Dahsyat...

ini dia nih.. akhirnya bisa menjadi sebuah tema... mengenal setan (virus yg
ada didalam diri kita, bawaan sejak lahir, setan atau virus yg berseliweran
di jagat, sehingga bisa masuk kedalam diri sewaktu-waktu). sehingga bisa
mencapai tingkatan ma'rifatullah FULL.

jika sudah mengenal ini, Insya Allah orang tersebut bisa jadi Imam Mahdi.
Mudah2an secepatnya ada seorang manusia yang mencapai tingkatan ini.

kalo bisa ada manusia atau se group manusia yg bisa merumuskan do'a yg
mujarab ini. sebagai wujud Imam Mahdi tersebut. sekalian do'a ikhlas kepada
seluruh ciptaan Allah terhadap kehadirannya (Imam mahdi).

terima kasih.


===========================================================================================
2010/3/1 Herman Adriansyah <[email protected]>

>  LIMA JENIS MODIFIKASI BATHIN DAN TIGA PROSES PENALARAN
>
> (Dipetik dari  : Kidung Kelepasapasn Patanjali)
>
>
> Modifikasi-modifikasi batin (*vritti*) ada lima jenis, ada yang
> menyedihkan dan ada yang tidak menyedihkan: *penalaran *(*pramana*)*,
> kekeliruan *(*viparyaya*)*, imajinasi *(*vikalpa*)*, tidur* (*nidra*) dan
> *ingatan *(*smrti*)*.*
>
> Praktek langsung (*pratyaksa*), penyimpulan (*anumana*) dan penegasan para
> bijak dan kitab-kitab ajaran (*agama*), membentuk suatu rangkaian metode 
> *penalaran
> yang baik. *
>
> [YS I.5 - I.7]
>
> *  *
>
> Pengetahuan luhur (*jñana*) yang diperoleh tanpa mengabaikan terlebih
> dahulu kekeliruan* *(*viparyaya*)*, *imajinasi* *(*vikalpa*) serta
> ingatan-ingatan (*smrti*) yang samar dan terbatas,* *tidak layak dipercaya
> sebagai suatu pengetahuan yang sahih (*vidya*), yang dapat
> dipertanggung-jawabkan objektivitas dan kebenarannya. Ia tidak dapat
> dianggap sebagai pengetahuan samasekali (*avidya*), apalagi *jñana*.
> Sutra-sutra ini menekankan hal ini. Sementara *jñana* diperoleh lewat tiga
> rangkaian proses yang masing-masing daripadanya disebut *pramana*. Sebagai
> suatu rangkaian proses, yang satu dilanjutkan dan dilengkapi oleh yang
> berikutnya, demikian seterusnya. Dalam mengamati, mencermati guna memperoleh
> *jñana*, *tri pramana* adalah jalannya.
>
>
>
> Mempraktekkan langsung dengan cermat fenomena-fenomena di luar ataupun di
> dalam, melahirkan pengalaman. Melalui praktek yang sama secara
> berulang-ulang, banyak pengalaman yang diperoleh. Pengalaman disini bisa
> berupa pengalaman fisik, non-fisik maupun meta-fisik. Endapan
> pengalaman-pengalaman inilah yang tersimpan sebagai bagian dari ingatan (*
> smrti*), mereka serupa dengan kesan-kesan mental (*samskara*). *Smrti*semakin 
> kuat bila pengalaman yang sama dialami secara berulang-ulang. Dari
> fenomena batiniah inilah terlahir laku *Japa*, pelafalan sebait 
> *mantra*pendek secara berulang-ulang. Semua proses empiris inilah yang disebut
> *pratyaksa* *pramana*. Besar kemungkinannya kalau kata 'praktek' maupun
> 'praktis' yang kita kenal sekarang ini berasal dari kata *pratyaksa* ini.
>
> Pengetahuan juga bisa diperoleh dari mendengar penjelasan sumber-sumber
> yang otentik dan layak dipercaya maupun kitab-kitab yang terpercaya.
> Pengetahuan yang diperoleh dengan cara inilah yang disebut *agama* atau *sabda
> pramana* --perolehan pengetahuan melalui mendengarkan sabda-sabda suci para
> Guru-guru suci dan kitab-kitab suci.
>
> Namun, walaupun tak ada Guru suci atau kitab suci yang didengar atau
> dibaca, melalui pengalaman empiris (*pratyaksa*), analogi, perumpamaan
> ataupun *"modelling test"* (*upamana*) serta membandingkannya dengan
> pengalaman-pengalaman sejenis lainnya serta kemampuan analisa pribadi, dapat
> pula ditarik suatu kesimpulan yang terpercaya. Proses penyimpulan inilah
> yang disebut *anumana*. Kehadiran *upamanapramana* menjadikannya *Catur
> Pramana*, seperti yang diajukan oleh Rshi Gautama dalam *Nyaya Darsana*-nya.
> Menurut beliau, ada 4 aspek substantif yang mengkondisikan atau terkandung
> dalam proses penalaran, yakni: (i) subjek (*pramata*), (ii) objek (*
> prameya*), (iii) kondisi hasil amatan (*pramiti*) dan (iv) cara
> mengetahuinya (*pramana*).
>
> *Kekeliruan* (*viparyaya*) merupakan pengetahuan keliru (*mithya-jñana*),
> yang tidak tersusun dari realitas.
>
> Pengetahuan yang dimunculkan oleh 'citra kata-kata', namun tanpa didukung
> objektivitas adalah angan-angan atau *imajinasi* (*vikalpa*) semata;
> modifikasi-modifikasi batin yang terjadi tanpa hadirnya keterjagaan penuh (
> *jagra*) adalah *tidur *(*nidra*); dan kehadiran kembali objek sensasi
> yang pernah dialami dalam pikiran adalah *ingatan *(*smrti*) yang
> terbatas, merupakan pengetahuan yang keliru itu.
>
> [YS I.8 - I.11]
>
>
>
> Disebutkan adanya lima pemicu kekeliruan (*panca viparyaya*) dalam
> Wrhaspati Tattwa; masing-masing adalah: (i) *Tamah*, pikiran yang selalu
> ingin memperoleh kesenangan duniawi; (ii) *Moha*, keinginan untuk
> memperoleh delapan kemampuan adi-kodrati (*asta aiswarya*); (iii) *
> Mahamoha*, keinginan untuk mendapatkan kesenangan *niskala* disamping *asta
> aiswarya* tadi; (iv) *Tamisra*, berharap untuk memperoleh kesenangan
> --sebagai buah perbuatan-- di kemudian hari; dan (v) *Andhatamisra*,
> menangisi milik yang telah hilang. Kelima kekeliruan inilah yang berandil
> besar dalam kesengsaraan manusia.
>
>
> *Nidra,* tanpa hadirnya keterjagaan penuh (*jagra*) --seperti yang
> disebutkan dalam sutra I.10--bukanlah tidur pulas tanpa mimpi --yang disebut
> *sushupti*. Dalam *sushupti*, Ibunda Semesta, *Rajesvari, *membawa 
> *jiva*kembali kepada-Nya; memeluknya dalam dekapan kasih-Nya, menyusuinya lagi
> dengan segarnya kedamaian, gairah baru, vitalitas dan kekuatan baru serta
> menjadikannya cukup prima untuk menghadapi 'peperangan' keesokan harinya.
> Demikian Sri Swami Sivananda menggambarkannya.
>
>
> Jelas bahwa *sushupti* bukan suatu keadaan tidak aktif atau reposisi pasif
> tanpa hadirnya keterjagaan (*jagra*) sama sekali, seperti halnya *Nidra*.
> Ia memiliki signifikansi spiritual-filosofis yang mendalam. Kaum Vedantin
> mempelajari kondisi ini dengan sangat hati-hati dan mendalam. 
> *Sushupti*memberi petunjuk yang jelas kepada para filsuf non-dualis untuk 
> menelusuri,
> meneliti, serta menemukan 'sang saksi bisu' yang tersembunyi.
>
>
> Pengetahuan akan lebih lengkap dan terpercaya, bila diperoleh melalui 
> *pratyaksa,
> sabda* atau *agama, anumana* serta *upamana*, yang bekerja sedemikian rupa
> saling menunjang dan menguatkan, sebelum menarik suatu kesimpulan akhir.
> Disinilah subjektivitas yang terbentuk oleh pengalaman pribadi yang
> terbatas, berupa: kekeliruan (*viparyaya*), angan-angan atau
> imajinasi-imajinasi subjektif (*vikalpa*), serta kehadiran objek-objek
> indriawi yang menyesatkan (*vishaya*) maupun kelemahan dan keterbatasan
> ingatan (*smrti*) ditiadakan.
>
>
>
> Pertanyaannya kini adalah, bagaimana menyingkirkan modifikasi-modifikasi
> pikiran yang menyesatkan, yang menjadi biang dari *mithya-jñana *ini?
> Inilah yang dipaparkan secara panjang lebar dalam sutra-sutra berikutnya.
>
>
>
>  oOo 
>
> --
> Quote:
> ** In this age of Aquarius, science will become religious, and religion
> will become scientific. Disagreements between science and religion will come
> to an end, and people will begin to comprehend that both spirit and matter
> are derived from the same source, and are only modifications of the One
> Universal Energy **
> ****
> Sharing File Audio-Video-Software-Manual Meditasi di :
> http://tiny.cc/huarchive
> ****
> List events inisiasi di group HU & registrasi di :
> http://tiny.cc/huevents
> ****

-- 
Quote: 
** In this age of Aquarius, science will become religious, and religion will 
become scientific. Disagreements between science and religion will come to an 
end, and people will begin to comprehend that both spirit and matter are 
derived from the same source, and are only modifications of the One Universal 
Energy **
****
Sharing File Audio-Video-Software-Manual Meditasi di : 
http://tiny.cc/huarchive
****
List events inisiasi di group HU & registrasi di :
http://tiny.cc/huevents
****

Kirim email ke