastik hitam. Saat
> menyeberang untuk makan siang mereka menawari saya tissue di ujung
> jembatan, dengan keangkuhan khas penduduk ****Jakarta**** saya hanya
> mengangkat tangan lebar-lebar tanpa tersenyum yang dibalas dengan sopannya
> oleh mereka dengan ucapan, “Terima kasih Oom!” Saya masih tak menyadari
> kemuliaan mereka dan cuma mulai membuka sedikit senyum seraya mengangguk ke
> arah mereka.
>
> Kaki-kaki kecil mereka menjelajah lajur lain di atas jembatan, menyapa
> seorang laki laki lain dengan tetap berpolah seorang anak kecil yang penuh
> keceriaan, laki-laki itu pun menolak dengan ****gaya**** yang sama dengan
> saya, lagi-lagi sayup-sayup saya mendengar ucapan terima kasih dari mulut
> kecil mereka. Kantong hitam tempat stok tissue dagangan mereka tetap
> teronggok di sudut jembatan tertabrak derai angin ****Jakarta****. Saya
> melewatinya dengan lirikan kearah dalam kantong itu, dua pertiga terisi
> tissue putih berbalut plastik transparan.
>
> Setengah jam kemudian saya melewati tempat yang sama dan mendapati mereka
> tengah mendapatkan pembeli seorang wanita, senyum di wajah mereka terlihat
> berkembang seolah memecah mendung yang sedang menggayuti langit ****Jakarta*
> ***.
>
> “Terima kasih ya mbak … semuanya dua ribu ****lima**** ratus rupiah!” tukas
> mereka, tak lama si wanita merogoh tasnya dan mengeluarkan uang sejumlah
> sepuluh ribu rupiah.
>
> “Maaf, nggak ada kembaliannya … ada uang pas nggak mbak?” mereka
> menyodorkan kembali uang tersebut. Si wanita menggeleng, lalu dengan
> sigapnya anak yang bertubuh lebih kecil menghampiri saya yang tengah
> mengamati mereka bertiga pada jarak empat meter.
>
> “Oom boleh tukar uang nggak, receh sepuluh ribuan?” suaranya mengingatkan
> kepada anak lelaki saya yang seusia mereka. Sedikit terhenyak saya merogoh
> saku celana dan hanya menemukan uang sisa kembalian food court sebesar
> empat ribu rupiah. “Nggak punya!”, tukas saya. Lalu tak lama si wanita
> berkata “Ambil saja kembaliannya, dik!” sambil berbalik badan dan
> meneruskan langkahnya ke arah ujung sebelah timur.
>
> Anak ini terkesiap, ia menyambar uang empat ribuan saya dan menukarnya
> dengan uang sepuluh ribuan tersebut dan meletakkannya kegenggaman saya yang
> masih tetap berhenti, lalu ia mengejar wanita tersebut untuk memberikan
> uang empat ribu rupiah tadi. Si wanita kaget, setengah berteriak ia bilang
> “Sudah buat kamu saja, nggak apa..apa ambil saja!”, namun mereka berkeras
> mengembalikan uang tersebut. “Maaf mbak, cuma ada empat ribu, nanti kalau
> lewat sini lagi saya kembalikan !”
>
> Akhirnya uang itu diterima si wanita karena si kecil pergi meninggalkannya.
> Tinggallah episode saya dan mereka. Uang sepuluh ribu digenggaman saya
> tentu bukan sepenuhnya milik saya. Mereka menghampiri saya dan berujar “**Om
> **, bisa tunggu ya, saya ke bawah dulu untuk tukar uang ke tukang ojek!”
>
> “Eeh … nggak usah … nggak usah … biar aja … nih!” saya kasih uang itu ke si
> kecil, ia menerimanya, tapi terus berlari ke bawah jembatan menuruni tangga
> yang cukup curam menuju ke kumpulan tukang ojek. Saya hendak meneruskan
> langkah tapi dihentikan oleh anak yang satunya, “Nanti dulu **Om**, biar
> ditukar dulu … sebentar.”
>
> “Nggak apa apa, itu buat kalian” lanjut saya. “Jangan … jangan oom, itu
> uang oom sama mbak yang tadi juga” anak itu bersikeras. “Sudah … saya
> ikhlas, mbak tadi juga pasti ikhlas !”, saya berusaha membargain, namun ia
> menghalangi saya sejenak dan berlari ke ujung jembatan berteriak memanggil
> temannya untuk segera cepat.
>
> Secepat kilat juga ia meraih kantong plastik hitamnya dan berlari ke arah
> saya. “Ini deh om, kalau kelamaan, maaf ..”. Ia memberi saya delapan pack
> tissue. “Buat apa?”, saya terbengong “Habis teman saya lama sih oom, maaf,
> tukar pakai tissue aja dulu”. Walau dikembalikan ia tetap menolak.
>
> Saya tatap wajahnya, perasaan bersalah muncul pada rona mukanya. Saya kalah
> set, ia tetap kukuh menutup rapat tas plastik hitam tissuenya. Beberapa
> saat saya mematung di ****sana****, sampai si kecil telah kembali dengan
> genggaman uang receh sepuluh ribu, dan mengambil tissue dari tangan saya
> serta memberikan uang empat ribu rupiah. “Terima kasih **Om**!”..mereka
> kembali ke ujung jembatan sambil sayup sayup terdengar percakapan, “Duit
> mbak tadi gimana ..?” suara kecil yang lain menyahut, “Lu hafal
> ****kan****orangnya, kali aja ketemu lagi ntar kita kasihin …….”.
>
> Percakapan itu sayup sayup menghilang, saya terhenyak dan kembali ke kantor
> dengan seribu perasaan. Tuhan, hari ini saya belajar dari dua manusia
> super, kekuatan kepribadian mereka menaklukan Jakarta membuat saya trenyuh,
> mereka berbalut baju lusuh tapi hati dan kemuliaannya sehalus sutra, mereka
> tahu hak mereka dan hak orang lain, mereka berusaha tak meminta minta
> dengan berdagang tissue.
>
> Dua anak kecil yang bahkan belum balig, memiliki kemuliaan di umur mereka
> yang begitu belia. Kejujuran adalah mata uang yang berlaku dimana-mana. Apa
> yang bukan milik kita, pantang untuk kita ambil.****
>
> ** **
>
> --
> GudangMedia || MEDIA - Bertukar Informasi ||
> -
> Site Milis:
>    http://groups.google.com/group/gudangmedia
> Blog:
>    http://gudangmedia.blogspot.com
> Facebook Page:
>    http://www.facebook.com/MilisGM
> Twitter:
>    http://twitter.com/MilisGM
> -
>
>
>
>  image001.jpg
> 74KTampilkanUnduhan

-- 
GudangMedia || MEDIA - Bertukar Informasi ||
-
Site Milis: 
   http://groups.google.com/group/gudangmedia
Blog: 
   http://gudangmedia.blogspot.com
Facebook Page:
   http://www.facebook.com/MilisGM
Twitter:
   http://twitter.com/MilisGM
-

Kirim email ke