Bencana alam yang menggegerkan dunia
 
Maut, kehancuran harta benda, kemusnahan panen, kehilangan sanak keluarga, dan kelaparan adalah dampak seketika dari bencana alam. Dan kita baru saja mengalaminya,
di tahun yang sama, walau itu jauh di depan mata kita: di Alor, Nabire lalu Aceh dan Nias.
 
Wahai seluruh umat manusia di Bumi, mari kita bersama-sama menyongsong
bencana berikutnya yang akan melanda. Sebuah bencana alam adalah
tanggung jawab kita semua untuk menghadapinya, jangan salahkan Tuhan,
karena Tuhan tidaklah buas, tapi salahkan pada diri kita sendiri.
 
Tolong, kalau Anda punya informasi tentang bencana alam yang pernah
mengguncang bumi, sila tambahkan di daftar ini:
 
15 April 1815
Gunung Tambora di Pulau Sumbawa meletus. Dampaknya sungguh luar biasa.
Kengerian tiada terkira. Sekira 50.000 jiwa manusia di pulau itu menemui
ajal seketika. Sementara 36.275 orang lainnya mengungsi ke luar pulau. Erupsi
Tambora menyusutkan populasi Sumbawa hingga penduduknya waktu itu tinggal
85.000 jiwa. Kerajaan Pekat dan kerajaan Tambora yang kaya raya pun
luluh lantak. Kedua kerajaan itu runtuh akibat terkena bencana, bukan
karena perang dengan kerajaan tetangga. Tak tercatat apakah raja dan
keluarganya ikut jadi korban atau mengungsi.
 
Hingga 1816, dunia mencatat sebagai 'tahun tanpa musim panas'. Di Eropa
Barat, Amerika dan Kanada berembus udara beku (frost) yang mematikan.
Debu pasir vulkanis yang disemburkan Gunung Tambora menyelimuti
permukaan laut, dan abu pekat yang gentayangan sepanjang tahun menutup
sinar matahari. Pola cuaca yang jungkir balik terjadi di hampir seantero
belahan utara Bumi. Salju turun di New England, AS, pada bulan Juni, dan frost
pada Juli-Agustus, membuat paceklik yang bukan oleh musim panas. Udara
beku juga mematikan tanaman pangan di Eropa dan Kanada, menyebabkan
kekurangan pangan. Kerusuhan yang disebabkan oleh rebutan jatah makanan
meledak di Perancis dan Swiss.
 
Di Irlandia, curah hujan dingin terjadi hampir sepanjang musim panas itu, dan disana 65.000 orang mati oleh kelaparan dan tipus. Wabah kolera dan tipus yang menyebar ke wilayah-wilayah Eropa, membunuh 200.000 orang. Tak tercatat apa yang terjadi di beberapa
pulau di Indonesia, mungkin lebih parah dibandingkan kondisi di Eropa
dan daratan Amerika. Para ahli menyebutkan letusan Tambora sebagai yang
terbesar sepanjang 100.000 tahun.
 
Penduduk Pulau Sumbawa yang dulunya 'gemah ripah loh jinawi' itupun hingga
kini masih dilanda kemiskinan, walau beberapa perusahaan tambang seperti
Newmont beroperasi disana. Sungguh sebuah warisan bencana yang butuh waktu ratusan tahun untuk memulihkannya, namun kita telah melupakannya. Sebuah naskah kuno
mencatat: "Kapal boleh berlabuh dimana bekas negeri Tambora adanya".
 
Tambora menguak pula takdir Napoleon Bonaparte. Fenomena teramat asing yang diciptakan
ledakan gunung itu membuat perhitungan strategi dan taktik perang di
Eropa meleset. Tiada musim semi dan panas. Di Waterloo, Napoleon memutuskan
untuk mengundurkan jam serangan, mengharapkan cuaca akan lebih menguntungkan
selepas tengah hari. Namun cuaca tetap murung, dan di ambang petang
18 Juni 1815 itu ia terjepit oleh pasukan Sekutu (Inggirs-Prusia) dan
kalah.
 
Cuaca buruk menjadi penyebab utama kekalahannya. Napoleon tidak berhasil
menghimpun semua kekuatan pada waktunya. Jumlah pasukannya kalah besar
ketimbang pasukan lawan yang sudah lebih dulu siap. Tanah yang belum
kering oleh salju, menjadi becek oleh guyuran hujan di luar musim. Roda-
roda kereta penghela meriam terjebak lumpur. Komunikasi tak bisa dijalin
cepat, konsolidasi pasukan lambat. Infantri dan kavalerinya bergerak
terseok-seok. 'Perang 100 hari' yang disiapkannya begitu lolos dari
Elbe berakhir di desa di tanah rendah Belgia itu. Era Napoleon pun tamat.
Inggris yang kala itu menduduki Indonesia mengembalikan kekuasaannya ke
Belanda, sekutunya dalam Perang Eropa.
 
26 Agustus 1883
Krakatau meletus dan meluluh lantakkan pesisir selatan Pulau Jawa dan
sebagian pantai di Pulau Sumatra pada 26 Agustus 1883 lampau. Sebelumnya,
serentetan ledakan keras terjadi selama beberapa bulan sebelumnya.
Ledakan yang membahana gaungnya terdengar sampai sejauh 3,500 km, hingga
ke telinga penduduk Alice Springs di Australia, Madagaskar dan pulau-
pulau di Pasifik yang sejauh 4,800 km. Daya ledaknya ditaksir sampai
21,548 kali bom atom. Suara ledakan Krakatau terkeras sepanjang
sejarah tertulis - kendati dipercaya suara ledakan Tambora pasti lebih
membahana. Gelombang tsunami menerjang pula kawasan Serang, Anyer, dan
Batavia (kini bernama Jakarta). Korban tewas tercatat 36,417 orang.
Keseluruhan korban jiwa akibat terjangan gelombang raksasa mencapai
lebih 100.000 jiwa. Ada dokumen yang menyebutkan penemuan seonggok
mayat di 'rakit' batu apung yang terdampar ke pantai Afrika setahun
kemudian. Letusan Krakatau pun 'bertanggung jawab' atas iklim global.
Dunia sempat gelap dua setengah hari dan kerena lapisan atas atmosfer
masih dilekati lapisan abu vulkanis, matahari bersinar redup sampai
setahun berikutnya. Debu yang mengawan nampak di langit Norwegia, juga
New York.
 
Berdasarkan siklus, Krakatau akan kembali meletus pada 2015 - 2083,
tetapi bisa saja lebih cepat, mengingat begitu banyak manusia rakus
yang merusak habitat alam, dan menyedot perut bumi. Bangsa Indonesia
telah terlena bertahun lamanya menggunakan minyak bumi dan gas, tak
berpikir untuk menggunakan energi yang ramah lingkungan seperti
mengolah energi dari pancaran matahari atau lainnya. Tsunami timbul
bukan hanya karena letusan, tapi juga karena longsoran di dasar laut. Gempa di dasar Lautan Hindia pada 26 Desember 2004  lalu juga berpengaruh pada suhu Krakatau yang kian memanas.
 
Bagaimana kalau Krakatau 'marah' lagi dalam waktu dekat ini?
Hitungan angka korban tak lagi ribuan jiwa, tapi jutaan manusia
akan tewas mengenaskan, mengingat kian padatnya penduduk, dan kelestarian
lingkungan hidup yang terabaikan. Apalagi gelombang tsunami yang timbul
dari letusan Krakatau memuntahkan pula bebatuan koral dari dasar laut
menuju daratan -- persis seperti serangan rudal yang mematikan. Mayat
manusia tak lagi sekadar mengambang dengan pipi tembem membiru dan perut buncit,
tapi juga penuh dengan luka yang menganga. Bahkan mayat manusia tak
lagi berbentuk, karena koyak tercerai berai oleh serangan hujan batu. Saat
terjadi ledakan, gendang telinga manusia pun pecah hingga berdarah-darah,
dan banyak manusia yang tewas menggelepar -- sebelum gempa mengguncang
dan tsunami yang tak diundang itu khusus datang untuk menjemput kita
yang tak berdaya.
 
Saat gejala Krakatau akan meletus beberapa tahun mendatang, orang-orang berpunya, termasuk para pejabat tinggi dan keluarganya, akan mengungsi ke negeri manca yang jauh - Eropa, AS dan Australia. Mereka akan meninggalkan rakyatnya, semata-mata demi menyelamatkan dirinya sendiri. Singapura dan Malaysia mungkin belum aman buat mereka, karena terlalu dekat dengan pusat gempa. Sebagian kota Jakarta akan kosong ditinggalkan penduduknya. Orang-orang miskin harta hanya tinggal menunggu ajal. Jadi 'early warning system' yang akan diinvestasikan senilai jutaan dollar cuma bermanfaat buat orang-orang berduit sahaja.
 
