Dear all

Berikut  posting tulisan tentang Yoga Sutra Patanjali yang sedang heboh di 
Malaysia sana. (Yoga yang diharamkan), Maksud dari posting bukan untuk dakwah 
atau pembelaan terhadap kejadian yang terjadi, tetapi semata agar kita dalam 
menelaah sesuatu berdiri diatas posisi netral, tidak sepotong2 tapi secara utuh 
dan mbulet githohhh
Selamat menikmati dan semoga bermanfaat!. 
Ps 
Untuk membaca secara utuh Yoga Sutra Patanjali tsb, silahkan di unduh disini :
http://groups.yahoo.com/group/Spiritual-Indonesia/files/Dharma%20sadhana%20%7E%20Kidung%20Kelepasan%20Patanjali.zip


Love light and blessings,
h3rm4n

Berikut saya lampirkan postingan yang bersumber dari bli Aji
Posted by: "adji mudhita" [EMAIL PROTECTED]   sangwaktu 
Thu Nov 27, 2008 1:28 am (PST) 
Kidung Kelepasan Patanjali

Pendahuluan.

 

Yoga Sutra yang disusun oleh Maharshi Patanjali ini adalah teks klasik terbesar 
dan terutama dalam aliran filsafat Yoga India. Ia dinyana telah

ditulis 2500 tahun lalu; jadi kurang lebih sejaman dengan Buddha Gotama.

Bahkan ada yang berpendapat bahwa teks ini telah disusun tak kurang dari

abad ke-2 SM. Di dalamnya, sutra-sutra tentang Yoga atau penyatuan universal 
benar-benar pendek dan akurat; menegaskan secara lengkap, rinci dan akurat 
bagian-bagian yang esensial. Mengingat kepadatan dan kepekatan kandungan makna 
spiritual-filosofisnya, Yoga Sutra dianjurkan untuk dijelaskan dan 
di-interpretasikan oleh seorang Guru Yoga melalui komentar-komentar. Praktek 
Yoga dipandang sebagai pelengkap dari dan dalam satu kesatuan pandang dengan 
filsafat Sankhya. Tujuan-pokoknya adalah merealisasikan kebebasan Jiva dari 
kungkungan Maya.

 

Ketidak-cukupan informasi tentang Yoga telah mengundang tak sedikit persepsi 
keliru di kalangan awam tentangnya. Yoga seringkali dikacaukan dengan Tapa, 
atau bahkan dengan sesuatu yang berbau klenik yang mendekati takhyul, atau 
memandangnya hanya dari sudut-pandang kegaiban-kegaiban dan kanuragan saja, 
telah menggugah penulis untuk menghadirkan buku ini di tengah-tengah kita 
semua. 

 

Untuk ini, ada baiknya diketengahkan paparan Sri Swami Sivananda—pendiri The 
Divine Life Society—tentang Yoga.

 

“Yoga bukanlah mengurung diri di dalam gua-gua, bukan pula berkelana di 
hutan-hutan lebat sekitar pegunungan Himalaya. Ia juga bukan hanya memakan 
jenis makanan yang berupa sayur-mayur dari pegunungan. Brahman bukanlah 
pengecut yang lari dari hiruk-pikuknya komunitas dan pemukiman manusia. 
Praktekkan sajalah Yoga di rumah Anda sendiri. Manakala hasrat untuk 
mempraktekkannya muncul, ini berarti bahwa kebebasan telah berada dalam 
jangkauan Anda, oleh karenanya manfaatkanlah peluang ini 
sebaik-baiknya.....Menjalani kehidupan sebagai seorang Yogi, tidaklah mesti 
menelantarkan siapapun juga atau mengabaikan kewajiban-kewajiban melekat Anda. 
Ia bermakna merubah sikap hidup dari kebiasaan mengerjakan sesuatu yang 
sia-sia, menuju jalur yang secara pasti mengantarkan langsung kepada Tuhan. Ia 
dibarengi dengan perubahan prilaku dalam menjalani kehidupan serta 
metode-metodenya guna membebaskan diri Anda dari berbagai belenggu dan 
kemelekatan. Kebenaran dan pengabaian keakuan, sebenarnya merupakan masalah 
sikap-batin. 

 

Sesuai sistematika dari teks aslinya, Kidung Kelepasan Patanjali inipun 
disajikan dalam 4 bagian (pãda), masing-masing adalah:

 

* Samãdhi Pãda.

 

* Sãdhana Pãda.

 

* Vibhuti Pãda.

 

* Kaivalya Pãda.

 

Samãdhi Pãda —Hakekat Penyatuan Agung. 

 

Pãda yang tersusun dalam 51 sutra ini memaparkan tentang landasan 
spiritual-filosofis Yoga, hakekat dari penyatuan dan hakekat ketuhanan dalam 
Yoga. Dalam bagian ini akan banyak kita temukan paparan yang menyangkut 
intisari keimanan Hindu, yang juga berhampiran dengan Buddha, serta penerangan 
yang amat bersesuaian dengan Upanishad-upanishad dan Veda Sruti. 

Dari bagian ini pula, bila kita cermati, kesinambungan antara Sanhkya Darsana 
dan Vedanta terjembatani dengan Shastrãgama-shastrãgama lain. Pãda ini 
merupakan pembuka yang berisikan pembekalan dalam tahap persiapan, sebagai 
landasan pijak dan kerangka dasar seorang sadhaka, seorang penekun di jalan 
spiritual.

 

Samãdhi Pãda terutama menjelaskan beberapa jenis Samãdhi sesuai dengan

tersisa atau tidaknya objek di dalam Samãdhi, yang dicapai bersama dengan

terhentinya pusaran-pusaran pikiran. Kaivalya, yang merupakan isu sentral

dari Yoga Sutra ini, hanya dicapai melalui Nirvikalpa atau Nirbija Samãdhi.

Walaupun demikian, jenis pencapaian lain tetap merupakan pencapaian tinggi

yang merupakan penghampiran pra yang tertinggi. Pembekalan mendasar, seperti 
ketidak-melekatan (vairagya) dan pembiasaan laku-spiritual (abhyasa) juga 
diberikan, sebelum seorang sadhaka benar-benar terjun dalam praktek kehidupan 
spiritual secara intens. 

 

Sãdhana Pãda — Paparan Praktis Praktek Spiritual. 

 

Pãda yang tersusun dari 55 sutra ini memberikan paparan praktis bagi seorang 
sadhaka. Disini mulai diperkenalkan Yama, Niyama, Pranayama dan Pratyahara, 
serta persiapan untuk memasuki tiga-serangkai Samyama —Dharana-Dhyana-Samadhi. 
Samyama baru dipaparkan secara panjang lebar pada Vibhuti Pãda. Metode 
pembebasan psikologis dan spiritual yang terdiri dari delapan tahapan ini, juga 
dikenal dengan Ashtanga Yoga. 

 

Disini juga diingatkan akan bahaya dari siddhi bagi seorang sadhaka sejati. 
Secara keseluruhan prinsip-prinsip praktis dari Yoga dapat ditemukan disini

dalam paparan yang lugas. Sebagai paparan praktis, di dalam mengikuti Sãdhana 
Pãda ini kita juga acapkali seakan-akan sedikit ‘dipaksa’ untuk mengerti 
tentang sistem Yoga praktis tertentu, terutama Hatha Yoga dan Laya Yoga atau 
Kundalini Yoga. 

 

Vibhuti Pãda — Paparan tentang Kekuatan dan Kesempurnaan. 

 

Disini dipaparkan tuntunan praktis yang lebih tinggi, terutama tentang 
tiga-serangkai Samyama, melalui mana kekuatan-kekuatan spiritual, 
kegaiban-kegaiban, hingga kesempurnaan Yoga bisa dicapai. 

 

Bagi yang mempunyai naluri mistis yang kuat, bagian yang tersusun oleh 56 sutra 
ini, bisa merupakan bagian yang paling menarik. Disini juga disampaikan 
peringatan-peringatan untuk tidak melaksanaan Yoga hanya demi perolehan 
kekuatan-kekuatan dan kegaiban-kegaiban itu, apalagi terikat padanya. Ini dapat 
dengan mudah menjatuhkan sang penekun. 

 

Kaivalya Pãda — Menggapai Kebebasan Sejati.

 

Di antara ke-empat Pãda, Kaivalya Pãda inilah yang tersingkat. Disini paparan 
terasa padat, yang utamanya difokuskan pada pencapaian Kaivalya dan tentang 
bagaimana seorang Yogi yang telah mencapai status itu. Disini Patanjali tak 
lupa menyelipkan lagi tatanan etika-moral luhur dari seorang Yogi Sempurna 
—yang dalam ajaran Vedanta kita kenal sebagai Jivanmukta, ia yang telah 
terbebaskan dari siklus Samsara dan tak terlahirkan kembali di alam manapun —di 
antara 34 sutra pembentuknya. 

 

Jadi, secara keseluruhan, ke-empat Pãda benar-benar membentuk satu kesatuan 
integral, yang kait-mengait satu sama lain, mengalir dan berlanjut, saling 
memperjelas dan mempertegas. Ini juga berarti meminta praktisi mempelajari Yoga 
Sutra —guna memperoleh pemahaman yang baik tentang praktek Yoga itu sendiri— 
secara berulang-ulang, bolak-balik ke depan dan kembali ke belakang. Ia memang 
merupakan manual-praktis yang tersaji dalam satu kesatuan bahasan komprehensif, 
menyeluruh dan terpadu. Guna menunjang bahasan-bahasan, dengan segala 
kerendahan hati, di akhir buku ini penyusun sajikan sebuah tulisan lepas 
sebagai appendiks.

 

Dalam kesempatan yang bersahaja ini, kiranya pada tempatnyalah kita bersyukur 
dan bersujud dengan penuh hormat kepada Maharshi Patanjali, atas kemurahan hati 
beliau yang tanpa pamerih telah menyusun sistematika praktis serta melahirkan 
satu aliran filsafat (darsana) agung yang tiada duanya, yang dapat mengantarkan 
manusia menuju Kebebasan Sejati.

 

**

 

 

"[EMAIL PROTECTED]" -Thu Nov 27, 2008 1:50 am (PST) 

 

 

Pendahuluan.

 

Yoga Sutra yang disusun oleh Maharshi Patanjali ini adalah teks klasik terbesar 
dan terutama dalam aliran filsafat Yoga India. Ia dinyana telah

ditulis 2500 tahun lalu; jadi kurang lebih sejaman dengan Buddha Gotama.

Bahkan ada yang berpendapat bahwa teks ini telah disusun tak kurang dari

abad ke-2 SM. Di dalamnya, sutra-sutra tentang Yoga atau penyatuan universal 
benar-benar pendek dan akurat; menegaskan secara lengkap, rinci dan akurat 
bagian-bagian yang esensial. Mengingat kepadatan dan kepekatan kandungan makna 
spiritual-filosofisnya, Yoga Sutra dianjurkan untuk dijelaskan dan 
di-interpretasikan oleh seorang Guru Yoga melalui komentar-komentar. Praktek 
Yoga dipandang sebagai pelengkap dari dan dalam satu kesatuan pandang dengan 
filsafat Sankhya. Tujuan-pokoknya adalah merealisasikan kebebasan Jiva dari 
kungkungan Maya.

 

Ketidak-cukupan informasi tentang Yoga telah mengundang tak sedikit persepsi 
keliru di kalangan awam tentangnya. Yoga seringkali dikacaukan dengan Tapa, 
atau bahkan dengan sesuatu yang berbau klenik yang mendekati takhyul, atau 
memandangnya hanya dari sudut-pandang kegaiban-kegaiban dan kanuragan saja, 
telah menggugah penulis untuk menghadirkan buku ini di tengah-tengah kita 
semua. 

 

Untuk ini, ada baiknya diketengahkan paparan Sri Swami Sivananda—pendiri The 
Divine Life Society—tentang Yoga.

 

“Yoga bukanlah mengurung diri di dalam gua-gua, bukan pula berkelana di 
hutan-hutan lebat sekitar pegunungan Himalaya. Ia juga bukan hanya memakan 
jenis makanan yang berupa sayur-mayur dari pegunungan. Brahman bukanlah 
pengecut yang lari dari hiruk-pikuknya komunitas dan pemukiman manusia. 
Praktekkan sajalah Yoga di rumah Anda sendiri. Manakala hasrat untuk 
mempraktekkannya muncul, ini berarti bahwa kebebasan telah berada dalam 
jangkauan Anda, oleh karenanya manfaatkanlah peluang ini 
sebaik-baiknya.....Menjalani kehidupan sebagai seorang Yogi, tidaklah mesti 
menelantarkan siapapun juga atau mengabaikan kewajiban-kewajiban melekat Anda. 
Ia bermakna merubah sikap hidup dari kebiasaan mengerjakan sesuatu yang 
sia-sia, menuju jalur yang secara pasti mengantarkan langsung kepada Tuhan. Ia 
dibarengi dengan perubahan prilaku dalam menjalani kehidupan serta 
metode-metodenya guna membebaskan diri Anda dari berbagai belenggu dan 
kemelekatan. Kebenaran dan pengabaian keakuan, sebenarnya merupakan masalah 
sikap-batin. 

 

Sesuai sistematika dari teks aslinya, Kidung Kelepasan Patanjali inipun 
disajikan dalam 4 bagian (pãda), masing-masing adalah:

 

* Samãdhi Pãda.

 

* Sãdhana Pãda.

 

* Vibhuti Pãda.

 

* Kaivalya Pãda.

 

Samãdhi Pãda —Hakekat Penyatuan Agung. 

 

Pãda yang tersusun dalam 51 sutra ini memaparkan tentang landasan 
spiritual-filosofis Yoga, hakekat dari penyatuan dan hakekat ketuhanan dalam 
Yoga. Dalam bagian ini akan banyak kita temukan paparan yang menyangkut 
intisari keimanan Hindu, yang juga berhampiran dengan Buddha, serta penerangan 
yang amat bersesuaian dengan Upanishad-upanishad dan Veda Sruti. 

Dari bagian ini pula, bila kita cermati, kesinambungan antara Sanhkya Darsana 
dan Vedanta terjembatani dengan Shastrãgama-shastrãgama lain. Pãda ini 
merupakan pembuka yang berisikan pembekalan dalam tahap persiapan, sebagai 
landasan pijak dan kerangka dasar seorang sadhaka, seorang penekun di jalan 
spiritual.

 

Samãdhi Pãda terutama menjelaskan beberapa jenis Samãdhi sesuai dengan

tersisa atau tidaknya objek di dalam Samãdhi, yang dicapai bersama dengan

terhentinya pusaran-pusaran pikiran. Kaivalya, yang merupakan isu sentral

dari Yoga Sutra ini, hanya dicapai melalui Nirvikalpa atau Nirbija Samãdhi.

Walaupun demikian, jenis pencapaian lain tetap merupakan pencapaian tinggi

yang merupakan penghampiran pra yang tertinggi. Pembekalan mendasar, seperti 
ketidak-melekatan (vairagya) dan pembiasaan laku-spiritual (abhyasa) juga 
diberikan, sebelum seorang sadhaka benar-benar terjun dalam praktek kehidupan 
spiritual secara intens. 

 

Sãdhana Pãda — Paparan Praktis Praktek Spiritual. 

 

Pãda yang tersusun dari 55 sutra ini memberikan paparan praktis bagi seorang 
sadhaka. Disini mulai diperkenalkan Yama, Niyama, Pranayama dan Pratyahara, 
serta persiapan untuk memasuki tiga-serangkai Samyama —Dharana-Dhyana-Samadhi. 
Samyama baru dipaparkan secara panjang lebar pada Vibhuti Pãda. Metode 
pembebasan psikologis dan spiritual yang terdiri dari delapan tahapan ini, juga 
dikenal dengan Ashtanga Yoga. 

 

Disini juga diingatkan akan bahaya dari siddhi bagi seorang sadhaka sejati. 
Secara keseluruhan prinsip-prinsip praktis dari Yoga dapat ditemukan disini

dalam paparan yang lugas. Sebagai paparan praktis, di dalam mengikuti Sãdhana 
Pãda ini kita juga acapkali seakan-akan sedikit ‘dipaksa’ untuk mengerti 
tentang sistem Yoga praktis tertentu, terutama Hatha Yoga dan Laya Yoga atau 
Kundalini Yoga. 

 

Vibhuti Pãda — Paparan tentang Kekuatan dan Kesempurnaan. 

 

Disini dipaparkan tuntunan praktis yang lebih tinggi, terutama tentang 
tiga-serangkai Samyama, melalui mana kekuatan-kekuatan spiritual, 
kegaiban-kegaiban, hingga kesempurnaan Yoga bisa dicapai. 

 

Bagi yang mempunyai naluri mistis yang kuat, bagian yang tersusun oleh 56 sutra 
ini, bisa merupakan bagian yang paling menarik. Disini juga disampaikan 
peringatan-peringatan untuk tidak melaksanaan Yoga hanya demi perolehan 
kekuatan-kekuatan dan kegaiban-kegaiban itu, apalagi terikat padanya. Ini dapat 
dengan mudah menjatuhkan sang penekun. 

 

Kaivalya Pãda — Menggapai Kebebasan Sejati.

 

Di antara ke-empat Pãda, Kaivalya Pãda inilah yang tersingkat. Disini paparan 
terasa padat, yang utamanya difokuskan pada pencapaian Kaivalya dan tentang 
bagaimana seorang Yogi yang telah mencapai status itu. Disini Patanjali tak 
lupa menyelipkan lagi tatanan etika-moral luhur dari seorang Yogi Sempurna 
—yang dalam ajaran Vedanta kita kenal sebagai Jivanmukta, ia yang telah 
terbebaskan dari siklus Samsara dan tak terlahirkan kembali di alam manapun —di 
antara 34 sutra pembentuknya. 

 

Jadi, secara keseluruhan, ke-empat Pãda benar-benar membentuk satu kesatuan 
integral, yang kait-mengait satu sama lain, mengalir dan berlanjut, saling 
memperjelas dan mempertegas. Ini juga berarti meminta praktisi mempelajari Yoga 
Sutra —guna memperoleh pemahaman yang baik tentang praktek Yoga itu sendiri— 
secara berulang-ulang, bolak-balik ke depan dan kembali ke belakang. Ia memang 
merupakan manual-praktis yang tersaji dalam satu kesatuan bahasan komprehensif, 
menyeluruh dan terpadu. Guna menunjang bahasan-bahasan, dengan segala 
kerendahan hati, di akhir buku ini penyusun sajikan sebuah tulisan lepas 
sebagai appendiks.

 

Dalam kesempatan yang bersahaja ini, kiranya pada tempatnyalah kita bersyukur 
dan bersujud dengan penuh hormat kepada Maharshi Patanjali, atas kemurahan hati 
beliau yang tanpa pamerih telah menyusun sistematika praktis serta melahirkan 
satu aliran filsafat (darsana) agung yang tiada duanya, yang dapat mengantarkan 
manusia menuju Kebebasan Sejati.

 

**

 

 

"[EMAIL PROTECTED]" -Thu Nov 27, 2008 1:50 am (PST) 

 

 

http://groups.yahoo.com/group/Spiritual-Indonesia/files/Dharma%20sadhana%20%7E%20Kidung%20Kelepasan%20Patanjali.zip


--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
Quote: 
** In this age of Aquarius, science will become religious, and religion will 
become scientific. Disagreements between science and religion will come to an 
end, and people will begin to comprehend that both spirit and matter are 
derived from the same source, and are only modifications of the One Universal 
Energy **
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke