Dear HUers,

Sabtu kemaren ketika iseng browsing internet saya kebetulan menemukan
artikel ini. Artikel ini ditulis oleh Gede Prama. Saya mengenal Gede Prama
sebatas buku2 yang saya baca & ketika itu tulisan beliau tidak beda jauh
dengan motivator2 lainnya. Kala itu beliau masih menjabat sebagai CEO di
sebuah perusahaan & sekarang ketika beliau sudah memutuskan utk mengikuti
keinginan anaknya utk kembali ke kampung halamannya di Bali & menetap di
desa meninggalkan gemerlap kota jakarta, pekerjaan & jabatannya, saya
menemukan tulisan beliau sangat jauh berbeda, lebih membumi & mengandung
makna2 spiritual yang dalam .. setidaknya bagi saya he..he..he... Berikut
artikel yg saya copy dr Kompas online & semoga berguna bagi HUers semua.

/Haris

Lukisan Indah Kebijaksanaan
Sabtu, 15 November 2008 | 00:28 WIB

Gede Prama

Terowongan gelap tidak berujung, mungkin itu metafora kehidupan zaman ini.
Kekayaan kehidupan anak-anak biasanya
harapannya akan masa depan. Dan, saat tua tidak sedikit yang membanggakan
masa lalu.

Keadaannya mirip kucing yang mengejar bayangannya sendiri. Pada pagi hari
(masa muda) bayangannya ada di barat
dikejar dan tidak ketemu. Pada sore hari (umur tua) bayangannya ada di
timur, lagi-lagi dikejar juga tidak ketemu.
Sadar bahaya ini, ada yang memotong lingkaran kegelapan dengan meyakini
kehidupan berawal pada masa sekarang dan
berakhir pada masa sekarang.

Masa lalu telah berlalu, masa depan belum datang. Namun, melalui tindakan
pada masa kini, keduanya bisa dibuat
kian terang atau gelap. Sebutlah Ibu yang sudah meninggal, tetapi belum
sempat dibahagiakan. Masa lalu membuat
kehidupan kian suram jika masa kini diisi penyesalan, rasa bersalah, tidak
bisa memaafkan diri sendiri. Sebaliknya
ini bisa menjadi awal terang jika pengalaman tidak mengenakkan ini dijadikan
titik awal untuk banyak membahagiakan
orang.

Di Tibet, makhluk hidup diterjemahkan dalam bahasa Inggris menjadi mother
being. Terutama karena diyakini jika
semua makhluk pernah menjadi Ibu kita pada masa lalu. Dengan demikian, bila
rajin membahagiakan orang atau makhluk
lain, kita juga sudah membahagiakan ibu. Selain itu, membahagiakan orang
adalah salah satu persiapan terbaik
menyongsong masa depan. Inilah transformasi spiritual, rasa bersalah akan
masa lalu dan takut akan masa depan,
diolah sekaligus dinikmati hari ini.

Guru sebagai cahaya

Inilah tanda-tanda manusia yang mulai terbimbing. Dalam setiap kejadian
(menyenangkan maupun menjengkelkan) ada
cahaya bimbingan. Di Timur, ia disebut munculnya guru simbolik. Tidak ada
kebetulan, semua hanya bimbingan. Cuma,
sebagian bisa dimengerti kini, sebagian dimengerti nanti.

Sayang, amat sedikit manusia yang lahir di zaman ini memiliki berkah
spiritual berjumpa guru. Untuk itu, bagi
orang-orang mengagumkan, seperti Jalalludin Rumi, perjumpaan dengan guru
adalah berkah spiritual yang amat
disyukuri. Segelintir sahabat yang berjumpa guru menyebutkan, hanya dengan
mendengar namanya sebagian ketakutan
akan neraka langsung sirna.

Karena itu, tidak sedikit pencari yang menghabiskan waktu, tenaga, dan dana
untuk mencari guru. Idealnya, pencarian
dimulai dengan berjumpa guru hidup. Lalu perintah-perintah guru hidup ini
diperkaya guru dalam bentuk buku suci.
Ia yang sudah memadukan guru hidup dengan buku suci lalu berjumpa guru
simbolik dalam keseharian. Puncaknya tercapai
saat ketiga guru ini menjelma menjadi guru dalam diri. Orang jenis ini
seperti membawa lentera ke mana-mana. Tidak
ada lagi kegelapan yang tersisa.

Kematian

Bagi mereka yang belum diberkahi perjumpaan dengan guru hidup, disarankan
menjaga diri dengan etika. Praktik serius
etika ini mungkin membimbing seseorang menjumpai guru simbolik. Di antara
banyak guru simbolik, kematian adalah guru
simbolik paling agung.

Perhatikan pendapat Dzogchen Ponlop dalam Mind beyond death: "in order to
die well, one must live well". Agar
matinya indah, belajarlah hidup secara indah (baca: hidup penuh cinta).

Maka, tidak sedikit guru meditasi yang menggunakan kematian sebagai sumber
air perenungan yang tidak habis-habis.
Pertama-tama meditator membayangkan tubuhnya mati. Badan kaku, membiru,
orang-orang dekat menangis dan seterusnya.

Diterangi cahaya keikhlasan, kematian terlihat sebagai kembalinya unsur
badan ke rumah aslinya. Unsur tanah kembali
ke tanah, unsur air kembali ke air, unsur api kembali ke api, unsur udara
kembali ke udara, unsur ruang kembali ke
ruang. Dalam bahasa tetua Bali, kematian disebut mulih ke desa wayah (pulang
ke rumah sesungguhnya).

Ia yang merenungkan kematian menjadi lebih tenang, santun, baik, dan rendah
hati. Bukankah ketenangan dan kebajikan
adalah teman paling berguna dalam kematian? Selain itu, kematian juga
berubah wajah menjadi guru simbolik yang
membimbing menapaki tangga kemuliaan. Mungkin ini sebabnya Santo Paulus
mengemukakan l die every day.

Bila boleh jujur, tiap hari kita mengalami kematian. Seusai sarapan, kita
berpisah dengan rasa enak (matinya rasa
enak di mulut). Berangkat ke kantor, manusia berpisah dengan rasa nyaman di
rumah (matinya rasa nyaman tinggal di
rumah). Mengakhiri meditasi, meditator berpisah dengan keindahan konsentrasi
(matinya kedamaian meditasi). Dalam
wajahnya yang mendasar, kematian menakutkan karena ada perpisahan. Bila
terbiasa dengan perpisahan sehari-hari,
perpisahan melalui kematian akan menjadi suatu yang biasa.

Meminjam ajaran Tibetan book of the dead, wajah kematian terindah bertemu
saat semua tahapan antara kematian dan
kehidupan berikutnya (bardo) terlewati secara tenang-seimbang. Maka,
disarankan untuk memperlakukan semua kejadian
dalam hidup (dipuji-dicaci, sukses-gagal, meditasi sampai mimpi) sebagai
bardo. Tidak ada apa- apa, yang menyenangkan
maupun menakutkan hanya pancaran kesadaran murni. Sebagaimana dinyanyikan
berulang-ulang oleh pertapa Milarepa: "death
is not a death for a yogi; it is a little enlightenment". Dalam kehidupan
pertapa, kematian muncul tanpa ditemani
ketakutan, ia hanya sebuah pengalaman kecil pencerahan.

Inilah ujung terowongan kegelapan. Lalu muncul cahaya bimbingan. Kegagalan,
ketakutan, bahkan kematian pun
memancarkan sinar terang pengertian. Karena ketakutan akan kematian adalah
ibu semua ketakutan, maka begitu
ia lenyap, ketakutan lain pun sirna. Sebagai hasilnya, batin menjadi bersih
dan jernih sempurna. Cirinya cara
memandang, niat, kata-kata, perbuatan, sumber penghasilan, daya upaya,
perhatian dan konsentrasi semua menjadi
serba bijaksana. Kehidupan lalu berubah wajah menjadi lukisan indah
kebijaksanaan. Gambarnya cinta, bingkainya
keikhlasan.

Di Ubud Bali ada wanita bule yang tidak lagi muda tekun memelihara
anjing-anjing liar tak bertuan. Kendati
pengertiannya akan cinta tidak mendalam, dengan tekun ia melakukannya dalam
waktu lama. Pengertian yang disertai
keraguan kadang menjadi penghalang keikhlasan. Kehidupan wanita bule ini
sedang menggoreskan tinta keindahan:
cinta dan keikhlasan melukis kebijaksanaan.

--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
Quote: 
** In this age of Aquarius, science will become religious, and religion will 
become scientific. Disagreements between science and religion will come to an 
end, and people will begin to comprehend that both spirit and matter are 
derived from the same source, and are only modifications of the One Universal 
Energy **
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke