sumbernya kalo gak salah dari blognya mas Hanung yang di multiply..udah pernah baca koq...
kira-kira Husnul Khatimah masuk kategori ini gak yah "Tetapi banyak diantara mereka sudah menganggap 'Film' adalah produk sekuler. Oleh sebab itu banyak diantara mereka tidak mau ikut casting. Saya pernah membaca satu hadist, jangankan membuat film, menggambar manusia saja hukumnya Haram. Nanti di Neraka hasil gambar yang kita buat harus kita hidupkan. Kalau tidak bisa, Malaikat Jibril akan mencambuk kita dengan cambuk api. " 2008/2/21 vina_atuh <[EMAIL PROTECTED]>: > Ayat-Ayat CInta .............. > > Aku mulai sadar bahwa tidak mudah membuat film agama. Itulah kenapa > ibuku dulu berpesan kalau kamu sudah bisa membuat film, buatlah film > tentang agamamu: Islam. Awalnya aku cuma tersenyum mendengar kata- > kata > ibuku. Senyum yang menyangsikan. Sebab pada waktu itu buatku film > agama tidak lebih dari sekedar petuah-petuah yang membosankan. Lelaki > berpeci dengan baju koko, bertasbih, kadang berewokan, mulutnya > nerocos soal ayat dengan cara menghadap kamera. Membuat dirinya > tampak > suci dengan mengumbar ayat-ayat Quran. Ah, tidak terbayang olehku > sebuah film agama. > Aku terjun membuat film Cinta: Brownies, Catatan Akhir Sekolah, > Jomblo, dsb ... dsb ... Tapi aku tetap yakin bahwa suatu saat akan > datang masa aku membuat film tentang agama. > Alhamdulillah, benar. MD Entertainment menawari membuat Film > Ayat-Ayat Cinta (AAC). > 'Kenapa anda membuat film ini?' > Tanyaku > 'Sederhana. Pertama, Ini film dari Novel best seller. Kedua, penduduk > indonesia 80 persen muslim. Kenapa saya tidak membuat film tentang > mereka? Kalau saya minta 1 persen dari 80 persen masak tidak bisa.' > 1% dari 80% penduduk muslim Indonesia berarti sekitar 2 juta > penonton. dikalikan 10 ribu per tiket. Berarti pendapatan kotor 20 > milyar. Kalau bujet produksinya 10 milyar, keuntungan yang didapat 10 > milyar. > > Lalu aku mulai memasuki tahap persiapan dan riset. > Wallohu ... Aku melihat islam dari dekat sekali. Sangat dekat. Di > Kairo, aku menatap Menara Azhar, aku menyentuh dinding dan lantai > Azhar university, aku mencium bau apek baju-baju dan karpet mahasiswa > Alzhar tetapi memiliki roman > muka bersih dan santun. Aku melihat keikhlasan mereka saat bersujud > diatas sajadah buluk. Bibir mereka pecah-pecah oleh panas sekaligus > dingin hawa Kairo, tetapi dibalik bibir pecah itu terlantun dzikir > panjang menyebut: Alloh ... Alloh ... > Lalu aku melihat seorang syaih duduk bersila dihadapan > murid-muridnya. 'Tallaqi' mereka menyebutnya. Aku mendengar seorang > melantunkan ayat-ayat Al quran di sudut masjid. Dan juga di pinggiran > jalan. Seolah quran bagaikan bacaan novel. Allohu Akbar ... Allohu > Akbar. Inikah caramu membuatku dekat dengan agamaku, Ibu? > Darahku menggelora membuat mataku terbelalak. Islam sangat indah. > Islam sangat eksotis. Tapi orang-orang islam seperti tidak mengerti > semua itu. Orang-orang Islam di Jakarta lebih memilih jalan-jalan ke > eropa daripada ke Kairo. > 'Saya akan membuat film ini eksotis, pak' begitu kata saya ke > producer. > Dan mulailah > persiapan dimulai. Semangatku menggelora. Aku baca buku-buku tentang > Fiqih dan sunnah. Aku libatkan mahasiswa Al Azhar untuk > mendampingiku. > Aku sangat hati-hati sekali melakukan ini agar