Buku Ilusi
Negara Islam

Rekan-rekan sekalian, kemarin saya diberi tahu seorang
rekan utk membaca buku Ilusi Negara Islam.
Saya sudah mendownload buku ini secara gratis, namun belum sempat membaca
(Silakan download http://www.bhinnekatunggalika.org/galeri.html ).

Berikut saya kutipkan beberapa ulasan singkat buku
tersebut.

Hery SA

--------------------

Sumber
(1):

 http://forum.detik.com/showthread.php?t=102303

Mungkin
banyak yang sudah mendengar Buku Hidden Agenda PKS “Ilusi Negara Islam” ?

Buku tersebut bertajuk “Ilusi Negara Islam: Ekspansi Gerakan Islam
Transnasional di Indonesia.” Buku tersebut tercetak April 2009 yang diterbitkan
oleh tiga lembaga yakni The Wahid Institute, Gerakan Bhinneka Tunggal Ika dan
Maarif Institute.



Dalam buku setebal 321 halaman ini, PKS dituliskan sebagai agen kelompok
garis keras Islam transnasional. Dalam melakukan kerjanya, PKS melakukan 
infiltrasi
ke berbagai institusi yang mencakup pemerintahan dan ormas Islam antara lain
Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah (halaman 23). Fakta yang mencengangkan adalah
adanya fenomena rangkap anggota antara Muhamamdiyah dan kelompok yang disebut
garis keras. Diduga hampir 75 persen pemimpin garis keras memiliki ikatan
dengan Muhammadiyah.

Resume singkatnya ada di Buku Hidden Agenda PKS Beredar “Ilusi Negara Islam”



Buku ini kabarnya telah diperbanyak di empat negara di dunia yakni Turki,
Arab Saudi, Inggris dan Amerika Serikat. Bahkan peluncuran buku tentang
Ilusi Negara Islam itu, juga dihadir mantan Wakil Presiden RI Try Sutrisno,
Cawapres dari Partai Golkar Wiranto dan mantan Ketua Umum Partai Golkar, Akbar
Tanjung

Sumber (2):

 http://nusantaranews.wordpress.com/2009/05/22/ilusi-negara-islam-buku-investigasi-kontroversi-2009-download/

Pertama kali saya mendapat informasi
buku tersebut dari blog Qitori, dan informasi lanjutannya di kompas.
Buku tersebut rupanya sudah ramai dibicarakan beberapa hari yang lalu, dan
ternyata isi buku tersebut telah menjadi ajang analisis investigasi yang
mendalam dari kalangan NU dan Muhammadiyah sekitar 4 tahun silam.

Gerakan garis keras transnasional
dan kaki tangannya di Indonesia sebenarnya telah lama melakukan infiltrasi ke
Muhammadiyah. Dalam Muktamar Muhammadiyah pada bulan Juli 2005 di
Malang, para agen kelompok-kelompok garis keras, termasuk kader-kader PKS
dan Hizbut Tahrir Indonesia (HTI), mendominasi banyak forum dan berhasil
memilih beberapa simpatisan gerakan garis keras menjadi ketua PP. Muhammadiyah.
Namun demikian, baru setelah Pro. Dr. Abdul Munir Mulkhan mudik ke desa Sendang
Ayu, Lampung, masalah infiltrasi ini menjadi kontroversi besar dan terbuka 
sampai
tingkat internasional.

-Ilusi Negara Islam : Ekspansi Gerakan Islam
Transnasional di Indonesia – halaman 23

Adanya kecurigaan dan bukti-bukti
lapangan terjadinya infiltrasi kelompok garis keras menyebabkan terjadinya
kegaduhan antar tubuh ormas-ormas Islam besar di Indonesia. Atas dasar dasar
berdirinya dengan NKRI didahului perjuangan para pahlawan mutli etnik dan tokoh
bangsa multi keyakinan sejak masa penjajahan, perjuangan pemuda dalam berbagai
organisasi nasionalis dan religius yang ditandai Boedi Utomo dan dilanjutkan
dengan Sumpah Pemuda, maka negara kebangsaan (nation state) telah menjadi
kesepakatan dominan para founding father bangsa.

Para ulama seperti Abikusno
Tjokrosujoso, KH A Kahar Muzakkir, H. Agus Salim, KH.. A Wahid Hasjim, KH Ahmad
Dahlan, Ki Bagus Hadikusomo dan tokoh-tokoh pendiri Bangsa lainnya sadar
bahwa negara yang akan mereka perjuangkan dan pertahankan bukanlah negara yang
didasarkan pada dan untuk agama tertentu, melainkan negara bangsa yang mengakui
dan melindungi segenap agama, beragam budaya dan tradisi yang telah menjadi
bagian integral kehidupan bangsa Indonesia.Para Pendiri Bangsa Indonesia sadar
bahwa di dalam Pancasila tidak ada prinsip yang bertentangan dengan ajaran
Agama.

Sebaliknya, prinsip-prinsip dalam Pancasila justru merefleksikan pesan-pesan
utama semua agama, yang dalam ajaran Islam dikenal sebagai maqashid
al-syari’ah.

-Ilusi Negara Islam : Ekspansi Gerakan Islam
Transnasional di Indonesia  -halaman 17

Dalam buku tersebut secara implisit
menolak infiltrasi para aktivisi garis keras yang selama ini selalu mengklaim
bahwa mereka sepenuhnya memahmi maksud Al-Qur’an dan karena itu mereka berhak
menjadi wakil Allah (khalifat Allah) dan menguasai dunia ini dan
kemudian memaksa siapa pun mengikuti pemahamam “sempurna” mereka. Secara
sistematis, para aktivis ini sedang berjuang mengubah Islam dari Agama menjadi
Ideologi. Pada akhirnya, Islam menjadi dalih dan senjata politik untuk
mendiskreditkan dan menyerang siapapun yang berbeda pandangan politik dan
pemaham keagamaannya.

Dan lebih lanjut, buku tersebut
mengatakan bahwa dengan menggunakan Jargon memperjuangkan Islam, mereka
sebenarnya sedang memperjuangkan suatu agenda politik tertentu dengan
menjadikan Islam sebagai kemasan dan senjata. Hal ini terlebih doktrin yang 
meresap
dalam pemahaman mereka bahwa siapa pun yang melawan tindakan mereka dituduh
melawan Islam. Siapapun yang berbeda pandangan dengan mereka diangap kafir dan
murtad.Gerakan aktivis yang menyusuf ke mesjid-mesjid masyarakat NU dan
Muhammadiyah secara sistematis mengambil alih kekuatan para ulama setempat dan 
menanamkan
doktrin untuk masyarakat untuk menolak budaya dan tradisi budaya bangsa
Indonesia untuk digantikan budaya dan tradisi asing dari Arab Saudi – Timur
Tengah. Para aktivitis ini adalah kelompok Wahabi ataupun Ikhwanul
Muslimin. Dan organisasi yang berkembang dari dua paham ini adalah HTI dan
PKS yang cikal bakal muncul dari Gerakan Tarbiyah.

Gerakan sistematis yang menyusup ke
ormas Muhammadiyah untuk memperbesar kekuatan politik (partai politik) dengan
dalil  Agama membuat  PP Muhammadiyah mengantisipasi dengan
mengeluarkan SK  Pimpinan Pusat Muhammadiyah No 149/Kep/I.0/B/2006.

SK tersebut bertujuan untuk
“menyelamatkan Muhammadiyah dari berbagai tindakan merugikan Persyarikatan” dan
membebaskannya “dari pengaruh, misi, infiltrasi, dan kepentinan partai politik
yang selama ini mengusung dakwah atau partai politik bersayap dakwah”, karena
telah memperalat ormas iut [Muhammadiyah] untuk tujuan politik mereka yang
bertentangan dengan visi-misi luhur Muhammadiyah sebagai organisasi Islam
moderat.

-Ilusi Negara Islam : Ekspansi Gerakan Islam
Transnasional di Indonesia  -halaman 26

Pernyataan diatas dipertegas dari SK
PP Muhammadiyah No 149/Kep/I.0/B/2006  yang dilampirkan dalam buku
tersebut (halaman 239-250).

“Segenap anggota Muhammadiyah perlu
menyadari, memahami, dan bersikap kritis bahwa seluruh partai politik di negeri
ini, termasuk partai politik yang mengklaim diri atau mengembangkan
sayap/kegiatan dakwah seperti Partai Keadilan Sejahteran (PKS) adalah
benar-benar partai politik. Setiap partai politik berorientasi kekuasan
politik. Karena itu, dalam menghadapi partai politik manapun kita harus tetap
berpijak pada Khittah Muhammadiyah dan harus membebaskan diri dari, serta tidak
menghimpitkan diri dengan misi, kepentingan, kegiatan, dan tujuan partai
politik tersebut”

SKPP Muhammadiyah No 149/Kep/I.0/B/2006 :
Keputusan Poin 3

************

Itu ulasan singkat buku ilusi negara
Islam yang merupakan hasil penelitian selama lebih dari dua tahun, mengungkap
asal usul, ideologi, dana, agenda dan gerakan transnasional dan kaki tangannya
di Indonesia. Mereka yang ikut dalam penyusunan buku “Ilusi
Negara Islam : Ekspansi Gerakan Islam Transnasional di Indonesia” adalah
KH Abdurrahman Wahid, Prof Dr. Ahmad Syafii Maarif (eks. ketua
Muhammadyah), KH. A. Mustofa Bisri, M. Guntur Romli, Romo Franz Magnis
Suseno dan segenap tim Gerakan Bhinneka Tunggal Ika, the Wahid
Institute,  Maarif Institute dan LibForAll. Buku ini memiliki 321 halaman
dan diterbitkan oleh PT Desantara Utama Media dan akan diperbanyak di 4 negara
di dunia yakni Turki, Arab Saudi, Inggris, dan Amerika Serikat.

Ilusi Negara Islam
ingin menyampaikan  citra Islam sebagai “Rahmatan Lil-Alamin” yang
artinya adalah siapa pun di seluruh dunia yang berhati baik, berkemauan baik,
dan punya perhatian kuat pada usaha-usaha mewujudkan kedamaian, kebebasan dan
toleransi secara kultur adalah keluarga Islam yang bersaudara.

Akankah buku investigasi selama dua
tahun oleh the Wahid Institute,  Maarif Institute, Gerakan Bhinneka
Tunggal Ika, dan LibForAll akan menjadi buku kontroversi di tahun 2009 ini?
Debat pemikiran sudah pasti sudah terjadi dalam ring-ring utama kedua kubu. Dan
hendaknya buku ini tidak berhenti pada kontroversi, namun pada hal
substansi,  siapa yang benar dan siapa pula provokasi? Meskipun timbul
kontroversi, saya harap kesatuan, persatuan, dan kesolidan bangsa ini tetap
utuh. Semoga Indonesia tetap Bersatu.

Salam Perubahan, Selamat Hari
Kebangkitan Nasional ke-101

22 Mei 2009, ech-nusantaraku

 
















      Lebih bersih, Lebih baik, Lebih cepat - Yahoo! Mail: Kini tanpa iklan. 
Rasakan bedanya! http://id.mail.yahoo.com

Kirim email ke