26 Desember 1932
Gempabumi melanda Cina Daratan, membunuh 70,000 nyawa.
 
26 Desember 1939
Gempabumi 7.9 Richter menggoyang wilayah Erzincan, Turki, membunuh 41,000 nyawa.
 
17 Agustus 1976
Gelombang dahsyat menerjang Filipina dan menelan korban sekitar 8,000 jiwa.
 
18 Juli 1979
Tsunami terjadi di Indonesia. 540 orang dinyatakan tewas seketika.
 
12 September 1979
Tsunami menerjang Papua Nugini, 100 orang tewas.
 
12 Desember 1979
Tsunami menerjang Kolumbia dengan korban jiwa 500 orang.
 
26 Mei 1983
Tsunami terjadi di laut Jepang, menelan korban jiwa 100 orang.
 
2 September 1992
Tsunami melanda Nikaragua, dengan korban jiwa 168 orang.
 
12 Desember 1992
Tsunami menyerang Flores, Indonesia. Menelan korban jiwa lebih dari 2.000 orang.
 
12 Juli 1993
Tsunami meluluh lantakkan Pulau Okhusiri di Jepang. 230 mayat bergelimpangan.
 
3 Juni 1994
Tsunami menerjang Banyuwangi, Jawa Timur, Indonesia. Korban jiwa mencapai 800 orang.
 
17 Februari 1996
Tsunami melanda Irian Jaya, dengan korban jiwa 110 orang.
 
26 Desember 1996
Angin ribut Greg meluluh lantakkan Keningau, Sabah, Malaysia, meragut beratus nyawa. 
 
17 Juli 1998
Tsunami menerjang Papua Nugini, menelan sedikitnya 2,500 korban jiwa.
 
26 Desember 2003
Gempabumi 6.5 Richter menerjang wilayah Bam, Iran, membunuh 45,000 nyawa.
 
26 Desember 2004
Gempabumi di pantai barat Aceh dan tsunami menerjang wilayah Aceh dan Sumut di Indonesia, dan belasan negeri tepian Laut Hindia. Korban yang tewas mengenaskan tercatat hampir 150,000 jiwa. Alhamdulillah, langkah pemerintah yang lamban tertutup oleh bantuan dari berbagai negara terkait dengan solidaritas internasional. Hingga kini sudah US$ 1,5 miliar bantuan dari berbagai negara dikucurkan.
 
Inilah bencana alam yang lalu menjadi perdebatan panjang antar umat manusia, khususnya tentang eksistensi agama dan Tuhan. Mereka beradu mulut, juga debat kencang di dunia maya. Teknologi internet mampu mengubah cara pandang manusia dalam menyikapi dampak dari bencana ini. Pro dan kontra pun menyeruak ke permukaan: Benarkah Tuhan marah? Kenapa Tuhan buas?  Dikutukkah atau disayangkah para korban oleh Tuhan? Apakah pada saat terjadi bencana, Tuhan telah alpa untuk selalu menyayangi makhluk yang diciptakannya? Kenapa mayoritas korbannya adalah umat Islam yang menghuni sebuah propinsi yang telah menjalankan sistem syariah yang sarat aturan, antara lain mewajibkan kaum perempuannya harus berkerudung? Kenapa di Serambi Mekah, bukan di serambi kaum kafir? Seorang Ibu di Banda Aceh pun mengeluh, ia telah kehilangan segalanya, baik harta benda maupun sanak saudarnya, "Apa salahku yang sudah naik haji sekian kali, kok masih ditimpa bencana seperti ini?"
 
Saat tertimpa kesusahan, masih saja ada rasa saling curiga. Walau ribuan mayat bergelimpangan, masih saja ada yang berbangga: "Oh, lihat itu, ada masjid yang tetap berdiri kokoh. Sungguh sebuah mukjizat. It's a miracle....  invisible...tangan Tuhan sungguh telah melindunginya."  Lalu apa gunanya sebuah bangunan masjid kalau umatnya musnah tertelan
bencana?
 
Kenapa bencana itu terjadi di sebuah propinsi yang penuh konflik antara TNI
dan GAM? Pantaskah mereka menerima ujian nan maha berat? Wajarkah mayat dibakar? Haramkah menerima sumbangan dari kaum kafir dan Yahudi? Kenapa organisasi-organisasi Islam dan negara-negara Arab yang kaya raya hanya secuil sumbangannya? Pelitkah
mereka? Siapa saja yang punya potensi untuk menilep uang sumbangan?  Siapa memanfaatkan 'kesempatan dalam kesempitan'? Bagaimana dengan Nias, Nabire dan Alor, kok terlupakan? Bagaimana dengan tanah longsor, banjir bandang, angin puyuh yang terjadi di beberapa wilayah negeri ini? Dan masih banyak lagi pertanyaan lainnya yang hingga detik ini masih ramai diperdebatkan.
 
Yang jelas serentetan bencana ini menjadikan Program 100 Hari SBY - Kalla kacau balau. Belum selesai satu masalah, muncul masalah berikutnya -- batu ujian yang lebih berat dan lebih dahsyat.
 


Do you Yahoo!?
The all-new My Yahoo! � What will yours do?

--------------------------------------------------------------------------

All views expressed herein belong to the individuals concerned and do not in any way reflect the official views of Hidayahnet unless sanctioned or approved otherwise.

If your mailbox clogged with mails from Hidayahnet, you may wish to get a daily digest of emails by logging-on to http://www.yahoogroups.com to change your mail delivery settings or email the moderators at [EMAIL PROTECTED] with the title "change to daily digest".




Yahoo! Groups Links

Kirim email ke