apa yang tertulis > dalam > novel dengan indah pula tersampaikan lewat gambar. Sebuah film yang > lembut, yang indah, yang suci tergambar di depan mataku dan aku yakin > sekali bisa mewujudkannya. > Namun semua impianku itu tidak begitu saja mudah diwujudkan. > Pertama kali berita tentang pembuatan film AAC tersebar, halangan > pertama datang justru dari pembaca. Diantara banyak yang berharap, > mereka juga menyangsikan, sinis, dan mencemooh. Bahkan ada yang > bilang > : 'Wah, sayang sekali novel sebagus ini akan difilmkan. Jadi ill > Feel, > deh'. ada juga yang bilang 'Tidak pernah aku lihat Novel yang di > filmkan hasilnya bagus, sekalipun Harry Potter. Apalagi ini.' > > Kami tahu bahwa film ini harus > dibuat dengan hati-hati sekali. Kami juga tidak begitu saja memilih > pemain hanya semata-mata ganteng dan 'menjual'. Karena itu kami > menggandeng ketua PP Muhammadiyah Din Syamsudin sebagai penasehat > kami. > Sebelum aku melakukan casting, aku berdiskusi dulu dengan kang Abik. > Kang abik sangat concern dengan sosok Fahri. Dia harus turut serta > memilih tokoh Fahri. Semula kami membuka casting di > pesantren-pesantren . Tetapi hasilnya Nol. Bukan berarti para santri > tidak ada yang ganteng dan pintar seperti fahri. Tetapi banyak > diantara mereka sudah menganggap 'Film' adalah produk sekuler. Oleh > sebab itu banyak diantara mereka tidak mau ikut casting. Saya pernah > membaca satu hadist, jangankan membuat film, menggambar manusia saja > hukumnya Haram. Nanti di Neraka hasil gambar yang kita buat harus > kita > hidupkan. Kalau tidak bisa, Malaikat Jibril akan mencambuk kita > dengan > cambuk api. > Kami melakukan casting lebih dari 5 bulan. Semua yang ikut casting > adalah pemain-pemain > terkenal. Tapi diantara mereka banyak terjebak pada tuntutan atas > 'Kesucian Fahri'. Lalu ditengah keputusasaan kami datang seorang > lelaki. Ganteng, tetapi tidak sombong (tidak merasa dirinya ganteng). > Sering kita lihat di Mal-Mal, banyak lelaki pesolek, sadar sekali > bahwa dirinya ganteng. Tetapi lelaki ini tidak . Dia sangat santun. > Bahasanya pun santun. Ketika berucap Alloh, dia agak-agak canggung. > Bahkan tidak fasih seperti ustadz. Pada saat dia sholat aku melihat > gerakannya jauh dari sempurna. Tetapi lelaki itu punya mata yang > didalamnya mengandung semangat belajar. Dia adalah Fedi Nuril. Aku > berdiskusi dengan kang Abik. Terjadi tarik ulur dan perdebatan > panjang. Akhirnya kita sepakat memutuskan dia yang main sebagai > Fahri. > Alasanku adalah, Fahri bukan lelaki sempurna. Tapi yang membuat Fahri > tampak sempurna karena dia sadar bahwa dirinya tidak sempurna. > Keputusan Fedi Nuril sebagai Fahripun mengundang banyak kesangsian di > kalangan pembaca fanatik > AAC, terutama di > Malaysia . Karena film Fedi Nuril sebelumnya menampilkan Fedi ciuman > dengan perempuan bukan muhrim. Fedi pun mengakui itu. Yang membuat > aku > terharu, Fedi menganggap film AAC sebagai media dia buat dekat dengan > Islam. Belajar kembali tentang Islam. Karena film ini, Fedi jadi > rajin > membuka-buka lagi buku tentang Islam. Bahkan Fedi menyadari segala > tingkah lakunya yang tidak Islami selama ini setelah memerankan > Fahri. > Sungguh, baru kali ini aku rasakan dampak film yang begitu besar > mempengaruhi keimanan seseorang. Terima kasih kang abik. terima kasih > Ibu. > Pada saat kami mencari sosok Aisha dan Maria, semula kami bersepakat > untuk mencari pemain Mesir. Tetapi setelah kami melakukan riset > disana, sangat mengagetkan. Perempuan-perempuan Mesir lebih tua dari > umurnya. Aku mengcasting seorang perempuan > mesir bernama Roughda untuk berperan sebagai Aisha. Tidak hanya > cantik, tetapi mainnya luar biasa. Tetapi setelah di sejajarkan > dengan > Fahri, terlihat Roughda lebih pas sebagai kakaknya daripada isteri > Fahri. Padahal umurnya lebih muda 3 tahun dari Fedi Nuril. Lalu kami > mencari pemain dengan umur 8 tahun lebih muda dari Fedi. Pada saat > kami sejajarkan, sangat pas. Tetapi disaat dia berdialog tentang > perkawinan, tidak bisa dipungkiri 'kedewasaannya' tidak tampak. Alias > belum matang. Kami bingung dan akhirnya kami sepakat untuk mencari > pemain indonesia saja. > Tidak gampang mencari pemain indonesia yang cantik sekaligus > solihah. Pak Din Syamsudin berpesan kalau bisa pemain Aisha > kesehariannya ber jilbab. Lihatlah siapa artis kita yang bertampang > Bule yang seperti itu. Hanya Zaskia Meca saja yang berjilbab dan > cantik. Selebihnya tidak ada. Sementara itu Zascia tidak bertampang > bule. Dia sangat sunda. Pernah kita meng casting Nadine Candrawinata. > Dia sangat cantik dan bermain bagus. Dangat cocok pula berdampingan > dengan Fedi Nuril. Tapi Nadine bukan Muslim. Padahal Nadine sudah mau > bermain sebagai perempuan Muslim. Aku pernah berdiskusi panjang > dengan > kang abik soal itu. Aku bilang padanya ... > 'Suatu hal yang unik, ketika tokoh Maria yang kristen dimainkan oleh > seorang muslim, sementara tokoh Aisha yang Islam dimainkan seorang > kristen. Ini akan memperlihatkan sikap toleransi dan demokratisasi > dalam Islam seperti di India .' > Tetapi kang abik dan pak Din Syamsudin menyarankan untuk jangan > bertaruh terlalu besar di film ini. Masyarakat Islam di Indonesia > berbeda dengan India . Di India, masyarakat moslem dan Non Moslem > sudah terdidik tingkat kedewasaan dalam toleransi, sementara di > Indonesia belum. Akhirnya dipilihlah Ryanti sebagai Aisha dan Carrisa > Putri sebagai Maria. > Ketiga pemain itu dikursuskan bahasa arab secara > privat untuk mendalami kehidupan Muslim di kairo. Mereka sangat > antusias. Namun antusiasme itu harus berhadapan dengan kenyataan > bahwa > mereka juga punya kesibukan lainnya. Ryanti sebagai VJ di MTV dan > Carrisa bermain sinetron. Ryanti yang bagiku sangat keteter ketika > berperan sebagai Aisha. Asiha adalah sosok yang memiliki beban berat. > Sementara Ryanti sebagai VJ MTV harus selalu tampak riang dan ringan. > Sering sekali benturan itu membuat proses pendalaman karakter tidak > sempurna. Aku frustasi sendiri. Tetapi aku ingat, bahwa di Film ini > kesabaranku benar-benar di uji. Impianku mewujudkan keindahan dan > kedalaman Islam terbentur oleh kenyataan sebaliknya: Ringan, Riang, > Hedonistik dan Pop. Apalagi ketika producer tiba-tiba berubah pikiran > melihat kenyataan penonton Film Indonesia banyak di dominasi > anak-anak muda yang pop, ringan dan tidak menyukai hal-hal bersifat > perenungan. Dia lantas ingin mengubah karakterr film AAC menjadi > sangat pop seperti Kuch Kuch Hotahai ... Tuhanku! Tuhanku! selamatkan > film ini ... > Tidak jarang aku berperang mulut dengan producerku ketika meminta > adegan Talaqi dibuang. Karena boring dan membuat penonton mengantuk. > Lalu beberapa adegan yang bersifat perenungan, seperti pada saat > Fahri > dipenjara dan menemukan hakikat kesabaran dan keikhlasan dari seorang > penghuni penjara yang absurd (dalam novel digambarkan sebagai seorang > professor agama bernama Abdul Rauf), Tetapi di Film saya adaptasi > sebagai sosok imajinatif, bergaya liar, bermuka buruk tetapi memiliki > hati bersih dan suara yang sangat tajam melafatskan kebenaran. Semua > adegan itu diminta untuk dibuang atau dikurangi dan lebih > mementingkan > adegan romans seperti AADC ataupun Kuch Kuch Hotahai ... > Sabar ... Sabar ... Ikhlas ... ikhlas!!! > begitulah yang aku dapatkan di film > ini. Film ini tidak hanya mampu merobah pandanganku tentang Film. > Film ini mampu dan sudah merobah pandangan hidupku: tentang agama, > kesetiaan, kerjakeras, komitmen, dan ... cinta. Berkali-kali aku > berucap syukur yang besar kepada Tuhanku yang sudah memberikan aku > jalan menuju kedewasaan. Berkali-kali aku berucap terima kasih kepada > Kang Abik yang sudah secara tak langsung mempercayaiku menyutradarai > film ini, dimana telah membuatku kembali merasa dekat dengan Islam > yang indah, bersahaja dan penuh dengan toleransi. Dan terakhir, > berkali-kali aku berucap syukur kepada Ibuku yang telah berpesan > untuk > membuat film tentang agama. Sekarang aku mengerti, kenapa Kau > berpesan > begitu Ibu. Tidak lain hanyalah untuk membuatku selalu dekat dengan > Islam ... > La haula wa kuwwata illa billahi ... > > Oleh : Hanung Bramantiyo > > begitulah kata sutradaranya. ini dah lumayan lama ada di komputer v. > tapi v juga gatau dari mana. > jadi buat temen2 yang baik... dalam setiap pembuatan film or > sinetron, sutradara tergantung pada keputusan produser coz dia yang > punya duit buat mamproduksi program tersebut. termasuk juga > penentuan or persetujuan siapa aja para pemainnya. > apalagi klo produsernya bukan muslim. yang ngaku muslim aja banyak > yang mementingkan keuntungan mereka sendiri, ya kan?! > emang gak gampang siy buat film dari novel best seller. > tapi kalu diliat dari pernyataan di atas, v siy ambil positifnya > ajah. mudah2an para pemainnya dan semua crew yang terlibat dalam > pembuatan film tersebut benar2 belajar tentang keindahan islam. > mudah2an juga Allah mengizinkan hidayah hinggap di hati mereka. > klopun enggak, yach minimal dengan tuntutan karakter dalam film ini > mereka dah mau belajar sedikit tentang Islam, agama mereka sendiri. > mudah2an ini jadi pioner perkembangan film islam di Indonesia. gak > nutup kemungkinan untuk ke depannya, mungkin ada beberapa ikhwah > yang punya talenta akting or nulis novel or jadi sutradara atau > bahkan diberikan rezeki berlebih sehingga bisa bikin production > house sendiri, yang nantinya akan muncul film yang benar2 sesuai > dengan ajaran Islam. amiiin... > semoga ini bisa jadi perenungan buat kita semua sehingga kita bukan > hanya bisa mengeritik, tapi juga harus punya angan2 dan cita2 untuk > memperbaiki perfilman (atau hal apapun)di Indonesia, dan semoga > Allah mengizinkan kita untuk melakukannya.insya Allah... amin... > > > -- Fathi Fadhlur Rabbani Material Physics - Physics Department Institut Teknologi Sepuluh Nopember phone +62 31 593 1254 mobile +62 856 31 67 049 www.kuantumuslim.wordpress.com
